Pertanyaan untuk Ahmad Syafii Maarif
Oleh : Wildan Hasan <mailto:[email protected]>  01 Feb 2009 - 3:58
am  <http://swaramuslim.com/posting/comments.php?id=6086_0_19_0_C>
Oleh: Wildan Hasan *)
Tulisan ini adalah tanggapan terhadap resonansi bapak Syafii Maarif di
harian Republika (Selasa, 27/01/09) berjudul empat pertanyaan untuk
Muhammadiyah dan NU
<http://ng.republika.co.id/koran/0/28057/Empat_Pertanyaan_untuk_Muhammad\
iyah_dan_NU>  . Kalaulah tidak akan dimintai pertanggung jawaban oleh
Allah di akhirat kelak karena membiarkan pemikiran-pemikiran yang
merusak Islam seperti tulisannya bapak Syafii Maarif itu.

Sebenarnya hampir-hampir menjemukan menanggapi kegenitan-kegenitan
intelektual semacam ini. Menjemukan karena kita melihat bahwa hal ini
bukan lagi konflik ilmiah tapi sudah mengarah kepada konflik ideologi.
Atau memang konflik yang terakhir ini yang sebenarnya terjadi dari awal.
Konflik ilmiah dengan bapak Syafii Maarif dan orang-orang yang sehaluan
dengannya seringkali berujung tidak ilmiah di pihak mereka. Cirinya
adalah; pertama, sebuah konflik yang kemudian berusaha diselesaikan
dengan diskusi ilmiah haruslah memiliki standar rujukan yang sama.

Masalahnya, saat bicara tentang Islam mereka tidak mau menyepakati
standar rujukan utama Islam yakni Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sekalipun
kemudian mereka sepakat, cara mereka memahami Al-Qur'an dan
As-Sunnah tidak merujuk kepada standar pemahaman yang sudah baku dan
teruji beratus-ratus tahun lamanya. Kecuali mereka kemudian akan
melontarkan waham (keraguan-keraguan) terhadap standar-standar tersebut
tanpa sedikitpun mereka mampu mengajukan alternatif yang lebih baik dan
teruji. Sebagai contoh, mereka melontarkan keraguan terhadap metode
tafsir Al-Qur'an para ulama dan mengusung metode hermeneutik sebagai
alternatif tafsir Al-Qur'an tanpa mereka mampu memberi bukti bahwa
hermeneutik Al-Qur'an mampu memberikan tafsir kepada Al-Qur'an
lebih baik atau paling tidak setara dengan metode tafsir para ulama.
Begitu hebatnya mereka melecehkan tafsir Al-Qur'an para ulama dan
mengagung-agungkan hermeneutik Al-Qur'an, namun hingga saat ini
belum ada `tafsir' hermeneutik Al-Qur'an yang mereka buat.
Jangankan 30 juz, satu ayat pun mereka tidak mampu menunjukkannya kepada
kita. Jelas mereka tidak akan mampu menghadapi tantangan Allah SWT dalam
surat Al-Baqarah ayat 23. Bahkan celakanya, mereka juga mereduksi
ayat-ayat Al-Qur'an yang tidak sesuai dengan akal fikirannya.

Diskusi yang tidak dilandasi standar pokok yang sama untuk menjadi
rujukan saat terjadinya perbedaan pendapat adalah mutlak diperlukan jika
ingin disebut ilmiah. Tanpa itu, diskusi dilakukan sesering apapun hanya
akan menjadi debat kusir seperti yang selama ini sering terjadi.

Kedua, sebuah diskusi ilmiah haruslah membuat pihak yang keliru
hujjah-nya kembali kepada kebenaran yang ditunjukkan oleh pihak yang
lain. Selama ini yang terjadi ketika berlangsung diskusi antara kelompok
Islam Konfrehensif dengan kelompok Islam Reduksionis (Liberal), saat
hujjah-hujjah kelompok Islam reduksionis ini terbantahkan secara ilmiah,
tidaklah membuat mereka kembali kepada kebenaran, beristighfar dan
bertaubat. Hal ini terjadi mungkin akibat kesalahan dalam niat awal
mereka, yaitu bukan untuk mendapatkan kebenaran tetapi untuk
mempertanyakan kebenaran. Jika demikian, perbedaan atau konflik apalagi
kalau bukan perbedaan ideologis?

Hal pertama kali yang harus dilakukan dalam menyikapi pernyataan atau
pertanyaan dari sosok semacam bapak Syafii Maarif adalah tidak boleh
kita langsung merasa rendah diri lalu terpukau oleh keindahan-keindahan
bahasa dan nunut seperti kerbau dicokok hidung dan merasa diri telah
bergabung menjadi bagian dari kelompok hebat yang modern, kreatif,
dinamis dan mencerahkan sebagaimana klaim mereka selama ini. Tidak perlu
juga terlalu reaktif, sibuk membuat bantahan-bantahan panjang lebar dan
bermutu tinggi dengan rujukan-rujukan yang tak terbantahkan. Karena hal
itu mungkin tidak akan berlaku efektif selama mereka tidak berdiri di
atas standar ilmiah. Kecuali harus memanjatkan doa dengan sepenuh hati
dan kesungguhan agar mereka mendapatkan hidayah Allah SWT.

Mungkin bapak Syafii Maarif akan mengatakan, sebuah diskusi disebut
ilmiah jika tidak bermuatan ideologi tertentu karena akan subyektif
hasilnya. Pertanyaannya adalah, hal apakah di dunia ini sekecil dan
sesederhana apapun itu yang tanpa muatan ideologisnya? Seseorang
berpendapat tidak mungkin tidak ada unsur ideologis di dalamnya. Apakah
itu ideologi Islam, sekuler, pluralis, sosialis, liberal atau bahkan
marxis. Dan jelas, tulisan bapak Syafii Maarif dalam resonansi tersebut
bermuatan ideologi inklusif pluralis. Jika demikian tulisan tersebut
subyektif dan tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Dalam resonansi tersebut baru terdapat dua pertanyaan yang diajukan
untuk Muhammadiyah dan NU dari empat pertanyaan yang akan disampaikan
bapak Syafii Maarif. Entah apakah sisanya akan dipertanyakan dalam
resonansi selanjutnya atau tidak. Sekalipun dalam pertanyaan pertama
saja sudah ada empat pertanyaan yang dilontarkan.

Sebagai orang yang diberikan amanah ilmu, sudah seharusnya kita bersikap
kritis terhadap istilah-istilah indah yang ternyata bisa menjerumuskan.
Bapak Syafii Maarif banyak menaburkan istilah-istilah indah sebagaimana
keahliannya dalam resonansi tersebut. Sebut saja istilah pemikiran
keislaman kreatif, persaudaraan antar umat, kemanusiaan universal,
gagasan Islam yang dinamis dan kreatif, keislaman yang hidup dan
menghidupkan, stamina spiritual, maju dalam menalar, dan buritan
peradaban. Indah, memukau, menggiurkan bak nasi goreng di tengah malam
saat lapar menghebat. Namun, mari kita pertanyakan apa maksud dari
istilah-istilah itu, mana wujud bukti dari istilah-istilah tersebut,
bagaimana cara mewujudkannya, sudahkah bapak Syafii Maarif sendiri mampu
mewujudkannya setidaknya di keluarganya sendiri?

Biarkan dijawab dulu pertanyaan-pertanyaan itu sebelum kita menanggapi
tuduhan-tuduhannya. Karena dipastikan jika beliau jelaskan
istilah-istilah yang tanpa standar kokoh, tanpa konsep batas, distingsi
dan kategorisasi-kategorisasi itu, akan memunculkan puluhan bahkan
ratusan pertanyaan susulan dari kita. Jangan biarkan kita terjebak untuk
langsung menanggapi tuduhan-tuduhan itu, yang akan membuat kita
pontang-panting, sibuk, pucat dan lelah sementara banyak tugas-tugas
penting dan lebih bermanfaat menunggu kita. Selain bapak Syafii
Maarifnya sendiri mungkin sudah pindah tempat duduk dan memuaskan
kembali kegemarannya melontarkan syubuhat kesana kemari.

Paling tidak ada tujuh belas tuduhan yang dilontarkan bapak Syafii
Maarif terhadap Muhammadiyah dan NU. Pertama, Muhammadiyah dan NU tidak
berada pada jalur pemikiran keislaman kreatif. Artinya Muhammadiyah dan
NU tidak kreatif (dungu). Kedua, doktrin ahlussunnah waljamaah yang
dianut Muhammadiyah dan NU sempit. Ketiga, doktrin ahlussunnah waljamaah
tidak akan dapat membuat Muhammadiyah dan NU menjadi rahmatan
lil'alamin. Keempat, doktrin ahlussunnah waljamaah Muhammadiyah dan
NU tidak dinamis dan kreatif. Kelima, keislaman Muhammadiyah dan NU
dengan doktrinnya itu tidak hidup dan menghidupkan. Keenam, doktrin yang
dianut Muhammadiyah dan NU itu tidak mampu berhadapan dengan masalah
kekinian. Ketujuh, Muhammadiyah dan NU nyontek doktrin yang sudah dibuat
oleh peradaban masa lalu. Kedelapan, Muhammadiyah dan NU telah
memberhalakan peradaban masa lalu. Kesembilan, Muhammadiyah dan NU tidak
bersikap kritis terhadap peradaban masa lalu. Kesepuluh, Muhammadiyah
dan NU belum punya keinginan untuk maju dalam menalar.

Tuduhan kesebelas, peradaban Islam yang dijadikan acuan oleh
Muhammadiyah dan NU menyesakkan nafas. Kedua belas, puluhan tahun energi
Muhammadiyah dan NU terbuang sia-sia. Ketiga belas, Muhammadiyah dan NU
ikut andil dalam terjadinya gesekan dan perpecahan akibat terjun dalam
politik kekuasaan. Keempat belas, Sebagian orang Muhammadiyah dan NU
bukan intelektual berbakat yang piawai mengatasi hidup dan karirnya.
Kelima belas, generasi tua Muhammadiyah dan NU tidak menggembirakan
secara kualitas maupun kuantitas. Keenam belas, nasehat dan taujih
generasi tua kepada generasi muda Muhammadiyah dan NU tidak perlu
ditanggapi kareena akan membuat frustasi, dan ketujuh belas, generasi
tua Muhammadiyah dan NU bersiap-siaplah digantikan generasi yang
dinamis, kreatif dan hidup versi bapak Syafii Maarif.

Nampak seperti dramatis. Namun inilah sebenarnya jika kita ingin
mengetahui maksud sebenarnya dari tulisan bapak Syafii Maarif tersebut.
Tentu kader Muhammadiyah dan NU lah, baik generasi tua maupun muda yang
lebih berhak membantah tuduhan-tuduhan memilukan tersebut. Saya merasa
tidak terlalu berhak untuk menanggapi karena bukan bagian langsung dari
gerakan Muhammadiyah dan NU. Saya hanya bagian dari gerakan Islam yang
menurut bapak Syafii Maarif tidak mewakili arus besar Islam Indonesia.
Namun saran saya, karena masih banyak tugas-tugas umat yang lebih
penting dan bermanfaat, tanggapilah tulisan beliau itu saat waktu
senggang saja. Siapa tahu beliau sendiri sudah lupa dan sedang menyusun
banyak pekerjaan rumah lagi untuk umat.

Al-Faqir ila `Afwi Robbih
Wildan Hasan
Kordinator Forum Kajian Muhammad Natsir
for World Civilization
(021-9273 9740)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke