--- On Tue, 5/12/09, sunny <[email protected]> wrote:
From: sunny <[email protected]>
Subject: [ppiindia] Internal PDIP Mulai Bergejolak
To: [email protected]
Date: Tuesday, May 12, 2009, 8:12 AM






http://www.cenderaw asihpos.com/ detail.php? id=27728

12 Mei 2009 11:30:31

Internal PDIP Mulai Bergejolak

Kelompok Penentang Koalisi dengan SBY Mulai Muncul 

JAKARTA - Rencana sejumlah elite PDIP untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat 
mulai menimbulkan gejolak di internal partai berlambang banteng moncong putih 
itu. Secara terbuka, beberapa kader mulai menentang koalisi yang akan mengusung 
SBY sebagi presiden itu. 

Para penentang koalisi Demokrat-PDIP meminta Megawati tidak menempuh langkah 
tersebut. "Lebih baik mempersoalkan pemilu yang tidak jurdil daripada berpikir 
koalisi dengan Partai Demokrat," kata Wakil Sekretaris Badan Pemenangan Pemilu 
(BP Pemilu) PDIP Hasto Kristianto di Jakarta kemarin (11/5).

Menurut dia, selama lima tahun terakhir terdapat kontradiksi antara PDIP dan 
Demokrat. Realitas itu tampak nyata dalam dinamika di DPR. "Kontradiksi itu 
terutama dalam persoalan arah kebijakan politik ekonomi," ujar Hasto yang juga 
anggota DPR itu.
Lebih lanjut, Hasto menyatakan bahwa PDIP menjadikan nasionalisme kerakyatan 
dan demokrasi ekonomi sebagai paradigma. Karena itulah, tegasnya, PDIP menolak 
praktik impor beras dan pemberian Blok Cepu ke ExxonMobil. PDIP juga menentang 
UU Penanaman Modal dan UU Free Trade Zone. "Partai Demokrat justru menjadi 
motor semua ini," tandasnya.

Bukan hanya itu, dalam pembahasan APBN, Demokrat mendorong kebijakan fiskal 
yang ekspansif dengan memperbesar utang guna menutup defisit. Buktinya, utang 
dalam negeri pemerintah SBY naik sampai 460 triliun untuk membiayai defisit 
tersebut. Ironisnya, kualitas pertumbuhan tetap rendah. "Ini jelas bertentangan 
dengan prinsip kemandirian ekonomi yang diperjuangkan PDIP," cetus Hasto.

Dalam politik luar negeri, menurut dia, PDIP menolak defence cooperation 
agreement (DCA) dan tidak setuju terhadap sikap SBY yang menyerahkan tanggung 
jawab Perang Iraq kepada masyarakat global. Padahal, masalah itu akibat aksi 
unilateral Amerika. "Semua perbedaan fundamental ini akan menjadi hambatan 
utama koalisi," tegasnya.

Di sisi lain, PDIP juga berpandangan bahwa pemilu legislatif tengah menghadapi 
persoalan legitimasi. Sebab, terdapat lebih dari 45 juta warga negara yang 
tidak bisa memilih. Bahkan, Komnas HAM menyebut itu terjadi secara sistemik dan 
masif. "Fraksi PDIP sangat aktif mendorong hak angket DPT (daftar pemilih 
tetap, Red) yang sasarannya adalah pemerintah," kata Hasto.
Dia yakin Megawati pasti akan mempertimbangkan dengan matang tawaran koalisi 
tersebut. Terlebih lagi, Rakernas PDIP sudah menetapkan Megawati sebagai capres 
dari PDIP. "Saya lihat hubungan dengan Demokrat hanya bentuk komunikasi politik 
antarpartai besar. Targetnya rekonsiliasi, bukan koalisi," tandasnya.

Politikus muda PDIP lainnya, Aria Bima, juga mengatakan, konsepsi kerakyatan 
PDIP sangat antineoliberalisme. Proses lima tahun sebagai oposisi adalah kritik 
terhadap arah kebijakan SBY yang sangat dekat dengan paham neoliberalisme. 
"Kalau pendekatannya ideologi, ini sangat sulit disatukan dalam bentuk 
koalisi," ujar anggota DPR itu.

Realitas politik turunnya perolehan suara PDIP menjadi 14 persen, menurut Aria, 
lebih disebabkan masyarakat belum terbiasa dengan tradisi oposisi. Karena itu, 
tugas PDIP yang masih belum selesai adalah memperkuat tradisi oposisi dalam 
sistem politik nasional. "Negara dan rakyat tidak hanya butuh pemerintahan yang 
kuat, tapi juga oposisi yang efektif," tuturnya.
Aria percaya, manuver Demokrat mengirim Mensesneg Hatta Rajasa untuk menemui 
Megawati, termasuk mendorong Gubernur BI Boediono dipasangkan dengan SBY, tidak 
akan meluluhkan Megawati. "Konsistensi Megawati akan menjadi contoh sikap 
seorang pemimpin parpol besar," tegasnya. (pri/tof)

[Non-text portions of this message have been removed]

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke