Salam
 
Tolong melihat negara tetangga, Thailand, Malaysia, India, Iran, negara-negara 
Amerika Latin, apalagi China, maka mazhab Ekonomi Budiono memang NEOLIB dan 
KUNO.....
Baca wawancara Surabaya Post dibawah ini. Tolong JANGAN DILANJUTKAN donk.
BANGKRUT NANTI.....NEGARA KAYA KOK NGUTANG TERUS.....HARUS GANTI MODEL. IMF 
SUDAH DIUSIR DI NEGARA-NEGARA LAIN.....KOK DI INDONESIA MASIH BISA MEMAKSAKAN 
CAPRES & CAWAPRES YA ????????
 
salam.
liem siok lan
 
 
Justiani: Indonesia perlu Corporate Restructuring atau Punah. 


Bagi Justiani, memperbaiki sebuah negara tidak sesulit seperti yang dibayangkan 
orang selama ini. Yang dibutuhkan bagi satu bangsa sebesar Indonesia untuk bisa 
keluar dari keterpurukannya hanya ada dua solusi: revolusi budaya dan 
perombakan sistem kenegaraan yang dikawal oleh militer yang berpihak pada 
rakyat. Ini adalah proses yang dibutuhkan sebagai prasyaratnya untuk melakukan 
restructuring negeri ini.


Dua hal itulah yang menjadi ukuran Justiani saat dia memilih Mayor Jenderal TNI 
Saurip Kadi dan Deddy Mizwar alias Jenderal Nagabonar untuk mewujudkan 
cita-cita melakukan restrukturisasi Indonesia. Dua sosok ini mewakili syarat 
tersebut. Saurip Kadi berpengalaman di bidang ketatanegaraan, ekonomi dan 
militer sementara Dedi Mizwar memiliki visi revolusi kebudayaan yang bisa 
membawa Indonesia sebagai pemain global. 


Rumusan yang disampaikannya itu juga berdasarkan pada pengalamannya setelah 
berkeliling dunia. Salah satu pengalamannya adalah saat menjadi bagian dari tim 
permbaharuan di jaman mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra dan 
mantan PM Malaysia Mahathir Mohammad. Di dua negara itu, Justiani bersama 
timnya mampu membuat Thailand dan Malaysia keluar dari keterpurukan.


”Thaksin dan Mahathir memiliki cara berfikir yang sama. Mereka melakukan apa 
yang namanya corporate restructuring, merombak sistem kenegaraan supaya bisa 
memanfaatkan globalisasi untuk kesejahteraan rakyat, untuk kebangkitan 
bangsanya di percaturan global,” ujar Justiani. 


Pertanyaan yang harus dijawab saat itu adalah mengapa negara yang sudah 
memiliki segalanya, memiliki rakyat, memiliki hukum, bisa memberikan lisensi, 
semuanya ada termasuk aturan main bisa mereka buat, tetapi dalam prakteknya 
bisa kalah dengan perusahaan multinational corporation yang kini berlomba untuk 
mengorganisir rakyat melalui mekanisme pasar.


”Tim kami adalah konsultan independen untuk merumuskan bagaimana corporate 
restructuring itu,” ujar pemilik nama Liem Siok Lan itu. ”Yang kami lakukan 
diawali dengan melakukan survei kepada rakyat,” lanjutnya. Dari hasil survei 
tersebut, intinya dua, yakni masalah apa yang dihadapi rakyat dan apa yang 
diminta oleh rakyat, lalu tim merumuskan bagaimana pemecahannya. Justiani 
mengatakan waktu di Thailand itu ada tujuh juta kuesioner yang kembali. Dari 
situ diketahui berbagai permasalahan yang ada di masyarakat untuk dipecahkan 
secara sistemik, sehingga peran negara dan pemimpin menjadi jelas bagi setiap 
warganya.


”Sama seperti di Indonesia. Masalah pertama yag dihadapi masyarkat itu terbelit 
hutang, gaji tidak cukup tanggal 10 sudah habis selanjutnya ngutang, kemudian 
tidak punya tanah, kemudian kalau punya produk tidak bisa jual, gak kuat bayar 
listrik, air, kesehatan, dsb, hampir sama tipikal negara berkembang. Nah itu 
semua kita buat skala prioritas,” ungkapnya. 


Setelah membuat skala prioritas, kemudian dibuatlah ”Master Plan Thailand 
Incorporated” termasuk bagaimana men-generate dananya dari mana model 
ekonominya seperti apa. Master plan itu lengkap dari UUD, hingga UU turunannya 
dan pemerintah harus konsisten mendukung ini. Termasuk sikap pemimpin 
danmenteri-menteri kabinet harus konsisten dengan master plan yang sudah 
disepakati. 


