Kerudung sebagai Faktor dalam
Pilpres

Ahmad Suaedy*


Setelah tidak berhasil memaksa
Susilo Bambang Yudoyono (SBY) calon presiden dari koalisi pimpinan PD (Partai
Demokrat) untuk membatalkan memilih Boediono sebagai wakil presiden, PKS
(Partai Keadilan Sejahtera) mencoba menawar dengan mempersoalkan istri dari
keduanya, SBY dan Boediono, untuk berkerudung. Alasan dari dua tuntutan PKS
atas pasangan capres-cawapres SBY-Boedino sama, yaitu tuntutan umat.


Boediono dipersoalkan karena dia
tidak berasal dari partai Islam atau partai nasionalis Islam, salah satu sayap
dalam koalisi itu sehingga dianggap tidak mewakili umat Islam, di samping sayap
nasionalis yang paling besar diwakili oleh PD sendiri.  PKS bahkan sempat 
memobilisasi partai-partai
tersebut, yaitu PPP, PKB dan PAN untuk kemungkinan membangun poros tersendiri
menandingi SBY-Boediono, namun gagal sehingga kembali merapat ke SBY.


Kerudung sesungguhnya bukan
sesuatu yang buruk melainkan bisa saja sesuatu yang baik sebagai sebuah
kesepakatan umum. Tetapi tuntutan untuk memakainya dalam konteks politik dengan
alasan umat patut dipersoalkan. Di luar bahwa klaim umat memang mudah untuk
dimanipulasi dengan tujuan kepentingan politik, maka dalam konteks politik kata
"umat" harus didefinisikan secara jelas dan proporsional.


Umat Islam di Indonesia adalah
plural. Seperti pernah ditulis oleh Sidney Jones beberapa puluh tahun lalu,
kata "umat" mengalami proses mengembang dan mengerut sesuai dengan
definisi dan cakupan kelompok dan konteks yang terlingkup. Dan akibatnya kata
itu bisa diklaim sesuai dengan kapasitas kekuasaan yang melingkupinya. Sebuah
negara mayoritas Muslim bisa saja mengkalim bahwa keseluruhan umat Islam di
negara itu adalah satu umat di bawah kekuasaan tersebut dengan mengabaikan
perbedaan pandangan politik dan afiliasi. Tetapi kelompok pengajian di sebuah
mushola betatapun kecilnya, memiliki hak yang sama. Karena itu klaim atas kata
"umat" tanpa batasan yang jelas berisiko manipulatif  dan mengundang 
otoritarian.


Maka, dalam konteks politik di
Indonesia,  kata "umat" tidak
bisa didefinisikan keseluruhan pemeluk Islam di Indonesia. Klaim PKS atau
partai lain atas umat, dalam politik, harus dihitung dari perolehan suara
bersangkutan. Sebuah tuntutan yang didasarkan pada klaim "umat" lebih
dari perolehan suara dalam pemilu dalam politik, patut dipersoalkan sebagai
klaim yang tidak riil. Yang lebih aneh sesungguhnya adalah seandainya
SBY-Boediono takluk tehadap tuntutan tersebut sehingga memaksa istri mereka
memakai kerudung. Jika hal itu terjadi maka akan bisa meruntuhkan  kredibilitas 
SBY-Boediono sendiri karena
hanya mendengar tuntutan anggota koalisi yang sesungguhnya minoritas.


Lebih dari itu, sebagai Muslim,
SBY maupun Boediono memiliki hak ekspresinya sendiri yang terlingkup di dalam
"umat" dimana dia berafiliasi, misalnya Partai Demokrat. Meskipun
tidak berasas Islam, tetapi mayoritas anggota dan pemimpin PD adalah Muslim.
Dan tidak diragukan lagi bahwa cara hidup dan tata krama mereka tidak
mencerminkan bertentangan dengan substansi Islam. Boleh jadi malah lebih dari
partai Islam itu sendiri.

 

PKS juga tampaknya tergoda untuk
memperbandingkan capres-cawapres koalisinya dengan calon lain, JK-Win misalnya,
yang istri mereka memakai kerudung. Perbandingan demikian sungguh tidak
menguntungkan bagi SBY-Boediono, karena dengan demikian akan terbangun persepsi
publik tentang belum tuntasnya dan tidak solidnya koalisi, dengan pengakuan
anggota koalisi atas keunggulan pihak lain dalam hal yang simbolik sekalipun.
Di samping itu, ia juga akan berdampak bagi orang lain khususnya pemilih PKS
untuk kemungkinan lebih bersimpati memilih calon dengan simbol berkerudung yang
terkesan lebih diapresiasi oleh petinggi PKS.


Karena itu, pemunculan isu yang
simbolik dan artifisial seperti itu bisa berbuah bomerang bagi koalisi
SBY-Boediono. Sebuah black campaign atas koalisinya sendiri dan dalam waktu
yang sama bisa meruntuhkan seluruh image yang telah dimiliki SBY sebagai
seorang yang melayani semua golongan, santun, dan prestasinya dalam pencapaian
ekonomi serta kestabilan politik, digantikan dengan pengingkaran terhadap
sesuatu yang simbolik dan artifisial semata.


Di atas itu semua, yang lebih
mengherankan adalah kontradiksi di dalam PKS sendiri, antara imagePKS sebagai
partai perkotaan yang sarat dengan intelektual dan teknokrat dengan tuntutan
yang sangat artifisial dan simbolik tersebut. 
Namun mungkin saja tuntutan simbolik dan artifisial itu sebagai cara
untuk menaikkan bargainingdalam politik. Namun, sayangnya, tanpa disadari hal
itu akan lebih merugikan bersama dalam koalisi ketimbang meningkatkan image
positif.


Mungkin akan lebih masuk akal dan
dalam waktu yang sama menaikkan citra koalisi seandainya PKS justeru menawarkan
program yang menyentuh kehidupan orang banyak dan menaikkan tingkat kehidupan
rakyat secara obyektif. Tuduhan banyak pihak bahwa SBY-Budiono sebagai kaki
tangan neoliberalisme yang cenderung hanya menguntungkan pemilik modal dan
pihak asing, misalnya, lebih menuntut jawaban kongkrit dan pembangunan citra.


PKS, yang mengklaim diri sebagai
partai intelek,  memiliki kredibilitas
untuk mengajukan argumen dan pembelaan keperpihakan SBY-Boediono dan koalisinya
atas rakyat miskin, distribusi ekonomi yang lebih adil dan tidak mengekor pada
modal asing dan Barat. Dari sanalah soliditas koalisi mustinya bisa terus
dibangun.

*Direktur Eksekutif the Wahid
Institute, Jakarta

Sumber: Jurnal Nasional, | Rabu,
03 Juni  2009

http://wahidinstitute.org/Opini/Detail/?id=174/hl=id/Kerudung_Sebagai_Faktor_Dalam_Pilpres



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke