Kesinambungan eksistensi IPNU-IPPNU sebagai wadah pengembangan dan pembinaan
putra-putri Nahdlatul Ulama merupakan ide dasar kelahiran pada tahun 1954..
Dimana IPNU-IPPNU merupakan cetusan dari aspirasi pelajar dan santri yang
hakikatnya juga merupakan pencerminan sikap untuk senantiasa menjalin
kebersamaan dalam mendukung dan menopang cita-cita besar dari tujuan NU yaitu
terbentuknya manusia Indonesia yang berakhlakul karimah, beriman dan menguasai
ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan berkemanusiaan, kemasyarakatan, berbangsa
dan bernegara.
Orientasi IPNU-IPPNU dalam perjalanan sejarahnya senantiasa menegakkan titik
kuatnya pada pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia. Dengan mencermati
berbagai perspektif kecenderungan dan isu-isu berdimensi lokal, nasional,
regional dan global dalam kerangka dasar keagamaan yang transformatif.
Pergerakan roda transformasi ini, tentunya disertai keawasan visi, ketepatan
dan kecermatan serta kearifan memahami rancangan isyarat-isyarat zaman.
Sehingga ketika IPNU-IPPNU meracik visi, interpretasi, persepsi dan orientasi
yang ditindaklanjuti melalui aksi dan refleksi organisasi yang melahirkan sikap
proaktif, kritis, kreatif dan inovatif untuk membuka kesempatan baru dari
dinamika zaman tersebut.
Dinamika zaman dalam konteks kekinian tercitrakan melalui kemajuan teknologi
informasi dan komunikasi dalam dunia globalisasi yang membawa konsekuensi logis
akan terciptanya suatu percepatan lalu lintas produk informasi yang secara
signifikan akan berpengaruh terhadap sikap mental suatu bangsa. Otonomisasi
sebagai sebuah kebijakan yang mau tidak mau harus diterjemahkan dalam
kemandirian organisasi dengan menitik beratkan pada pengembangan kualitas
personal dan kesadaran kolektif dalam mengembangkan kehidupan sosial yang
toleran.
Upaya nyata perwujudan dinamika organisasi yang sehat dan sebagai salah satu
pendekatan untuk melakukan langkah-langkah yang konstruktif bagi kepentingan
perkembangan IPNU-IPPNU dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
mesti harus digalakkan.
Menyambut ulang tahun IPNU yang ke-55 mestinya dijadikan moment untuk
muhasabah, koreksi dan introspeksi diri sejauh mana khidmah IPNU selama waktu
itu terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Perjalanan sejarah selalu tidak lepas dari pasang surut gelombang. Dalam rangka
refleksi ulang tahun IPNU, saya akan mengulas sedikit mengenai IPNU dan warna
warni dinamika yang menghiasinya
a. Sejarah
Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (disingkat IPNU) adalah badan otonom Nahldlatul
Ulama yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan NU pada segmen pelajar dan
santri putra. IPNU didirikan di Semarang pada tanggal 20 Jumadil Akhir 1373 H/
24 Pebruari 1954, yaitu pada Konbes LP Ma’arif NU. Pendiri IPNU adalah M.
Shufyan Cholil (mahasiswa UGM), H. Musthafa (Solo), dan Abdul Ghony Farida
(Semarang). Ketua Umum Pertama IPNU adalah M. Tholhah Mansoer yang terpilih
dalam Konferensi Segi Lima yang diselenggarakan di Solo pada 30 April-1 Mei
1954 dengan melibatkan perwakilan dari Yogyakarta, Semarang, Solo, Jombang, dan
Kediri. Pada tahun 1988, sebagai implikasi dari tekanan rezim Orde Baru, IPNU
mengubah kepanjangannya menjadi Ikatan Putra Nahdlatul Ulama. Sejak saat itu,
segmen garapan IPNU meluas pada komunitas remaja pada umumnya. Pada Kongres XIV
di Surabaya pada tahun 2003, IPNU kembali mengubah kepanjangannya menjadi
“Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama”.
Sejak saat itu babak baru IPNU dimulai. Dengan keputusan itu, IPNU bertekad
mengembalikan basisnya di sekolah dan pesantren. Visi IPNU adalah terbentuknya
pelajar bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlak mulia dan
berwawasan kebangsaan serta bertanggungjawab atas tegak dan terlaksananya
syari’at Islam menurut faham ahlussunnah wal jama’ah yang berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.Untuk mewujudkan visi tersebut, IPNU
melaksanakan misi: (1) Menghimpun dan membina pelajar Nahdlatul Ulama dalam
satu wadah organisasi; (2) Mempersiapkan kader-kader intelektual sebagai
penerus perjuangan bangsa; (3) Mengusahakan tercapainya tujuan organisasi
dengan menyusun landasan program perjuangan sesuai dengan perkembangan
masyarakat (maslahah al-ammah), guna terwujudnya khaira ummah; (4) Mengusahakan
jalinan komunikasi dan kerjasama program dengan pihak lain
selama tidak merugikan organisasi.Sebagai salah satu perangkat organisasi NU,
IPNU menekankan aktivitasnya pada program kaderisasi, baik pengkaderan formal,
informal, maupun non-formal. Di sisi lain, sebagai organisasi pelajar, program
IPNU diorientasikan pada pengembangan kapasitas pelajar dan santri, advokasi,
penerbitan, dan pengorganisasian pelajar.Kini IPNU telah memiliki 33 Pimpinan
Wilayah di tingkat provinsi dan 374 Pimpinan Cabang di tingkat kabupaten/kota.
Sampai dengan tahun 2009, anggota IPNU telah mencapai lebih dari 2 juta pelajar
santri yang telah tersebar di seluruh Indonesia
b. Kendala IPNU
Secara massif IPNU termasuk organisasi kepemudaan dan pelajar yang tetap eksis
dan mempunyai banyak anggota yang tersebar hampir di seluruh pelosok nusantara.
Seperti halnya organisasi induknya Nahdlatul Ulama. IPNU sebagai organisasi
kader merupakan kepanjangan tangan dari NU. Karena sejatinya penerus tahta
kerajaan NU adalah kader-kader dan aktivis binaan IPNU. namun, seolah yang
terjadi selama ini IPNU berjalan sendiri tanpa dukungan dari pihak yang
berkepentingan dalam hal ini NU. realitas seperti ini terjadi di wilayah
Kabupaten bahkan Kecamatan sekalipun. Padahal dalam perjalanan IPNU sangat
membutuhkan wejangan dari yang lebih tua.
Pergeseran akronim 'P" dari pemuda menjadi pelajar sedikit banyak berimplikasi
terhadap lahan garapan IPNU yang kembali ke khittahnya untuk lebih konsern
terhadap pelajar. Lagi-lagi IPNU tidak memiliki bargaining yang kuat untuk
menawarkan diri menjadi rumah kedua bagi pelajar muda NU khususnya. IPNU yang
seharusnya tumbuh berkembang di lingkungan sekolah dan pesantren sebagai
basisnya terasa kurang ada gairah.
Belum lagi militansi anggota IPNU yang masih setengah-setengah dalam membaur
dan beradaptasi di lingkungan IPNU dan NU sehingga sulit untuk dapat
mengembangkan IPNU secara utuh.
Pergeseran makna juga menjadi sebuah dilema bagi IPNU. Penanaman doktrin aswaja
di lingkungan pelajar muda saat ini sangat terbatas kalah saing dengan
modernitas dan weternisasi. Akibatnya calon kader-kader muda hanya mempunyai
loyalitas yang minim terhadap aqidah ahlussunnah wal jamaah.
Dua hal lagi yang paling urgen adalah tata manajemen dan keuangan organisasi
yang sangat minim, membuat gerakan IPNU seolah jalan di tempat.
Sisi-sisi kekurangan IPNU yang seharusnya menjadikan kita makin keras untuk
belajar, berjuang, bertaqwa.Meskipun tidak memungkiri begitu banyak prestasi
yang telah di raih IPNU, dan kita patut bangga menjadi salah satu bagian tak
terpisahkan dari sebuah organisasi NU.
Kiranya beberapa deskripsi diatas patut untuk kita jadikan bahan renungan untuk
kemajuan IPNU dan NU kedepan. Selamat Ualang Tahun IPNU. Mekar seribu bunga di
taman mekar cintaku pada ikatan.
saefi najib
Ketua PAC IPNU Jatilawang
Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
http://downloads.yahoo.com/id/firefox/
[Non-text portions of this message have been removed]