Manisnya Suramadu 

#fullpost {display:none;}





Manisnya Suramadu
Oleh : Mohamad Mualim

Beberapa waktu yang lalu (24/6/2009) penulis mendapat kesempatan untuk melihat 
lebih dekat madu terpanjang di Asia, penulis telusuri dari ujung sampai ujung 
dan serasa begitu manis, manis itu begitu menusuk hatiku hingga membuat penulis 
bangga kepada negeri ini, ternyata manusia negeriku sudah mampu bikin jembatan 
yang sepanjang ini.

Suramadu begitu nama jembatan itu, yang menghubungkan pulau Jawa-Madura, namun 
demi sebuah keindahan diambilnya kata Suramadu singkatan dari Surabaya-Madura, 
mungkin kita tak akan pernah usil untuk usul agar namanya antar pulau jadi 
Jamadu (Jawa-Madura) atau antar kota (Surabang) Surabaya-Bangkalan, atau 
nama-nama yang lain yang mungkin akan menjadi nama sesuatu yang akan diciptakan.



Saat itu penulis meniti jalan di jembatan Suramadu dengan sepeda motor, dengan 
kecepatan yang lemah lembut, soalnya sayang kalau ngebut, kita tak akan bisa 
menikmati jembatan yang panjangnya hampir 5400 meter, dengan biaya pembangunan 
4,5 T, ketepatan waktu itu langit begitu cerah dan kecepatan angin laut tak 
begitu tinggi, jadi nggak begitu tegang.

Hingga Akhirnya penulis dapat menginjakkan kaki di pulau Madura, dan terbesit 
dalam benak penulis, kalau saja masyarakat kreatif hal ini akan lebih indah 
dari sungai Nile di sekitar Garden City, ada perahu hias penuh lampu yang 
berkeliling dibawah jembatan, ada taman-taman ditepi pantainya, dan berbagai 
macam hal yang mungkin hal itu akan mendongkrak kegiatan ekonomi sekaligus 
pariwisata.

Adalah wajar jika biaya yang begitu mahal menjadikan tarif jembatan itu agak 
mahal untuk selain sepeda motor, minimal 10 kali lipat tarif sepeda motor, 
sepeda motor pun tarifnya 3.000 pada saat itu, dengan resiko kalau angin 
kencang harus berhenti atau bisa jadi terbang dan kecebur laut, tapi semoga 
saja tidak terjadi, dan selema ini tidak ada kejadian seperti itu.

Karena begitu panjang, ketika penulis mengambil gambar dari tepi pantai kurang 
bisa mendapat keindahan jembatan bentang tengah, penulis berharap suatu saat 
nanti di pantai itu ada teropongnya, apalagi jika ada kapal perang sedang lewat 
bawah jembatan itu, betapa bahagia penulis melihat kegagahan bangsa ini, 
sebagaimana impian Gajahmada dizaman Majapahit yang penulis baca dari beberapa 
kisah yang dikemas dalam novel sejarah.

Penulis membaca beberapa berita, bahwa tanah disisi jembatan bagian madura 
harganya mulai melambung tinggi hingga mencapai 1 juta per meter, padahal konon 
harga tanah di daerah itu sangat murah karena tandus, tapi ternyata tanah yang 
tandus itu kini bisa dirubah menjadi tanah yang subur yang bisa menghasilkan 
uang yang menjanjikan. Tentunya kesuburan itu bukan untuk menanam padi, tapi 
menanam Hotel, Taman Wisata, dan sebagainya. Jika kita bisa memahami sebuah 
ketentuan Allah, apa yang kita anggap remeh saat ini, mungkin bisa sangat 
berharga pada saatnya. Maka janganlah berputus asa dengan rahmat Allah, karena 
segala sesuatu telah ditetapkan sesuai dengan fungsinya.

Pemilihan presiden telah berlalu, semoga jembatan suramadu bukan satu-satunya 
jembatan antar pulau di Indonesia, tapi lebih menjadi sebab adanya 
jebatan-jembatan yang lain, misalnya Jawa-Bali, Jawa-Sumatera, apalagi bisa 
membuat terowongan bawah laut untuk menghubungkan 
Jawa-Kalimantan-Sulawesi-Papua, meskipun itu masih mimpi namun semua itu 
mungkin terjadi. Jika orang jepang aja mampu membuat seperti itu, tentu kita 
bisa belajar dari mereka.

Beberapa mimpi Gajahmada adalah menyatukan pulau-pulau menjadi satu kesatuan, 
dan memiliki pasukan maritim yang kuat, mungkin sebagian mimpi itu sudah 
menjadi kenyataan, namun untuk pasukan maritim yang kuat, kita belum bisa, maka 
tak aneh jika kita sering dikerjai para tetangga. Harusnya pemimpin itu seperti 
Gajahmada yang berani melakukan sumpah palapa, setidaknya punya janji tak akan 
hidup bermewah-mewah sebelum negeri ini punya nama di dunia.

Mungkin nasionalisme kita termakan oleh nafsu korupsi yang begitu besar, 
sebagaimana rayap yang mengikis pilar-pilar kayu rumah yang bernama Indonesia, 
hanya genteng mungkin yang akan bertahan dari ganasnya makhluk yang bernama 
rayap itu, bahkan beberapa hari setelah diresmikannya Suramadu, dikabarkan 
beberapa lampu dan besinya mulai dimakan rayap, betapa hebat rayap saat ini, 
bukan lagi kayu yang dimakan tapi besi pun bisa dimakan dengan ganasnya.

Jika sikap kita masih seperti rayap, bersiap-siaplah kita akan jatuh tenggelam 
dalam keterpurukan, anak-cucu kita hanya akan mendapat kenangan yang membuatnya 
menangis sejak lahir hingga hidupnya berakhir, semua tinggal genteng yang sudah 
terpecah-belah menjadi kereweng, rumah yang megah itu, kayu dan besinya sudah 
dimakan rayap.

Ya Allah...Jadikanlah lumpur lapindo sebagai obat untuk mengurangi nafsu makan 
rayap, jika Engkau tidak berkenan menghapus makhluk bernama rayap yang korup 
dan membahayakan rakyat.

Alliem
Tangerang, Kamis 09 Juli 2009
Bangunlah dengan jiwa membangun




Mochammad Moealliem
http://www.muallimku.blogspot.com or 
http://tech.groups.yahoo.com/group/kang_guru/
Virtual Islamic Education klik disini




Mochammad Moealliem
http://www.muallimku.blogspot.com or 
http://tech.groups.yahoo.com/group/kang_guru/
Virtual Islamic Education klik disini


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke