Berawal dari Ingin Tahu

KOELN - Pengalaman batin para mualaf Jerman umumnya dimulai dari rentetan 
pertanyaan seperti dialami Sarah, yang bernama asli Sabine Leinkeit, 48 tahun. 
"Saya tidak habis pikir, bagaimana orang rela membunuh dirinya demi agama. Ada 
apa rupanya dengan Islam," katanya mengingat saat-saat dia menyaksikan tayangan 
berita 11 September 2001, yang menghancurkan menara kembar WTC. 
Ibu dua anak itu mencari jawaban di Internet yang justru membuatnya tertarik 
mempelajari Islam sampai delapan jam sehari. "Kebenaran yang benar-benar saya 
rasakan di hati," kata Sarah, yang kemudian bertemu dengan Ahmed, seorang 
pemuda Mesir, yang menjadi guru Islamnya yang pertama. 
Keingintahuan Nicola-Zeyneb Trostorss, 42 tahun, berawal dari perkenalannya 
dengan pemuda Turki di tempat kerjanya. Bekas manajer perusahaan karpet itu 
terkesan oleh sang pemuda yang, di matanya, amat baik hati. Saat makan siang 
bareng, ia kerap ditawari roti Turki. "Tapi dia menolak saya tawari sandwich. 
Padahal isinya ayam. Menurut dia, karena ayamnya disembelih bukan atas nama 
Allah. Saya melongo," kata Zeyneb sambil tertawa mengingat kejadian itu. 
Zeyneb, yang kala itu berusia 25 tahun, mengingat dirinya sebagai wanita bebas, 
yang sejak berusia 16 tahun sudah jadi perokok serta gemar minum minuman 
beralkohol dan berkonvoi motor besar bersama teman-temannya. 
Ketika sang pemuda pamit untuk berjihad di perang Bosnia, ia mempunyai satu 
permintaan kepada Zeyneb. "Pergilah ke masjid. Di situlah tempat yang paling 
baik untuk belajar tentang Islam," katanya. Ditemani sang ibu, ia datang ke 
sebuah masjid. "Saya terkesan sekali oleh keramahtamahan para muslimah di sana. 
Terus terang, saya jatuh cinta pada atmosfer masjid. Hati saya terasa nyaman 
sekali," katanya. 
Tak semua orang tua Jerman shocked pada pilihan hidup anaknya, memang. 
Setidaknya itu yang dibuktikan Max-Bilal Heidelberger, 29 tahun. Sejak 14 tahun 
Bilal--begitu nama Islamnya--sudah tertarik mempelajari huruf Arab. "Bahasa 
Arab terkenal di dunia dan saya ingin menguasainya," kata Bilal mengenang. 
Menguasai bahasa Arab memang tidak berarti meyakini Islam.

 
Ia tertarik memperdalam Islam setelah Habib--pemuda Maroko yang mengunjunginya 
di Jerman--mengajaknya ke masjid. Ia ditunjukkan cara berwudu dan bersembahyang 
di masjid. "Semula saya mengira begitulah perilaku sopan di dalam masjid," kata 
Bilal. Dan pengalaman pertamanya itu amat berkesan. "Saya terpesona oleh adab 
masjid: semua orang duduk di lantai dan mendengarkan khotbah. Juga suasana 
persaudaraan di situ. Saya merasa ketertarikan pada Islam mulai memasuki hati 
saya. Rasanya seperti masuk ke dunia baru," ujar Bilal. SRI PUDYASTUTI 
BAUMEISTER (JERMAN)
 
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/01/31/Internasional/krn.20090131.155395.id.html


              salam
     [email protected]
 


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke