JEJAK REKAM PARA CAPRES DI BIDANG LINGKUNGAN & PILIHAN BAGI GERAKAN 
LINGKUNGAN DI INDONESIA

Oleh George Junus Aditjondro(1)

(dapat dihubungi di email [email protected])

PENGANTAR:
Mana partai yang paling punya jejak rekam peduli lingkungan?
Mana capres & cawapres yang punya jejak rekam peduli lingkungan?
Dari mana para capres & cawapres membiayai kampanye mereka: dari hasil 
pembalakan liar, konsesi hutan, perkebunan kelapa sawit, perkebunan pulp dan 
kertas, pertambangan batubara, atau mana dan dari siapa?


REKAM JEJAK JUSUF KALLA, SALAH SATU CAPRES PARTAI GOLKAR:

Kepentingan JK tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ekspansi bisnis 
keluarga besarnya, karena Indonesia tidak punya peraturan yang melarang 
konflik kepentingan jabatan publik dengan kepentingan bisnis pribadi dan 
keluarga serta sahabatnya.

Ada empat kelompok perusahaan yang dikuasai oleh JK (kelompok Bukaka & Hadji 
Kalla), iparnya, Aksa Mahmud yang Wakil Ketua MPR-RI (kelompok Bosowa), dan 
adiknya, Halim Kalla (kelompok Intim). Dengan demikian, ekspansi keempat 
kelompok itu tidak terlepas dari peranan JK dan Aksa Mahmud di arena ekonomi 
dan politik.

Salah satu spesialisasi kelompok Bukaka dan Hadji Kalla adalah dalam 
pembangunan PLTA, namun jejak rekam kelompok Bukaka dan kelompok Hadji Kalla 
di bidang itu tidak begitu bagus: PLTA Poso (rencana 780 MW) mulai dibangun 
sebelum ada AMDAL yang memenuhi syarat. Juga jaringan SUTET (Saluran Udara 
Tegangan Eksa Tinggi)nya ke Sulawesi Selatan & Tenggara dibangun tanpa 
AMDAL.

Di DAS Peusangan di Tanah Gayo, Aceh, “pembebasan” tanah di masa DOM dirasa 
sangat tidak adil. Tapi ada kemungkinan oposisi rakyat akan dilawan oleh 
PETA (Pembela Tanah Air), milisi bentukan TNI, yang sekarang membantu TNI 
melakukan represi terhadap rakyat dan caleg-caleg partai-partai lokal, 
terutama PA (Partai Aceh) bentukan GAM.

Pembangunan PLTA Peusangan I akan menghancurkan nafkah penduduk yang bertani 
ikan mas di karamba-karamba di hulu Sungai Peusangan. Mereka sudah dilarang 
oleh PLN bertani ikan mas di situ, tapi mereka masih bertahan. Belum lagi 
dampak PLTA Peusangan II nantinya.

Setelah berkunjung ke RRT, JK sangat berambisi mendorong pembangunan 19 PLTU 
berkapasitas total 10.000 MW di berbagai tempat di Indonesia. Program ini 
bukan mendorong pengembangan enerji terbarukan yang bersih, tapi justru 
mendorong pembakaran batubara yang sangat menyumbang pemanasan global. Namun 
tetap juga program ini didukung oleh JK.

Maklumlah, kelompok-kelompok Bukaka, Bosowa , dan Intim termasuk paket 
kontraktor pembangunan 19 PLTU itu. Kelompok Bosowa mendapat order 
pembangunan PLTU Jeneponto di Sulsel, tanpa tender (Rakyat Merdeka, 7 Juni 
2006), sedangkan kelompok Intim milik Halim Kalla yang juga salah seorang 
Komisaris Lion Air akan membangun PLTU berkapasitas 3 x 300 MW di Cilacap, 
Jateng, dengan bahan baku batubara yang dipasok dari konsesi pertambangan 
batubara seluas 5.000 ha milik kelompok Intim di Kaltim (GlobeAsia, Sept. 
2008, hal. 38).

Setelah 22 DPD Golkar mendukung pencalonan JK sebagai Capres, kita perlu 
lihat kiprah para pendukung JK di pucuk pimpinan Golkar, seperti Surya 
Paloh, ketua Dewan Penasehat Golkar. Reputasi Surya Paloh di Aceh di bidang 
lingkungan sangat buruk, karena Kelompok Media yang dipimpinnya membuka 
tambang emas, tambang batubaru, dan PLTU di Kabupaten Nagan Raya, Aceh 
bagian Barat, tanpa AMDAL dan tanpa menghormati pemerintah Gampong dan 
Mukim, seperti digariskan dalam MoU Helsinki dan UU No. 11/2006 tentang 
Pemerintahan Aceh.


REKAM JEJAK SBY, CAPRES PARTAI DEMOKRAT:

Jejak rekam SBY di bidang lingkungan sangat tersembunyi, sebab SBY ‘hanya’ 
berperan sebagai pelindung berbagai kelompok bisnis besar, terutama kelompok 
Artha Graha (AG). T.B. Silalahi, penasehat presiden di bidang pertahanan, 
juga eksekutif kelompok AG dbp Tomy Winata. Melalui mitra bisnisnya di 
Sumut, AG mengelola perkebunan kelapa sawit PT First Mujur Plantation di 
Tapanuli Selatan dan Labuhan Batu.
Artha Graha juga milik Sugianto Kusuma (‘Aguan’), pemilik PT Agung Sedayu 
Permai, holding company Agung Sedayu Group.

Artha Graha dan Agung Sedayu Permai banyak membangun gedung perkantoran & 
perumahan elit, yang tiap hari diiklankan di layar televisi.

Kurang disadari dampak lingkungan properti-properti mewah itu, yaitu:
(a) pembukaan lahannya menggusur rakyat kecil yang terpaksa bermukim di 
pinggir kali yang sangat tidak sehat;
(b) sangat rakus air tanah (membuat rakyat kecil tergantung pada air 
kemasan); dan
(c) ikut menyemburkan udara panas yang menaikkan suhu udara kota Jakarta.
Berlindung di balik nama SBY ada dua yayasan, yakni (1) Yayasan Puri Cikeas 
& (2) Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam.

Orang-orang dekat SBY menjadid pembina atau pengawas yayasan-yayasan itu. 
Ketua Dewan Pembina Yayasan Puri Cikeas = Jero Wacik, Menteri Pariwisata 
dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Ketua Pengawas Yayasan Nurussalam = Brigjen 
Kurdi Mustofa, Sekpri SBY.

Adik ipar (Hartanto Eddie Wibowo) dan anak bungsu SBY (Eddy Baskoro 
Yudhoyono) menjadi fungsionaris Yayasan Nurussalam. Hartanto, bendahara, 
Baskoro, sekretaris.

Sejumlah pengusaha era Orde Baru menjadi fungsionaris kedua yayasan itu, 
seperti Sukamdhani dan putera mahkotanya, Hariadi Sukamdani (Sahid Group), 
serta Tanri Abeng dan anaknya, Emil Abeng, serta Aziz Mochdar (Bimantara). 
Sukamdhani dan Tanri Abeng di Yayasan Cikeas, sedangkan Aziz Mochdar (ipar 
Yayuk Habibie, adik bungsu BJ Habibie) di Yayasan Nurusalam.

Ada juga pengusaha yang berlindung di balik fungsionaris Yayasan Nurussalam, 
seperti Gunawan Yusuf (Makindo), kompetitor Salim Group dalam perkebunan 
tebu di Lampung.

Menteri Lingkungan era SBY-JK, Rachmat Witoelar, memberikan label hijau 
kepada beberapa konglomerat perusak lingkungan, yakni RGM, Sinar Mas, dan 
Freeport Indonesia, Inc.

Ekspansi konglomerat- konglomerat yang dekat dengan JK (pernah sama-sama 
jadi penggalang dana Golkar, seperti Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, 
Hartati Murdaya) ikut berekspansi di era SBY-JK, walaupun di tahun-tahun 
pertama kejatuhan Soeharto mereka masih berhutang besar pada bank-bank 
negara.

Kelompok Medco yang 60% milik keluarga Arifin Panigoro (40% milik Mitsui & 
Mitsubishi) berkembang dari migas (Sulteng, Aceh), PLT panas bumi di Sarulla 
(Sumut), kelapa sawit (Kalteng, Papua), paper dan pulp di Merauke (Papua), 
s/d rencana PLTN di Jepara (Jateng).

Namun blunder terbesar kroni-kroni JK adalah ekspansi bisnis keluarga Bakrie 
di bidang energi (Mega Energi Persada, Bumi Resources, Kondur Petroleum) 
yang mengakibatkan tragedi Lapindo bagi rakyat Jawa Timur, malapetaka 
lingkungan paling kurang ajar selama rezim SBY-JK!!


REKAM JEJAK MEGAWATI SOEKARNOPUTRI, CAPRES PDI-P:

Sewaktu masih jadi oposisi di era Soeharto, PDI sekutu gerakan lingkungan 
dalam menentang pembangunan PLTN. Sesudah jadi Presiden, tidak terdengar 
suara PDI-P di bidang itu.

Setelah Mega jadi Presiden, keluarga Soekarno-Kiemas, Kiemas bersaudara 
punya 13 SPBU di wilayah Jabodetabek, di antaranya ada yang menerobos jalur 
hijau.

Sony Keraf, seorang kader PDI-P yang diangkat menjadi Menteri Lingkungan di 
era Presiden Gus Dur, bersuara keras terhadap perusahaan-perusaha an perusak 
lingkungan. Misalnya, terhadap PT TPL (Toba Pulp Lestari) dan PT Freeport 
Indonesia. Tapi akibat desakan rekan-rekan separtai, Keraf tidak bersuara 
keras lagi.

Setelah diganti oleh Megawati Soekarnoutri dengan Nabiel Makarim, Sony Keraf 
yang masih dipilih menjadi anggota Fraksi PDI-P di DPR-RI, ia bahkan tidak 
bersuara menghadapi rencana tambang emas di P. Lembata, kampung halamannya, 
walaupun rencana itu ditentang oleh rakyat dan para rohaniwan OFM & SVD.


REKAM JEJAK PRABOWO SUBIANTO, CAPRES GERINDRA:

Dengan mengambilalih konsesi Kiani Group seluas 53 ribu ha dari Bob Hasan, 
Prabowo ikut melanggengkan penghancuran hutan Kaltim.

Di Aceh, Prabowo & adiknya, Hasyim Djojohadikusumo menguasai hutan seluas 97 
ribu ha di Aceh Tengah melalui PT Tusam Hutan Lestari, sumber bahan baku 
pabrik kertas PT Kertas Kraft Aceh (KKA). Padahal pinus sangat tidak ramah 
lingkungan.

Di Kaltim, kakak beradik Prabowo & Hashim menguasai lebih dari satu juta 
hektar konsesi hutan dan tambang batubara, dan masih berencana membuka 700 
ribu ha kebun aren (Warta Ekonomi, 9-22 Maret 2009, Laporan Khusus tentang 
Duet Bisnis & Politik, Hashim Djojohadikusumo & Prabowo Subianto).

Di Papua, Hashim, mengeksplorasi gas dari Blok Rombebai seluas 11.5900 km2 
di Kabupaten Yapen , yang diperkirakan memiliki kandungan gas lebih dari 15 
trilyun kaki kubik (idem), dan dapat berdampak negatif bagi nelayan di Teluk 
Sairera.

Masih di Papua, Hashim berencana membuka perkebunan padi (rice estate) 
seluas 585 ribu ha dan perkebunan aren seluas 800.000 ha di Kabupaten 
Merauke (idem).

Berarti, bersama adiknya, Hashim Djojohadikusumo, Prabowo Subianto sudah 
menguasai lebih dari tiga juta hektar perkebunan, konsesi hutan, tambang 
batubara dan ladang migas dari Aceh sampai ke Papua, dan masih berencana 
membuka 1,5 juta hektar lagi di Kaltim dan Merauke.


REKAM JEJAK WIRANTO, CAPRES PARTAI HANURA:

Hampir seluruh bisnisnya dijalankan oleh proxies, tanpa menampilkan nama 
Wiranto. Kalau mau selidiki kekayaannya, sebaiknya selidiki kekayaan 
pengurus Partai Hanura.
Sejak menjadi Pangdam V Jaya, Wiranto sering mendapat apartemen gratis di 
berbagai tower (menara pertokoan dan perumahan) mewah. Yang terbaru dan 
termahal adalah penthouse di Da Vinci Tower di Jl. Jendral Sudirman, milik 
Antonio (“Tony”) Munafo, Presiden Da Vinci Eropa yang sering datang dari 
Singapura.

Wirantolah orang yang mendorong pemekaran kembali Kodam yang dulu diciutkan 
oleh Benny Murdani dari enambelas menjadi sepuluh Kodam. Lewat berbagai 
pertumpahan darah, Kodam Pattimura dan Kodam Iskandar Muda telah lahir 
kembali. Setelah konflik Poso, jumlah Batalyon di Sulteng telah dimekarkan 
dari satu menjadi tiga.

Berbagai bisnis kelabu itu punya dampak lingkungan yang sangat buruk, 
seperti pembalakan liar di TN Leuser, eksploitasi kayu hitam di Sulteng dan 
kayu gaharu di Papua Barat, serta perdagangan liar fauna dan flora langka di 
seluruh Nusantara.


REKAM JEJAK SUTIYOSO:

Sewaktu masih menjadi Gubernur DKI, Sutyoso merintis program Busway 
(Transjakarta) , dengan alasan untuk mengurangi kemacetan dan kepadatan 
lalulintas di DKI. Kenyataannya, pengambilan satu jalur jalan di rute-rute 
yang ramai, justru memadatkan lalulintas lain di jalur yang tersisa. Masih 
diragukan apakah itu mengurangi kemacetan lalulintas dan mengurangi polusi 
udara.

REKAM JEJAK SULTAN HAMENGKU-BUWONO X, CAPRES PARTAI REPUBLIKAN:

Banyak orang tidak mengetahui bahwa berdasarkan warisan Belanda, Sultan 
Hamengku Buwono (HB) X menjadi penguasa tanah di seluruh wilayah DIY, 
bersama Paku Alam. Semua tanah yang bukan milik pribadi orang (eigendom), 
tergolong SG (Sultan’s Gronden) atau PAG (Paku Alam’s Gronden).

Sultan HB X dan isterinya, Ratu Hemas, tidak punya putera mahkota yang dapat 
ditahbiskan menjadi Sultan HB XI, sepeninggal HB X, sehingga HB X berusaha 
mewariskan sesuatu yang lain kepada kelima orang puterinya.

Tiga dari lima orang puteri HB X yang telah menikah, termasuk puteri tertua 
(Gusti Pembayun) dan puteri kedua, menikah dengan pelaku bisnis. Berbekal 
tanah kesultanan (SG), puteri-puteri HB X mengikuti jejak sebagian paman 
mereka, menjadi pebisnis, bermitra dengan orang luar DIY.

Gusti Pembayun menjadi mitra Sampoerna Group, yang telah membangun pabrik 
rokok di Kabupaten Bantul, menjaring konsumen rakyat bawah, dengan merek 
Kraton Dalem. Kongsi itu mendapatkan alokasi tanah untuk menanam tembakau di 
Bantul.

PT JMI (Jogja Magasa Iron), anak perusahaan PT JMM (Jogja Magasa Mining) 
milik Gusti Pembayun dan pamannya, GBPH Joyokusumo (adik HB X), menjadi 
mitra Indo Mines Ltd, suatu perusahaan pertambangan Australia yang terdaftar 
di bursa saham Perth, dalam rencana penambangan pasir besi, yang akan 
memotong areal sepuluh desa di Kabupaten Kulonprogo, DIY. Rencana itu 
ditentang rakyat setempat anggota Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) 
Kulonprogo (Koran Tempo, 12 Nov. 2008, 12 Febr. 2009; Direct Action, Agustus 
2008).

Ketika ribuan petani anggota PPLP melakukan unjuk rasa di depan Mendagri 
Mardiyanto dan Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Selasa, 17 
Maret yang lalu, Freddy Numberi bukannya membela para petani pesisir 
tersebut. Ia menghimbau para calon korban gusuran proyek pertambangan pasir 
besi itu untuk “melihat ke depan”, karena kerjasama antara keluarga keratin 
dan kapitalis Australia itu “menguntungkan beberapa pihak”. “Penolakan warga 
itu hal biasa”, begitu ia tambahkan. Tampaknya kedua Menteri Kabinet 
Indonesia Bersatu itu tidak mau mempertimbangkan pertimbangan para petani 
pesisir, bahwa tanah mereka adalah tanah bersertifikat. Bukan tanah milik 
Sultan alias Sultan’s Gronden (Harian Yogya, 18 Maret 2009).


KESIMPULAN:

Dari uraian di atas, tampaklah bahwa tujuh orang calon presiden – SBY, JK, 
Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Wiranto, Sutyoso, dan Sultan HB 
X -- , tidak dapat diharapkan mengatasi berbagai masalah lingkungan di 
Indonesia. Apa yang dapat diharapkan dari sudut pemeliharaan kelestarian 
lingkungan di Nusantara, apabila satu di antara mereka terpilih sebagai 
Presiden?

Sebaiknya kita mulai perhatikan agenda kampanye para capres dan cawapres 
alternatif, yang masih aktif dalam gerakan pro-demokrasi di Indonesia, 
seperti pasangan Rizal Ramli dan Eros Djarot, atau capres yang berasal dari 
partai-partai mapan, seperti Golkar, tapi berani melawan arus, seperti 
Marwah Daud Ibrahim dan Judy Chrisnandy.

Namun yang paling penting dan paling baik adalah: pilihlah capres alternatif 
yang sejak dini berani mengungkapkan siapa calon Menteri Lingkungannya, 
kemudian pilihlah calon presiden dan calon menteri lingkungan yang punya 
jejak rekam yang tetap setia pada pelestarian lingkungan, penegakan HAM, dan 
pemberantasan korupsi di Nusantara.

Yogyakarta, 30 Maret 2009


Catatan Belakang:
(1) Mantan Wakil Ketua Presidium WALHI; mantan Direktur YPMD-Irja; anggota 
Dewan Penasihat People’s Empowerment Consortium (PEC).

-- 
http://groups.yahoo.com/group/walhinews/message/12591 


__________ Information from ESET Smart Security, version of virus signature 
database 4153 (20090613) __________

The message was checked by ESET Smart Security.

http://www.eset.com





------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke