http://www.dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=10360
Senin, 02 Februari 2009
Wawancara KH Said Aqiel Siradj, Ketua PBNU (2-habis)
Beda Paham, NU Menghindari Bahasa Caci Maki

Di bawah kepemimpinan KH A Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU, organisasi 
kaum santri ini, membawa cukup banyak kemajuan. NU menjadi prakarsa 
acara Konferensi Cendekiawan Muslim se-Dunia (International Conference 
of Islamic Scholars, ICIS), dan mendorong NU membentuk cabang-cabang 
istimewa di luar negeri, yang sebelumnya tidak ada. Lebih dari itu, 
mendaftarkan NU ke PBB sebagai Ormas yang sah dan diakui di dunia 
internasional, dan menerima banyak kunjungan dari tamu-tamu dari luar 
negeri. Yang dilakukan Kiai Hasyim Muzadi, mulai dari ucapannya, 
sikapnya, tindakannya nomor satu itu Liajli I?l?i Kalim?till?h. Adapun 
kegagalannya, tentu harus dilihat secara objektif. Inilah lanjutan 
wawancara Duta Masyarakat dengan KH Dr Said Aqiel Siradj, Ketua PBNU.

Wacana Islam Rahmatan Lil Alamin yang selama digaungkan oleh NU, 
bagaimana sejauh ini aplikasi di masyarakat?

Untuk membawa misi itu, NU selalu bersikap toleran, moderat, setiap ada 
teror kita mengutuk, baik teror dari Islam ke non muslim atau dari 
non-muslim ke Islam. Toleransi kita terlihat sekali, kita tidak pernah 
menggunakan bahasa caci maki terhadap lawan. Misal ketika kasus 
Ahmadiyah, NU tidak menggunakan bahasa sesat menyesatkan, tetapi 
menggunakan bahasa ditolak oleh mayoritas umat Islam. Itulah bahasa NU.

Problematika kehidupan keagamaan di Indonesia semakin kompleks, terutama 
masuknya paham radikal dan transnasional, bagaimana sikap NU terhadap 
hal ini?

Begini ya, itu terjadi akibat NU tidak diajak membangun moral bangsa, 
membangun keagamaan bangsa. Orde Baru membuang NU selama 32 tahun. Yang 
diperankan membangun agama Islam di Indonesia non-NU sehingga akibatnya 
begini. Seandainya sekian menteri itu orang NU, tidak akan seperti ini 
jadinya. Sehingga sekarang ini PR jadi panjang. Internal harus dibenahi 
dulu, lalu menghadapi radikalisasi itu, terus berbicara keluar. Coba 
kalau sejak Orba dulu NU diajak bersama-sama dengan yang lain dalam 
membangun, terutama di bidang agama, paham keagamaan, cara beragama 
tidak akan seperti ini jadinya.

Tadi Anda bilang internal harus dibenahi dulu. Pengertiannya itu seperti 
apa?

NU itu sendiri sudah keberatan tangannya untuk memberikan pencerahan 
kepada kelompok pesantren, ditambah lagi dengan pencerahan untuk 
menghadapi yang liberal, sosialis, sekular, radikal juga yang menganggap 
keagamaan itu bukan faktor penting dan utama. NU itu berperan tawassuth, 
harus pandai-pandai memfungskan dirinya dengan cantik, dengan orang 
ekstrem kita tidak sependapat dan dengan yang tertutup pun kita juga 
kurang sependapat.

Menurut Anda, tantangan yang dianggap besar yang dihadapi oleh NU itu apa?

Sebagai ormas besar tanggung jawabnya pun besar pula. Yang terpenting 
yang harus diperhatikan dan harus difokuskan untuk masa yang akan datang 
tentu meningkatkan orientasi kerakyatan, pendidikan, dan jamiyyah. 
Bagaimana mengangkat derajat warga NU di segala bidang.

Untuk ancaman NU di masa depan?

Ancaman dalam arti yang jelas-jelas tidak ada, tapi bahwa setiap yang 
hal itu pasti ada ancamannya, baik itu ancaman yang bersifat permusuhan 
ataupun kendala yang tidak diduga. Adanya beberapa kelompok yang mengaku 
salafi, yang selalu mengkritik Amaliah Ubudiyah NU, seperti tahlilan, 
istighotsah, dan sebagainya. Tapi bagi saya itu bukan ancaman dan tidak 
perlu dikhawatirkan. Mereka tidak akan besar, karena bertentangan dengan 
budaya. Doktrin itu tidak akan jalan tanpa diiringi dengan budaya. 
Supaya langgeng suatu agama, suatu paham atau ideologi itu harus 
menggabungkan antara langit dan bumi antara nilai-nilai Ketuhanan dan 
aspek manusia teologi dan sosial. Sementara mereka ingin memberangus 
nilai-nilai budaya itu.

Harapan Anda untuk Indonesia dan NU ke depan?

Mudah-mudahan Indonesia segera sehat dan semakin mampu mandiri, tidak 
tergantung pada moneter internasional. Bagaimana caranya para petani, 
nelayan bisa meningkat taraf hidupnya, karena mayoritas warga NU di situ 
sehingga NU harus bisa berperan dalam wilayah itu. Tanpa NU Indonesa itu 
akan ambruk sebagai jati dirinya sebagai bangsa. Jati diri bangsa 
Indonesia itu ya petani, nelayan, santri, kiai kampung, itu jatidiri 
bangsa Indonesia. Jangan lihat konglomerat, pengusaha, itu bukanlah 
jatidiri bangsa Indonesia yang sesungguhnya. (m kamaluddin al maulidy)




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke