Sewindu Jaringan Islam Liberal

Diskusi Dua Hari 

Islam dan Kapitalisme


Tempat : Jl Utan Kayu no. 68 H Jakarta 13120
 
Diskusi Hari Pertama: 
Topik                   : Respon Islam terhadap Kapitalisme 
Hari, tanggal         : Senin, 23 Maret 2009 
Waktu                   : Pukul 18.00 s.d. selesai 
Narasumber              : M. Dawam Rahardjo dan Luthfi Assyaukanie 
Moderator               : Saidiman 

Diskusi Hari Kedua: 
Topik                   : Ekonomi Syariah dan Kapitalisme  
Hari, tanggal           : Rabu, 25 Maret 2009 
Waktu                   : Pukul 19.00 s.d. selesai 
Narasumber      : M. Ikhsan Modjo dan Zulkiflimansyah 
Moderator               : Burhanuddin Muhtadi


Krisis keuangan global yang tengah terjadi telah memunculkan beragam
reaksi. Sebagian orang berpandangan bahwa krisis itu adalah sesuatu
yang lumrah dan karenanya tak perlu disikapi dengan panik. 

Sebagian
lainnya berpendapat bahwa krisis ini menunjukkan betapa rapuhnya sistem
perekonomian modern yang dibangun di atas fondasi Kapitalisme. Lebih
jauh, mereka berpandangan bahwa Kapitalisme adalah sebuah sistem yang
buruk yang tak layak lagi dipertahankan. Bagi kelompok ini, sudah
saatnya dunia mencari alternatif baru untuk menggantikan sistem ekonomi
kapitalistik jika mereka tak ingin jatuh lagi ke dalam lubang yang
sama. 

Ada dua kelompok besar dari kubu pengkritik Kapitalisme:
pertama, mereka yang menginginkan dihidupkannya kembali sistem
sosialistik, yang bertumpu pada pentingnya peran negara dalam mengatur
kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Kedua, mereka yang meyakini
bahwa agama (dalam hal ini Islam) memiliki alternatif ekonomi yang
lebih baik ketimbang sistem-sistem ekonomi yang ada. Kelompok ini
menganggap bahwa sistem ekonomi Islam atau sistem ekonomi Syariah
adalah alternatif yang paling jitu untuk menggantikan sistem
Kapitalisme yang sedang sekarat. 

Baik kelompok Sosialis maupun
kelompok Islamis sama-sama meyakini bahwa berbagai persoalan ekonomi
dunia dewasa ini (dari pengangguran, kesenjangan, kemiskinan, dll)
diakibatkan oleh sistem kapitalis yang dimotori oleh negara-negara maju
di Barat. 

Sikap antogonis (sebagian kelompok) Islam terhadap
Kapitalisme bukanlah hal baru. Paling tidak sejak tahun 1950an, sikap
semacam itu sudah digembar-gemborkan, khususnya oleh para intelektual
dan penulis Islamis semacam Abul A’la al-Maududi, Sayyid Qutb, dan Sa’d
Hawwa. Pada 1951, Sayyid Qutb, misalnya, menerbitkan Ma’rakat al-Islam
wa Ra’s al-Maliyah (Pertempuran Islam dan Kapitalisme) , di mana dia
mengecam Kapitalisme sebagai sistem yang jahat dan berbahaya bagi umat
manusia. Bagi Qutb, tidak ada alternatif ekonomi yang lebih baik di
dunia ini kecuali sistem ekonomi Islam yang menekankan keadilan dan
kesejahteraan bersama. Argumen semacam ini kini kembali dimunculkan dan
dikembangkan oleh kelompok-kelompok Islamis semacam Hizbut Tahrir dan
para pendukung ekonomi Syariah. 

Betulkah Islam tidak
kompatibel dengan Kapitalisme? Apakah ekonomi Islam atau ekonomi
Syariah merupakan sebuah sistem yang benar-benar berbeda dari
Kapitalisme? Mengapa kaum Muslim lebih suka mengembangkan retorika
anti-Kapitalisme ketimbang mendukungnya? Apa sesungguhnya yang dimaksud
dengan Kapitalisme ketika mereka menolak konsep ini? 

Seputar
pertanyaan-pertanya an inilah tema diskusi Jaringan Islam Liberal akan
berkisar. Dengan menghadirkan para pakar ekonomi dan ahli pemikiran
Islam, diskusi Ulang Tahun JIL ini ingin menjelaskan kembali hubungan
Islam dan Kapitalisme dengan perspektif dan pendekatan baru yang lebih
jernih.

RSVP: 081586199143 (Saidiman)


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke