http://republika.pressmart.com//RP/RP/2009/04/28/PagePrint/28_04_2009_006.pdf
Umar Syadat Hasibuan
Kandidat Doktor Ilmu Politik UI

Selain militer, Nahdlatul
Ula ma atau NU adalah pi -
hak yang paling sering di -
perbincangkan dalam se -
ja rah pemilihan umum di
In donesia. Arah angin du -
kung an kelompok ini selalu diperhi
tungkan oleh mayoritas peserta
pes ta demokrasi di Tanah Air.
Besarnya daya tarik nahdliyin ini
ter utama disebabkan oleh besarnya
jumlah basis pendukungnya. Meski
tidak ada data pasti, sekitar 30 per -
sen pemilih di Indonesia diyakini
warga NU. Jadi, jika Pemilu 2009 di -
ikuti 172 juta pemilih, 51,6 juta di
an taranya merupakan nahdliyin.
Masalahnya, suara nahdliyin di -
duga tidak sebulat suara pemilih tradisional
lain di Indonesia, seperti ka -
um nasionalis. Hal ini terlihat dalam
Pemilu 2009 ini. Hasil quick count
ber bagai lembaga survei dan penghitungan
sementara KPU menggambar
kan realitas kemunduran partaipar
tai politik berbasis NU.
Partai politik tersebut seakan ‘di -
ganjar’ penurunan suara pemilih se -
cara signifikan. PKB, misalnya, par -
tai yang dipimpin Muhaimin Iskan -
dar ini suaranya merosot tajam yang
ha nya memperoleh dukungan ku -
rang dari enam persen suara dibanding
kan capaian Pemilu 2004 yang
mencapai angka 11 persen.
Demikian pula PPP, yang dipim -
pin kader NU, Suryadharma Ali,
sua ranya tinggal tersisa lima persen.
Ada pun partai sempalan semacam
PPNUI dan PKNU bahkan capaian
sua ranya diprediksi tidak mampu
mencapai ambang parliemantary
tres hold sebesar 2,5 persen.
Berkurangnya dukungan terha -
dap partai-partai berbasis konsti -
tuen NU sendiri sebenarnya telah di -
perkirakan sebelumnya oleh berbagai
analis politik nasional, termasuk
dari survei dan lembaga riset. PKB,
mi salnya, yang didirikan oleh tokohtokoh
struktural PBNU pada 1998
mengalami kemerosotan politik ka -
rena konflik internal berkepanjang -
an yang berujung pada penurunan
suara partai.
Sedangkan, PPP semakin ditinggal
kan basis pendukungnya lantaran
gagal menawarkan citra, ideologi,
ser ta program partai yang mampu
men jawab kegelisahan dan kebutuhan
riil konstituen. Bagi pemilih
Mus lim yang rasional dan kritis, ten -
tu saja pencitraan PPP sebagai par -
tai pengusung syariat Islam tidak
mudah diterima lagi.
Berdasarkan fenomena menurunnya
dukungan partai-partai ber -
ba sis NU pada pemilu kali ini, tampak
nya ada suatu persoalan besar
yang menimpa jagat perpolitikan di
tubuh NU. Harus diakui bahwa ke -
munduran partai-partai berbasis NU
tersebut tak lepas dari fragmentasi
suara nahdliyin ke dalam beberapa
kekuatan politik. Namun demikian,
fenomena larinya suara tradisional
partai berbasis NU ke partai lain,
terutama ke Partai Demokrat, ada -
lah gejala yang patut dicermati dan
direfleksikan secara serius.
Pengalaman ini seolah mengingat
kan kembali masa lalu NU yang
sejak fusinya ke dalam PPP tahun
1973 selalu menjadi objek dari pertarungan
politik kekuasaan. Dimulai
saat terpinggirkannya orang-orang
NU di Masyumi (1939) yang menyebabkan
NU berdiri sendiri sebagai
Partai Nahdlatul Ulama (1952). De -
ngan kemenangan mengimbangi PNI
dan PKI, NU mengalami pemberangus
an oleh Orde Baru.
Pemberangusan itu menyebabkan
‘tubuh gemuk’ NU dipangkas dalam
PPP (1973) yang terbukti ‘menyaki -
ti’ dengan memarjinalkan wakil nah -
dliyin dalam kabinet. Belakangan,
partai politik yang pembentukannya
difasilitasi PBNU, seperti Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB), terusmenerus
dilanda ‘konflik berlarutlarut’.
Hal itulah yang menjadikan
per golakan dalam tubuh NU karena
banyaknya kader NU masuk dalam
ge langgang politik. Kemudian, hal
itu juga menjadikan organisasi ini
se makin kewalahan mengontrol turbulensi
politik. Dengan kata lain,
manajemen politik NU gagal dalam
mengawal kepentingan warganya
pada pemilu kali ini.
Nasib politik NU pada Pemilu
2009 ini tentu memprihatinkan dan
tidak menguntungkan bagi nahdli -
yin di masa mendatang. NU, baik se -
cara organisatoris maupun kultu ral,
terkesan sudah terpecah-belah dan
pada akhirnya hanya berperan seba -
gai pendulang suara bagi partai poli -
tik yang tak berbasis NU. Gejala
umum seperti ini jelas terlihat pada
pemilihan kepala daerah di berbagai
tempat. Akibatnya, NU hanya
ber main di tingkat isu parsial dan
per mukaan ketimbang persoalan
yang lebih vital, yaitu pembelaan
secara sosial dan politik terhadap
nasib warganya.
