10.
Saat pagi hampir menjelang
si hamba bangkit dari peraduan
basuh muka lalu sembahyang
untaikan doa penuh harap
semoga hidup tetap tenang
segala yang sesaki dada
diluah ditumpahkan
begitu dalam penyesalan

O, betapa besar dosaku
dan banyak
dalam hidup ini
pasti bertambah tahun ini
satu lagi
dosa lima tahunan
..Golput
kemarin memilih adalah hak
menjelang hari yang ditentukan
tiba-tiba.. dan sepihak
atas nama Tuhan
berubah jadi kewajiban

lima tahun lalu dosaku sama
..memilih
terlibat kemunafikan besar
sepanjang hari
bersama janji tak ditepati
menginjak nasib para buruh kasar
"untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat"
undang-undang yang dikencingi
padahal baru satu ayat
amanah yang dikhianati
dengan sempurna
setiap hari
jadi saksi ahli
segala kepedihan
dan ragam tangisan
dari bawah kolong jembatan
dari manusia pinggiran

lima tahun sekali semangat
omong soal tanggung jawab
yang lima menit itu
pilihan menentukan
nasib bangsa ke depan
sepanjang lima tahun sesudahnya
takada yang merasa berdosa
apalagi mengaku
sifat keparat laku bajingan

"untuk sebesar-besarnya" apa?
"...kemakmuran rakyat"
pasti, manis dikata
benarkah janji "sang hati laknat"
Ah, mimpi saja tidak
apalagi nyata
"untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat" dipergunakan

Ampuni aku, Tuhan, ampuni
besar nikmat dan anugerah-Mu
di jaringan otak berfungsi
maksimal sekali
Maka.. mudahlah berkelit
karena takbisa menanggung janji
munafik tidak lagi punya makna
dalam kamus manusia
dengan seketika kata berganti
lip service sematannya
eksploitasi
perompakan dan pengerukan
dipolesi cat investasi

sudah lama di negri ini
pemilik telah resmi jadi pembeli
untuk produksi
pemilik pula jadi kuli
demi nama besar bangsa
kekuasaan
dan investasi

O, Tuhan!
betapa besar dosaku
dan banyak pula
ditambah dosa hari ini
lima tahun sekali
ampuni aku, ampuni

http://www.aman.web.id/2009/04/11/pp-03-thn-2009-pledoi-hamba/530/


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke