http://www.dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=12757 Nahdliyin Rabu, 11 Maret 2009 Maulid Nabi dan Haul Muhammad Diryat ke-29 di Banyumas Jawa Tengah Para Kiai Rapatkan Barisan, Pemilu Seperti Perang Badar
KAMPUNG ronggeng Dukuh Paruk, Ahad dan Senin lalu, lebih ramai dari biasanya. Maklum di kampung itu sedang ada kenduri Maulid dan Haul KH Muhammad Diryat ke-29 di Pondok pesantren Al-Falah, Mangunsari, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah.Tak kurang dari 20 ribu jamaah tumpah-ruah di halaman pesantren itu. KH Muhammad Diryat adalah ayah kandung KH Ahmad Sobri dan Ahmad Tohari, sastrawan penulis buku Ronggeng Dukuh Paruk. Kedua tokoh mengambil jalan hidup berbeda itu, sama-sama tinggal di desa tempat hidup seorang tokoh Rasun dan Srintil seperti digambarkan dalam novel fenomenal itu. KH Ahmad Sobri mengelola pesanten dengan ratusan santri sedang Ahmad Tohari tetap konsisten menulis novel. KH Ahmad Sobri, yang juga Rais Mustasyar DPW PKNU (Partai Kebangkitan Nasional Ulama) Jawa Tengah, kedatangan banyak tamu penting. Sebab, turut rawuh, para deklarator PKNU, diantaranya? KH. Idris Marzuki, Pengasung Pondok Pesantren Lirboyo, Jawa Timur, KH Nurul Huda Djazuli (pengasuh Pesantren Ploso Kediri) dan KH. Hamid Baidowi (Pengasuh Pesantren Lasem, Rembang, Jateng) dan para Habib dan Habaib. Juga hadir para pejabat pemerintah setempat. Para caleg PKNU dari daerah pemilihan (Dapil) Banyumas dan Cilacap, baik tingkat kabupaten, propinsi maupun DPR RI? tidak mau kalah ikut tampil. Caleg DPR-RI yang hadir di antaranya Zein Heflin Princes (Caleg No urut 1) dan Saefullah (caleg nomor urut 2). Para caleg ditempatkan pada baris kedua sehingga tampak seperti memamerkan caleg PKNU. Sejak awal ribuan jamaah tampak khusyuk mengikuti semua rangkaian haul selama dua haru berurut-turut.?Dari pembacaan Yaasin, Manaqibil Shulthanil Auliya Sayidina Syekh Abdul Qadir Al-Jilani RA, Khitanan Massal, Ziarah Kubur, Kulidurrasul SAW, dan diakhiri tahlil akbar. Mereka seakan larut dalam kegiatan yang diisi oleh para ulama dan kiai panutan mereka. ?Bagaikan Perang Badar Taushiyiah Maulid Nabi Muhammad SAW di sampaikan secara bergantian oleh KH Nurul Huda Djazuli (Pengasuh Pesantren Ploso Kediri) dan KH Hamid Baidlowi (Pengasuh Pesantren Lasem, Rembang, Jateng). Sedangkan Mbah Idris lebih dahulu pamit lantaran keesokan hari di Kediri, akan menerima tamu Gubernur Jatim yang baru. Dalam taushiyahnya, selain menjelaskan hikmah maulid, KH Nurul Huda Djazuli juga menjelaskan tentang Pemilu 2009. Dia mengatakan, Pemilu hukumnya wajib diikuti oleh setiap warga Indonesia. ?Kalau ada yang mengajak ikut golput, jangan diikuti. Sebab, Pemilu adalah cara kita untuk memilih para pemimpin yang akan menentukan nasib bangsa,? papar Kiai Nurul. Menyinggung tentang pilihan, Kiai Nuril mengajurkan pada jamaah, yang masih merasa bimbang, untuk bertanya kepada para kiai. Katanya, para kiai akan menjawab berdasarkan ilmu yang dimiliki dan tidak mungkin menjerumuskan umatnya. ?Siapa yang pilih, tanyalah pada kiai. Kiai pasti sudah punya pandangan sendiri. Jangan tinggalkan ulama atau kiai. Insya Allah, jika ikut petunjuk kiai tetap konsisten dan akan membawa kebaikan,? sambungnya. Dia mengatakan, saat ini dengan segala macam cara sedang ada upaya menjauhkan umat dari para kiai. Salah satu? indikasinya adalah melarang para kiai berpolitik. Padahal politik kiai adalah untuk meluruskan jalan politik yang dikenal kejam. Dia mengingatkan, jangan coba-coba menjauhkan ulama atau kiai dari umat. Jika berani mencoba, katanya, akan turunlah tiga bala? (musibah). Pertama, mencari kerja susah karena tidak barokah, kedua mengangkat penjabat dzalim, dan ketiga, dia mati tidak membawa keimanan kepada Allah. ?Kiai tahu, kalau partai tengkar terus itu jelek. Kiai tahu ditarik-tarik oleh kekuatan kepentingan politik. Kadang kiai itu manusia juga. Tapi, seburuk-buruk kiai jika sudah kembali ngaji kitab, pasti iling (ingat) kembali dan menyadari kesalahan lalu rukun kembali,? ungkap kiai nyentrik ini. Sedangkan, KH Hamid Baidlowo, dengan gaya ceramah yang kocak, mengingatkan tanggal 9 April 2009 bagaikan Perang Badar di zaman Rasulullah. Dia katakan, Perang Badar adalah perang yang menentukan nasib umat Islam ke depan.? ?Kalau umat Islam salah pilih pada 9 April 2009, maka umat Islam bakal keok. Hoooii? umat Islam keok kayak untruk (anak ayam kecil),? ceramah kocak Mbah Hamid, yang disambut tawa jamaah. Dia menceritakan, Nabi Muhammad perang mengingatkan pada suatu zaman umat Islam akan menjadi rebutan banyak pihak. Bukan karena jumlahnya sedikit melainkan karena umat Islam tidak dapat bersatu dalam menentukan pilihan nasibnya. ?Kalau mau pilih partai lihat-lihat asasnya. Kini ada partai yang berasas Islam Ahlusunnah Waljamaah. Ya kebangetan kalau? jamaah nahdliyin tidak memilih partai yang berasas Ahlusunnah. Manut kiai mboten? Yen manut monggo, para kiai sudah mendirikan partai sendiri untuk membangun cita-cita kiai,? katanya tanpa menyinggung langsung nama partai. (m saefulllah) [Non-text portions of this message have been removed]