Quo Vadis
Meski berbentuk ormas keagama -
an, NU tidak bisa mengingkari masa
lalunya sebagai organisasi politik.
Ini berarti budaya politik yang terbangun
puluhan tahun tidak pernah
hilang, bahkan justru semakin me -
nguat. Sayangnya, dalam berpolitik,
para politikus NU tidak mau mengom
promikan warisan kultural me -
reka. Akibatnya, tradisi politik mo -
dern yang mengandaikan pembangunan
sistem politik yang kuat, orga -
nisasi kepartaian yang tertata, rek -
rut men kepemimpinan berbasis ke -
mampuan (merit-based leadership),
dan mekanisme kompetisi yang sehat
sulit berkembang dalam politik NU.
Ironisnya, para politikus NU jus -
tru menjadikan warisan kultural ini
sebagai instrumen berpolitik. Me -
reka mengeksploitasi simbol-simbol
tradisi, seperti kiai, pesantren, atau
is tighasah sebagai kekuatan politik
mereka. Dengan begitu, preferensi
po litik massa bisa dipengaruhi dan
diarahkan seturut patronase figur,
bukan keandalan program.
Begitu pula model rekrutmen ke -
pemimpinan yang cenderung tidak
kompetitif karena selalu didominasi
oleh para elite kultural yang bersandar
sepenuhnya pada ikatan fam i -
lial. Persaingan antarelite tak jarang
hanya berputar dalam lingkungan
hubungan familial. Dalam konteks
se macam ini, nyaris tidak ada sistem
yang kuat karena aturan organisasi
se lalu bisa dikalahkan atau setidak -
nya dimanipulasi oleh figur patron.
Revitalisasi
Tidak bisa dipungkiri bahwa ke -
ku at an massa NU yang berjumlah 40
jutaan orang itu akan selalu men jadi
incaran partai politik. Disadari atau
tidak, dengan model hubungan pat -
ron-klien yang melandasi hubung -
an-hubungan tradisional NU, kiai
yang memegang otoritas tertinggi da -
lam keagamaan, sosial, dan politik
umat akan menjadi bahan rebutan po -
litik untuk menyedot banyak massa.
Hal ini sesuai dengan penandasan
Donald E Smith dalam Religion and
Po litical Development (1970) yang
meng gambarkan budaya politik Du -
nia Ketiga yang menggunakan aga ma
sebagai kekuatan politik (religio po -
litik). Posisi ulama (kiai) dalam NU
yang memegang kedaulatan tertinggi
akan membuat ia dibutuhkan politisi
abangan sebagai “perantara bu da ya”
(cultural brokers) guna men ja di mag -
net penyedot suara orang-orang desa.
Hal ini terbukti dengan diperebut -
kannya kiai-kiai NU oleh partai-par -
tai politik, baik yang berbasis NU
mau pun yang bukan berbasis NU.
Kon disi demikian memaksa politisi
NU—yang sebagian besar adalah
kiai—saling berseteru secara berkelan
jutan. Rivalitas para kiai ini, disa -
dari atau tidak, sebetulnya sangat ti -
dak menguntungkan bagi masa depan
NU sebagai jam’iyah, jama’ah, atau -
pun nahdlah. Sebagaimana kita lihat,
konflik dalam tubuh NU (te pat nya
po litisi NU) cenderung meng arah pa -
da terciptanya kubu-kubu yang terli -
bat pada ketegangan yang tentunya
potensial melahirkan perpecahan.
Karena itu, jika para kiai tidak
mampu menaikkan posisi tawarnya,
dari ‘broker budaya’ pendulang sua -
ra kepada posisi politik yang lebih
signifikan, kiai dan NU akan terus
dimanfaatkan dengan hanya berlandaskan
pada kalkulasi kuantitas.
Politik NU tidak akan mampu berja -
ya sebagaimana halnya keikutserta -
an mereka dalam merumuskan UUD
1945, inisiasi mengumandangkan ma -
nifesto Resolusi Jihad yang meng gelorakan
perlawanan terhadap ko lonial,
atau saat NU menjelma civil so ciety
yang menjalankan peran counter-balancing
terhadap Orde Baru.
Politik NU akan selamanya men -
ja di sistem politik tradisional yang
tidak mampu berlaga dalam perta -
rungan politik kontemporer yang
bersifat lintas batas primordial. Se -
ti daknya, kemenangan Partai De -
mok rat pada Pemilu 2009 ini men -
jadi bukti bahwa politik NU yang
selama ini diaspirasikan oleh partaipartai
berbasis NU masih bersifat
tradisional karena belum mampu
menjangkau suara dan pemilih lain,
selain dari suara warga NU sendiri.
Tampaknya, dalam menghadapi
mar ginalitas politik NU belakangan
ini, kiranya sangat mendesak bahwa
or ganisasi ini perlu merevitalisasi pe -
ran politiknya. NU perlu merevisi
kem bali gerak politiknya dalam kan -
cah perpolitikan nasional agar be -
nar-benar mampu mengendalikan
lokomo tif transformasi sosial-politik
dan keagamaan.
Demikian pula, kepada para politikus
NU agar seyogianya mulai me -
mikirkan sebuah reformulasi terha -
dap tradisi politik mereka. Bagai -
ma napun, tak mungkin menghilang -
kan darah politik NU yang telah di -
infuse sejak zaman pergerakan, se -
perti halnya tidak realistis pula
membatasi afiliasi politik warga NU
yang beragam. Penting artinya bagi
NU agar para politikusnya me nyu -
blimasi warisan kulturalnya dengan
format politik modern. 


------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke