http://www.dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=11940 Kamis, 26 Februari 2009
Kasus Lombok Butuh Kelembutan GERUNG---Belum redanya ketegangan antara warga Dusun Mesangguk, Desa Gapuk, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, dengan jamaah Salafi membuat banyak pihak angkat bicara. Syeikh Muhammad Sa'di, misalnya. Anggota Al Ittihad Al Alami li Al Ulama Al Muslimin (Ikatan Ulama Muslim Internasional) cabang Mesir ini meminta semua pihak mengedepankan kelembutan dalam berhubungan dengan mazhab lain. "Syari'at yang hanif telah memerintahkan kita untuk lemah lembut kepada non-muslim, apalagi terhadap sesama muslim. Dalam As Shahihain, Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya Allah Maha lemah lembut dan menyayangi kelembutan," ungkapnya, kemarin. Sa'di juga menyitir beberapa hadis lain yang menganjurkan umat Islam menyikapi masalah khilaf dengan lemah lembut. Ia juga mengutip sabda Rasulullah yang berbunyi, "Barang siapa mengharamkan kelemahlembutan, maka Allah mengharamkan kepadanya segala kebaikan." Menurut Sa'di, jika terjadi khilaf, maka hendaknya semua pihak menyelesaikan dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Jika salah satu memiliki dalil qath'i, maka itu yang harus diamalkan, akan tetapi ketika kedua-duanya memakai dalil dhanni, maka hendaknya kedua pihak toleransi satu sama lain. Ketegangan antara warga Mesangguk dengan Salafi terendus media saat terjadi serangan warga pada pengikut paham tersebut, Jumat (20/2) malam lalu. Sedikitnya enam rumah milik penganut Salafi di Dusun Mesanggok rusak berat setelah serangan itu. Warga berdalih penyerangan dilakukan karena pengikut Salafi telah menyingung masyarakat yang menganut Ahlissunnah Waljamaah. Ketegangan berlanjut, Senin (23/2) lalu. Ratusan warga Mesangguk mencoba menerobos penjagaan di depan Kantor Kepolisian Resor Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Mereka memaksa kepala kepolisian setempat, Agus Suryanto, melepaskan dua rekan mereka, yang sebelumnya ditangkap karena dinilai melakukan perusakan terhadap rumah H Nasehat, pimpin jamaah Salafi. Menanggapi masalah ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma'ruf Amin, mengatakan, kekerasan terjadi akibat egoisme beberapa kelompok yang berbeda pandangan. "Golongan ini tidak mau toleransi dengan pemahaman yang berbeda dengan mazhab mereka inilah yang menyulut kemarahan warga," tutur Ma'ruf. Menurutnya, MUI sebelumnya sudah mengingatkan aktivis Salafi agar memperbaiki sifat ananiyah mazdhabiyah yang menganggap dirinya paling benar dan menyalahkan golongan yang lain yang menurutnya salah. Meski menurut Ma'ruf, hal tersebut masih dalam taraf ikhtilaf yang dibolehkan, namun hingga kini belum ada tanda-tanda perubahan. Padahal, kalau masih dalam skala majalul ihktilaf perbedaan yang masih dibolehkan maka tidak boleh asal menyalahkan. "Berbeda dengan Ahmadiyah yang sudah jelas-jelas salah," tuturnya. Agar hal itu tidak terjadi kembali, Ma'ruf menyarankan para aktivis Salafi mengubah cara dakwah mereka, agar lebih baik dan memikat golongan lain yang berbeda pandangan. Sementara itu, MUI Nusa Tenggara Barat berpendapat, tak ada masalah yang serius dalam kasus serangan warga ini. Sebab, kelompok Salafi dan warga sama-sama menganut ahlussunnah wal jamaah. Sekretaris MUI Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Haji Mahaly Fikri, mengatakan, kelompok Salafi tak menyimpang dari ajaran Islam. Hanya, katanya, penyebaran ajaran itu tak dikemas sesuai kultur agama yang dianut warga. "Warga menjadi tersinggung dan terjadi tindak anarkis," katanya. Di Lombok Barat, sudah beberapa kali terjadi perusakan fasilitas milik penganut Salafi. Sebelumnya, November 2005, ribuan warga Desa Sesela menyerbu Yayasan Pondok Pesantren Ubay bin Kaab di Dusun Kebon Lauk. (bbs) [Non-text portions of this message have been removed]
