Ada Bagian dalam Kekayaanmu
<http://sukronabdilah.wordpress.com/2008/11/07/ada-bagian-dalam-kekayaan\
mu/> Oleh SUKRON ABDILAH

"Cinta yang berlebihan terhadap harta dan kedudukan dapat
mengikis agama seseorang" (HR. Ath-Thusi).
Posisi harta bagaikan boomerang. Tanpa kepiawaian menggunakannya, akan
berakibat fatal bagi sang pemilik. Mungkin kita pernah mendengar bahwa
Qarun ditenggelamkan bersama hartanya? Mungkin juga pernah mendengar
Fir'aun menjadi sombong karena memiliki harta dan kekuasaan? Atau
pernah menyaksikan sendiri tetangga kaya raya di kampung sibuk
mengumpulkan harta sampai lupa kepada tetangganya yang miskin? Bahkan,
pernah mendengar barangkali kalau ada orang kaya yang pergi ke Mekkah
untuk berhaji sampai beberapa puluh kali, tapi melupakan tetangga
miskin?

Bagi mereka harta adalah segalanya. Tidak sadar bahwa harta adalah
pemberian Allah kepada hamba-Nya yang rajin berusaha. Akibatnya, mereka
terlena dengan kekayaan duniawi dan tidak mampu bersyukur atas segala
pemberian-Nya. Syukur adalah salah satu bentuk laku dan kata untuk
meluapkan rasa terima kasih kepada sang pemberi kekayaan, Allah Swt.
Dengan memberikan hak fakir miskin yang ada di dalam harta, sebetulnya
kita sedang bersyukur.

Memberikan pertolongan kepada fakir miskin tidak akan membuat kita
menjadi miskin. Malahan akan berlipatganda, sebab dirinya terus
termotivasi mencari harta agar bisa ber-zakat, infaq atau shadaqah.
Kalau kita analogikan, memberikan sebagian dari harta (zakat, infaq dan
shadaqah) untuk orang miskin seperti kita akan memakan pisang. Kulitnya
harus kita kupas lebih dulu.. Kemudian setelah dikupas, maka kita sudah
boleh memakannya. Kalau pun di makan dengan kulit-kulitnya, kita lebih
bodoh daripada monyet. Wong monyet juga kalau makan pisang dibuang dulu
kulitnya.

Nah, menunaikan zakat, infaq dan sedekah adalah usaha membuang kulit di
dalam harta kita. Kalau kita tidak ber-zakat, infaq dan sedekah sama
dengan seseorang yang memakan buah pisang dengan kulit-kulitnya. Ini
artinya, kita tidak boleh meniru Qarun yang rakus terhadap kekayaan
sehingga tidak mau berbagi. Sebab, ketika kita tidak mau berbagi dengan
orang lain, keserakahan itu akan menyebabkan berkurangnya amal, yang
kelak akan mengantarkan kita memasuki neraka.

Rasulullah Saw. Bersabda: "Tiap muslim wajib bersedekah."
Para sahabat kemudian bertanya: "Bagaimana kalau dia tidak memiliki
sesuatu?."
Nabi Saw. menjawab: "Bekerjalah dengan keterampilan tangan untuk
kemanfaatan dirinya lalu bersedekah."
Mereka bertanya lagi: "Bagaimana kalau dia tidak mampu?"
Nabi Saw menjawab: "Menolong orang yang membutuhkan yang sedang
teraniaya."
Mereka kemudian bertanya kembali: "Bagaimana kalau dia tidak
melakukannya? ."
Nabi Saw menjawab: "Menyuruh berbuat ma'ruf."
Tanpa pernah bosan mereka bertanya: "Bagaimana kalau dia tidak
melakukannya?"
Nabi Saw menjawab, "Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah
sedekah."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan kondisi kemiskinan di Indonesia yang mengkhawatirkan, zakat,
infaq dan sedekah adalah salah satu usaha mencegah kejahatan. Coba saja
kalau orang kaya raya di negeri kita tidak diwajibkan zakat, infaq dan
sedekah. Boleh jadi, akan muncul kecemburuan di lingkungan masyarakat
hingga mengakibatkan merebaknya kejahatan. Pencurian, perampokan, dan
penjabretan adalah salah satu dampak dari keserakahan seseorang. Selain
itu, akan muncul juga kebencian warga miskin terhadap orang kaya kalau
Islam tidak mengajarkan manusia untuk zakat, infaq dan sedekah.

Jadi, kalau hidup di dunia memiliki kelebihan harta; sebaiknya bersyukur
dengan ber-zakat, infaq dan sedekah. InsyaAllah harta kita akan semakin
berkah. Bertambah dan berlipat-lipat ganda kebaikannya. Dalam sebuah
keterangan dijelaskan, tiap menjelang pagi hari dua malaikat turun ke
bumi. Yang satu berdoa: "Ya Allah, karuniakanlah bagi orang yang
menginfakkan hartanya tambahan peninggalan." Malaikat yang satu lagi
berdoa: "Ya Allah, timpakan kemusnahan bagi harta yang ditahannya
(dibakhilkannya) ." (HR. Mutafaqun `Alaih).

Jelas sekali bahwa hadits ini mengajarkan untuk memberikan hak warga
miskin dalam harta kita sebagai bentuk rasa syukur terhadap-Nya. Sedekah
dilakukan agar kita tersadar bahwa harta, kekayaan, dan jabatan harus
dipergunakan secara arif dan bijaksana. Ejawantah dari syukur kita
terhadap pemberian-Nya adalah dengan berbagi. Kalau saja kita bisa
menangkap semangat dianjurkannya sedekah, niscaya akan menjadi kekuatan
ekonomi bagi umat dan seluruh manusia.

Sedekah diwajibkan untuk melepaskan diri dari hal yang bersifat
material; baik harta, kekayaan, kesehatan, ataupun jabatan. Sebab,
ketika kita masih terperdaya dengan kekayaan dan jabatan, saripati agama
dalam diri akan meredup sehingga kita berubah menjadi manusia angkuh,
serakah dan sombong. Sedekah, merupakan kekuatan ekonomi yang mampu
memberi kehidupan kepada seluruh umat manusia menjadi berkah.

Apalagi, sebagai bentuk syukur kita kepada-Nya, sedekah merupakan ladang
kita beramal shaleh. Seandainya sedekah merupakan salah satu bentuk
syukur kita terhadap nikmat-Nya, sudah pasti kita termasuk orang yang
beriman. Makanya, dalam suatu keterangan disebutkan bahwa syukur adalah
sebagian dari iman, kemudian sebagian lagi adalah ridha. Apalagi kalau
ada semacam pembiasaan ber-sedekah. Boleh jadi bentuk syukur orang kaya
(zakat, infaq dan sedekah) bisa menjadi kekuatan ekonomi yang dahsyat.
Wallahua'lam

Penulis, Alumni Bimbingan dan Penyuluhan Islam UIN BDG.Sumber:
http://sukronabdilah.wordpress.com/2008/11/07/ada-bagian-dalam-kekayaanm\
u/
<http://sukronabdilah.wordpress.com/2008/11/07/ada-bagian-dalam-kekayaan\
mu/>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke