LAMHAH SASTRA

Halimi Zuhdy
(Membingkai Sastra Dalam Etalase Kehidupan)
http://halimizuhdy.blogspot.com



Beberapa bulan yang lalu saya diminta untuk mempresentasikan pentingnya sastra 
dalam kehidupan manusia, kebetulan sahabat saya, sebut saja Syukro, tanpa 
sepengetahuan saya, mengikuti acara yang dilaksanakan oleh lembaga kajian 
sastra (Elkas) itu, ia orang yang sangat membenci dan bahkan mooh pada dunia 
sastra, apalagi bersentuhan dengan bahasa-bahasa yang tidak “jelas” sebut saja 
puisi, puisi menurutnya adalah bahasa yang tidak mencerminkan kejujuran dan 
penulisnya lagi mengalami depresi akut sehingga bahasanya tidak tertata dengan 
baik dan benar, dan ia juga sangat membenci cerpen, menurutnya, membaca cerpen 
sebagaimana membaca kebohongan, menelaah kehampaan, membuang-buang waktu, 
menghambur-hamburkan uang dan yang didapat hanya kesia-siaan, dari namanya saja 
“fiksi”. Bagaimana menjadikan manusia seutuhnya kalau bacaannya cerpen dan 
puisi, ungkapnya dengan nada ketus.

Setelah saya selesai menyajikan teori sosiologi sastra dan menutup seminar itu 
dengan ungkapan Georg Lukacs seorang kritikus Marxis terkemuka yang berasal 
dari Hungaria, “Sebuah novel, cerpen, puisi, tidak hanya mencerminkan 
‘realitas’ tetapi lebih dari memberikan kepada kita “sebuah refleksi realitas 
yang lebih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih dinamik” yang mungkin 
melampaui pemahaman umum. Sebuah karya tidak hanya mencerminkan fenomena 
individu secara tertutup melainkan lebih merupakan ‘proses yang hidup’. Sastra 
tidak mencerminkan relitas sebagai fotografi, melainkan lebih sebagai suatu 
bentuk khusus yang mencerminkan realitas. Dengan demikian, sastra dapat 
mencerminkan realitas secara jujur dan objektif dan dapat juga mencerminkan 
kesan realitas subjektifitas. Kontan saja, Syukro bertanya-tanya dalam 
pikirannya, benarkah apa yang dikatakan Halimi?, karena selama ini ia memahami 
bahwa sastra adalah dunia kebohongan yang
 dibungkus keindahan, memenangkan dunia imajinasi ketimbang dunia realitas, 
menuhankan estetik daripada kebenaran hakiki.
Dan tidak beberapa lama setelah itu, Syukro yang anti terhadap karya-karya 
sastra, terutama puisi dan cerpen, mengalami perubahan drastis. Setelah saya 
menyodorkan puisi saya yang berjudul; Tuhan tak ada kata “cinta” untuk-Mu, dan 
beberapa puisi penyair terkenal, O Amuk Kapak-nya Sutardji Calzoum Bachri, Ibu 
– D.Zawawi Imron, Lautan Jilbab-nya MH. Ainun Najib, Negeri Daging-nya Mustofa 
Bisri, kemudian saya jelaskan kata perkata, bait perbait, menurut kemampuan 
saya, agar ia benar-benar memahami makna yang terkandung dalam puisi tersebut, 
memang sekali-dua kali membaca puisi mereka, masih merasakan kesulitan untuk 
memahaminya, namun setelah beberapa kali, merenungi, memahami, mengkaji dan 
membacanya dengan kesungguhan hati dan perasaannya, ia menemukan kenikmatan dan 
keindahan, kemudian ia berkomentar, “sungguh, bahasa yang indah dan penuh makna 
yang terbersit di dalamnya, saya menemukan realitas lain dalam setiap 
kata-katanya, yang sebelumnya
 saya anggap hanya dunia imaji dan dunia basa-basi, tapi di sana benar-benar 
saya temukan realitas-imaji yang sesungguhnya”.
Bukan hanya puisi yang saya sodorkan padanya untuk dilahap, tapi beberapa karya 
sastra lainnya seperti cerpen dan novel, agar ia benar-benar memasuki dunia 
estetik yang lain, seperti, Laki-laki menuju surga karangan Najib Kailani, 
keluarga Gerilya dan Arus Balik –nya Pramoedya Ananta Nor, Dua Orang Dukun- 
Ajip Rosidi, Pertempuran dan Salju di Paris karangan Sitor Situmorang Rosidi, 
Dilarang Mencintai Bunga-bunga Kuntowijoyo dan beberapa cerpen dan Novel 
lainnya. Setelah beberapa hari membaca dan mengkaji karya-karya sastra, seperti 
novel, roman, puisi, cerpen, drama, dan beberapa kolom sastra, ia berkata pada 
saya, “bagaimana ..ya, seandainya hidup ini tanpa sastra, rasanya hampa dan 
hidup tidak menggairahkan, keindahan pun akan tercerabut dari hati, prasaan dan 
diri manusia ,”. Apa yang dirasakan syukro, mungkin akan dirasakan oleh 
penikmat-penikmat sastra, bahkan lebih dari yang dibayangkan sebelumnya.
Sastra bukanlah sekedar dunia simbol yang penghuninya semuanya hanya kata-kata, 
tapi juga bukan dunia pergerakan, yang penuh dengan segenap tindakan seperti 
dalam kerusuhan, dalam revolusi yang bergejolak, atau dalam suatu perhelatan, 
sastra itu cermin hidup manusia, dan dunianya, dan di sana manusia 
berkata-kata, dan kata-katanya juga meninggalkan jejak, kata-kata –selemah dan 
sehalus apapun- bisa mengaruhi dan memberi inspirasi bagi tumbuhnya sesuatu 
bagi tumbuhnya suatu ideologi sosial. Dan sastra dengan begitu secara tak 
langsung bisa memeberi manusia gagasan membikin dunianya lebih baik (M. Sobary, 
Kompas, 3/6/06)
Sejatinya sastra merupakan unsur yang amat penting yang mampu memberikan wajah 
manusiawi, unsur-unsur keindahan, keselarasan, keseimbangan, perspektif, 
harmoni, irama, proporsi, dan sublimasi dalam setiap gerak kehidupan manusia 
dalam menciptakan kebudayaan. Dan apabila hal tersebut tercerabut dari akar 
kehidupan manusia, manusia tak lebih dari sekadar hewan berakal. Untuk itulah 
sastra harus ada dan selalu harus diberadakan.
Sastra adalah vitamin batin, kerja otak kanan yang membuat halus sikap hidup 
insani yang jika benar-benar dimatangkan, akan mampu menumbuhkan sikap yang 
lebih santun dan beradab.
Seni sastra, dilihat dari kenalaran sistematis pada instansi rasional yang 
terakhir, adalah ‘primer’ : mengungkapkan ada (das Sein) manusiawi kita dan 
melekat dalam kehidupan manusia. Secara potensial, setiap orang pada setiap 
jaman pada setiap tempat dapat bersastra, entah secara aktif entah secara pasif 
(Mangunwijaya, 1986:3-7). Oleh karena itu, seni sastra merupakan sebuah bidang 
kebudayaan manusia yang paling tua, yang mendahului cabang-cabang kebudayaan 
lainya. Sebelum adanya ilmu pengetahuan dan teknik, kesenian sudah hadir 
sebagai media ekspresi pengalaman estetik manusia berhadapan dengan alam 
sebagai penjelmaan keindahan (Drikarya, 1980: 7-12).
Ekspresi pengalaman keindahan itu menentramkan dan mengembirakan manusia, 
karena di dalamnya manusia mengenali hubungan yang akrab dan hangat antara 
dirinya dengan sumber atau segala sesuatu yang menarik, mengikat, memikat, dan 
memanggil manusia kepada-Nya. Dan jelaslah bahwa pada awal mula kehadirannya, 
pengalaman estetik tidak dibedakan dari pengalaman relegius (pengalaman 
mistis). Menurut Mangunwijaya “pada awal Mula, segala sastra adalah religius. 
Bagi filsuf Perancis, J. Maritain, pengalaman estetis merupakan 
“Intercommunication between the inner being of thigs and the inner being of the 
human self”, interaksi antara manusia dan hakikat alam raya. Karya sastra 
adalah proyeksi perasaan subjektif ke dalam alam raya dan sebaliknya alam raya 
bercerita tentang perasaan manusia. Perhatikan ungkapan ini: “Suara burung 
elang pada akhir musim kemarau menggemakan rasa rindu seorang pemuda pada 
kekasihnya” (Hartoko, 1986:9).
Sekalipun istilah “sastra” (literature) dengan pengertiannya yang sekarang baru 
muncul di Eropa pada abad ke-18, sastra sesungguhnya berakar dari masa 
prasejarah dalam wujud sastra lisan dan bentuk-bentuk metos.
Mitos merupakan wilayah kesustraan, seperti dijelaskan oleh Cal Jung mengenai 
memori rasial, diffuse histori, dan kesamaan dasar dalam pikiran manusia 
(Vickery, 1982 :79-83). Menurut Richard Chase, mitos adalah karya sastra yang 
harus dipahami sebagai kreasi estetik dari imajinasi manuisa. Pengertian mitos 
sebagai kreasi seni sastra berkaitan fungsi dengan primer mitos dalam pemikiran 
manusia sebelum munculnya bidang-bidang lain seperti ilmu, religi, ekonomi, 
dogma teologi, dll (Chase, 1969 :69) sebagai ekspresi kesenian, mitos 
mengungkapkan kekuatan magis impersonal yang mengacu kepada pengalaman akan 
hal-hal yang luar biasa indah, menakutkan, mengagumkan, dahsyat yang berkaitan 
dengan emosi-emosi preternatural.
Mitos membentuk acuan (matrix), dan dari acuan itu muncul sastra yang bersifat 
psikologis, historis, mistis, religius, simbolis, ekspresif, impresif. 
Elemen-elemn kesustraan seperti alur, tema, perwatakan dan citraan pada umumnya 
ditemukan pula di dalam mitos dan cerita-cerita rakyat.
Sastra, bagaimanapun, memiliki kualitas-kualitas mistis karena pada mulanya 
orang bersastra untuk mengespresikan pengalaman-pengalaman mistik dengan 
menghayati realita-realita paling mendasar dari eksistensi manusia : kelahiran, 
kehidupan, kematian, kesakitan, ketakutan, dan pendambaan keselamatan yang 
merupakan dimensi-dimensi transendentalnya.
Akan tetapi, pada suatu fase historis, sastra semakin otonom dari segi-segi 
estetika dan semakin menuntut hak-haknya, bahkan seringkali mengklaim monopoli 
(Mangunwijaya, 1986:5-6).sastrawan dan seniman merasa diri sebagai manusia yang 
luar biasa, yang otonom mutlak, bahkan merasa dirinya ‘resi diatas angin’ . 
sastra lalu lepas dari kehidupan manusia biasa dan menjadi sukar didefinisakan 
oleh orang biasa. Hanya orang-orang tertentu, kaum intelektual zaman modern 
yang memahami seluk-beluk ilmu estetik yang memamahami sastra.
Tulisan ini saya tutup dengan perkataan M. Sobary, “Sastra dan agama menyentuh 
manusia, dan mengubahnya dari dalam. Dan pelan-pelan manusia mengubah dunianya.”

*) Penikmat Sastra yang lagi menjelajah Surat Cinta Sang Kekasih yang penuh 
mutiara, estetik, hikmah dan sarat makna. [email protected]





--
Posting oleh Halimi ke CINTA الحب pada 3/30/2009 10:59:00 PM


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke