Empat Pertanyaan untuk Muhammadiyah dan NU      PDF 
<http://www.maarifinstitute.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=328> 
        Print 
<http://www.maarifinstitute.org/index2.php?option=com_content&task=view&id=328&pop=1&page=0&Itemid=1>
 
        E-mail 
<http://www.maarifinstitute.org/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=328&itemid=1>
 


Thursday, 29 January 2009

Oleh *Syafii Maarif*

ImageJika dalam Resonansi ini saya hanya menyebutkan Muhammadiyah dan 
NU, tidak berarti bahwa gerakan-gerakan Islam yang lain di Indonesia 
tidak penting. Mereka penting, tetapi karena alasan peta sosiologis, 
publik menyebutkan bahwa NU dan Muhammadiyah dinilai mewakili arus besar 
Islam Indonesia. Itulah sebabnya saya mengajukan empat pertanyaan kunci 
yang kritikal kepada keduanya di sisi apresiasi saya yang tinggi kepada 
kinerja mereka selama ini. Tetapi, pada ranah pemikiran keislaman 
kreatif yang tengah berkembang sekarang ini, saya punya beberapa catatan 
untuk Muhammadiyah dan NU.

Pertanyaan pertama, apakah Muhammadiyah dan NU sudah yakin bahwa doktrin 
nonmazhab atau aswaja (/ahlussunnah waljama'ah/) yang dipegang selama 
ini sudah cukup memadai untuk dijadikan pegangan dan acuan menuju 
terciptanya persaudaraan antarumat dan kemanusiaan universal? Saya 
sendiri masih ragu. Cobalah buka semua dokumen baku kedua sayap utama 
itu, apakah kita tidak berpikir, khususnya untuk Indonesia, untuk 
menggelindingkan wawasan keislaman pasca-Muhammadiyah dan pasca-NU? Ini 
tidak bermakna bahwa keduanya harus ditinggalkan atau diganti, tetapi 
wawasan mereka tidak boleh lagi berkutat dalam radius sempit yang selama 
ini dijadikan acuan dalam bergerak. Muhammadiyah dan NU hanyalah alat 
untuk mencapai tujuan Islam, bukan?

Jika alat sudah kehilangan darah segar dalam bentuk gagasan Islam yang 
dinamis dan kreatif untuk memecahkan berbagai persoalan kemanusiaan 
global, apakah alat itu tidak perlu mendapat suntikan darah baru yang 
segar sehingga tetap tanggap dan percaya diri untuk menawarkan solusi 
terhadap tantangan yang datang silih berganti, apakah itu di bidang 
ilmu, sosial, ekonomi, politik, dan moral? Tenggelam dalam khazanah 
klasik, sekalipun kaya, tetapi gagal berurusan dengan masalah kekinian, 
adalah pertanda bahwa keislaman kita bukan lagi sebuah keislaman yang 
hidup dan menghidupkan. Dengan kata lain, kita gagal menawarkan sebuah 
alternatif bagi peradaban modern yang telah hampir kehilangan stamina 
spiritual yang kini terasa sangat diperlukan.

Semua hasil pemikiran manusia, termasuk tafsiran terhadap teks suci, 
pasti terikat dengan ruang dan waktu. Betapa pun, kita punya masa lampau 
yang dahsyat dalam bidang keilmuan dan peradaban, pemilik aslinya bukan 
kita, tetapi adalah mereka yang menciptakan. Oleh sebab itu, bagi saya, 
kelampauan bukan untuk diberhalakan, tetapi untuk dikritik sehingga kita 
yang datang belakangan harus punya tekad untuk melebihi mereka, baik 
dalam kualitas maupun dalam kuantitas hasil karya. Inilah yang disebut 
maju dalam menalar. Tanpa keberanian untuk berpikir semacam itu, saya 
khawatir umat Islam akan sulit sekali bangkit meninggalkan buritan 
peradaban yang telah menyesakkan napas kita sekian ratus tahun.

Pertanyaan kedua, apakah energi yang telah dikerahkan Muhammadiyah dan 
NU selama sekian puluh tahun sudah membuahkan hasil optimal, seperti 
yang dituntut oleh AD (Anggaran Dasar) mereka masing-masing? Atau, malah 
AD ini jarang dibaca, seakan-akan telah menjadi benda museum.

Sebagai seorang yang terlibat dalam pusaran pergerakan Islam selama 
puluhan tahun, saya menjadi semakin risau karena memantau energi kedua 
kekuatan itu telah banyak terbuang secara sia-sia dan tidak jarang 
dihabiskan untuk kepentingan politik kekuasaan yang penuh gesekan dan 
memicu perpecahan. Dalam kaitan inilah saya sungguh berharap agar 
sebagian intelektual berbakat dari kedua sayap umat ini akan lebih 
piawai mengatur hidup dan kariernya, demi meraih sesuatu yang lebih 
bermakna, lebih abadi, di mana saya hampir tidak berdaya untuk itu.

Saya mengamati dengan cermat bahwa generasi muda pemikir yang lahir dari 
rahim NU dan Muhammadiyah sungguh sangat menggembirakan, baik kualitas 
maupun kuantitasnya. Adapun kadang-kadang dicurigai oleh kalangan yang 
lebih senior, tidak perlu terlalu ditanggapi yang dapat mengundang 
frustrasi. Yang perlu dijaga adalah agar kesenjangan pemikiran itu tidak 
memicu munculnya badai perpecahan. Toh pada saatnya, generasi muda 
itulah yang akan tampil menggantikan bapak-bapak mereka yang semakin 
uzur, seperti saya ini.

Sumber : www.republika.co.id




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke