Buku Karya Ahmad Suaedy Perspektif Pesantren:
Islam Indonesia, Gerakan Sosial Baru, Demokratisasi

---

 

Membangun Demokrasi via Gerakan Sosial Baru Islam
Secara umum buku
ini diikat oleh wacana penguatan gerakan sosial baru Islam dalam memantapkan
demokrasi yang lebih substansial di Tanah Air

Jakarta-wahidinstitute.org.
Setelah sebelumnya menerbitkan buku Islam, Konstitusi dan Hak Asasi Manusia;
Problematika Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Indonesia,the Wahid
Institute kembali menerbitkan buku kedua di bulan Juni, Perspektif Pesantren:
Islam Indonesia, Gerakan Sosial Baru, Demokratisasi. Buku ini merupakan
kumpulan tulisan Ahmad Suaedy, penulis buku ini yang juga Direktur the Wahid
Institute, yang didokumentasi sepanjang kurang lebih 15 tahun "karir"
dunia aktivismenya.


Berisi lebih
dari 400 halaman, buku ini mengulas banyak isu, mulai dari gerakan sosial baru
Islam, HAM, hingga, tema-tema spritualitas. Isu tentang neoliberalisme yang
belakangan menguat menjelang Pemilu Presiden 2009 juga ikut menjadi salah satu
sorotan buku yang diedit Alamsyah M. Dja'far ini. Hanya fokusnya lebih spesifik
lagi terkait neoliberalisme dalam kaitannya dengan Islam dan hak asasi manusia.
Bagi Suaedy, salah satu "kelihaian" sistem neoliberalisme adalah
kemampuannya hidup dan "berkembang biak" dalam ragam sistem, mulai
dari semidemokratis, otoriter, hingga teokrati. Contoh negara dengan sistem 
terakhir
adalah Arab Saudi yang kaya minyak itu. Gap yang menganga antara kaum kaya dan
miskin, negara kaya dan negara miskin, itulah yang melahirkan dampak lanjutan
berupa lahirnya gerakan fundamentalisme dan terorisme.


Secara umum buku
ini diikat oleh wacana penguatan gerakan sosial baru Islam dalam memantapkan
demokrasi yang lebih substansial di Tanah Air. Sebagai aktivis muslim yang
tumbuh dari kalangan muda Nahdliyin, Suaedy percaya gerakan sosial baru (new
social movement) di lingkungan masyakarat muslim, terutama di lingkungan
Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, mampu melakukan perubahan sosial ke arah yang
lebih baik. Penerima Research Fellowship Asian Public Intellectual (API) dari
the Nippon Foundation tahun 2009 ini telah melakukan sejumlah studi atas
gerakan tersebut di Tanah Air. Beberapa hasil studi itu juga termuat dalam
buku.


Tentu saja,
seperti diulas cukup dalam di buku ini, tantangan gerakan tersebut tidaklah
mudah. Selain neoliberalisme, tantangan yang tengah menghadang adalah
menjamurnya gerakan Islamisme, kekerasan agama, dan beragam regulasi yang
mengekang kebebasan beragama di Tanah Air. Problem masih belum sinerginya
gerakan yang tersebar di Nusantara ini adalah masalah internal yang juga patut
dipertimbangkan. "Selain wacana akademis, saya berharap buku ini menjadi
sumbangan praksis bagi gerakan prodemokrasi di Indonesia," kata Suaedy
(AMDJ).  

http://wahidinstitute.org/Berita/Detail/?id=30/hl=id/Membangun_Demokrasi_Via_Gerakan_Sosial_Baru_Islam
  


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke