Assalamu'alaikum, Wr. Wb Sahabat sekalian.. Selamat membaca sinopsis berikut. smoga manfaat.
Nahdlatul Ulama' sebagai organisasi keagamaan yang berideologi ahlussunnah waljamaah yang mengikuti pemikiran al-Asy'ari seakan tiada henti-hentinya menjadi sasaran takfir (pengkafiran) dan tuduhan-tuduhan bid'ah dari aliran reinkarnasinya Wahabi, yakni aliran Salafi. Akidah Asy'ariyah NU dianggap tidak sesuai dengan salafus shalih, bahkan dianggap sesat dan bid'ah. Fenomena ini membuat gerah para ulama NU, sehingga mereka berupaya menangkis tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar tersebut. Buku berjudul "Madzhab al-Asy'ari, Benarkah Ahlussunnah Wal-jama'ah? (Jawaban terhadap aliran Salafi)" adalah jawaban yang tepat atas kegelisahan para ulama NU dan penganut Ahlussunnah Waljamaah dalam menghadapi fitnah dari kalangan Salafi (Wahabi). Buku ini ditulis oleh Ustadz Idrus Romli, salah satu penulis buku "Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik" . Selain sebagai seorang yang amat serius mendalami kitab-kitab Ulama Salaf dan sering diundang ke berbagai diskusi dan seminar tentang keaswajaan, penulis juga tercatat sebagai anggota team Bahtsul Masail PCNU Jember yang selama ini getol menangkis serangan-serangan kelompok yang anti terhadap amalan Nahdliyyin. Bab I merekam perjalanan intelektual Imam Abu Hasan al-Asy'ari (873-947 M). Imam besar ini hidup dalam paruh kedua abad ketiga dan paruh pertama abad keempat hijriah, disaat supremasi pengetahuan Islam dan kebebasan berpikir menjadi identitas. Di zaman itu pula perseteruan sengit antara kaum rasionalis islam yang diwakili golongan Mu'tazilah dengan kaum tekstualis yang diwakili golongan Hanabilah ekstrim dan Hasyawiyyah. Imam Asy'ari pasca menyatakan keluar dari golongan Mu'tazilah mencoba mengompromikan dua pemikiran ekstrim tersebut. Dia tidak menolak keberadaan akal sebagai piranti memahami nash-nash AlQur'an dan Hadits sebagaimana penolakan nalar oleh kalangan tekstualis yang memunculkan sikap ekstrim dan radikal. Namun dia juga tidak memosisikan akal diatas nash sebagaimana yang dipegangi kelompok rasionalis Mu'tazilah yang melahirkan sikap sembrono. Lebih lanjut penulis menganalisa pendapat kontroversial Wahabi yang mengatakn al-Asy'ari mengalami tiga fase perjalanan intelektual, yakni dari pengikut Mu'tazilah, madzhab ibnu Khullab lalu madzhab ahlussunnah. Wahabi perjalanan intelektual, yakni dari pengikut Mu'tazilah, madzhab Ibnu Kullab lalu madzhab Ahlussunnah. Wahabi menuduh golongan yang mengaku Ahlussunnah saat ini sebenarnya mengikuti pemikiran al-Asy'ari fase menjadi pengikut Ibnu Khullab yang bukan termasuk Ahlussunnah. Tuduhan Wahabi tersebut tidak berdasar dan tidak memiliki data sejarah yang valid, demikian urai penulis. Bantahan penulis terhadap pendapat Wahabi didasarkan pendapat para ulama besar ahli sejarah sebagaimana al-Dzahabi, Syamsudiin Ibnu Khalikan, Ibnu Furak dan pakar sejarah Ibnu Khaldun yang mengatakan jika Ibnu Khullab, guru al-Asy'ari berakidah Ahlussunah. Ajaran Abu Hasan al-Asy'ari, mantan murid Abu Ali al-Juba'i al-Mu'tazili ini banyak mendapat pengikut, tidak saja para ulama-ulama besar semasanya dan setelahnya, namun juga para khalifah-khalifah besar sebagaimana Shalahuddin al-Ayyubi (1138-1193 M) yang terkenal dengan pahlawan Perang Salib. Mereka tidak hanya sekedar mengamalkan namun juga ikut aktif mengembangkan ide-ide Imam Asy'ari sehingga tetap hidup hingga saat ini. Dengan uraian sistematis disertai data yang akurat, penulis memaparkan perkembangan madzhab al-Asy'ari dengan panjang lebar dalam bab II. Dalam bab III penulis menunjukkan tokoh-tokoh ahli hadits yang ideologinya dinisbatkan kepada Imam Asy'ari disertai data-data yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ironisnya, mayoritas ahli hadits yang berfaham Asy'ariyah itulah yang dijadikan rujukan kelompok anti madzhab saat ini, seperti al-Hafidz Ibn Katsir, Ibn Jauzi, Ibn Hajar al-Asqalani dan lainnya. Dengan alur yang ditulisnya, penulis seakan meneriakkan bahwa tuduhan kelompok anti madzhab kepada golongan Asy'ariyah selama ini salah arah, tidak berdasar dan memperlihatkan sempit serta dangkalnya intelektual dan a-historis. Selanjutnya dalam bab IV dijelaskan metodologi Ahlussnunnah dalam bidang akidah. Dengan didasarkan argumen dan pendapat dari ulama-ulama salaf yang kredibel dan kapabel, penulis menguraikan definisi Ahlussunnah dan kelompok mana saja yang berhak mengklaim dirinya Ahlussunnah. Selanjutnya secara mendetail dijelaskan pula dasar-dasar akidah faham Ahlussunnah serta sebatas mana akal diakomodasi dalam memahami teks-teks Alqur'an dan Hadits. Penulis juga memetakan golongan-golongan dalam menyikapi peran akal dalam akidah. Jika Mu'tazilah sangat mendewakan akal dan tidak mengakui syara' jika bertentangan dengan akal mereka. Maka dipihak yang berlawanan ada kelompok Hasyawiyyah dan Zahiriyah yang mengakui dominasi syara' serta mengikuti makna-makna literal teks-teks Alqur'an dan Sunnah. Golongan kedua ini cenderung mengebiri peran nalar untuk memberi pertimbangan. Sedangkan kelompok ketiga adalah golongan yang memposisikan syara' sebagai informasi sentral mengetahui kewajiban agama, sedangkan akal diposisikan sebagai perantara untuk mencapai sebuah keyakinan. Kelompok terakhir ini adalah golongan Ahlussunnah yang bersikap moderat (tawassuth) dan seimbang (tawazzun). Dengan penyampaian yang argumentatif serta disandarkan pada pendapat ulama-ulama salaf pakar ilmu tauhid, penulis menjelaskan posisi akal saat bertentangan dengan naql, serta penggunaan metode ta'wil dan tafwid dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat. Penulis juga menampilkan dalil-dalil salafus shalih dalam membantah pendapat Utsaimin, salah satu ulama Wahabi yang menolak metode ta'wil yang selama ini dipakai oleh kalangan Ahlussunnah. Selain itu, dalam bab ini penulis membahas tentang posisi filsafat, ilmu kalam dan sufi dalam Islam. Ditunjukkan pula argumen-argumen konsep sifat duapuluh-nya Asy'ari. Disamping itu, penulis secara panjang lebar juga memaparkan kerancuan konsep tauhid kontroversial Ibnu Taimiyah yang menjadi acuan dasar tauhid Wahabi.. Pembagian tauhid menjadi tiga, yakni tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah dan tauhid asma wa sifat versi Ibnu Taimiyah tidak dikenal dalam diskursus tauhid ulama salaf. Tauhid inilah yang menggiring para pengagumnya mensyirikkan amaliah golongan Ahlussunnah semisal tahlil, maulid, dan ziarah kubur. Dalam bab V, dengan dasar dalil-dalil sebagai penguat, penulis menjelaskan bahwa faham Ahlussunnah Waljamaah yang berlandaskan faham Asy'ariyah adalah termasuk firqah an najiyah (golongan yang selamat). Penulis juga menyebutkan beberapa ulama salaf maupun khalaf dari berbagai disiplin ilmu yang mengikuti faham Ahlussunnah Waljamaah. Mulai dari pakar tafsir, hadits, fiqih, sejarah sampai ilmu bahasa. Buku ini mengungkap metodologi dan sistematika pemikiran al-Asy'ari, serta mengetengahkan argumen-argumen yang melegitimasi keabsahan ajaran Asy'ariyah dimata Alqur'an, Hadits dan pendapat para ulama salaf yang shalih. Akhirnya, buku ini tidak hanya layak untuk dibaca, tetapi wajib bagi semua orang yang mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah sebagai benteng akidah. Nah.. Smoga barokah.. Alfatihah! Wassalamu'alaikum, Wr. Wb ================================================== Sumber: Majalah Aula edisi April 2009 (hal. 86-88) Peresensi: Fathul Qodir, alumnus Madrasah Hidayatul Mubtadi'in Lirboyo 2004.. diketik ulang oleh: Huda, http://mif-agency.blogspot.com [Non-text portions of this message have been removed]
