Adakah pemimpin partai yang tidak gila? Pertanyaan ini pasti membakar jenggot manusia-manusia pengobral janji– yang agitatif saat menjajakan visi-misinya. Tapi kosong hasil-karya-sumbangsih untuk bangsa; maksimal pengabdian pada golongan. Sebatas itu. Saya bukan tipikal anak ingusan yang gemar bakar-membakar, terutama orator-orator musiman yang sama sekali tidak saya kenal sebelum dan setelah pemilu; mereka hanya nongol saat musim mengobral janji (baca: kampanye) tapi tenggelam di balik kursi ”wakil rakyat” lima tahun lamanya—setelah mendapatkan yang mereka impikan. Begitu nyamannya ”tidur” di kursi rakyat sampai tidak mendengar tangisan konstituen yang dulu memilihnya. Ironisnya, saat rakyat menjerit, mereka malah ribut mem-pe-rebut-kan laptop dan tiket ”study banding” keluar negeri atau kenaikan tunjangan. Jangankan teriakan rakyat, janji sendiri pun sudah dilupakan. Maka, dengan sangat legowo pertanyaan itu tidak saya teruskan.
Suatu hari, banyaknya costum (pada yamee, ebudy, dll) yang nyerempet ke arah kampanye, menggoda jempol saya berbuat iseng. Saya kirim pesan pada salah satu kawan: jangan lupa pilih nomor 212, partai Santri Mbeling dari gunung Dji An Chu. Satu-satunya partai yang mengawal demokrasi yang sebenarnya. Partai yang dipelopori pendekar-pendekar demokrasi. ”Maaf, partai Anda sudah dihapus dari nomor urut oleh KPU karena ketuanya terancam gila permanen,” jawabnya berkelakar. Saya berpikir sejenak: gong kampanye sudah ditabuh. Bebagai cara ditempuh. Pelanggaran pun dianggap biasa—membawa anak kecil ke arena kampanye atau jumlah yang melebihi standar yang sudah ditetapkan, misalnya.. Bahkan jauh hari sebelum gong kampanye menjerit, meskipun samar-samar, sudah ada partai yang berpromosi. Gila. Yang gila bukan hanya elite partai, tapi simpatisan pun ikut terjangkit pula. Misalnya, ada blog misterius yang menghina nabi, mendoktrin pembacanya bahwa Muhammad saw. seorang fedofil. Setelah menuntaskan penghinaannya si pemilik blog yang mengajak pembacanya untuk memilih salah satu partai politik. Kampanye gila. Berita itu di-blow up detik.com, Senin (14/3). Mungkin berita itu mengejutkan sebagian orang. Hanya sebagian. Karena saya tidak pernah terkejuk dengan fenomena semacam itu. Sudah biasa. ”Mengenal Agama Fedofil Musyrik Muhammad saw.” itulah judul yang artikel yang tidak mencantumkan penulis dan data pemilik blognya. Pada blog yang posting terakhir kali pada 10 Desember 2008, si pemilik blog mendoktrin pembaca blognya bahwa Muhammad nabi palsu. Tidak hanya sampai di situ, ia juga mencantumkan 10 keaslian Muhammad sebagai utusan setan Leciter, Muhammad seorang penjahat karena telah menobatkan dirinya sebagai utusan Dewa Bulan Aulloh wts. ”Masih dengan caci-makinya terhadap nabi dan ajaran salah satu agama, sang penulis dan pemilik blog tersebut juga mengajak pembacanya untuk memilih partai tertentu saat digelar pemilu April,” tulis detik. Fenomena ”banting setir” juga mewarnai pemilu tahun ini—fenomena yang sudah ada sejak pemilu-pemilu sebelumnya. ”Ini bentuk kegilaan yang paling parah. Sudah sangat parah,” kata yang lain. Tapi saya tidak pernah memandang itu sebagai suatu ke-gi-la-an pada siapa pun, apalagi pada para orator musiman tadi. Atau pada para partisipan partai politik tertentu—contoh kecilnya pemilik blog itu. Jargon Arab, entah siapa orang pertama kalin mengucapkan: as siyasah al harb, ar harb al khid’ah. Jadi, praktik menjatuhkan lawan untuk mencari simpatisan konstituen bukan perkara aneh, jika setuju dengan jargon arab tersebut. Kenyataannya praktik ini sudah mendahi realitas bangsa Seribu Satu Mimpi. Saya tidak mau memikirkan hal-ihwal semputar pemilu yang dielu-elukan sebagai pesta demokrasi. Sebab, saya tetap ragu: benarkah ini demokrasi? Wujudnya seperti apa? Nyatanya omong kosong. Seingat saya, demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Realitasnya, dari rakyat, oleh rakyat, untuk menindas dan menipu rakyat. Sejarah sudah mencatat. Tidak usah diperdebatkan. Ini konteks negara kita, tidak tahu dengan nasib demokrasi semu di negara-negara tetangga. Tetapi, walaupun politik adalah peperangan—sekali lagi: kalau sepakat dengan jargon di atas—saya tahu dan sadar betul pemilu memang diperlukan dalam sejarah karena pengganti nabi pun dianggat dengan mufakat, bukan penunjukan atau hak waris kekuasaan. Dengan pemilu mimpi-mimpi mendapatkan pemimpin yang ideal terus ada. Masalahnya, bisakah orator-orator musiman itu berperang dengan jantan: bersaing sehat mencari simpati konstituen tanpa menjatuhkan lawan, apalagi dengan cara yang tidak waras. Cara gila. Sejarah telah mengabadikan cara-cara gila merih kekuasaan. Kegilaan dilegalkan, seakan begitu. Atau memang demikian. Ataukah pada mulanya ambisi kaum anshar—karena merasa berjasa menjaga ”nyawa” Islam—yang berkumpul di balaiurung Bani Saidah untuk mengangkat Sa’ad ibn Ubadah sebagai pengganti nabi—padahal saat itu umat Islam sedang berkabung meratapi wafatnya sang nabi saw. Mereka malah bergila ria mengangkat pengganti pemimpin yang masih belum disemayamkan itu. Menyedihkan. Ataukah Perang Siffin—Ali ra versus Muawwiyah ra—sejarah awal kegilaan politik Islam. Atau para penentang arbirtase Muawiyah-Ali, kaum khawarij, pengikut Ali ra. Menurut kelompok penentang, menyetujui arbirtase berarti telah melaksanakan tahkim (arbirtase) dengan manusia. Arbirtase hanya dengan Tuhan. Canlotan hukumnya QS Almaidah 5: 44. Jelas. Penafsiran kelompok terakhir, ”Tidak ada hukum selain hukum Allah.” Ayat tersebut menjadi legitimasi mereka mengafirkan lawan-lawan politiknya. Berdasarkan ayat tersebut pula mereka mengirimkan eksekutor untuk membunuh Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan, Abu Musa Al Asy’ari, dan Amr bin Ash, karena dipandang terlah kafir. Hanya Ali yang terbunuh. Adalah Abd al-Rahman bin Muljam nama si algojo. Saya tidak mau meraba-raba terlalu lama, terlalu dalam. Itu hanya hipotesa: mungkin benar, bisa juga salah. Kalo benar, sangat menyedihkan nasib agama saya. Utamanya nasib Ayat-ayat Tuhan yang dipaksa mengikuti penafsiran umat-Nya, bukan sebaliknya. Apalagi penafsiran itu untuk kepentingan politik semu. Kepentingan sempit; golongan. Jika kita telisik lebih jauh—sebelumnya saya minta maaf karena saya bukan pengamat politik—ke-gi-la-an dunia politik dewasa ini akibat dari, diantara yang saya tahu, hal-ihwal sbb: Pertama, sindrom idolasi. Sindrom ini membuat konstituen terkurung di alam mimpi—namun terasa barada di dunia nyata—akibat bujuk-rayu-janj-manis para bintang idola meraka baik caleg maupun capres. Karena sindrom idolasi inilah maka muncul kegilaan. Kedua, sentimen keagamaan dan golongan. Didorong sentiment terhadap golongan dan/ atau agama lain, elit partai ataupun konstituen, bisa menghalalkan segala macam cara. Karena sentiment keagamaan pula tidak sedikit—kembali saya menyebut—orator musiman mempelintir ayat suci untuk memojokkkan rival politiknya. Aneh. Tapi sudah dimapankan di negeri ini sejak bertahun-tahun lalu. Dalam pada itu, budayawan yang juga pengasuh pondok pesantren, K.H. Mustofa Bisri, dalam ”Gelap Berlapis–lapis”, menyindir tajam: inilah negeri paling aneh dimana keserakahan dimapankan kekuasaan dikerucutkan kemunafikan dibudayakan telinga-telinga disumbat harta dan martabat mulut-mulut dibungkam iming-iming dan ancaman Pascapemilu mereka baru sadar bahwa selama ini telah lama tertidur dan ”makan bunga mimpi..” Janji muluk, ya. Bagi konstituen yang calegnya tidak terpilih akan menelan pil kekecewaan. Sebab, angin segar yang dihembuskan tidak terwujud. Sedangkan kelompok yang ”jago¬”-nya duduk di kuris legilasi menelan pil yang lebih pahit lagi. Sebab, janji muluk tidak juga terwujud. Pengalaman pahit itu pula yang membuat mereka bersikap apatis terhadap ”pesta demokrasi” pada tahun-tahun berikutnya yang terejawantahkan ke dalam pilihan untuk tidak memilih; golput. Ironisnya, pilihan ini malah diharamkan. Bukankah ini juga bagian dari pemilu—pilihan umum untuk tidak memilih. Dan pemerintah harus bersikap dewasa, khususnya para ”wakil rakyat.” Maka dari itu, tidak ada cara lain agar bisa mengikis trauma politik—utamanya akibat negatif yang ditimbulkan dari sentimen—selain menempatkan setiap perkara pada tempatnya: jangan menjual ayat-ayat Tuhan di atas panggung kampanye. Dengan demikian, sentimen agama sedikit-demi sedikit-insya allah—bisa berkurang. Dan sampai akhirnya bisa hilang sama sekali. Demokrasi yang sejati pun akan lahir, tanpa menyeret agama. Gampang bukan, menerapkannya sulit.Sumber: Sahara, April 2009. Saran dan Kritik di sini.http://achmadmuntaha.co.cc/?p=17 [Non-text portions of this message have been removed]