”Jadi, waktu itu tim kami bisa memecat menterinya Thaksin karena master plan 
yang sudah sepakati bersama, parlemennya teken, perdana menteri teken, raja 
juga stempel, nah kemudian dilaksanakan dibawah kepemimpinan Thaksin. Thaksin 
konsisten. Waktu itu salah seorang menteri yang menyimpang, kita laporkan 
bagaimana analisis dan dampaknya, langsung dipecat oleh Thaksin,” ungkap 
Justiani. ”Karena tim independen ini tidak ada urusan dengan perpolitikan 
Thailand, yang penting kita secara profesional melakukan apa yang harus 
dikerjakan untuk masyarakat Thailand dan itu dari permintaan rakyat langsung 
yang dituangkan dalam master Plan,” jelasnya.


People Cybernomics


Terkait Indonesia, Justiani mempromosikan people cybernomics, yaitu sistem baru 
untuk mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat secara konkret. Dalam hal ini 
rakyat terorganisir dalam bentuk korporasi. Konsep ini mempertemukan antara 
kapitalisme dan sosialisme dalam koporasi kerakyatan. 


”Jadi ke depan itu akan menjadi model ekonomi baru yang berbasis kerakyatan 
tetapi dengan teknologi dan sistem seperti halnya multinational corporation. 
Karena negara yang bisa memfasilitasi hal ini, maka harus negara yang merubah 
sistem ekonominya dengan kembali ke uang mas, atau yang lainnya. Ini butuh 
kepemimpinan nasional yang mampu melihat global itu sudah bergerak sampai ke 
sana,” ungkap Justiani.


Justiani mejelaskan, dirinya melihat usaha untuk perubahan itu ada dalam paduan 
sosok Saurip Kadi dan Nagabonar sehingga didukungnya untuk menjadi presiden dan 
wakil presiden. Dengan ini perubahan secara total seperti yang telah dilakukan 
Thaksin di Thailand, Ahmadinjead di Iran, dan Hugo Chavez di Venezuela, 
Mahathir di Malaysia bisa terwujud. Secara sistemik, holistik, tidak tumpang 
tindih seperti sekarang ini. 


”Saya sebagai orang independen tidak ada urusan dengan urusan politik. Saya 
melihat dari perspektif persyaratan “corporate restructuring” Indonesia, kalau 
ingin tetap NKRI, saya melihat, ya harus seperti itu. Kalau ini tidak terjadi, 
maka yang terjadi saya rasa adalah skenario kedua yakni adanya perpecahan 
seperti Aceh, Riau, Kaltim yang ingin berdiri sendiri-sendiri karena 
tidakmerasakan manfaat berIndonesia,” ungkapnya. 


Dia menambahkan bahwa Indonesia tidak punya pilihan, karena sistem lama yang 
digunakan adalah jebakan internasional ala IMF. Sebetulnya Dunia mau indonesia 
lebih baik, tetapi IMF dkk ingin bertahan, menjadi satu-satunya lembaga yang 
masih bercokol di Indonesia, saat di negara lain IMF sudah diusir. 


Lantas modal uang dari mana untuk bisa membiayai rencana tersebut? Justiani 
menjelaskan bahwa uang itu hanya sarana. Contohnya Thailand yang tidak punya 
tambang juga bisa bengkit dari keterpurukan. Berarti ada caranya. Itu hanya 
bagian sebuah model, China misalnya mengambil satu model yang awalnya tidak 
menganut hukum ”supply and demand” sebagaimana sistem kapitalisme, yang penting 
dia mengatur bagaimana rakyatnya semua bekerja dari jam tujuh sampai jam lima. 
China pun terbukti bisa memproduksi barang apa pun mulai dari peniti sampai 
satelit dengan tidak ikut model mekanisme pasar. Rakyatnya lebih dari 1 miliar 
makan semua. Kesehatan ditanggung negara, pendidikan semua gratis semua anak 
sekolah, semua kerja. 


”Kalau china menerapkan sistem kompetisi bebas, seperti negara-negara Barat, 
rakyat China bisa mati bunuh-bunuhan hanya untuk sekedar cari makan,” 
tandasnya. Dia menjelaskan rakyat harus dipimpin dengan cara berbeda. ”Jadi 
janga bicara uang. Uang itu hanya alat. Saya bisa bikin satu dolar itu sama 
dengan satu rupiah kalau disepakati. Karena saya membantu Malaysia bikin 1 
dollar senilai 3,8 ringgit. Itu kan modelling saja,” tandasnya. 


Dia menambahkan bahwa yang menjadi masalah Indonesia adalah sesama elit 
sekarang ini yang berfikir uang mereka jadi kufur. Mereka tertipu oleh sistem 
besar ini. Itu hanya alat. Thaksin bikin dengan caranya, mahatihr bikin dengan 
caranya, Hugo Chavez dengan caranya. 


Terkait militer, Justiani menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kultur seperti 
negara-negara Amerika Latin. Dimana tentara dipakai oleh kroni penguasa untuk 
dimanfaatkan untuk mengamankan kepentingan kapitalisme sehingga mencengkreram 
rakyat. Para konglomerat memanfaatkan tentara sebagai backing mereka. Adalah 
Hugo Chavez yang bisa membalikkan sejarah dimana tentara untuk kepentingaan 
rakyat. Dalam penilaiannya, sosok Saurip Kadi itu bisa seperti Chavez yang 
mengembalikan peran tentara untuk kepentingan rakyat. 


Penampilan Justiani tampak sebagai sosok yang bersahaja, sebagaimana dia 
jelaskan bahwa apa yang dia fikirkan, ucapkan, dan lakukan menyatu dalam 
hidupnya. Ini adalah bagian dari perjalanan spiritual yang dia yakini. ”Karena 
saya memahami makna khalifah, saya in menjadi wakil Tuhan di dunia,” ujarnya. 


Perjalanan Spiritual


Justiani meyakini bahwa ada unsur Tuhan dalam diri manusia maka tugas manusia 
adalah menjadi wadah dari implementasi sifat-sifat Tuhan dalam praktek 
kehidupan sehari-hari. ”Maka saya tidak pernah berfikir uang. Uang bisa kita 
ciptakan. Dan itu terbukti dalam perjalanan hidup saya sekian tahun ini,” 
ujarnya. ”Saya sudah merasakan tinggal di penthouse hotel bintang lima selama 
berbulan-bulan, naik private jet, dsb,” lanjutnya. ”Agama itu harus terbukti di 
dunia, bukan cuma nanti di akhirat. Jangan terbalik. Kalau di dunia baik pasti 
di akhiratnya baik, bukan sebaliknya”. 


Namun dari sekian banyak pengalaman yang penah dialaminya, Justiani merasakan 
satu perjalanan relijius bahwa ternyata manusia itu adalah khalifah atau wakil 
Tuhan di Bumi. ”Manusia makhluk tertinggi. Di atas kita langsung Tuhan, kok 
kita masih ngemis, kok waktu sholat kita masih minta ini dan itu, padahal Tuhan 
sudah memberikan semuanya, perangkatnya lengkap, syariahnya lengkap, jalankan 
yang namanya sunnatullah sudah ada aturan mainnya. Semua tunduk sama manusia 
sang khalifah, alam itu tunduk sama kita. Sehingga ”Kun Fa Ya Kun” kalau dalam 
bahasa Mandarinnya Xiu Siek Tse Shing Zen. Maknanya sama. Ada mau pasti jadi 
karena kita khalifah,” ungkapnya. 


Maka dengan keyakinannya itu, Justiani hanya berjalan selaras dengan alam. ”Apa 
yang saya tahu harus saya sampaikan dan kerjakan apapun resikonya. Dan dia 
percaya bahwa Tuhan sudah mengatur segalanya. Tetapi apa pun yang saya lakukan 
saya lakukan dengan maksimal. Kalau sudah mentok saya kembalikan. ’Ya Tuhan 
saya sudah menjalankan bagian saya dan yakin Tuhan akan menjalankan 
bagianNya’,” ujarnya. 


Karena percaya pada skenario Tuhan, maka siapapun yang datang padanya, akan 
dilayaninya, baik itu pejabat atau pengemis. ”Karena seorang pengemis itu 
datang juga ada misinya, siapa tahu dia adalah malaikat Tuhan yang akan 
mengingatkan kita pada sesuatu,” ungkapnya. 


Dalam menghayati perjalanan religius itu, Justiani merasakan kebutuhannya 
selalu terpenuhi karena Tuhan tahu apa yang dibutuhkannya walau tanpa meminta, 
sejauh menjalankan skenario Tuhan. ”Cita-cita saya selalu rendah, tidak pernah 
tinggi. Tapi saya selalu diberi lebih oleh Tuhan. Hidup saya mengalir bagai 
air. Saya dulu cuma ingin jadi dosen ITB tapi dipecat karena sering memimpin 
demo waktu mahasiswi, tapi malah dapat peran lebih baik lagi di dunia ini. 
Hidup ini adalah misi yang sudah digariskan. Ayat-ayat Alquran itu hidup dalam 
keseharian saya, sungguh terjadi, bukan sekedar hafalan, atau lafal doa semata, 
memang benar-benar jadi tuntunan hidup sehingga semuanya jadi kenyataan. Quran 
itu hidup,” jelasnya.


Dia menilai pemahaman religius yang seperti itu kurang populer. Agama sekarang 
lebih pada identitas, kelompok, simbol dan kurang mencari hakikat dari agama 
itu dalam hidup keseharian agar agama terbukti di dunia. Rahmatan lil alamin. 
Maka yang timbul adalah konflik antar kelompok. Harusnya kan mencari kesamaan 
di tingkat universal kemanusiaan agar agama terbukti di dunia.


Buku


Sebagai orang yang telah melanglang buana, Justiani telah bertemu dengan 
beragam manusia. Itulah yang mendewasakannya. Beragam pengalaman itu 
menjadikannya seperti apa yang dia rasakan sekarang. Dia pun menulis beberapa 
buku yang ditulisnya setelah melakukan wawancara dengan berbagai tokoh.


”Saya ini bukan selebritis dan tidak suka jadi orang tekenal, saya pelaku, 
bukan membaca pikiran orang, maka saya suruh teman-teman saya ini yang ngomong, 
saya pilih teman-teman yang sudah terkenal di tingkat dunia atau nasional, 
karena saya tahu pikiran mereka, yang bisa dirangkum untuk mewujudkan cita-cita 
saya. Karena kalau saya yang ngomong sak dobole cangkem gak ada yang ngereken 
(teriak-teriak sekalipun tidak ada yang menggubris),” ujarnya. 




Apa nama lembaga saat Ibu bekerjasama dengan Thaksin dan Mahathir Muhammad? 
Posisi Ibu Sebagai apa? Saya mewakili SMarT Development & Financing yang 
tergabung dalam konsorsium corporate restructuring menuju Thailand 
Incorporated, untuk yang di Malaysia saya tergabung dalam eDirnar Dotcom dan 
WITO (World Islamic Trade Organization) yang sekarang tim ini masih di Kelantan 
untuk membuat percontohan model ekonomi baru yang berbasis uang emas. 




Biodata:
Nama : Justiani (Liem Siok Lan) 
TTL : Blitar, 8 November 1962
Pendidikan : 


Teknik Informatika ITB (1981)

S2: Mc Gill University, School of Computer Science, Montreal, Canada

S3: INRS Telecommunications Universite du Quebec, Montreal Canada dan eDinar 
University 


Jabatan sekarang: 
1. Direktur Regional Asia Pacific SMarT Development and Financing, dengan 
keahlian Corporate Restructuring. 
2. eDinar University, Vice President for Development
3. WITO (World Islamic Trade Organization) Regional Asia Pacific
Email : [email protected] 
Buku : 
- Mengutamakan Rakyat (Wawancara Mayjen TNI Saurip Kadi), 
- Menembus Batas (Wawancara Tokoh Dunia), 
- Rakyat Berdaulat (Wawancara Adi Sasono), 
- Alexandra dan Ali Topan: Ku Selalu Ada (Novel karya bersama Teguh Esha). 
Anak: 


Annisa Dharma (25 Mei 1985) 

Shakina Dharma (19 Des 1988)

Avicena Farkhan Dharma (2 Agustus 1998)



--- On Thu, 6/11/09, diamcharly <[email protected]> wrote:


From: diamcharly <[email protected]>
Subject: [mediacare] Apakah Boediono Neolib??
To: [email protected]
Date: Thursday, June 11, 2009, 8:59 AM








Orang banyak dibingungkan dengan simpang-siurnya informasi yang ada di media 
massa cetak maupun elektronik, karena informasi yang ada di media yang umumnya 
bersifat mengambang (hanya memberitakan kulit-kulitnya) . 

Kecenderungan menampilkan informasi yang setengah-setengah, tidak lengkap 
ataupun mengambang adalah ciri khas pemberitaan media zaman sekarang. 

Para pembaca berita yang merupakan konsumen daripada media modern, hendaknya 
bersikap bijaksana dalam menyikapi berita-berita media ini. Berita-berita di 
media sangat berguna sebagai "pengetahuan awal" mengenai sesuatu hal. Terlepas 
dari pro kontra sesuatu hal di media, yang penting akhirnya adalah dilakukannya 
proses check dan recheck sesudah informasi awal ini didapat (dari media). 
Sampai saat ini media massa masih hangat memperbincangkan Isu2 Neolib yang 
kerap dialamatkan kepada Boediono.Informasi yang disampaikan pun saya rasa 
relatif masih mengambang. Disinilah proses chek dan rechek perlu dilakukan. 
Jangan sampai informasi yang tak lengkap itu kita telan bulat2.

Berikut beberapa data yg saya kutip u me-Check dan Recheck Isu2 tersebut.

1.Semua itu berawal ketika Boediono menjabat sebagai Menteri di zman 
pemerintahan sebelum SBY.Ketika itu beliau mengambil tindakan "kontroversial" 
yg hanya dikarenakan Beliau menjalankan mandat konstitusi (setelah amandemen) 
dan kebijakan dari atasan.Jadi Neolib itu bukan karena dianut Budiono, tapi 
siapa yang memimpinnya. 

2.Boediono ialah ekonom yg mempunyai pemikiran strategis tentang
ekonomi rakyat. Bersama Mubyarto dia menyusun pemikiran dasar tentang
ekonomi Pancasila, dan sebagai pejabat BI di masa lalu Boediono juga yang 
merancang aturan untuk pendirian BPR (Bank Perkreditan Rakyat) yang menjangkau 
rakyat tanpa asset. Bahkan ide awalnya dulu BPR itu didirikan untuk rakyat yang 
tidak punya aset untuk agunan. Pemikiran ekonomi rakyatnya lebih radikal.

3. Prof. Dr. Boediono
Ekonom Bertangan Dingin
Calon Wakil Presiden (Cawapres) pendamping SBY, Capres Partai Demokrat, ini 
seorang ekonom profesional bertangan dingin. Tangan dingin Guru Besar Fakultas 
Ekonomi Universitas Gajah Mada dan Doktor Ekonomi Bisnis lulusan Wharton School 
University of Pennsylvania, AS 1979, ini terbukti selama menjabat Menteri 
Keuangan pada pemerintahan Megawati, Menko Perekonomian Kabinet Indonesia 
Bersatu (resuffle Senin (5/12/2005), maupun sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Selama menjabat Menkeu Kabinet Gotong-Royong, ini berhasil membenahi bidang 
fiskal, masalah kurs, suku bunga dan pertumbuhan ekonomi. Bersama dalam The 
Dream Team dan Bank Indonesia, Master of Economics, Monash University, 
Melbourne, Australia (1972), itu berhasil menstabilkan kurs rupiah pada kisaran 
Rp 9000-an per dolar AS. Begitu pula dengan suku bunga berada dalam posisi yang 
cukup baik merangsang kegiatan bisnis, sehingga pertumbuhan ekonomi menaik 
secara signifikan. http://tokohindones ia.com/ensiklope di/b/boediono/ 
biografi/ index.shtm

Menurut saya Boediono orang yg tepat u mengarsiteki ekonomi bangsa 

4. Ketika berbagai aktivis menentang ADB di Bali beberapa waktu lalu, mana 
orang-orang dari partai politik . Padahal ADB itu wujud nyata dari 
neoliberalisme, bahkan karena begitu tunduknya menteri keuangan kepada 
ADB,sampai-sampai memberi tambahan modal sangat besar, dan lupa rakyat yang 
sedang menderita kelaparan dan kurang gizi. Di mana partai-partai politik yang 
"menentang" Boediono, pada saat sidang ADB itu? 

Dimana partai-partai penentang Boediono yang "neoliberales" ini ketika
nelayan-nelayan yang mau menyuarakan aspirasinya di Menado selama WOC
ditangkap dan disidangkan di pengadilan? Padahal WOC itu bertujuan
menyerahkan urusan laut kepada korporasi global, atau privatisasi sumberdaya 
alam laut secara terbuka. 

Saya kira Boediono masih jauh lebih baik dan memiliki komitmen untuk
bangsanya daripada para pengritiknya. Rasanya tidak adil orang lain diberi 
label neoliberalis, sementara diri sendiri menjadi kaki tangan neoliberalis 
sejati.

Saya menyimpulkan bahwa isu2 neoliberalisme yang ditudingkan kepada Boediono 
telah dipolitisasi o pihak2 tertentu untuk menyerang dan mencari oportunitas , 
bukan semata2 komitmen u menentang neoliberalisme.

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke