Masa Depan Politik NU
Umar Syadat Hasibuan Kandidat Doktor Ilmu Politik UI


Selain militer, NahdlatulUla ma atau NU adalah pi -hak yang paling 
sering di -perbincangkan dalam se -ja rah pemilihan umum diIn donesia. 
Arah angin du -kung an kelompok ini selalu diperhi tungkan oleh 
mayoritas peserta pes ta demokrasi di Tanah Air.

Besarnya daya tarik nahdliyin ini ter utama disebabkan oleh besarnya 
jumlah basis pendukungnya. Meski tidak ada data pasti, sekitar 30 per 
sen pemilih di Indonesia diyakini warga NU. Jadi, jika Pemilu 2009 di 
ikuti 172 juta pemilih, 51,6 juta di an taranya merupakan nahdliyin.

Masalahnya, suara nahdliyin di duga tidak sebulat suara pemilih 
tradisional lain di Indonesia, seperti ka um nasionalis. Hal ini 
terlihat dalam Pemilu 2009 ini. Hasil quick count ber bagai lembaga 
survei dan penghitungan sementara KPU menggambar kan realitas kemunduran 
partaipar tai politik berbasis NU.

Partai politik tersebut seakan ‘di ganjar’ penurunan suara pemilih se 
cara signifikan. PKB, misalnya, par tai yang dipimpin Muhaimin Iskan dar 
ini suaranya merosot tajam yang ha nya memperoleh dukungan ku rang dari 
enam persen suara dibanding kan capaian Pemilu 2004 yang mencapai angka 
11 persen.

Demikian pula PPP, yang dipim pin kader NU, Suryadharma Ali, sua ranya 
tinggal tersisa lima persen.

Ada pun partai sempalan semacam PPNUI dan PKNU bahkan capaian sua ranya 
diprediksi tidak mampu mencapai ambang parliemantary tres hold sebesar 
2,5 persen.

Berkurangnya dukungan terha dap partai-partai berbasis konsti tuen NU 
sendiri sebenarnya telah di perkirakan sebelumnya oleh berbagai analis 
politik nasional, termasuk dari survei dan lembaga riset. PKB, mi 
salnya, yang didirikan oleh tokohtokoh struktural PBNU pada 1998 
mengalami kemerosotan politik ka rena konflik internal berkepanjang an 
yang berujung pada penurunan suara partai.

Sedangkan, PPP semakin ditinggal kan basis pendukungnya lantaran gagal 
menawarkan citra, ideologi, ser ta program partai yang mampu men jawab 
kegelisahan dan kebutuhan riil konstituen. Bagi pemilih Mus lim yang 
rasional dan kritis, ten tu saja pencitraan PPP sebagai par tai 
pengusung syariat Islam tidak mudah diterima lagi.

Berdasarkan fenomena menurunnya dukungan partai-partai ber ba sis NU 
pada pemilu kali ini, tampak nya ada suatu persoalan besar yang menimpa 
jagat perpolitikan di tubuh NU. Harus diakui bahwa ke munduran 
partai-partai berbasis NU tersebut tak lepas dari fragmentasi suara 
nahdliyin ke dalam beberapa kekuatan politik. Namun demikian, fenomena 
larinya suara tradisional partai berbasis NU ke partai lain, terutama ke 
Partai Demokrat, ada lah gejala yang patut dicermati dan direfleksikan 
secara serius.

Pengalaman ini seolah mengingat kan kembali masa lalu NU yang sejak 
fusinya ke dalam PPP tahun 1973 selalu menjadi objek dari pertarungan 
politik kekuasaan. Dimulai saat terpinggirkannya orang-orang NU di 
Masyumi (1939) yang menyebabkan NU berdiri sendiri sebagai Partai 
Nahdlatul Ulama (1952). De ngan kemenangan mengimbangi PNI dan PKI, NU 
mengalami pemberangus an oleh Orde Baru.

Pemberangusan itu menyebabkan ‘tubuh gemuk’ NU dipangkas dalam PPP 
(1973) yang terbukti ‘menyaki ti’ dengan memarjinalkan wakil nah dliyin 
dalam kabinet. Belakangan, partai politik yang pembentukannya 
difasilitasi PBNU, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), terusmenerus 
dilanda ‘konflik berlarutlarut’. Hal itulah yang menjadikan per golakan 
dalam tubuh NU karena banyaknya kader NU masuk dalam ge langgang 
politik. Kemudian, hal itu juga menjadikan organisasi ini se makin 
kewalahan mengontrol turbulensi politik. Dengan kata lain, manajemen 
politik NU gagal dalam mengawal kepentingan warganya pada pemilu kali ini.

Nasib politik NU pada Pemilu 2009 ini tentu memprihatinkan dan tidak 
menguntungkan bagi nahdli yin di masa mendatang. NU, baik se cara 
organisatoris maupun kultu ral, terkesan sudah terpecah-belah dan pada 
akhirnya hanya berperan seba gai pendulang suara bagi partai poli tik 
yang tak berbasis NU. Gejala umum seperti ini jelas terlihat pada 
pemilihan kepala daerah di berbagai tempat. Akibatnya, NU hanya ber main 
di tingkat isu parsial dan per mukaan ketimbang persoalan yang lebih 
vital, yaitu pembelaan secara sosial dan politik terhadap nasib warganya.

Quo Vadis Meski berbentuk ormas keagama an, NU tidak bisa mengingkari 
masa lalunya sebagai organisasi politik.

Ini berarti budaya politik yang terbangun puluhan tahun tidak pernah 
hilang, bahkan justru semakin me nguat. Sayangnya, dalam berpolitik, 
para politikus NU tidak mau mengom promikan warisan kultural me reka. 
Akibatnya, tradisi politik mo dern yang mengandaikan pembangunan sistem 
politik yang kuat, orga nisasi kepartaian yang tertata, rek rut men 
kepemimpinan berbasis ke mampuan (merit-based leadership), dan mekanisme 
kompetisi yang sehat sulit berkembang dalam politik NU.

Ironisnya, para politikus NU jus tru menjadikan warisan kultural ini 
sebagai instrumen berpolitik. Me reka mengeksploitasi simbol-simbol 
tradisi, seperti kiai, pesantren, atau is tighasah sebagai kekuatan 
politik mereka. Dengan begitu, preferensi po litik massa bisa 
dipengaruhi dan diarahkan seturut patronase figur, bukan keandalan program.

Begitu pula model rekrutmen ke pemimpinan yang cenderung tidak 
kompetitif karena selalu didominasi oleh para elite kultural yang 
bersandar sepenuhnya pada ikatan fam i lial. Persaingan antarelite tak 
jarang hanya berputar dalam lingkungan hubungan familial. Dalam konteks 
se macam ini, nyaris tidak ada sistem yang kuat karena aturan organisasi 
se lalu bisa dikalahkan atau setidak nya dimanipulasi oleh figur patron.

Revitalisasi Tidak bisa dipungkiri bahwa ke ku at an massa NU yang 
berjumlah 40 jutaan orang itu akan selalu men jadi incaran partai 
politik. Disadari atau tidak, dengan model hubungan pat ron-klien yang 
melandasi hubung an-hubungan tradisional NU, kiai yang memegang otoritas 
tertinggi da lam keagamaan, sosial, dan politik umat akan menjadi bahan 
rebutan po litik untuk menyedot banyak massa.

Hal ini sesuai dengan penandasan Donald E Smith dalam Religion and Po 
litical Development (1970) yang meng gambarkan budaya politik Du nia 
Ketiga yang menggunakan aga ma sebagai kekuatan politik (religio po 
litik). Posisi ulama (kiai) dalam NU yang memegang kedaulatan tertinggi 
akan membuat ia dibutuhkan politisi abangan sebagai “perantara bu da ya” 
(cultural brokers) guna men ja di mag net penyedot suara orang-orang desa.

Hal ini terbukti dengan diperebut kannya kiai-kiai NU oleh partai-par 
tai politik, baik yang berbasis NU mau pun yang bukan berbasis NU.

Kon disi demikian memaksa politisi NU—yang sebagian besar adalah 
kiai—saling berseteru secara berkelan jutan. Rivalitas para kiai ini, 
disa dari atau tidak, sebetulnya sangat ti dak menguntungkan bagi masa 
depan NU sebagai jam’iyah, jama’ah, atau pun nahdlah. Sebagaimana kita 
lihat, konflik dalam tubuh NU (te pat nya po litisi NU) cenderung meng 
arah pa da terciptanya kubu-kubu yang terli bat pada ketegangan yang 
tentunya potensial melahirkan perpecahan.

Karena itu, jika para kiai tidak mampu menaikkan posisi tawarnya, dari 
‘broker budaya’ pendulang sua ra kepada posisi politik yang lebih 
signifikan, kiai dan NU akan terus dimanfaatkan dengan hanya 
berlandaskan pada kalkulasi kuantitas.

Politik NU tidak akan mampu berja ya sebagaimana halnya keikutserta an 
mereka dalam merumuskan UUD 1945, inisiasi mengumandangkan ma nifesto 
Resolusi Jihad yang meng gelorakan perlawanan terhadap ko lonial, atau 
saat NU menjelma civil so ciety yang menjalankan peran counter-balancing 
terhadap Orde Baru.

Politik NU akan selamanya men ja di sistem politik tradisional yang 
tidak mampu berlaga dalam perta rungan politik kontemporer yang bersifat 
lintas batas primordial. Se ti daknya, kemenangan Partai De mok rat pada 
Pemilu 2009 ini men jadi bukti bahwa politik NU yang selama ini 
diaspirasikan oleh partaipartai berbasis NU masih bersifat tradisional 
karena belum mampu menjangkau suara dan pemilih lain, selain dari suara 
warga NU sendiri.

Tampaknya, dalam menghadapi mar ginalitas politik NU belakangan ini, 
kiranya sangat mendesak bahwa or ganisasi ini perlu merevitalisasi pe 
ran politiknya. NU perlu merevisi kem bali gerak politiknya dalam kan 
cah perpolitikan nasional agar be nar-benar mampu mengendalikan lokomo 
tif transformasi sosial-politik dan keagamaan.

Demikian pula, kepada para politikus NU agar seyogianya mulai me 
mikirkan sebuah reformulasi terha dap tradisi politik mereka. Bagai ma 
napun, tak mungkin menghilang kan darah politik NU yang telah di infuse 
sejak zaman pergerakan, se perti halnya tidak realistis pula membatasi 
afiliasi politik warga NU yang beragam. Penting artinya bagi NU agar 
para politikusnya me nyu blimasi warisan kulturalnya dengan format 
politik modern. a73




------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke