Salam untuk kemenangan Hamas Palenstin & Pembebasan Al Quds. Bismillah,Alhamdulillah, ALlahumma Sholi Alaa Muhammad WaAali Muhammad. Bang Saleh dkk, Terimakasih info yang aktualnya! Semoga menambah semangat juang kita-kita yang ada kejauhan, Kami di sini hanya mampu berdo'a dan berusaha menggalang dana..ALhamdulillah, setiap kami bergerak mengumpulkan & melakukan kutipan derma, respon dari donator semakin baik.. Semoga Allah menerima kebaikan saudara kita yang sudah menyumbangkan do'a & dermanya, InshaALlah. Semoga ALlah memberikan kekuatan buat kita semua..amin.. Salam Jihad untuk Pembebasan AlQuds & Kemenangan buat palestin.. amin.. Deddy Prihambudi <[email protected]> wrote: Khusus kepada Pak Saleh Lapadi. Mohon semua tulisan antum tentang Palestina, bisa dikirim pula ke [email protected].
Semua akan kami cetak, kami publikasikan melalui buletin KUMAIL, dan kami sebar di semua Korwil KUMAIL se Jawa Timur. Salam dari kampung halaman. Deddy Prihambudi SH Koordinator Umum Komite Umat Islam Anti Amerika dan Israel/KUMAIL. --- On Thu, 15/1/09, saleh lapadi <[email protected]> wrote: From: saleh lapadi <[email protected]> Subject: Re: [islamalternatif] Status Keamanan Israel Sebelum dan Sesudah Perang Gaza To: [email protected] Date: Thursday, 15 January, 2009, 4:28 PM Assalamualaikum Peluncuran roket itu hanya politik Israel yang tengah kebingungan bagaimana melawan para pejuang Palestina. Artinya Israel ingin memasukkan Suriah dan Hizbullah Lebanon ke dalam perang ini supaya punya alasan yang lebih terhormat menerima gencatan senjata. Sejak awal dan sampai saat ini Hizbullah punya kontak terus dengan para pejuang Palestina. Oleh karenanya mereka mengetahui betul kekuatan di lapangan baik dari sisi muqawama Palestina maupun militer Israel. Oleh karenanya mereka pasti menahan diri untuk tidak masuk dalam perang itu. Sementara ungkapan Rahbar kepada Hizbullah tidak menyebut secara langsung bahwa Hizbullah yang akan memasuki Al-Quds, tapi pembebasan Al-Quds akan lebih cepat dari upaya pembebasan Lebanon Selatan. Kondisi Israel betul-betul babak belur. Artinya secara politik dan militer mereka sebenarnya telah kalah. Dan sekarang mereka tinggal menunggu waktu. Kita tinggal menunggu perkembangan ke depan. Saya berharap secepatnya masalah Pemimpin Otorita Palestina Mahmoud Abbas yang telah habis masa jabatannya lengser. Bila pemilihan segera dilakukan, maka kekuatan muqawama di Palestina semakin kokoh dan warga Palestina di Tepi Barat Sungai Jordan bergabung dengan Gaza melakukan perlawanan menghadapi Israel. Juga ada satu kekuatan lain yang jarang disebut-sebut adalah orang-orang Palestina di Palestina pendudukan. Saya buka sedikit mengenai peran orang-orang Syiah di Israel yang melakukan taqiyah ketat. Mereka sangat diwaspadai oleh pihak keamanan Israel. Sampai saat ini mereka memainkan peranan sebagai koordinator sejumlah operasi mati syahid. Selain itu juga mereka yang menyelundupkan sejumlah barang seperti TNT dari Israel bagi para pejuang Palestina untuk membuat roket-roket mereka. Jadi sebenarnya isu pasokan senjata dari luar tidak sepenuhnya benar, karena yang kita saksiksan saat ini adalah orang Israel terancam oleh senjata mereka sendiri. Dengan kemenangan Hamas dan para pejuang Palestina di Gaza, kehancuran Israel hanya tinggal menunggu waktu. Kepada teman-teman di Indonesia yang menggalang dan mengkoordinasi aksi-aksi unjuk rasa, perlu juga menyiapkan acara bagi kemenangan pejuang Gaza. Israel tengah berusaha bagaimana menandatangani gencatan senjata yang lebih bisa menahan rasa malu mereka. Kalau bisa syal yang dipakai orang-orang Hamas perlu diperbanyak. Sekarang itu bukti kemenangan perlawanan sebagai alternatif dari chafiyeh Yasser Arafat. Saya ingin sedikit menceritakan ketika Imam Musa Shadr tengah berpidato dan kemudian Yasser Arafat yang waktu itu begitu populer masuk dan disambut tepuk tangan hadirin, Imam Musa Shadr mengatakan kepadanya bahwa hati-hati jangan sampai kemenangan perjuangan Palestina jatuh di tangan selain Islam. Imam Musa Shadr mengatakan demikian, setelah melihat kecenderungan Yasser Arafat akan ide-ide Sosialis. Wassalam Saleh Lapadi --------------------------------- From: farah izadi <farah_izadi@ yahoo.com> To: islam_alternatif@ yahoogroups. com Sent: Thursday, January 15, 2009 9:27:59 AM Subject: Re: [islamalternatif] Status Keamanan Israel Sebelum dan Sesudah Perang Gaza Salam Pak Saleh mau nanya, kira-kira analisa anda ttg peluncuran roket dari Golan dan Selatan Lebanon itu bagaimana nanti akhirnya? Dan apa hubungannya dengan ungkapan yang pernah dikeluarkan Rahbar kepada Hizibullah pada pasca perang 33 hari: "Sebentar lagi kalian akan masuk ke al-Quds !" Makasih jawabannya pak... saleh lapadi <saleh_lapadi@ yahoo.com> wrote: Assalamualaikum Semoga berkenan... Status Keamanan Israel Sebelum dan Sesudah Perang Gaza Berdasarkan kesepakatan Konferensi Annapolis tanggal 27 Desember 2008 tahap pertama operasi militer Rezim Zionis Israel dilakukan terhadap Jalur Gaza. Bila berhasil menghancurkan perlawanan Islam, jalur perundingan demi mendirikan dua negara dalam satu teritorial semakin terbuka. Proyek pembentukan dua negara sejatinya hanya draft tipuan agar orang menganggap akan ada dua negara Palestina dan Israel di bentangan geografis Palestina pendudukan. Padahal, berdasarkan agenda Annapolis rencananya di terotorial ini hanya ada satu negara Israel dengan dua pemerintah; Yahudi dan Islam-Kristen. Sejatinya petunjuk teknis Annapolis membentuk sebuah negara pemerintah kecil Islam-Kristen di bagian dari teritorial di bawah kekuasaan Israel. Perang 27 Desember dimulai dengan tujuan menghapus muqawama dari perimbangan Palestina-Israel. Bukti-bukti menunjukkan bahwa Rezim Zionis Israel percaya dan mendoktrinkannya kepada masyarakat Zionis Israel bahwa dalam perang yang tidak lama, kira-kira 7 hingga 10 hari mereka dapat menghancurkan muqawamah atau melumpuhkan mereka hingga tidak lagi punya kemampuan menolak rencana Israel-Amerika yang digagas di Annapolis. Dengan dasar ini militer Israel menyusun rencana operasi militernya dalam tiga tahap; serangan udara, darat tahap pertama dan darat tahap kedua. Mereka mematok waktu paling lama 4 hari untuk melakukan serangan udara dan setiap tahap operasi serangan darat ditetapkan masing-masing paling lama tiga hari. Tahap pertama serangan udara telah didisain sedemikian rupa dengan membombardir 300 titik di Gaza mampu membuat perlawanan bertekuk lutut dan mereka tinggal menangkapi anasir-anasir muqawama. Ternyata operasi udara yang semula ditetapkan paling lama 4 hari molor hingga 7 hari. Berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh Israel sendiri, 600 target strategis di Gaza berhasil dihancurkan dalam serangan udara tersebut. Namun hingga tanggal 2 Januari 2009 Kabinet Israel Knesset baru tahu kalau muqawama Hamas tidak mengalami kerugian berarti. Tembakan roket mereka tidak hanya terus berlanjut, tapi jangkauannya semakin lama semakin jauh. Poin penting yang tidak boleh dilupakan adalah Hamas dan para pejuang Palestina tidak hanya mampu menerapkan strategi perangnya dengan baik, mereka bahkan mampu mengatur masalah pengobatan dan penyaluran bantuan. Tidak nampak muncul kegelisahan atau kesulitan bagi mereka dalam mengurusi berbagai masalah ini sambil tetap fokus menghadapi serangan musuh. Di hari Jumat itu Rezim Zionis Israel mulai putus asa, namun mereka terpaksa memutuskan untuk melanjutkan perang. Sementara Komandan Staf Gabungan Militer Zionis Israel Gabi Ashkenazi dan Menteri Pertahanan rezim ini Ehud Barak menyatakan keraguannya dapat memenangkan operasi serangan darat. Serangan darat tahap pertama tetap dilakukan keesokan harinya tanggal 3 Januari dengan kekuatan 20.000 pasukan yang didukung oleh pelindung bergerak bernama Tank Merkava. Pasukan ini memulai serangan daratnya dari lima titik dengan jarak antara satu titik dengan lainnya sekitar 6 hingga 11 kilometer. Namun kembali lagi berbeda dengan gambaran dan informasi intelijen yang dimiliki Rezim Zionis Israel, kembali perang darat tahap pertama ini molor hingga 7 hari tanpa menghasilkan apa-apa. Serangan darat Rezim Zionis Israel memang telah dinantikan oleh gerilyawan Palestina. Karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi serangan udara musuh. Dalam perang darat dengan penguasaan medan dan kelebihan karena perang dilakukan di daerah mereka, para pejuang Palestina berhasil membalikkan berbagai prediksi dan muncul sebagai pemenang. Dalam perang darat, semakin dekat tentara musuh mendekati tempat persembunyian para pejuang Palestina, kemungkinan untuk menghancurkan mereka semakin mudah. Di hari ketiga perang darat (Senin, 5/01) Ehud Barak kepada Perdana Menteri Israel Ehud Olmert memberikan informasi bahwa tank-tank militer Israel tidak lagi mampu bergerak ke depan karena terhalang bangunan.. Namun Olmert, Menlu Israel Tzipi Livni dan sejumlah anggota kabinet tidak menerima argumentasi Menteri Pertahanannya sendiri. Keesokannya harinya (Selasa, 6/01), militer Zionis Israel yang tahu bahwa tokoh-tokoh politik tidak peduli dengan kondisi yang dihadapi mereka akhirnya membom sebuah sekolah di kota Al-Fakhurah yang telah dijadikan sebagai tempat perlindungan bagi wanita dan anak-anak. Sekitar 40 orang gugur syahid dan seorang petugas PBB termasuk korbannya. Serangan ini sontak mengingatkan masyarakat internasional mengenai serangan militer Israel ke desa Qana yang menewaskan wanita dan anak-anak dalam Perang 33 Hari di Lebanon. Serangan yang dilakukan itu juga punya motif yang sama, karena dilakukan saat mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi, sementara para pejabat Amerika tidak mau tahu dan memerintah mereka untuk tetap melanjutkan perang. Hari Rabu (7/01) kabinet Rezim Zionis Israel menerima argumentasi Ehud Barak untuk mundur dari Gaza dan mengumumkan gencatan senjata, namun pada saat yang sama menegaskan untuk tetap melakukan operasi militer ke daerah Gaza dan Khan Younis, sambil tetap melakukan upaya politik demi terciptanya gencatan senjata. Targetnya jelas. Zionis Israel berusaha mengusai sebidang tanah Jalur Gaza atau menangkap tokoh utama muqawama untuk memenangkan tawar menawar politiknya. Kabinet Israel akhirnya mengutus satu delegasi yang terdiri dari pejabat tinggi ke Mesir menghadiri perundingan âRencana Mesir-Perancisâ . Namun sehari setelah itu (Kamis, 8/01) ternyata kabinet Israel mengambil langkah mundur dari sikap sebelumnya yang menolak gencatan senjata. Sekaitan dengan masalah ini Condoleezza Rice mengeluarkan pernyataan, âKami percaya gencatan senjata kini harus dilakukanâ. Hari itu juga Washington Post menulis, Hamas berhasil membuktikan kepada dunia mampu melanjutkan perjuangan. Hari Kamis malam, Dewan Keamanan PBB meratifikasi Resolusi bernomor 1860 yang isinya selain menyelamatkan Israel dari kekalahan memalukan, rezim ini punya kesemptan untuk melemahkan posisi politik Hamas. Perang tampaknya akan berhenti dalam beberapa hari mendatang dan bila itu benar-benar terjadi, kekalahan memalukan kembali menimpa Rezim Zionis Israel. Namun kekalahan ini berbeda dengan kekalahan yang mereka terima dari Hizbullah. Karena kekalahan militer Israel di Gaza lebih parah dan dampaknya lebih besar, mengingat rezim ini kalah dalam perang di daerah yang didudukinya. Ada beberapa poin ringkas yang bisa dibahas mengenai dampak dari kekalahan Zionis Israel di Gaza. 1. Rezim Zionis Israel memulai perang dengan terlebih dahulu mengumumkan daerah krisis keamanan hingga radius 20 kilometer dari Jalur Gaza. Berdasarkan pernyataan ini, demi meyakinkan warga Israel agar ikut bersama-sama menyelesaikan masalah serangan roket ke daerah-daerah dalam radius tersebut. Masalah ini kemudian diusahakan oleh Israel menjadi isu untuk menyerang Gaza. Perang kemungkinan dalam beberapa hari lagi akan berakhir dan masalah serangan roket dari Gaza bukan saja tidak dapat diselesaikan, bahkan jangkauan roket milik para pejuang Palestina melampaui jarak 20 kilometer hingga 50 kilometer. Militer Zionis Israel sendiri memperkirakan bahwa kemungkinan besar para pejuang Palestina memiliki roket dengan jarak 60 dan 70 kilometer. Berdasarkan ini bila Rezim Zionis Israel memulai perang demi melindungi nyawa sekitar 150 ribu warganya yang ketakutan dan hidup dalam radius 20 kilometer dari Jalur Gaza, kini rezim ini harus melindungi kekhawatiran sedikitnya 1,5 juta warga penjajah yang ketakutan sewaktu-sewaktu menjadi korban roket para pejuang Pakestina. 2. Sebelum perang Gaza dimulai Rezim Zionis Israel, serangan roket Hamas ditembakkan hanya ke arah dua kota Asqalan dan Sderot dan rezim ini hanya fokus untuk menjamin keamanan dua daerah ini. Namun kini Zionis Israel harus menjamin keamanan pangkalan strategis nuklirnya di Dimona dan ibu kotanya sebagai pusat strategis politik. 3. Sebelum perang Gaza dimulai Rezim Zionis Israel sesumbar memiliki informasi intelijen detil mengenai tempat persenjataan militer muqawama dan tempat persembunyian para pemimpin muqawama. Namun setelah perang dimulai, satu-persatu sesumbar itu mulai runtuh dan terbukti kalau militer Zionis Israel tidak punya informasi mengenai dua hal itu, padahal militer rezim ini memiliki berbagai fasilitas intelijen modern dan ratusan agennya di Gaza. Kemampuan para pejuang Palestina menyembunyikan pasukan dan fasilitasnya menjadi poin kelebihan informasi dan intelijen mereka dan mencoreng nama besar Dinas Rahasia Israel, Mossad. 4. Rezim Zionis Israel ternyata selama 4 tahun ini, setelah menarik mundur pasukannya dari Gaza, tidak mampu memahami kekuatan dan transformasi muqawama dan dengan ketidaktahuan militernya memasuki medan perang. Kenyataan ini menunjukkan sistem peringatan dini; Dinas Rahasia Israel, para pejabat tinggi pengambil keputusan dan militer Israel punya masalah besar. Tampaknya mitos kehebatan Israel terlalu dibesar-besarkan sehingga mampu meninabobokkan negara-negara Arab. 5. Rezim Zionis Israel dengan melakukan blokade 18 bulan yang diterapkannya terhadap Gaza, menutup semua jalur-jalur penyeberangan dan menolak mengeluarkan warga Gaza dari sana selama perang dimaksudkan untuk menekan warga Gaza menarik dukungannya dari Hamas dan legalitasnya. Namun ternyata prediksi itu salah dan sebaliknya, tidak hanya warga Gaza yang mendukung Hamas, tapi juga warga Palestina yang berada di Tepi Barat Sungai Jordan. Bahkan masyarakat dunia semakin simpati dengan muqawama dan setiap harinya turun ke jalan memberikan dukungan. 6. Rezim Zionis Israel posisinya kini semakin terjepit. Dari utara di ancam oleh Hizbullah dan dari selatan oleh muqawama Palestina. Rezim Zionis Israel kini berada di antara dua mata gunting yang setiap saat mengancamnya bila masih tetap keras kepala dan melakukan agresi brutalnya. Wassalam Saleh Lapadi --------------------------------- New Email names for you! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! --------------------------------- New Email names for you! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! [Non-text portions of this message have been removed]
