Dear all. Setelah NU mendeklarasikan khitah dan kembali menjadi organisasi kemasyarakatan yang konsentrasi kepada masalah2 pengembangan masyarakat dibidang agama, sosial kemasyarakatan, pendidikan dan kesehatan ternyata tidak mengurangi syahwat politik dari para politisi NU. Kalau sebelum reformasi politisi NU masih terbatas kepada orang2 dan keluarga tertentu yang sejak awal berusaha mencari penghasilan dari menjadi politisi (walaupun katanya niat ibadah, cari nafkah juga ibadah juga deng B-)), tetapi setelah reformasi tampaknya menjadikan semakin bertambahnya elit NU yang mendeklarasikan sebagai politisi, bahkan saat masa kampanye seperti sekarang ini menemukan pengurus NU yang tidak menjadi caleg, juru kampanye atau tim sukses sangatlah sulit, dimana-mana ada kumpulan warga NU maka tiba2 tongal tongolah aktor2 yang tiba2 mengaku paling NU dan sangat ahli tentang NU serta mau berjuang segenap tetesan darah untuk NU benar2 sedap padahal sebelumnya sekalipun tidak pernah kelihatan batang hidungnya sehingga berulang2 panitia harus menceritakan sejarah singkatnya sang tokoh dan hubungannya dengan NU, benar2 tokoh yang aneh.
Sangatlah jelas munculnya politisi2 karbitan ataupun yang sudah bangkotan yang kerja politik hanya berorientasi uang semata, sama sekali tidak ada niatan memberikan pencerahan dan pendidikan politik bagi nahdliyin sehingga hasilnya akan terus membebani NU kedepanya, menjadikan institusi NU tercabik2 kedalam kepingan2 perseteruan yang sedikitpun tidak memberi manfaat kepada NU dan nahdliyin bahkan tidak sedikit menyeret dan mempermalukan institusi didepan masyarakat umum. Sebagai contoh kasus berbagai pilkada yang menyeret institusi NU dan elitnya kedalam konflik yang berlarut2 bahkan menimbulkan dendam yang berkepanjangan. padahal sedikitpun nggak memberi manfaat kepada masyarakat NU kecuali diterimanya uang dan materi lain dari para tim sukses para elit NU yang pada akhirnya membentuk mental diri elit NU tersebut yang semakin materilistis dan konsumtif. Demikian juga kasus pkb yang didirikan NU sebagai sarana berpolitik secara benar, tetapi terus didera konflik yang menyeret atau diseret2kan kepada institusi NU. Contoh lain adalah tidak sedikitnya tokoh dan politisi NU yang terseret kedalam kasus2 tercela seperti KKN semakin menjadikan institusi NU semakin terpuruk dimata masyarakat dan menjadi tambahan beban bagi NU itu sendiri. Jadi sebelum semuanya terlambat dimana institusi NU akan tenggelam karena beban yang berat dari polah tingkah politisi yang menjadikan NU tidak lebih dagangan asongan kaki lima politik yang murah meriah maka anda semua para caleg yang mengaku mencintai NU segeralah bertaubat dan meninggalkan memperdagangkan institusi NU dengan sangat masif. Saya yakin masih ada kalangan NU yang mencintai NU dengan tulus dan sepenuh hati mau menjaganya dari jamahan tangan2 politisi kotor. Sudah waktunya institusi NU mengambil batas yang jelas terhadap politik praktis dan perlu ketegasan bahkan jika dianggap mendesak sesepuh dan aulia yang dihormati warga nahdliyin memberikan fatwa tegas terhadap elit dan pengurus NU yang terlibat dalam politik praktis dan memperdagangkanya dengan sangat murah sehingga membebani NU. Ditulis dengan perasaan campur baur dan mau nangis teringat kaum sepuh dan para aulia pendiri NU yang tentunya sangat sedih menyaksikan NU saat ini. Duh Gusti paringono pitulungmu kagem NU. Regards kangnoer310109 [Non-text portions of this message have been removed]
