Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm


Catatan A. Umar Said
Menjelang pemilu 2009 :



Rindu kepada pemimpin

yang seperti Bung Karno





Mohon sama-sama kita perhatikan bahwa menjelang Pemilihan presiden 2009,
banyak kalangan dari berbagai golongan masyarakat di Indonesia makin merasa
bingung atau tidak tahu tokoh yang mana yang pantas dipilih sebagai calon
presiden dan wakil presiden. Di samping itu ada juga kalangan yang sudah
mengambil sikap cuwek saja atau tidak peduli siapa sajakah yang akan tampil
sebagai capres (calonn presiden) dan wakilnya. Bahkan, ada sebagian
masyarakat yang sudah memutuskan untuk golput saja (atau tidak memilih
siapa-siapa), karena berbagai pertimbangan.



Kita sudah  mulai mendengar adanya berbagai tokoh yang mencalonkan diri atau
yang dicalonkan oleh macam-macam kalangan dari golongan-golongan untuk
dipilih sebagai pimpinan tertinggi negara kita beserta wakilnya. Tokoh-tokoh
itu terdapat (antara lain ) : Megawati, SBY, Jusuf Kalla, Prabowo, Wiranto,
Sutiyoso, Sultan Hamengku Buwono, Hidayat Nur Wahid, Abu Rizal Bakri, dan
juga tokoh-tokoh lainnya seperti Surya Paloh, Akbar Tanjung, Agung Leksono,
dan (bahkan!) Yusril Ihza Mahendra, Muladi, Fahmi Idris.



Bahwa ada kebingungan atau keraguan banyak orang tentang siapa-siapa yang
pantas dipilih sebagai presiden dan wakilnya adalah wajar atau bisa
dimengerti kalau mengingat bahwa  dari nama-nama yang sudah mulai terdengar
(meskipun masih belum pasti betul) maka agaknya tidak ada yang menonjol
betul-betul dibandingkan dengan yang lain-lain, yang bisa diharapkan bisa
memimpin negara dan bangsa menuju perubahan-perubahan besar dan fundamental
bagi kesejahteraan rakyat yang berjumlah 230 juta orang ini.



Terlalu banyak persoalan-persoalan besar yang harus dihadapi negara dan
bangsa, sebagai akibat dari peninggalan pemerintahan rezim militer Orde
Baru, ditambah dengan sisa-sisa persoalan dari berbagai pemerintahan
pasca-Suharto (di bawah Habibie, Abdurrachman Wahid, Megawati,)  dan
sekarang  yang sedang dihadapi oleh pemerintahan SBY-JK. Lebih-lebih lagi,
dengan munculnya krisis keuangan yang melahirkan krisis ekonomi di sebagian
besar bagian dunia, yang dampaknya juga menimbulkan tambah parahnya
kehidupan bangsa Indonesia, maka semuanya itu menuntut adanya kepemimpinan
negara, yang bisa diharapkan bisa membawa Republik Indonesia keluar dari
kesulitan-kesulitan besar dan parah seperti tersebut di atas.



Muak atau jijik dengan praktek-praktek mereka


Sudah jelaslah kiranya, bahwa kepemimpinan yang demikian itu tidak bisa
diharapkan sama sekali dari nama-nama “tokoh-tokoh” yang pandangan
politiknya, atau sikap moralnya, atau jati dirinya  tergolong dalam
pendukung (dekat atau jauh, terang-terangan atau “tersembunyi”) Suharto dan
rejim militernya. Sebagian besar rakyat kita sudah kenyang – bahkan muak
atau jijik --dengan praktek-praktek mereka selama 32 tahun rejim Orde Baru
ditambah lebih dari 10 tahun masa pasca-Suharto, yang hasil negatifnya  bisa
sama-sama kita saksikan dengan nyata sekali di banyak bidang dewasa ini.



Seperti yang bisa diamati oleh banyak orang, sebagian terbesar dari masalah
penyelewengan kekuasaan, masalah korupsi besar-besaran, masalah pelanggaran
HAM, pendeknya segala penyakit-penyakit parah yang terjadi di Indonesia
adalah pada umumnya  dilakukan oleh orang-orang dari berbagai kalangan yang
mempunyai pandangan politik pro-Suharto dan anti-Bung Karno (atau
anti-komunis). Tanpa mengambil sikap gebyah-uyah bisalah agaknya dikatakan
bahwa para koruptor besar dan para “tokoh” yang rusak moralnya adalah pada
umumnya -  atau biasanya -- orang-orang yang mendukung Orde Baru. Mereka ini
banyak terdapat di kalangan militer, di kalangan pejabat,  di kalangan
masyarakat luas (bahkan, termasuk di kalangan tokoh-tokoh agama !!!).



Karena itu, nama-nama seperti Prabowo, Wiranto,Sutiyoso, Jusuf Kalla,  Abu
Rizal Bakri, Surya Paloh, Akbar Tajung, Muladi, Yusril Mahendra, yang
sejarah hidup mereka  sudah menunjukkan kedekatan dan dukungan mereka
terhadap Suharto beserta Orde Barunya, tidaklah  sama sekali menimbulkan
harapan bahwa mereka bisa menyajikan kepada rakyat dan negara Republik
Indonesia satu perspektif yang lain atau jauh berbeda dari apa yang sudah
terjadi selama 32 tahun rezim Suharto ditambah lebih dari 10 tahun
pasca-Suharto. Kalau (sekali lagi : kalau!) orang-orang yang pro-Suharto
terpilih lagi untuk mempimpin rakyat dan negara, maka akan berarti bahwa
Republik Indonesia akan terjerumus kembali ke dalam masa gelap atau suram,
seperti yang sudah dialami sendiri oleh sebagian terbesar rakyat kita.



Perubahan-perubahan di dunia dan di Indonesia


Sekarang, dalam tahun 2009, sudah banyak sekali perubahan yang terjadi di
bidang internasional, dan di bidang nasional, dibandingkan dengan situasi
ketika  Suharto merebut kekuasaan dari presiden Sukarno dalam tahun-tahun
1965-1966. Perang dingin dalam bentuknya yang lama sudah  lewat jauh di
belakang, dan “bahaya kubu Uni Soviet” atau “bahaya kuning RRT” sudah tidak
menjadi momok seperti dulu lagi. imperialis Amerika Serikat, yang dulu bisa
bertindak sewenang-wenang sebagai polisi sekaligus penguasa dunia, sekarang
sudah makin rontok giginya atau makin loyo   Merosotnya  kekuatan dan
pengaruh imperialis AS sekarang ini mendorong terjadinya perubahan-perubahan
di dunia, termasuk di Indonesia.



Di skala nasional, sejak jatuhnya rejim Suharto dalam tahun 1998, citra para
pendukungnya (terutama pimpinan militer, Golkar, dan kalangan agama) sudah
jauh sekali merosot di mata sebagian terbesar rakyat. Meskipun masih
berusaha dengan segala cara  (tertutup atau terbuka) untuk tetap
mempertahankan segala “keistimewaan”-nya semasa rejim Orde Baru, pimpinan
militer sudah kehilangan  kekuatan mereka sejak dihapuskannya doktrin
Dwifungsi, ditertibkannya praktek-praktek bisnis, dan ditempatkannya
kekuasaan militer di bawah pimpinan sipil. Perkembangan yang demikian itu
merupakan langkah besar sekali untuk menghilangkan berbagai penyakit parah
yang disebabkan oleh praktek-praktek buruk pimpinan militer selama puluhan
tahun. Namun, sisa-sisa Orde Baru masih cukup kuat untuk terus melakukan
perusakan-perusakan di berbagai bidang.



Sementara itu, perjuangan berbagai kalangan rakyat untuk terus melawan
sisa-sisa praktek Orde Baru yang dilanjutkan oleh berbagai pemerintahan
pasca-Suharto, masih tetap berkembang atau bergejolak terus dalam
bermacam-macam aksi atau gerakan di lapangan politik, ekonomi, sosial dan
HAM. Gerakan atau aksi-aksi berbagai kalangan masyarakat ini tidak bisa
dibendung atau dicegah, karena dilahirkan oleh situasi objektif dan menjadi
sarana atau senjata rakyat dalam membela kepentingan mereka. Terlalu banyak
ketidak-adilan dan perlakuan-perlakuan buruk dari pemerintah beserta para
elit yang berkuasa terhadap sebagian terbesar rakyat (antara lain terhadap
para keluarga korban 65 dan eks-tapol yang jumlahnya besar sekali), yang
perlu mendapat perlawanan dari banyak kalangan masyarakat kita.



Mengingat begitu banyaknya dan parahnya persoalan-persoalan besar yang
sedang dihadapi sebagian terbesar rakyat kita (antara lain : pengangguran
yang puluhan juta, dan kemiskinan yang meluas, harga-harga yang makin mahal
untuk kehidupan sehari-hari, dan ........banyaknya korupsi !) ditambah
dengan besarnya krisis keuangan dan ekonomi dunia (yang paling parah  selama
puluhan tahun) maka jelaslah bahwa negara dan rakyat kita membutuhkan adanya
pimpinan yang mempunyai politik yang berlainan sama sekali dari politik
Suharto dan para pendukungnya,



Perubahan besar-besaran dan fundamental


Tetapi, sayangnya, dari nama-nama yang sudah mulai disebut-sebut dalam media
massa seperti tersebut di atas sebagai calon presiden ini tidak ada yang
bisa diandalkan untuk menjalankan politik yang jauh berbeda sama sekali
dengan politik rejim militer Orde Baru dan yang diteruskan oleh berbagai
pemerintahan sesudah Suharto. Padahal, sudah jelas bahwa segala macam
politik yang sudah ditrapkan sejak lebih dari 40 tahun sampai sekarang
adalah politik yang tidak mementingkan kepentingan  rakyat banyak, dan hanya
menguntungkan golongan elite dan modal asing. Banyak sekali orang yang
berpendapat bahwa politik rejim militer Orde Baru dan berbagai pemerintahan
yang menggantikannya sudah gagal, dan karenanya perlu diganti dengan politik
yang baru oleh pimpinan negara yang baru pula. Tidak bisa lain !!!



Dalam menghadapi pemilihan presiden sekarang ini, terasa sekali adanya
kekosongan pemimpin yang mempunyai visi politik dan missi pengabdian kepada
rakyat, seperti yang telah ditunjukkan oleh Bung Karno. Hanya tokoh-tokoh
yang benar-benar berorientasi kepada kepentingan rakyat banyak, yang dengan
gigih melawan imperialisme dalam segala bentuknya, dapat memimpin negara dan
rakyat untuk membuat perubahan-perubahan besar dan fundamental. Pengalaman
selama lebih dari 40 tahun sudah membuktikan dengan jelas bahwa
perubahan-perubahan besar dan fundamental tidak bisa dilakukan oleh
tokoh-tokoh yang bermental seperti Suharto beserta jenderal-jenderal
pendukungnya, atau oleh tokoh-tokoh partai GOLKAR (dan tokoh-tokoh berbagai
partai lainnya yang pro-Suharto dan anti-Bung Karno)



Perlulah kiranya sama-sama kita perhatikan bahwa selama 40 tahun Orde Baru
ditambah masa pasca-Suharto yang lebih dari 10 tahun, tidak ada
gagasan-gagasan besar atau fikiran pembimbing bagi bangsa, seperti yang
pernah disumbangkan oleh Bung Karno. Suharto sendiri sebagai pimpinan
militer dan sekaligus kepala negara selama 32 tahun tidak mampu mencetuskan
sesuatu yang besar, luhur atau agung seperti yang telah dicetuskan Bung
Karno. Demikian juga halnya dengan tokoh-tokoh partai Golkar atau berbagai
partai lainnya pendukung rejim militer Suharto. Seperti yang sama-sama kita
saksikan selama ini, mereka hanya pandai menjual rethorika-rethorika yang
kedengaran muluk-muluk, tetapi sebenarnya kosong atau palsu isinya.



Sesudah Bung Karno digulingkan secara khianat oleh Suharto beseta para
jenderalnya, dan dengan bantuan imperialisme (teruatama AS) maka sampai
sekarang tidak ada seorang pun di antara tokoh- -tokoh Indonesia yang bisa
meneruskan atau meniru berbagai kebesaran dan  keluhuran Bung Karno sebagai
pemersatu dan guru bangsa. Kalau melihat perkembangan situasi sejak Suharto
mengkhianati Bung Karno sampai sekarang, dan mencermati riwayat hidup dari
sebagian terbesar capres, maka kelihatan betapa kerdilnya atau rendahnya
sosok mereka itu umumnya dibandingkan dengan sosok besar Bung Karno.



Bung Karno sudah membuktikan diri sebagai pejuang revolusioner untuk
kepentingan rakyat Indonesia sejak umur muda sekali melawan kolonialisme
Belanda, sehingga masuk penjara dan dibuang di Endeh dan Bengkulu.  Dan
selama memimpin perjuangan rakyat Indonesia, ia telah melahirkan berbagai
gagasannya yang besar, seperti yang terkandung dalam Indonesia Menggugat,
dan lahirnya Pancasila, serta berbagai ajaran pentingnya seperti Trisakti,
Berdikari, Manifesto Politik, Nasakom, dan ajaran-ajarannya yang lain yang
bisa dibaca dalam buku Dibawah Bendera Revolusi dan Revolusi Belum Selesai.



Dalam menghadapi pemilihan presiden yang akan datang ini terasa sekali
ketiadaan tokoh yang mempunyai citra seagung Bung Karno. Umumnya yang sudah
mencalonkan diri atau dicalonkan  adalah tokoh-tokoh kerdil, yang kebanyakan
juga mempunyai pandangan politik yang pro-Orde Baru dan anti-Bung Karno dan
pendukungnya yang terdiri dari golongan kiri. Sekali lagi, perlulah kiranya
dikatakan degan tegas bahwa dari orang-orang semacam ini atau dengan
orang-orang semacam ini  tidak bisa diharapkan sama sekali adanya perubahan
besar-besaran yang menguntungkan rakyat dan negara.



Memusuhi ajaran Bung Karno adalah memusuhi kepentingan rakyat


Perubahan besar dan fundamental di Indonesia hanya bisa dilakukan oleh dan
bersama-sama tokoh yang jiwa perjuangannya dan pandangan politiknya searah
atau mirip dengan yang dimiliki Bung Karno. Tokoh-tokoh politik Indonesia
yang mana pun tidak mungkin bisa mendatangkan perubahan besar dan
fundamental kalau menganut sikap anti-Bung Karno beserta segala
ajaran-ajaran revolusionernya. Tokoh-tokoh (baik militer maupun sipil) yang
memusuhi ajaran-ajaran Bung Karno adalah, pada hakekatnya, memusuhi rakyat
Indonesia atau mengkhianati revolusi Indonesia.



Dari segi inilah kita bisa melihat betapa besar dosa atau  betapa berat
kesalahan (untuk tidak mengatakan kejahatan) pimpinan militer di bawah
Suharto dan para jenderalnya yang telah menyingkirkan Bung Karno dengan
cara-cara yang tidak berdasarkan peri-kemanusiaan, tidak “halal”, dan secara
licik dan khianat. Sebab, dengan menghancurkan sosok Bung Karno sebagai
pemimpin terbesar rakyat Indonesia, maka Suharto beserta para jenderalnya
telah menjadikan rakyat Indonesia kehilangan pedoman politik dan sumber
semangat perjuangan yang terbesar dan terpenting  dalam sejarah  bangsa
Indonesia sampai sekarang.



Mengingat itu semuanya, nyatalah bahwa rakyat Indonesia yang mendambakan dan
berjuang untuk adanya perubahan-perubahan besar dan fundamental perlu
bersama-sama, dengan segala cara dan terus-menerus,  membantu terciptanya
syarat-syarat bagi timbulnya atau munculnya  pimpinan yang mempunyai jiwa
besar  dan gagasan-gagasan cemerlang bagi kepentingan rakyat seperti yang
dimiliki Bung Karno.



Mungkin, perjuangan semacam ini memerlukan proses yang panjang. Namun dengan
makin besarnya desakan kebutuhan akan pimpinan semacam itu, dibarengi
dengan perkembangan politik, sosial, dan ekonomi yang makin meningkatkan
kesadaran politik rakyat secara umum, kiranya perjuangan rakyat Indonesia
akhirnya akan melahirkan pimpinan yang dibutuhkan.



Paris, 4 Januari 2009





















No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.10.17/1931 - Release Date: 02/02/2009
19:21


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke