Partai Amanat Nasional Perjanjian Arial 16
Partai Amanat Nasional merapat ke kubu Yudhoyono. Amien Rais dituding 
mengkhianati kesepakatan.

Sekali berarti, sudah itu mati 
(Chairil Anwar) 
  
KETUA Umum Partai Amanat Nasional Soetrisno Bachir tentu tak lupa petikan sajak 
itu. Pertengahan tahun lalu ia menggunakan syair tersebut dalam billboard besar 
yang mempromosikan dirinya sebagai ketua partai. 
Pekan lalu isu ”kematian” itu santer terdengar: Soetrisno akan mundur dari 
kursi Ketua Umum PAN. ”Saya de­ngar begitu. Tapi saya sarankan agar ia tidak 
mengambil keputusan tersebut,” kata Abdillah Toha, anggota Majelis Pertimbangan 
Partai. 
Seperti Abdillah, Rabu pekan lalu, sejumlah pengurus PAN ju­ga berkerumun di 
rumah Soe­tris­no­ di Pondok Indah, Jakarta Selatan, untuk membesarkan hati 
sang tuan rumah. Tampak hadir sejumlah pengurus pusat dan kader partai dari 
Jawa Timur, Lampung, dan Sumatera Utara. Soetrisno sendiri enggan berbicara 
kepada pers. ”Bapak masih ingin istirahat,” kata Sunan Hasan, Koordinator Media 
Center Soetrisno Bachir. 
Pangkal soalnya adalah Rapat Kerja Nasional PAN di Yogyakarta, Sabtu dua pekan 
lalu. Rapat itu melahirkan­ dua keputusan pen­ting: PAN akan ber­koalisi dengan 
Partai Demokrat dan me­nyorongkan Wakil Ketua Majelis­ Per­timbangan Hatta 
Rajasa­ sebagai ca­lon wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono. 
Nama Ketua­ Umum Soetrisno Bachir yang akan men­dampingi Prabowo Subianto dari 
Partai Gerindra tidak disebut sama sekali. 
Sejak awal, rapat yang digelar di Hotel Sheraton Yogyakarta itu penuh intrik. 
Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amien Rais, 65 tahun, dan Soetrisno Bachir, 
52 tahun, beradu jurus. Amien mengusung ide koalisi PAN dengan Demokrat. Adapun 
Soetrisno ingin partainya bergandeng tangan dengan Ge­rindra. Soetrisno telah 
beberapa kali bertemu dengan Prabowo, dan Amien sudah pula menyambangi 
Yudhoyono. 
Sehari sebelum acara, Soetrisno men­datangi kediaman Amien di Peru­mahan Taman 
Gandaria, Jakarta Sela­­-t­an. Tampak hadir mendampingi Ketua Umum: Sayuti 
Asyathri (ketua), Ha­kam Naja (ketua partai dan panitia­ peng­arah rapat kerja 
nasional), dan Bam­bang Sudibyo (ketua dewan pakar). 
Misi mereka adalah meminta rapat kerja digelar di Hotel Sahid Jakarta. Selain 
itu, rapat diharapkan tidak mengambil keputusan koalisi. 
Soal tempat, kubu Soetrisno memilih­ Jakarta karena menganggap Yogya sebagai 
kawasan yang sudah ”dikuasai” Amien Rais. Sebaliknya, kubu Yogya meng­anggap 
Jakarta penuh ”amplop” yang bakal disebar pihak yang tak meng­inginkan PAN 
berkoalisi dengan Demokrat. 
Jalan tengah lalu ditawarkan Hakam Naja: rapat kerja pertama akan dilaku­kan di 
Yogyakarta, rapat berikutnya­ digelar di Jakarta seminggu kemudian. Baik Amien 
maupun Soetrisno diwajib­kan hadir pada kedua acara.. Amien Rais tak 
berkeberatan. ”Setuju,­ setuju,”­ kata Amien seperti dikutip­ sumber Tempo yang 
hadir dalam pertemuan itu. Soetrisno juga meng­angguk meski kubunya telah 
memesan tempat di Hotel Sahid dan telah mendatangkan sejumlah pengurus daerah. 
Seusai pertemuan, rombong­an Soetrisno­ balik ke Pondok Indah. Agar rapat kerja 
nasional yang kedua tak ditelikung, kubu Soetrisno­ mengonsep draf kesepakat­an 
yang rencananya akan diteken Amien dan Soetrisno. Di­tulis dengan huruf Arial 
berukuran 16, draf itu ber­isi lima butir kesepakatan. Dua butir pertama 
bersifat normatif: kedua pihak sepakat menjaga integritas partai dan setiap 
keputusan akan dida­sari kesepakatan antara ketua umum dan ketua majelis 
pertimbangan. 
Tiga butir sisanya: rapat akan diambil tanpa voting, rapat akan digelar dua 
kali dan dihadiri Amien dan Soetrisno, serta rapat Yogyakarta tidak akan 
menyebut nama kader sebagai calon wakil presiden. Artinya, partai akan 
memberikan kesempatan kepada setiap ka­der untuk dipinang sebagai calon wakil 
presiden oleh calon presiden mana pun. 
Selepas salat magrib, Sayuti Asya­thri, Hakam Naja, dan anggota Dewan 
Perwakilan Rakyat, Nasrullah, diutus untuk menemui Amien Rais. Di sana mereka 
sempat menunggu Amien yang sedang bersantap malam. 
Ditemani putranya, Hanafi Rais, Amien menemui ketiganya. Sayuti lantas 
membacakan satu per satu butir kesepakatan. Hakam dan Nasrullah lebih banyak 
diam. Ketika butir demi butir dibacakan, menurut sumber Tempo, Amien mengucap 
setuju. 
Sesaat kemudian, Sayuti mengeluar­kan pulpen dari saku kemejanya. Amien 
terkejut, lalu mengambil pulpen­ itu. ”Apa kamu tidak percaya kepada saya?” 
kata Amien. Yang ditegur tertawa kecut dan bilang, ”Pulpen itu mau saya kasih 
ke Pak Amien.” 
Amien mengembalikan pulpen itu dan mengutip sepotong hadis: ”Wa kafa billahi 
syahida, wa kafa billahi kafila (cukup Allah sebagai saksi dan sebagai 
penjamin).” Suasana makin tak enak saat Amien menutup pertemuan. ”Pak Sayuti, 
lihat pintu itu? Silakan keluar.” Ketiga utusan segera angkat kaki. 
Ditanyai soal insiden ini, Sayuti tak membenarkan dan tak menyangkal. ”Sa­ya 
tidak mau berkomentar menge­nai persoalan internal partai,” katanya.­ Amien 
Rais, yang biasanya banyak­ bicara, juga menutup mulut. Permintaan wawancara 
Tempo melalui Isma­il, anggota staf pribadinya, tak ditanggapi.­ Ta­pi, menurut 
salah seorang ketua PAN, Patrialis Akbar, Amien tak pernah mem­berikan jan­ji 
apa pun dalam pertemuan itu. ”Pak Amien menegaskan­ par­tai ini bukan milik 
perorang­an. Jadi tidak ada yang perlu ditanda­tangani, kan,” katanya. 
Keterang­an ini juga diberikan Amien kepada sejumlah pengurus partai. 

l l l
SOETRISNO sebenarnya sudah men­duga akan ada yang tak beres di Yog­yakarta. 
Namun ia tetap berangkat dengan harapan lima butir komitmen itu bakal ditepati. 
Jumat malam sebelum acara, Soetrisno sendiri mene­lepon panitia di Hotel Sahid 
Jakarta agar menunda rapat hingga Sabtu pekan depan. Ia juga mengutus Wakil 
Se­kretaris Jenderal PAN Rizki Sadiq dan Sayuti untuk menjelaskan duduk perkara 
ini kepada panitia. 
Soetrisno bersama sekitar 40 orang berangkat ke Yogyakarta, Sabtu pukul sepuluh 
pagi, menggunakan pesawat carteran Pelita Air dari Bandara Halim 
Perdana­kusuma. Rombongan pro-Amien mencarter pesawat Lion Air dari Bandara 
Soekarno-Hatta. 
Di Yogyakarta, Soetrisno tidak ikut ra­pat hingga rampung. Menurut orang 
dekatnya, ia meninggalkan ruang sidang seusai Amien memberikan sambutan. 
Soetrisno kaget karena, ”Pak Amien tidak memberi tahu peserta­ perihal lima 
kesepakatan itu,” kata seorang sumber. Seorang ketua partai pro-Amien justru 
menyalahkan Soetrisno yang tidak mengungkap perihal kesepakatan tersebut. 
Yang muncul kemudian adalah desas-desus tentang PAN yang mendapat ”pengganti 
uang saksi pemilu le­gislatif” agar bersedia merapat ke Partai Demokrat. Empat 
sumber Tempo dari kedua kubu membenarkan­ soal mahar tersebut. ”Jumlahnya 
seki­tar Rp 20 miliar,” kata seorang dari me­­reka. ”Saya mendapat Rp 200 
juta,” ka­ta sumber lain. Disebut-sebut, uang itu berasal dari 
Menteri-Sekretaris Nega­ra Hatta Rajasa yang diserahkan kepada Sekretaris 
Jenderal PAN Zulkifli­ Hasan. 
Hatta Rajasa membantah kabar itu. ”Enggak benar,” katanya kepada Iqbal Muhtarom 
dari Tempo seusai salat Jumat pekan lalu. Adapun Zulkifli berujar pendek. 
”Tidak ada,” ujarnya lewat telepon seluler. Sekretaris Jenderal Partai Demokrat 
Marzuki Alie mengatakan partainya tak mungkin main uang. ”Partai Demokrat tidak 
punya uang. Untuk mencetak buku saksi saja kami ber­utang Rp 700 juta,” 
katanya. 

l l l
SOETRISNO Bachir tampaknya sudah patah arang. Menurut Rizki Sadiq, rapat kerja 
nasional tak bakal terlaksana karena, ”Pak Tris menunggu penetapan suara oleh 
Komisi Pemilihan Umum.” Setelah hasil pemilu keluar, Soetrisno akan 
mempertimbangkan beberapa opsi: mundur dari jabatan, merevisi hasil rapat 
Yogyakarta, atau malah menye­rah kepada Amien Rais. Tapi, menurut Abdillah 
Toha, jika Hatta Rajasa gagal menjadi calon wakil presiden Yudhoyono, hasil 
rapat kerja bisa diubah. ”Ini tergantung Pak Amien,” katanya. 
Menjadi ketua umum partai sejak 2005, Soetrisno sejatinya adalah kader pilihan 
Amien Rais. Dalam musyawarah nasional di Semarang, sejumlah nama masuk bursa 
ketua umum menggantikan Amien. Mereka adalah Andi Mappetahang Fatwa, Hatta 
Rajasa, dan Fuad Bawazier. 
Tapi Amien jatuh hati pada Soetrisno. ”Jika waktu salat tiba, meski teman-teman 
masih ngobrol, dia langsung menggulung lengan, berwudu, dan salat,” kata 
seseorang yang dekat dengan Amien Rais. Soetrisno juga gemar menyumbang. Amien 
lalu mencurahkan tenaga untuk memenangkan Soetrisno. 
Aktif di Himpunan Mahasiswa Islam­ ketika kuliah di Pekalongan, nama Soetrisno 
mulai terdengar ketika menjadi aktivis Himpunan Pengusaha Mu­da Indonesia. Pada 
dekade 1990, peng­usaha dari kelompok Ika Muda ini bergabung dengan 
Muhammadiyah yang dipimpin Amien Rais sebagai penasihat ekonomi. 
Menurut Rizki, kini Soetrisno mera­sa tak lagi cocok berkecimpung dalam dunia 
politik. ”Politikus itu harus berjiwa preman dan bengis. Harus bisa mengambil 
keputusan tanpa memperhatikan perasaan orang lain agar tujuannya tercapai,” 
kata Soetrisno seperti dikutip Rizki. 
  
Budi Riza
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/05/11/NAS/mbm.20090511.NAS130296.id.html#


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke