Faisal: Boediono Cawapres SBY Justru Sosok Anti Neoliberal 
Faisal malah mengkritik balik orang-orang yang menuding Boediono neoliberal.
Jum'at, 15 Mei 2009, 08:00 WIB
Heri Susanto
  

VIVAnews - Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri menilai Gubernur Bank 
Indonesia Boediono bukanlah sosok yang neoliberal. Di mata Faisal, Boediono 
justru sosok ekonom yang menekankan pentingnya campur tangan negara dalam 
pembangunan ekonomi Indonesia. 

"Boediono justru antitesa dari neoliberal," ujar Faisal Basri kepada VIVAnews 
di Jakarta, Kamis malam, 14 Mei 2009.

Faisal malah mengkritik balik orang-orang yang menuding Boediono neoliberal. 
Mereka, menurut Faisal, adalah orang-orang yang salah kaprah. "Mereka yang 
menuding Neolib itu, sok pernah mengabdi pada negara saja."

Sebagai gambaran Boediono bukan sosok neoliberal, Faisal pun memaparkan 
bukti-bukti. Menurut Faisal, saat menjadi Menko Perekonomian, Boediono kerap 
mengundang para ekonom untuk berbincang dan berdiskusi dengan berbagai topik 
soal ekonomi. 

Dalam sebuah pertemuan di kantor Menko Perekonomian, Faisal mendengar 
pernyataan langsung dari Boediono. "Mas Faisal, setelah menjadi Menko 
Perekonomian, saya semakin yakin bahwa pasar harus dikendalikan. Jangan biarkan 
pasar mengendalikan sumber daya ekonomi Indonesia," ujar Boediono kepada Faisal.

Boediono diangkat sebagai Menko Perekonomian pada 2005 menggantikan Aburizal 
Bakrie. Namun, tiga tahun menjabat Menko, tenaga Boediono diperlukan di Bank 
Indonesia. Pada 22 Mei 2008, Boediono diangkat sebagai Gubernur BI setelah 
melalui proses fit and proper test di DPR.

Faisal kemudian memaparkan perjalanan Boediono di birokrasi pemerintah. Yang 
dia ketahui, Boediono pertama kali masuk pemerintah saat menjadi Kepala Biro 
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Bahkan, pada masa 
pemerintahan BJ Habibie, Boediono juga menjadi Ketua Bappenas. 

"Falsafah Bappenas itu bukan neoliberal," ujar Faisal. Peran Bappenas, menurut 
dia, sangat besar bagi pembangunan ekonomi Indonesia. "Seandainya Boediono 
neoliberal, maka dia tidak akan mau bergabung dengan Bappenas." 

Enam bulan setelah duduk di kursi Gubernur Bank Indonesia, Boediono justru 
menekankan pentingnya pengendalian sistem devisa Indonesia. Karena itu, BI 
menerapkan pengetatan transaksi valuta asing dilakukan untuk meluruskan 
prosedur informasi yang diperlukan.

"Sistem devisa kita ini terlalu bebas," ujar Gubernur BI dalam jumpa pers di 
Jakarta, Jumat, 14 November 2008.



Kirim email ke