Mahasiswa NU Desak PBNU Perkuat Kaderisasi di Kampus
Selasa, 3 Februari 2009 20:38

Bogor, /*NU Online*/
Para peserta Silaturrahim ke-2 Mahasiswa NU se-Jawa di Kampus Sekolah 
Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Bogor mendesak Pengurus 
Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) agar memberikan porsi perhatian lebih 
terhadap kaderisasi di kampus. Jika tidak maka NU akan selalu mengalami 
kesulitan memiliki kader-kader yang berkaulitas tinggi.

Kaderisasi NU dinilai sangat lamban terutama pada kampus berbasis ilmu 
pengetahuan umum seperti IPB, UGM, UI, ITB, UNDIP. NU nyaris tidak 
pernah melirik dan merasa berkepentingan. Padahal mayoritas pemimpin 
bangsa umumnya adalah jebolan PTN-PTN tersebut.

Nailul Abrar, juru bicara delegasi IPB di sela-sela pertemuan ini, Senin 
(2/2) mengemukakan, revitalisasi kaderisasi NU di kampus bersifat 
mendesak dilakukan.

"NU berkepentingan dengan pelestarian ajaran ahlusunnah wal jamaah di 
kampus. Apalagi saat ini banyak mahasiswa dengan latar belakang tradisi 
NU diasuh oleh orang lain, sehingga mereka memilih berpindah idiologi 
sekaligus menjadi musuh NU," kata Nailul.

Menurut Nailul, sejak lama kaderisasi NU di kampus umum menjadi isu dan 
wacana di kalangan Nahdliyyin. Namun hingga sekarang belum ada upaya 
serius yang dilakukan NU.

"Untuk meningkatkan kesejahteraan warga NU, NU perlu meningkatkan 
perhatian pada sektor pendidikan khususnya pendidikan tinggi. Mahasiswa 
NU yang tengah kuliah perlu mendapatkan perhatian secara serius."

Keprihtainan yang sama diutarakan Senja Bagus Ananda, salah seorang 
delegasi dari UI. Dia mengatakan bahwa sangat sulit merekrut kader-kader 
NU di UI. Pasalnya rata-rata dalam setahun kader baru yang direkrut 
selalu terbilang dengan jari. "Di UI merekrut kader NU sangat terasa 
sulit. Saya berharap kondisi ini menadi perhatian NU."

Juru bicara UGM Muhammad Zakiy menimpali, NU juga perlu melakukan 
depolitisasi. Perhatian dan keterlibatan pada politik praktis harus 
diubah kepada politik keumatan dengan memberdayakan dan meningkatkan 
kesejahteraan warga NU.

"Karena itu, kawan-kawan yang berhimpun dalam Formanu ini akan memulai 
dengan mengembangkan budaya intelektualitas, profesionalitas dan 
spiritualitas dalam beraksi," papar Zakiy.

Fathul Mujib dari Undip Semarang menimpali, sudah saat NU melirik 
politik keumatan dalam berkiprah. Pasalnya sejauh ini SDM dan 
kesejahteraan warga NU sangat jauh tertinggal.

"Hal inilah yang mendorong saya berangkat ke Bogor. Saya berharap 
lingkage ini terus terbangun dengan baik guna membina kemitraan jangka 
panang bagi pengembangan Nahdliyyin." (hir)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke