PEMILU BIKIN KEIMANAN RASA BABI?: SIMULAKRUM KYAI DAN MUSLIM
oleh: Aji Dedi Mulawarman



PENGANTAR

Pengalaman penulis mengikuti pemilu 2009 meski bukan sebagai caleg, akhirnya 
mendapatkan frustrasi masa depan politik yang menyedihkan.  Kesimpulan penulis 
bahwa realitas politik kita memang sekuler terbukti. Islam sudah jadi 
simulakrum pikiran dan perbuatan. Simulakrum seperti dijelaskan oleh 
Baudrillard sebagai kenyataan yang ada di dunia ini adalah kenyataan yang tak 
terdefinisi lagi. Realitas yang ada adalah bentuk2 simulasi tak konkrit. Donald 
duck misalnya, merupakan simulasi dari bebek, padahal kita tahu donald duck 
bukanlah bebek, tapi simulasi kartun berbentuk bebek. Donald duck tidak pernah 
ada di realitas, hanya ada di media televisi, video maupun komik DIsney. Jadi, 
kalau bisa kita metaforakan, keislaman dalam pemilu sekarang ini, seorang caleg 
yang kebetulan kyai sekarang ini bukanlah kyai yang pernah ada dalam sejarah. 
Kyai atau Muslim sekarang dalam konteks Pemilu telah berubah menjadi Donald 
duck - Donald duck baru, simulasi-simulasi baru orang-orang Islam dalam 
perpolitikan Indonesia.

POLITIK KYAI DAN MUSLIM SEBELUM ERA REFORMASI

Perbedaan mencolok politik Islam dari politikus muslim dan para kyai di 
Indonesia tahun 2009 dan pemilu "80-an ke bawah dapat dilihat dari kepentingan 
politikus dan masyarakatnya. Ketika tahun 1980-an masyarakat mendapatkan 
pressure politik era Orde Baru, penguatan orientasi "guyub" masyarakat yang 
diwakili oleh para politikus menjadi kentara. Politikus saat itu adalah bagian 
dari perjuangan mempertahankan prinsip, mempertahankan eksistensi Islam dan 
perjuangan menegakkan "izzul Islam wal Muslimin" sebagai keseluruhan pandangan 
hidup termasuk dalam bidang politik.  Di era itu jelas sekali sosok manusia 
kyai dan politikus muslim sebagai representasi politik Islam. Perlawanan yang 
dilakukan adalah bebas dari tekanan kekuatan politik orde baru yang 
mencengkeram kebebasan politik masyarakat Indonesia. Uang bukan didapatkan dari 
politikus untuk menyebarkan "bisyaroh" kepada masyarakat. Tetapi "shadaqah" 
dari masyarakat bertebaran untuk mendukung keterwakilan masyarakat Muslim di 
panggung politik. Masyarakat berlomba-lomba menyumbangkan rejeki yang 
didapatkannya untuk mendukung wakil-wakilnya untuk menyuarakan aspirasi "yang 
terbungkam" oleh kekuasaan otoriter. Jadi "bisyaroh" jelas-jelas tidak 
berfungsi sebagai dana perjuangan. Bahkan para kyai yang masih idealis akan 
melakukan "shadaqah berjamaah".

Berbeda dengan para kyai di partai represif memang memiliki pointers 
"terselubung" yang memanfaatkan politik untuk kepentingan ketentraman "bashiro" 
komunitasnya.Dalam hal ini memang dimungkinkan orientasi politik kyai tidak 
menempatkan dirinya pada posisi yang ambigu. Saya rasa strategi politik yang 
diambil adalah untuk mengamankan kepentingan "Jam'iyyah" agar tak tersudut 
bahkan tergeser sebagai akibat lanjutan serangan kaum nasionalis atas 
"Idealisme Jam'iyyah" yang berani berseberangan dengan kekuatan otoriter saat 
itu. Prinsipnya adalah Islam sebagai "ummatan wasathan" harus tetap nampak 
dalam situasi politik saat itu.

POLITIK KYAI DAN MUSLIM DI ERA REFORMASI

Kondisi era sebelum Reformasi menjadi terbalik dan bahkan ambigu ketika 
Reformasi menjadi pilihan masyarakat Indonesia. Keran demokrasi begitu hiruk 
pikuk melanda hampir seluruh kepentingan masyarakat saat ini. Termasuk di 
dalamnya adalah politik Muslim dan para Kyai. Ambiguitas tersebut kemudian 
mengembangkan "varietas politik" baru yang belum pernah ada dalam sejarah 
perpolitikan Muslim Indonesia. Ambiguitas menjadi Simulakrum-simulakrum baru 
Kyai dan Muslim Indonesia. Sekarang sudah tidak ada lagi politik "perlawanan" 
sebenarnya. Politik "perlawanan" sekarang telah berubah wujud menjadi rivalitas 
dan oposisi politik yang masuk dalam koridor ilmu politik modern. 

Tak ketinggalan para kyai dan politikus Muslim telah berubah wujud menjadi 
pembawa bendera politik era "neoliberalisme" yang bebas dan tak tersekat dalam 
bentuk perlawanan ideologis. Perlawanan ideologis menjadi "simbol" atau "sign" 
baru. Sign Simulakra Politik Muslim Indonesia baru. Para Kyai dan politikus 
Indonesia akan terlegitimasi secara politis apabila mereka dapat menyediakan 
dan menggerakkan emosi para kader partai sehingga mesin partai berjalan normal. 
Uang dalam koridor politik modern memang sebagai salah satu syarat mutlak. 
Seperti diketahui, kemenangan politik dalam "koridor politik modern" diukur 
dari keluasan jaringan, kemampuan politikus dalam mengemas ide untuk 
kepentingan rakyat, dan yang paling penting semuanya harus di-"drive" oleh dana 
yang cukup (baca: uang). 

Jadi, kalau logika uang adala sebagai salah satu motor penting politik modern, 
maka tidak ada lagi keikhlasan politik, yang ada adalah bagaimana para 
politikus Muslim dan para Kyai memberi "bisyaroh" kepada para konstituen dan 
simpatisannya demi suara kemenangan partai politik peserta pemilu. Tidak ada 
lagi dikotomi politikus Muslim dan Kyai "Idealis" dan "Strategis". Politikus 
Muslim dan Kyai bisa berada di mana-mana dan kemana-mana sesuai dengan 
kepentingan yang terjalin berkelindan antara partai, masyarakat dan calegnya. 
Hilanglah suasana idealis yang diwujudkan dalam bentuk "shadaqah" simpatisan 
ataupun konstituen untuk mendukung partai yang memperjuangkan "izzul Islam wal 
Muslimin". Yang ada tinggallah bagaiman para politikus Muslim dan Kyai Politik 
bisa menyediakan "bisyaroh" masa sosialisasi, masa kampanye, bahkan sampai masa 
tenang (yang kemudian jadi wadah efektif melakukan gelontoran uang "bisyaroh" 
untuk kepentingan masyarakat). Kyai sudah tidak malu-malu lagi untuk 
menyeberang dari partai yang dulunya "sangat pragmatis nasionalistik" ke partai 
yang "idealis" karena segalanya sudah berubah. Partai tidak lagi 
merepresntasikan kepentingan masyarakatnya, tetapi partai dibuat untuk 
menyalurkan sumbatan aspirasi elitis dan kemudian menggunakan kekuatan jaringan 
mereka untuk mendapatkan posisi/kursi politik di dewan perwakilan rakyat (baik 
daerah, propinsi sampai pusat). 

Yang kasihan adalah politikus idealis, jadi bahan fitnah dan cemoohan, ketika 
mereka tidak mau meskipun sebenarnya sanggup untuk melakukan "money politik 
model bisyaroh" di masa kampanye sampai masa tenang yang biasanya disebut 
"serangan fajar". Para politikus dan kyai idealis seperti itu sebenarnya juga 
mendapatkan dukungan luas, tetapi menjadi bulan-bulanan ketika para politikus 
"kutu loncat" dan "pragmatis" Muslim atau bahkan Kyai Politik melakukan fitnah 
tidak dewasa dan melakukan "money politics". 



PENUTUP

Karena sudah tidak jelas lagi mana yang minyak samin dan mana minyak babi, maka 
yang terjadi kemudian baik politikus Muslim dan Kyai Politik melakukan praktik 
"dagang babi" yang jelas-jelas dianggap halal asal tetap dalam koridor tujuan 
akhirnya, menguasai "parlemen" untuk berjuang atas nama Islam. Jadi apakah yang 
kita dukung itu politikus Muslim dan Kyai Politikus Simulakrum atau politikus 
Muslim dan Kyai Politik yang masih mengedapankan idealisme untuk membangkitkan 
perjuangan "izzul Islam wal Muslimin"?

Jadi, ketika kyai dan politikus muslim yang "haus" kekuasaan masih ingin 
dipilih dari hasil "bisyaroh untuk masyarakat" dan menanggalkan "bashiro"-nya, 
maka hancurlah dunia politik Islam yang diidamkan. wallahu'a'lam

Itulah Simulakrum Keimanan Politik...

Kirim email ke