Petani,Pemilu,dan Sistem Ekonomi 






Suhu politik nasional kian mendidih. Menjelang pemilu legislatif, 9 April 2009, 
partai politik dan politisi kian intensif melakukan manuver politik. Banyak 
pula politikus yang telah berikrar maju menjadi calon presiden. 


Bagi elite politik dan pengusaha, pemilu merupakan momentum penting yang 
dinantikan. Lewat proses demokrasi lima tahunan itu terjadi sirkulasi 
kepemimpinan nasional.Siapa presiden dan partai politik (parpol) apa yang 
memenangi pemilu akan menentukan corak kebijakan nasional selama lima tahun ke 
depan. 

Sebaliknya, petani tidak begitu peduli dengan pemilu. Ini tidak lepas dari 
disain politik yang melemahkan petani, baik secara ekonomi maupun politik. 
Setiap pemilu petani tidak pernah menjadi kalkulasi politik penting. Mereka 
hanya dihitung dalam jumlah dan menjadi rebutan partai politik, calon 
presiden/wakil presiden atau anggota dewan. 

Pascapemilu, petani kembali sendirian, murung, dan tetap terbelit oleh 
kemiskinan. Berbeda dengan pengusaha, eksekutif atau elite politik yang bisa 
rehat menikmati hiruk-pikuk pemilu, petani kecil tidak bisa berhenti berusaha 
tani.Ada pemilu atau tidak,perut 230 juta warga Indonesia tetap harus dipasok 
dengan 33 juta ton beras, 3,8 juta ton gula, termasuk daging, ayam, dan telur. 

Sayur-sayuran, buah, dan bunga juga harus tetap diproduksi.Sebab,kalau ada 
presiden baru, karangan bunga menjadi larismanis. *** Berbeda dengan di negara 
maju, pemilu atau proses pergantian kekuasaan hampir tidak mengganggu kerja 
ekonomi, termasuk sektor pertanian. Di Jepang, AS, Jerman, dan Inggris 
misalnya, ada pemilu atau tidak, ekonomi tetap mengalir.

 

Di Thailand, pejabat politik di sektor agronomi hanya Menteri Pertanian dan 
Koperasi yang tidak memimpin departemen. Departemen (pertanian, koperasi dan 
penyuluhan) dipimpin seorang dirjen yang birokrat murni. Pergantian kekuasaan, 
lewat pemilu atau kudeta,tak berpengaruh terhadap departemen maupun dirjennya. 

Makanya,ekspor durian,lengkeng, dan burung perkutut ke Indonesia bisa 
berlangsung meskipun pemilu atau kudeta tengah berlangsung. Di Indonesia 
kondisinya berbeda. Secara empirik, pejabat politik di sektor agronomi cuma 
tiga: Menteri Pertanian,Menteri Kehutanan,dan Menteri Kelautan dan Perikanan. 

Namun, secara faktual, 75–80% masalah sektor agro berada di pejabat politik 
lain, mulai Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, 
Menteri Pekerjaan Umum hingga Menteri Negara BUMN. Pejabat politik di 
lembaga-lembaga ini justru lebih powerful. Berbeda dengan Thailand, di 
Indonesia seorang menteri–– kecuali menteri negara— memimpin departemen. 

Corak kebijakan departemen amat ditentukan oleh sang menteri. Pejabat dirjen 
tak punya kekuasaan menentukan kalau tidak bisa dikatakan mandul. Pelembagaan 
politik dalam bentuk aturan (UU dan sejenisnya) untuk melindungi petani belum 
banyak dilakukan di Indonesia.Akibatnya,tiap ganti pemerintahan ganti pula 
orientasi kebijakan di bidang agronomi. 

Jika sebuah pemerintahan berorientasi neoliberal, corak kebijakan akan berwatak 
neoliberal. Ini bertolak belakang dengan di negaranegara maju. Di AS, pertanian 
dilindungi lebih 100 jenis UU dengan dimensi detail. 

Mulai dari Sugar Act 1774, Homestead Act 1862 yang membuat petani memperoleh 
lahan pertanian per unit 65 hektare, Agricultural Adjustment Act 1938 setebal 
142 halaman,Agricultural Marketing Act of 1946, Commodity Distribution Reform 
Actand WICAmendmentsof1987 hingga Animal Welfare Act (Pakpahan, 2004).

 

Subsidi ke petani pun didasari UU. Di Jepang meski industri berkembang pesat, 
pertanian tidak lemah. Kepemilikan tanah meningkat. Di Hokkaido luas lahan per 
petani sekitar 20 hektare.Seiring transformasi ekonomi, Agricultural and 
Lifestock Industry Company dibentuk sebagai lembaga dan instrumen untuk 
melindungi petani dari persaingan global. Seperti Indonesia, pertanian Thailand 
berbasis petani kecil.

Tapi Thailand sangat melindungi petani dari persaingan negara lain. Di sana ada 
Bank for Agriculture and Agricultural Cooperative. Sementara di Indonesia BRI 
yang semula bank koperasi,petani,dan nelayan kini jadi bank umum. 

*** Apa arti semua ini? Bahwa peminggiran kultur dan politik pertanian di 
Indonesia berkait erat dengan the way of thinking, feeling, and bilieving dari 
para pemimpin, pelaku ekonomi dan pengambil kebijakan. Posisi, peran dan fungsi 
pertanian di Indonesia sudah berkali-kali ditulis dalam berbagai dokumen 
kebijakan,tapi implementasinya melenceng. 

Ini terjadi karena mindset atau belief systems para pemimpin dan pengambil 
kebijakan (tetap) memandang remeh pertanian. Jika saja pertanian menjadi bilief 
systems, maka pertanian tidak akan dipandang secara sektoral seperti selama 
ini,tapi diangkat menjadi masalah hidup-matinya sebuah bangsa, seperti yang 
dilakukan oleh negaranegara maju. Indonesia pernah dijajah bangsa Barat.

Tapi keterjajahan tidak menghasilkan kegeraman historis seperti di Cina hingga 
berujung pada semangat productivity culture seperti saat ini (Wibowo, 2004). 
Kerajaan Majapahit yang konon menguasai Nusantara jarang jadi pijak 
sejarah.Mengapa? Ini sama saja menggugat dari mana sejarah Indonesia dimulai? 

Wajar keterjajahan tidak memunculkan kegeraman historis.Pada gilirannya 
productivity culture tak tumbuh dan semangat bersaing jadi loyo. Saya jadi 
ingat tesis Geertz,bahwa bangsa ini mengidap penyakit state manque, yaitu 
tersandung dari sistem (politik dan ekonomi) satu ke sistem (politik dan 
ekonomi) lain tanpa sempat berpikir mana yang paling baik.

 

Kita pernah memeluk sistem ekonomi terpimpin, lalu beralih ke developmentalism 
dan kini ke neoliberalism. Lalu, setelah itu apa lagi? Semoga Pemilu 2009 
menghasilkan pemimpin yang bisa merumuskan sistem ekonomi yang ramah petani.(*) 

Khudori 
Pengamat Masalah 
Sosial-Ekonomi Pertanian dan 
Globalisasi
 
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/221265/

             
 
http://groups.google.com/group/suara-indonesia?hl=id


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke