Melihat berita klipingnya ini, sangat memprihatinkan jika aparat hukum di 
Republik ini
diam saja melihat ulah perampas masa depan anak cucu bangsa Indonesia...
Mungkin karena tidak merasa sebagai bangsa Indonesia, sehingga pelaku bisa 
setega ini kepada anak cucu bangsa...

Mungkin Pelaku berpikiran bahwa, biarlah negara ini hancur lebur.. karena dia 
sudah bersiap2 meninggalkan negara ini untuk menikmati harta hasil menguras 
masa depan anak cucu bangsa ini

Untuk itu, terhadap orang2 seperti demikian ini
Aparat harus tegas dan segera bertindak. Jangan sampai terjadi seperti yang 
sering heboh di media massa...
Dimana saat pelaku perampok uang negara dan uang rakyat sudah lari keluar 
negeri, baru aparat kebingungan mau memeriksa, mau menangkap, eh ternyata 
mereka sudah lama mengantongi
 kewarga negaraan dari negara lain. Akhirnya proses berlarut-larut dan akhirnya 
susah sekali memeriksa (apalagi menangkap) mereka

Kalau demikian terus..
nanti rakyat dan ank cucu kita bisa saja menuduh.. bahwa aparat negara pada 
dekade ini, pemerintahan pada dekade ini hanya menjadi antek2 dari segelintir 
orang yang hanya ingin menghancurkan bangsa.

Sudah banyak kasus... dimana soal Lapindo... pemerintah akhirnya hanya 
mem-bebek pada orang yang menenggelamkan sekian desa dengan lumpur karena 
keserakahannya.

Langkah Konkret secara hukum:

BPK (Badan Pengawas Keuangan) segeralah turun ke Banyuwangi dan periksa, agar 
uang negara terselamatkan, jangan sampai terlambat, sebelum ada rekayasa lebih 
lanjut. Bukankah dalam aturan sudah jelas, bahwa minimal uang negara bisa 
diselamatkan.

Kejaksaan dan kepolisian segeralah turun ke Banyuwangi... cegah kejahatan ini. 
apalagi pelakunya sudah berkali2 melakukannya.

Dengan
 adanya landasan tindakan hukum demikian, sekolah agar bisa bebas dan lepas 
dari paksaan dan tekanan, sehingga segera merealisir mutu pendidikan, tidak 
digantung seperti itu nasibnya...

Dari: ... @yahoo.com
Topik: Ironi Pendidikan: Penipuan oleh Bintang Ilmu Group di Banyuwangi
Kepada: [email protected], [email protected], 
,[email protected]
Tanggal: Rabu, 14 Januari, 2009, 11:45 PM










    
            2 Kliping koran dibawah ini benar2 menunjukkan bahwa penipuan pada 
dunia pendidikan sudah sangat memprihatinkan.

Kliping ini memberitakan apa yang dilakukan Bintang Ilmu di Banyuwangi
Kliping pertama, tentang agen Bintang ilmu yang menjadi tersangka di banyuwangi 
dalam kasus pendidikan tahun 2007, yang mungkin akan menguap begitu saja 
nantinya seperti kasus Bintang Ilmu diberbagai propinsi. Dimana Bintang Ilmu 
memberikan barang peningkatan mutu pendidikan yang tidak sesuai sepecifikasi 
yang ditetapkan, karena ingin untung yang sangat besar
Kliping kedua tentang penipuan yang terjadi pada program pendidikan tahun 2008, 
yang lebih kurang modus operasi dan motifnya sama

Penipuan yang dilakukan oleh PT. Bintang Ilmu kepada dunia pendidikan dengan 
tujuan mengeruk uang negara untuk memperkaya diri pemiliknya ini sudah terjadi 
selama bertahun2, kenapa aparat diam saja???

Atau aparat memang sengaja membiarkan direkturnya
 yang bernama Wimpi Ibrahim, yang
 beritanya sudah berkali2 namanya muncul di pemberitaan berbagai milis maupun 
dibeberapa situs pemerintahan daerah, yang punya kewarganegaraan negara lain 
ini lolos dulu keluar negri, baru mereka akan pura2 tergopoh2 dan nantinya 
mengaku kecolongan?? ? (seperti kasus2 yang lain.. begitu tersangka sudah 
diluar negeri, baru aparat pura2 bingung cara menangkapnya? ??)

Akhirnya yang jadi korban atau yang ditetapkan sebagai tersangka atau yang 
diperiksa adalah hanya orang2nya dibawah?
Yang jadi korban adalah kepala sekolah dan anak didik?

Tapi Bintang ilmu seolah tidak tersentuh... malah kelihatan sekali aparat hukum 
membantu tindakan pengerukan uang rakyat yang dilakukan Bintang ilmu. Padahal 
uang itu untuk pengembangan pendidikan.

Karena Fakta menunjukkan:
1. tahunn 2006 dalam program Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk Pendidikan, 
dibanyuwangi Anak perusahaan Bintang Ilmu yakni PT. Tropodo, dengan direktur 
Fredy Ibrahim (kakak
 kandung Wimpi Ibrahim) tidak
 membayarkan pajak dalam pengadaan barang peningkatan mutu pendidikan (buku, 
alat peraga dan multi media). Akhirnya kepala sekolah dibanyuwangi harus keluar 
uang dari saku (mungkin harus hutang ya hehe) untuk membayar pajaknya, karena 
yang diuber2 dalam kasus ini bukan PT. Tropodo, tapi kepala sekolah. Alasan 
penegak hukum karena PT. Tropodo sudah tutup dan tidak diketahui keberadaannya 
lagi, begitu pula direkturnya sudah tidak diketahui keberadaannya lagi.

2. Alasan yang aneh, karena pada tahun 2007 Freddi Ibrahim sudah mendirikan 
perusahaan baru dengan nama PT. Pustaka Sarana Media. Dan dalam program DAK 
untuk pendidikan kembali mensuplai barang untuk peningkatan mutu. Tetapi agar 
lolos dari jerat hukum, karena barang yang disuplai adalah barang jelek dan 
jauh dari spesifikasi yang ditetapkan oleh departemen pendidikan, maka yang 
ditaruh didepan adalah CV. Bumi Asri sebuah perusahaan lokal di banyuwangi. 
Begitu Ketahuan oleh aparat hukum bahwa
 terjadi bancakan uang
 negara, yang diperiksa adalah CV.Bumi Asri.. Tidak menyentuh Freddi, dari PT. 
Pustaka Sarana Media, yang menyediakan barang tersebut, dan keuangan dari 
sekolah itu hanya lewat saja di CV.Bumi Asri, karena setelah itu langsung masuk 
rekening Freddi, dengan alasan keberadaannya sudah tidak diketahui, dan infonya 
sudah lari keluar negeri (Hongkong)

3. Lebih aneh lagi karena untuk tahun 2008, Wimpi Ibrahim (kakak kandung Freddi 
yang katanya buron) bersama aparat hukum, mengumpulkan seluruh kepala dinas 
pendidikan di Jawa Timur di Hotel Orchid, Kota Batu Jawa Timur, dan disitu 
kental sekali aroma pemaksaan/ penekanan dengan menakut2i agar dinas pendidikan 
dengan kewenangannya memaksa sekolah dalam program DAK untuk pendidikan, dalam 
program peningkatan mutu, membeli barang dari Group Bintang Ilmu. Bagaimana 
dikatakan tidak menakut2i jika dalam forum itu yang memberi penyuluhan adalah 
Direktur Bintang Ilmu didampingi para petinggi aparat hukum. Kepala
 Dinas pendidikan se
 jawa timur mau (terpaksa hadir) karena yang mengundang agar hadir dalam acara 
itu adalah para petinggi aparat hukum/ kejaksaan tinggi jawa timur. 
Yang lucu dari kasus ini, jika kesulitan mencari buron kan harusnya aparat 
hukum memeriksa wimpi ibrahim yang adik kandung freddi, dan diinterogasi ada 
dimana si buron. Eh malah ang terjadi adalah adik dari siburon bisa memerintah 
aparat hukum yang dengan kekuasaannya untuk mengundang seluruh kepala dinas 
pendidikan, dan memaksa seluruh kepala dinas itu hadir di hotel orchid kota batu

4. Terbongkarnya pemaksaan oleh Bintang Ilmu Group bersama kejaksaan tinggi 
jawa timur ini adalah karena di propinsi lain, seperti jawa tengah misalnya, 
adalah karena rekaman foto dan video pertemuan di hotel Orchid batu itu bocor 
keluar, karena waktu foto dan video yang dipergunakan untuk menakut2i dinas 
pendidikan di propinsi lain oleh group bintang ilmu waktu mengumpulkan kepala2 
dinas pendidikan disana, ada yang
 merekam dan
 membocorkan keluar.
Tapi meski demikian, kasus ini seperti masuk peti es, tidak ada kelanjutan, 
untuk memeriksa pertemuan itu.

5. Akhirnya 2008 terulang kembali, dimana di banyuwangi penipuan itu 
terbongkar. dimana sampai sudah masuk tahun 2009, ternyata pengadaan barang 
tahun 2008 ketahuan bahwa hanya 40-60% dipenuhi. sisanya tidak. padahal 
pembayaran adalah untuk 100% barang. jika tidak diungkap oleh DPRD banyuwangi 
tentunya kasus ini akan mengendap, dimana seolah2 pekerjaan sudah beres. 
ternyata tidak beres, meskipun laporannya beres. jika tidak ketahuan, maka bisa 
terjadi bahwa dilaporkan barang baik dan jumlah serta pekerjaan sudah 100%. 
padahal barang yang dikirim hanya separo, tapi sekolah harus membayar seolah2 
barang yang dikirim 100%. Padahal hanya dikirim sedikit dan kualitas barang 
sangat jelek, apalagi ditemukan bahwa barang yang dijual adalah sisa stok 2006, 
2007 dan tahun2 sebelumnya.. dimana tidak sesuai dengan spesifikasi
 peningkatan mutu untuk
 DAK pendidikan 2008.
Maka sekarang kepala sekolah maupun dinas di banyuwangi was was..
Tapi seperti berita kliping ini, dinas pendidikan tidak berani berbuat banyak..
mungkin karena adanya pemaksaan oleh aparat hukum...
Mereka was-wasnya adalah meskipun penipuan ini dilakukan oleh Bintang ilmu 
group, nanti yang menghadapi masalah hukum adalah kepala sekolah atau dinas 
pendidikan setempat..., maka sebagian kepala sekolah akhirnya mengadu ke DPRD 
banyuwangi, agar masalah ini diketahui masyarakat.
Karena kepala sekolah takut pada ancaman oknum2 dinas, jika mereka membatalkan 
surat pesanan kepada Bintang Ilmu Group yang disodorkan/ dipaksakan oleh oknum 
dinas atau oknum kepala sekolah yang disuruh oleh oknum dinas sebagai 
koordinator dengan imbalan tertentu dari Bintang Ilmu Group.
Maka dalam forum dengar pendapat antara DPRD dengan kepala sekolah dan dinas 
pendidikan di banyuwangi akhirnya tidak menghasilkan apa2, hanya menjadi berita 
dan
 sekolah tidak bisa
 membatalkan surat pesanan kepada Bintang Ilmu Group.
Sedangkan Dari Bintang Ilmu Group yang diwakili oleh anak2 perusahaannya disana 
terkesan memberikan alasan dengan seenaknya. tapi tidak mau jika surat pesanan 
dibatalkan oleh sekolah meskipun mereka tidak mensuplai barang sesuai petunjuk 
teknis dari departemen pendidikan baik dari segi kualitas dan kuantitasnya.




    Jawa Pos  Radar Banyuwangi   [ Sabtu, 10 Januari 2009 ]   Rekanan DAK 
Angkat Tangan   BANYUWANGI - Pengadaan barang komponen peningkatan mutu Dana 
Alokasi Khusus
 (DAK) bidang pendidikan, tampaknya belum bisa dituntaskan dalam waktu dekat 
ini. Sebab, sejumlah rekanan penyedia barang 'angkat tangan' untuk menuntaskan 
pengiriman barang dalam pekan ini.
 
 Komisi D DPRD Banyuwangi dan Dinas Pendidikan (Dispendik) sepakat agar rekanan 
pengadaan barang menuntaskan pengiriman barang paling lambat minggu depan. 
Namun sejumlah rekanan menolak dengan alasan yang terkesan mengada-ada. ''Kita 
imbau rekanan yang belum menuntaskan pengadaan barang bisa diselesaikan minggu 
depan," pinta Kepala Bidang Sarana dan Prasarana
 Dinas Pendidikan Sartono dalam hearing (dengar pendapat) soal DAK 2008 di 
kantor DPRD kemarin (9/1).
 
 Dalam hearing itu, Komisi D menghadirkan Pelaksana harian (Plh) Kepala Dinas 
Pendidikan Suhaimi, Kabid Sarpras Sartono, Kepala Banwas Herman Sulistiyono, 
perwakilan kepala sekolah penerima DAK, dan rekanan penyedia barang. Dalam 
kesempatan itu, masing-masing perwakilan kepala sekolah diminta untuk 
membeberkan perkembangan pelaksanaan DAK.
 
 Secara umum pelaksanaan DAK untuk fisik, masing-masing perwakilan melaporkan 
telah tuntas 99 persen. Hanya untuk pelaksanaan anggaran DAK nonfisik, yaitu 
pengadaan barang komponen peningkatan mutu sebagian besar kecamatan belum 
tuntas. Pelaksanaan anggaran DAK nonfisik, hanya baru dua Kecamatan yang tuntas 
100 persen. Yakni, Kecamatan Banyuwangi dan Siliragung. Sedangkan 22 Kecamatan 
lainnya, pelaksanaan pengadaan buku baru terlaksana sekitar 40 hingga 60 
persen. "Untuk Kecamatan
 Wongsorejo sudah
 dilaksanakan 60 persen," ungkap salah seorang kepala sekolah penerima DAK 
Kecamatan Wongsorejo, Suprato.
 
 Pada kesempatan itu, tidak semua perwakilan kasek 24 Kecamatan hadir. Namun 
dari laporan beberapa kasek yang hadir, sebagian besar sekolah penerima DAK 
pelaksanaan proyek nonfisik belum rampung 100 persen. Terkait dengan belum 
rampungnya pelaksanaan pengadaan barang itu, Komisi D meminta penjelasan dari 
pihak rekanan. 
 
 Dalam hearing yang dipimpin Sekretaris Komisi D Yulis Setyo Puji Rahayu, pihak 
rekanan membeberkan beberapa kendala pelaksanaan anggaran DAK nonfisik. "Kami 
berusaha untuk mengirim barang, namun di tengah perjalanan barang yang akan 
kami kirimkan terkena hujan," ungkap Direktur CV 31, Hayatul Makin.
 
 Tidak hanya Makin, beberapa rekanan lainnya yang hadir memberikan alasan yang 
sampaikan terkesan mau lari dari tanggung jawab untuk menyediakan barang secara 
cepat. Bahkan, beberapa rekanan beralibi
 keterlambatan pengiriman
 barang disebabkan karena jauhnya jarak antara Banyuwangi dan Jakarta. 
 
 Surat perjanjian (SP) antara rekanan dan kepala sekolah juga menjadi kambing 
hitam keterlambatan pengiriman barang. Menurut Direktur CV Handayani Ma'rufin, 
SP penyediaan barang dan barang baru ditandatangani sekitar tanggal 17 hingga 
30 Desember 2007. Permintaan order barang, lanjut Ma'rufin, baru bisa 
dilaksanakan setelah dilakukan penandatanganan kontrak. "Kami tergabung dalam 
konsorsium Bina Ilmu. Kantornya di Jakarta, tapi gudangnya di Bandung," 
cetusnya.
 
 Para rekanan DAK meminta waktu 30 hari sejak ditandatangani SP untuk 
menuntaskan penyediakan buku. Namun pihak DPRD dan Dinas Pendidikan tetap 
ngotot memohon pihak rekanan menuntaskan penyediaan barang paling lambat minggu 
depan. "Banyak persoalan yang harus kita selesaikan," ungkap Direktur PT 
Morobakung dari Konsorsium Bintang Ilmu, Farzain.
 
 Meski ngotot untuk menyediakan barang minggu depan, namun
 Dinas Pendidikan
 enggan memberikan sanksi kepada rekanan yang tidak berhasil menyediakan 
barang. Pihaknya, kata Kabid Sarpras Sartono, tidak akan berhubungan dengan 
rekanan tapi akan berhubungan dengan kepala sekolah. "Kalau dinas berhubungan 
dengan rekanan jelas salah," katanya.
 
 Yang yang jelas, kata dia, kepala sekolah tidak ada kewajiban untuk 
mendapatkan barang dari satu rekanan. Kalau pihak rekanan tidak sanggup 
menyediakan barang, sekolah berhak mengambil keputusan lain. "Kita tetap minta 
minggu depan sudah tuntas 100 persen," tandasnya. 
 
 Keinginan Dinas Pendidikan itu mendapat dukungan dari kalangan DPRD. Komisi D 
juga berharap pihak rekanan bisa merealisasikan pengadaan barangnya. "Agar 
kepala sekolah tidak jadi korban, ambillah keputusan terbaik untuk segera 
menuntaskan pengadaan barang itu," harapnya. (afi/aif)      
Jawa Pos  Radar Banyuwangi   [ Selasa, 11 November 2008 ]   Taufik Tersangka 
DAK 2007   Penahanan Tunggu Audit BPKP   BANYUWANGI - Terjawab sudah siapa 
tersangka dugaan korupsi dana alokasi khusus (DAK) pendidikan 2007 hingga 
merugikan Negara Rp 1,6 miliar. Tersangkanya adalah Mohamad Taufik, marketing 
buku Bumi Asri yang tak lain anak perusahaan penerbit Bintang Ilmu.  Penetapan 
tersangka itu disampaikan Kapolres AKBP Rahmat Mulyana kepada wartawan kemarin. 
Meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, hingga kemarin penyidik belum 
melakukan penahanan terhadap Taufik. Hal ini terkait belum tuntasnya 
pemeriksaan dari tim auditor BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan) .  
Diungkapkan, Taufik
 ditetapkan sebagai tersangka karena
 terindikasi kuat bancakan uang negara dalam proyek DAK 2007. "Lewat 
pemeriksaan kita simpulkan Taufik untuk menjadi tersangka," tandasnya. 
Ditambahkan, tidak menutup kemungkinan tersangka DAK bakal bertambah. ''Salah 
satu rekan Taufik berinisial Fsl belum diperiksa BPKP,'' ujar Kapolres.  Fsl 
yang merupakan atasan langsung Taufik saat ini tidak berada di Banyuwangi. 
Menurut informasi dia sedang berada di luar kota. Padahal keterangannya sangat 
diperlukan dalam perkara ini. "Hingga saat ini Fsl belum dimintai keterangan 
BPKP," tandasnya.   Sementara itu penetapan tersangka kasus DAK 2007 membuat 
pihak BPKP bersemangat. Tim audit asal Surabaya itu kemarin tiba di Kota 
Gandrung. Kedatangan mereka dalam rangka mencari bahan dan data tambahan. Di 
antaranya data tersebut adalah kelengkapan pajak dan bukti pendukung lainnya.   
Sekadar tahu, realisasi DAK Banyuwangi tahun
 2007 sebesar Rp 29
 miliar tiba-tiba menjadi sorotan publik. Ini menyusul adanya dugaan kurupsi 
pada realisasi proyek pemerintah pusat itu. Untuk Banyuwangi ada 118 sekolah 
yang mendapatkan anggaran itu. Rinciannnya per sekolah mendapat jatah Rp 250 
juta. Untuk fisik Rp 150 juta, sedangkan non fisik Rp 100 juta. Mencium aroma 
ketidakberesan itu, polisi turun tangan. Sejumlah saksi sudah dimintai 
keterangan, termasuk para kasek penerima DAK dan penerbit (rekanan) pengadaan 
buku. (nic/aif)     
      
        Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. 
 Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Wajib militer di Indonesia? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! 
http://id.answers.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke