Kali ini saya mencoba menulis sedikit filosofis dan dalam (semoga saja :)), 
jujur saja ini saya hanya sedikit mentraslate dari cerita boss saya yang 
seorang keturunan tionghoa dari daerah singkep. Kebetulan saya sangat tersentak 
dengan pernyatan beliau tentang kalimat tersebut dan ternyata sangat besar 
nilai yang terkandung didalamnya dari sebuah kalimat tersebut dan berhubungan 
dengan kesempurnaan tubuh yangi kita semua miliki.

 

Semua manusia diciptakan sempurna oleh Tuhan dan secara umum manusia diberikan 
dua tangan dan kaki, dua mata, dua telinga dan satu mulut. Kenapa mulut hanya 
satu.? Kenapa tidak dua.? Dan apa implikasinya kalau kita memiliki dua 
mulut.??? Kaki dan tangan merupakan organ yang berpasangan dan saling 
melengkapi fungsinya, sifatnya bisa pasif dan aktif tetapi sangat jelas bahwa 
masing-masing posisi memiliki peran masing-masing yang berbeda dan saling 
melengkapi tetapi tidak bisa saling menggantikan.

Coba saja kita turun bis kemudian saat turun kaki yang kita injakkan dulu yang 
sebelah kanan maka efeknya tidak seimbang bukan.? Bahkan kecenderungannya akan 
jatuh kita, tetapi pada saat kita naik dan turun tangga kenapa kaki kanan yang 
kita majukan bukan kaki kiri? Demikian juga dengan tangan, sangat jelas bahwa 
tangan kanan dan kiri tidak bisa saling menggantikan tetapi fungsinya saling 
melengkapi. Jadi hal tersebut seharusnya menjadikan pengajaran buat kita bahwa 
sebagai manusia kita tidak bisa hidup sendiri, kita akan membutuhkan yang lain 
untuk melengkapi hidup kita.

 

Kemudian kita perhatikan wajah kita, disana ada dua mata, dua telinga dan satu 
mulut, kenapa nggak diberi dua mulut saja.? Ini menunjukkan bahwa organ kita 
yang sifatnya pasif seperti telingga dan mata itu dibuat dua karena kita 
diharapkan menggunakan dengan porsi kerja pasif lebih besar, jadi kita melihat 
dengan dua mata otomatis cara kita memandang akan jauh lebih luas, kita 
diberikan dua telinga maka gunakanlah untuk mendengan lebih banyak suara orang 
lain dengan empati baru kemudian kita diberi satu mulut, jadi cuman satu saja 
tidak dua karena mulut itu aktif sifatnya sehingga seharusnya dibatasi 
penggunaanya.

Jadi kalau kita mau disebut manusia dan mensyukuri nikmat penciptaan kita oleh 
Tuhan maka pergunakanlah semuanya sesuai rencana penciptaan tersebut, jadi 
banyak-banyaklah mendatangi berbagai tempat, luaskanlah cara kita memandang, 
dengarkanlah sebanyak mungkin pembicaraan dan pendapat orang lain dan terakhir 
berbicaralah yang benar-benar penting dan terbatas.

 

Bukankah itu yang banyak diajarkan  oleh berbagai agama dan orang tua kita, 
bahkan ada ungkapan yang cenderung keras tentang hal tersebut misal mulutmu 
adalah harimaumu, mulut jauh lebih tajam dari pedang.

Kalau hal ini kita pegang semua tampaknya kita tidak akan melihat banyaknya 
perselisihan saat ini baik diindonesia maupun didunia, bagaimana perseteruan 
kekanak-kanankan ala SBY - MG, bagaimana riuhnya perseteruan golkar - demokrat 
gara-gara pernyataan prof mubarok, benar demikian bukan.?

 

Dalam sistem management yang selama ini saya sering ikuti, saya sering kali 
mendengar istilah PDCA yaitu Plan, Do, Check dan Action, maka hal ini semakin 
menunjukkan pentingnya kita mengenal dan memfungsikan segenap kelengkapan tubuh 
kita sesuai dengan sistem managemen yang ada.

Jadi dalam merencanakan kita harus mulai dengan datang, kita datangi dulu 
masalahnya, kita raba kondisi masalah tersebut, kemudian kita lihat dan 
perhatikan seluas mungkin permasalahan tersebut dan jangan sampai terlewat, 
setelah selesai kita dengarkan dengan empati semua pihak dengan dua telinga, 
karena kalau kita mendengar dari satu pihak, maka jelas kita mematikan fungsi 
telinga kita yang dua, baru setelah semua data kita terima maka saatnya kita 
menganalisa dari kemampuan otak kita, dan diakhiri dengan berbicara.

Jadi jangan dibalik-balik dimana kita belum datang, belum melihat atau 
mendengar sudah langsung berbicara, kemudian kita pergunakan pengalaman dan 
persepsi yang ada pada diri kita untuk berbicara dan menghakimi setiap masalah 
yang ada, menurut saya itu berarti kita tidak memanfaatkan kenikmatan 
kesempurnaan kita dengan baik, jadi urutan itu juga sangatlah penting dalam 
kita melakukan pengambilan keputusan.

 

                Jadi saya yakin dunia ini akan jauh lebih indah kalau kita 
semua memahami dan melaksanakan tugas dari penciptaan kita.

Mulailah dengan sering datang kebanyak tempat, ringankanlah tangan kita untuk 
terus membantu yang lain, teruslah melihat dengan luas jangan cupet dan 
membatasi pandangan kita kemudian pergunakanlah telinga kita untuk menerima 
pendapat dari sebanyak mungkin orang lain, baik yang pro maupun kontra, baik 
yang memuji maupun mencela kita dan terakhir batasi kita dalam berbicara yang 
nggak penting, batasi juga suapan kemulut kita sesuai dengan kebutuhan mulut 
kita yang cuman satu sehingga membatasi kita dari sifat serakah.

Yang terakhir dan tidak kalah pentingnya bersifatlah tulus.....



Sepertinya tidak sulit bukan untuk kita membuat dunia ini jauh lebih indah

 

Regards,

KangNoer120209


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke