Aplikasi Nuklir Hukumnya Mubah, PLTN Muria Haram
Ken Yunita – detikcom

Jakarta – Aplikasi nuklir pada dasarnya berhukum mubah atau boleh-boleh 
saja. Namun untuk proyek PLTN Muria telah ditetapkan hukumnya haram.

“Ini hasil mubahatsah (pembahasan) para ulama sesuai ketentual. Keputusan 
ini tidak dapat dianulir oleh PWNU atau PBNU sekalipun karena sifatnya juga 
kontektual di Jepara,” kata Ketua PCNU Jepara H Nuruddin Amin dalam 
rilisnya, Jumat (8/9/2007).

Penjelasan ini disampaikan karena banyaknya kesalahpahaman mengenai hasil 
pembahasan yang diikuti 100 kiai yang digelar LBM-NU Jawa Tengah dan PCNU 
Jepara 1 September lalu.

Tim perumus mubahatsah yang terdiri atas KH Aniq Muhammadun, KH 
Kholilurrohman, KH Ahmad Roziqin dan KH Imam Abi Jamroh, telah 
mempresentasikan keputusan itu dalam forum Raker Nasional LBM PBNU di Wisma 
Taman Wiladatika Cibubur, Kamis 6 September 2007 lalu.

“Semua peserta Rakernas dapat memahami keputusan HARAM PLTN Muria. Semua 
peserta juga dapat menduduk-kan antara aplikasi nuklir yang hukumnya mubah 
dan aplikasi nuklir dalam PLTN Muria yang diharamkan oleh ulama Jepara,” 
kata Nuruddin.

PLTN Muria dihukumi haram karena dinilai lebih membahayakan daripada 
bermanfaat Para kiai berharap pemerintah dapat membatalkan rencana 
pembangunan PLTN Muria di Jepara. Meski baru rencana, namun proyek tersebut 
telah menimbulkan keresahan di masyarakat. (ken/ken)

05/09/2007 03:24 WIB
Greenpeace Dukung NU Haramkan PLTN Muria
Rafiqa Qurrata A – detikcom

Jakarta – Keputusan Nahdhatul Ulama (NU) yang mengharamkan pembangunan PLTN 
di Semenanjung Muria, Jepara, Jawa Tengah disambut Greenpeace. Pernyataan NU 
didukung penuh organisasi lingkungan yang sejak awal menentang pembangunan 
PLTN itu.

“Keputusan NU sangat tepat pada waktunya,” kata Direktur Eksekutif 
Greenpeace ASEAN, Emmy Hafild, dalam keterangannya kepada detikcom, Rabu 
(4/9/2007).

Emmy menjelaskan, pembangunan PLTN Muria berpotensi mencemari lingkungan dan 
membahayakan penduduk. Terutama risiko kebocoran zat radioaktif dan bahaya 
limbah nuklir.

“Greenpeace telah menyampaikan pada Presiden SBY untuk mempertimbangkan 
keputusan NU. Kami meminta Presiden segera mengalihkan dana pembangunan 
PLTN, untuk mengembangkan energi potensial yang bisa diperbarui demi 
memenuhi pasokan listrik Indonesia,” paparnya.

Pada Sabtu 1 September 2007, pengurus cabang NU Jepara menolak tegas rencana 
pembangunan PLTN Muria. Saat itu ribuan warga Jepara berunjuk rasa dan 
sebuah diskusi digelar dengan menghadirkan para pakar dan ulama untuk 
membahas akibat pembangunan PLTN.

Minggu 2 September, NU mengharamkan PLTN Muria. Hal itu seiring dengan 
keputusan DPRD Jawa Tengah yang dengan suara bulat mendukung penolakan warga 
atas rencana pembangunan PLTN pertama berkapasitas 1.000 megawatt (MW). 
(fiq/ary)

04/09/2007 14:06 WIB
MUI: Jangan Keluarkan Fatwa Haram Sembarangan
Gagah Wijoseno – detikcom

Jakarta – NU Jepara mengeluarkan fatwa mengharamkan rencana pembangunan PLTN 
Muria. Namun bagi Majelis Ulama Indonesia (MUI), fatwa harus memiliki 
referensi kuat dan berlaku universal, tidak boleh dikeluarkan sembarangan.

“Tidak boleh mengeluarkan fatwa sembarangan. Harus punya referensi yang kuat 
karena fatwa berlaku universal. Kita sampai sekarang tidak tahu itu asumsi 
atau berdasarkan keyakinan,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Ma’ruf Amin.

Hal ini disampaikan Ma’ruf usai mengikuti Rakornas Bidang Keagamaan DPP 
Partai Golkar di kantor DPP Partai Golkar, Jalan Anggrek Neli Murni, Jakarta 
Barat, Selasa (4/9/2007).

Menurut dia, PBNU seharusnya memanggil anggotanya yang mengeluarkan fatwa 
itu.

Ma’ruf mengatakan MUI hingga kini belum mengeluarkan fatwa seputar rencana 
pembangunan PLTN Muria.

Jika diminta keluarkan fatwa, lanjut dia, MUI akan minta pendapat ahli 
nuklir. “Kita akan telaah ulang apakah itu membahayakan atau tidak. Paling 
penting, kita harus tahu nuklir itu seperti apa,” ujarnya.

Apa MUI akan memanggil PBNU? “Kita belum ada rencana seperti itu,” sahut Ma’ruf.

Rencana pembangunan PLTN Muria ditolak sebagian besar masyarakat Jepara. 
Sekitar seribu warga Sabtu 1 September turun ke jalan menolak pembangunan 
tersebut. Bahkan NU Cabang Jepara menyatakan, pembangunan PLTN Muria lebih 
banyak mudarat ketimbang manfaatnya, sehingga diputuskan haram.

Keputusan itu merupakan hasil bahtsul masail (pembahasan masalah) yang 
dilakukan sejumlah kiai dan pengurus PC NU plus Lajnah Bahtsul Masail (LBM) 
PW NU Jateng. (aan/nrl)

04/09/2007 13:43 WIB
Jangan Sentuh Nuklir untuk Pembangkit Listrik!
Irwan Nugroho – detikcom

Jakarta – Rencana pembangunan PLTN Muria terus menimbulkan pro dan kontra. 
Pemerintah diminta berpikir ulang. Sebab meski bisa dimanfaatkan sebagai 
energi listrik, dampak kebocoran nuklir terhadap lingkungan sulit diatasi.

“Kita tidak bisa melupakan bahwa seaman apa pun ketika di Rusia dulu bocor, 
akibatnya tidak bisa teratasi,” ujar Bintang Nugroho dari Perkumpulan 
Pemerhati dan Peduli Lingkungan Hidup.

Bintang menyampaikan hal itu di sela launching Cool Energy Exhibition Care 
for the Change yang akan digelar 8-14 Desember di Hotel Shangri-La, Jl 
Sudirman, Jakarta, Selasa (4/9/2007).

Acara tersebut digelar berbarengan dengan konferensi internasional tentang 
perubahan iklim (3-14 Desember) di Nusa Dua, Bali.

Selain dampak lingkungan, Bintang mengatakan, PLTN Muria juga akan 
menimbulkan dampak sosial yang nilainya tidak bisa dihitung, yakni 
ketegangan yang terjadi pada masyarakat di sekitar PLTN itu. Ketenangan 
mereka akan terusik.

“Dengan kata lain, nuklir please saya mohon tidak usah kita sentuh dulu. 
Mari kita kembangkan energi terbarukan,” ujar dia.

Indonesia, lanjutnya, mempunyai banyak sumber energi alternatif selain 
nuklir untuk pembangkit listrik. Namun hal itu sama sekali belum 
dimanfaatkan.

Pertama, yang paling murah adalah energi matahari. Indonesia merupakan 
negara tropis. “Artinya, alam sudah mengajari kita untuk menggunakan energi 
matahari,” kata dia.

Yang kedua, angin. Diakui Bintang, angin yang berhembus di wilayah Indonesia 
memang tidak sekencang di belahan bumi bagian utara. Namun angin itu cukup 
bisa menghasilkan hibrid yang bisa digunakan untuk pembangkit listrik.

“Yang ketiga ombak. Ini sedang dalam penelitian yang sangat serius. Kita 
punya garis pantai yang paling panjang di dunia. Saya kira kita punya 
kesempatan yang cukup,” ujar dia. (umi/nrl)

04/09/2007 12:24 WIB
KLH: Fatwa Haram PLTN? Lihat Dulu Proses Amdalnya
Irwan Nugroho – detikcom

Jakarta – Penolakan NU dan warga Jepara atas rencana pembangunan PLTN Muria 
dianggap wajar. Namun ada baiknya semua pihak melihat dulu proses amdalnya.

“Jadi biarkan proses amdal itu yang berjalan. Kan di sana nanti juga ada 
yang namanya partisipasi masyarakat atau semacam public hearing,” kata 
Deputi Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Negara 
Lingkungan Hidup (KLH) Sudaryono.

Sudaryono menyampaikan hal itu di sela launching Cool Energy Exhibition Care 
for the Change yang akan digelar 8-14 Desember di Hotel Shangri-La, Jakarta, 
Selasa (4/9/2007).

Acara tersebut digelar berbarengan dengan konferensi internasional tentang 
perubahan iklim (3-14 Desember) di Nusa Dua, Bali.

Terkait PLTN Muria, imbuh dia, selama ini masih belum dilakukan, karena 
proyek itu masih dalam tahap wacana.

“Kapan dilakukan, ya tergantung kesiapan dalam pelaksanaannya. Jadi 
dilaksanakan atau tidak, masih dalam wacana,” ujar dia.

Namun pada prinsipnya, dia berharap pembangunan PLTN Muria tetap berwawasan 
lingkungan dan berkelanjutan.

“Jadi kalau kita lihat nuklir ini di dalam pembangunannya diperlukan SDM dan 
kehati-hatian, dan inilah yang akan kita dekati dulu,” kata dia.

Soal fatwa haram NU, KLH tidak terlalu menggubrisnya. “Pokoknya saya tidak 
melihat itu. Kita dari Kementerian Lingkungan Hidup melihat dari dampaknya 
terhadap lingkungan dan itu kita kasih melalui amdal,” ujar dia. (umi/sss)

04/09/2007 06:15 WIB
Fatwa Haram Pembangunan PLTN Muria Wajar
Nadhifa Putri – detikcom

Jakarta – Pengurus NU cabang Jepara, Jawa Tengah, mengeluarkan fatwa haram 
atas rencana pembangunan PLTN Muria. Anggota komisi agama DPR RI DH Al Yusni 
menganggap fatwa tersebut adalah hal yang wajar.

Menurutnya, fatwa tersebut muncul atas dasar maslahat (manfaat) dan mafsadat 
(kerusakan) yang dapat ditimbulkan dari pembangunan tersebut.

“Tak ada yang aneh dari fatwa itu. Wajar dan biasa-biasa saja. Dalam 
persfektif fiqih dikenal aspek maslahat dan mafsadat. Artinya menghindarkan 
kerusakan harus diprioritaskan daripada mengambil untung,” kata Al Yusni 
dalam keterangan tertulisnya kepada detikcom, Selasa (4/9/2007).

Selain fatwa tersebut lebih bernuansa fiqih yang berwawasan, menurut dia, 
fatwa haram tersebut juga menunjuk pada peran penting agama dalam 
kebijakan-kebijakan pemerintah. Dia menambahkan, kebijakan tersebut memiliki 
dampak luas bagi masyarakat.

“Saya melihat langkah (fatwa) itu layak diapresiasi. Kita perlu banyak 
fatwa-fatwa sejenis. Kenapa tak ada fatwa haram buang sampah sembarangan. 
Atau fatwa haram merokok di tempat umum, atau fatwa hukuman berat bagi 
pelaku pencemaran lingkungan. Kita masih harus lebih mengembangkan fiqih 
berwawasan lingkungan ke depan,” papar politisi dari FPKS ini.

Al Yusni meminta fatwa haram ini harus tetap memiliki dasar landasan ilmiah 
yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konsep Islam, lanjut dia, fatwa 
tidak dapat dikeluarkan oleh orang sembarangan. “Hanya orang yang 
berkompeten saja yang boleh berfatwa,”imbuhnya.
(ptr/nvt)

Senin, 03 Sept 2007,
NU Cabang Fatwakan Haram, PB NU Terkejut
Soal Pembangunan PLTN Muria di Jateng

JEPARA – Pro dan kontra pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) 
di Semenanjung Muria, Jawa Tengah (Jateng), mulai memasuki wilayah fatwa. 
Kemarin (2/9), Pengurus Cabang NU (PC NU) Jepara mengeluarkan fatwa 
mengejutkan: Pembangunan PLTN di Muria haram.

Keputusan tersebut merupakan hasil bahtsul masail (pembahasan masalah) yang 
dilakukan sejumlah kiai dan pengurus PC NU plus Lajnah Bahtsul Masail (LBM) 
PW NU Jateng. Hasil bahtsul masail itu disampaikan dalam jumpa pers di 
gedung PC NU Jepara.

Sekretaris Tim Perumus KH Ahmad Roziqin mengatakan, bahtsul masail tersebut 
dilaksanakan mulai Sabtu (1/9) hingga kemarin. “Pembangunan PLTN Muria lebih 
banyak mudarat ketimbang manfaatnya. Karena itu, kami memutuskan haram!” 
kata Roziqin.

Kepada para wartawan, Roziqin mengatakan, selama merumuskan persoalan 
tersebut, pihaknya senantiasa memegang prinsip ajaran ahlussunnah wal 
jamaah, tawassuth, i’tidal, tasamuh, dan tawazun. “Hasilnya, limbah 
radioaktif jauh lebih berbahaya dibandingkan energi yang menurut perhitungan 
kami hanya dua sampai empat persen saja,” lanjutnya.

Ketua Tim Perumus KH Kholilurahman menambahkan, sikap PC NU Jepara itu akan 
disampaikan ke PW NU Jateng dan PB NU. “Menurut kami, sebaiknya pemerintah 
membatalkan rencana pembangunan PLTN Muria karena secara nyata rencana 
tersebut telah menimbulkan tarwi’ al muslimin (keresahan umat),” katanya.

Di tempat terpisah, fatwa haram PC NU Jepara itu mengejutkan organisasi 
induknya, yakni PB NU. Fatwa haram tersebut dianggap berlebihan.

Ketua PB NU Ahmad Bagja mengatakan, pihaknya terkejut mendengar fatwa haram 
tersebut. “Bagi kami, itu agak berlebihan. Kami belum membahas. Tapi, 
keputusan PC NU Jepara itu kami nilai sebagai masukan atau rekomendasi,” 
ungkapnya.

Dalam minggu ini, PB NU baru akan membahas rencana pembangunan PLTN Muria 
yang memunculkan reaksi keras masyarakat Jepara dan sekitarnya itu. Dalam 
pembahasan nanti, kata Ahmad, PB NU sepertinya tidak akan terlalu jauh 
sampai ke penentuan fatwa halal atau haram bagi PLTN Muria. “Kami akan kaji 
manfaat dan mudaratnya. Dari aspek agama dan ilmiah,” ujarnya.

Karena persoalan PLTN Muria banyak melibatkan warga NU di Jepara dan wilayah 
Jawa Tengah lainnya, Ahmad juga akan membawa persoalan PLTN Muria ke rais 
syuriah untuk dimintakan pertimbangan dari sisi kajian Alquran.

Saat ini, PB NU masih menunggu laporan dari PC NU Jepara terkait dengan 
keluarnya fatwa haram PLTN Muria itu. “Sampai sekarang, laporan resmi justru 
belum masuk,” jelasnya. (zis/nto/mer/jpnn/tom)

03/09/2007 14:22 WIB
Menneg Ristek: Nggak Apa-apa PLTN Muria Dibilang Haram
Muhammad Nur Hayid – detikcom

Jakarta – Keberatan warga Jepara atas rencana pembangunan PLTN Muria 
dianggap wajar. Pemerintah juga belum memutuskan mengubah Rancangan 
Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) sebelum ada instruksi dari 
Presiden SBY.

Rencana pembangunan PLTN itu memang dimasukkan dalam RPJPN dan Inpres Nomor 
5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Namun sejauh belum ada dokumen 
yang menetapkannya.

“Saya pikir ini bagian dari dinamika masyarakat. Sekali lagi saya tegaskan, 
pemerintah belum punya dokumen resmi atau dokumen negara yang bilang akan 
Indonesia akan membangun PLTN,” ujar Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman usai 
rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin 
(3/9/2007).

Namun diakui dalam RPJPN disebutkan, Indonesia akan mengoperasikan PLTN 
antara 2015 hingga 2019.

“(PLTN) tidak akan berhenti kecuali presiden mengeluarkan instruksi lain 
untuk berhenti. Jadi kita jalan terus, karena ini bagian dari pembelajaran 
publik untuk membikin masyarakat pandai,” katanya.

Dia menambahkan, berdasarkan RPJPN dan Inpres kebijakan energi nasional 
tersebut, pemerintah harus melakukan sosilisasi kepada publik.

Selain itu, karena pembangunan PLTN didasarkan pada pertimbangan ilmiah baru 
bisa digagalkan jika ada pertimbangan ilmiah yang lain yang lebih kuat.

“Saya itu orang ilmiah. Dalam ilmiah suatu pendapat itu benar jika belum ada 
pendapat yang mengalahkannya,” katanya.

Dia menambahkan, karena ini dokumen ilmiah maka harus digunakan rumus dan 
formula.

“Kalau NU mengatakan haram ya nggak apa-apa. Apa sih yang mendasari itu, 
adakah rumusnya, formulanya. Karena dengan basis ilmiah kita punya demokrasi 
yang lebih dari demokrasi politik,” tuturnya.
(umi/nrl)

03/09/2007 10:35 WIB
Walhi Puji NU Haramkan Pembangunan PLTN Muria
Hestiana Dharmastuti – detikcom

Jakarta – Langkah NU Jepara mengharamkan rencana pembangunan PLTN Muria 
menuai dukungan. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) memuji fatwa NU itu yang 
dianggap tepat.

“Bagus sekali itu,” kata Direktur Eksekutif Nasional Walhi Chalid Muhammad 
kepada detikcom, Senin (3/9/2007).

Chalid menilai pembangunan PLTN Muria lebih banyak dampak negatif ketimbang 
positif. “Saya kira krisis energi di Indonesia yang digembar-gemborkan 
pemerintah tidak harus dijawab oleh nuklir. Sebab, dampaknya lebih besar 
negatifnya dari positifnya,” ujarnya.

Dijelaskan Chalid, ada beberapa fakta dampak negatif yang harus diperhatikan 
untuk membangun PLTN. Pertama, 83 persen wilayan Indonesia rawan bencana.

“Jadi agak riskan untuk membangun PLTN,” kata Chalid.

Kedua, kata dia, human error yang selalu dijadikan alasan jika terjadi suatu 
bencana. “Dapat dibayangkan jika ada human error di Pulau Jawa dari reaktor 
nuklir akan berdampak besar,” ujar Chalid.

Alasan ketiga, PLTN membutuhkan uranium dan akan menimbulkan ketergantungan.

“Sekarang yang memiliki uranium adalah negara Australia. Itu artinya akan 
mengalami ketergantungan dan sangat tidak baik bagi kedaulatan energi 
nasional,” terang dia.

Keempat, lanjut Chalid, limbah dari reaktor nuklir. “Tidak satu negara pun 
di dunia yang berhasil mengelola limbah nuklir dan itu artinya berbahaya 
bagi keselamatan umat manusia di dunia,” kata Chalid.

Chalid meminta pemerintah mempertimbangkan lagi usulan rencana pembangunan 
PLTN itu.

Rencana pembangunan PLTN Muria ditolak sebagian besar masyarakat Jepara. 
Sekitar seribu warga Sabtu 1 September turun ke jalan menolak pembangunan 
tersebut. Bahkan NU Cabang Jepara menyatakan, pembangunan PLTN Muria lebih 
banyak mudarat ketimbang manfaatnya, sehingga diputuskan haram.

Keputusan itu merupakan hasil bahtsul masail (pembahasan masalah) yang 
dilakukan sejumlah kiai dan pengurus PC NU plus Lajnah Bahtsul Masail (LBM) 
PW NU Jateng. (aan/nrl)

03/09/2007 10:11 WIB
Pro Kontra PLTN Muria
Komisi VII: Kita Tak Banyak Pilihan, Lihat Jangka Panjangnya
Umi Kalsum – detikcom

Jakarta – Ribuan warga Jepara, Jawa Tengah, menolak mentah-mentah 
pembangunan PLTN Muria. Padahal proyek ini sudah dibahas puluhan tahun lalu. 
Masyarakat diminta berpikir panjang.

“Kalau bicara PLTN, kita jangan berpikir hanya untuk 1 tahun 2 tahun. Kita 
harus lihat jangka panjang, ke depan. Apalagi keputusannya bukan dibuat hari 
ini. Itu sudah jadi keputusan sejak 1980-an,” tegas Ketua Komisi VII Agusman 
Effendi kepada detikcom, Senin (3/9/2007).

Karena itu Komisi VII saat ini, imbuh dia, tidak pada posisi setuju atau 
tidak, tetapi menyosialisasikan kepada masyarakat bahwa Indonesia memang 
sudah membutuhkan PLTN untuk memenuhi kebutuhan energinya.

“Untuk masa depan ini sangat penting, security of supply juga harus menjaga 
posisi energi primer di suatu daerah. Dan kalau bicara Pulau Jawa, kita 
tidak banyak pilihan,” tegas dia.

Kondisi Pulau Jawa berbeda dengan Sumatera dan daerah lainnya di Indonesia 
yang masih memiliki sumber lain, seperti air gas, panas bumi atau batubara.

“Jadi harus dilihat ke depannya. Pemerintah sudah buat cetak biru energi 
yang menyebutkan kita sudah butuh pembangkit nuklir pada 2017. Bahkan sudah 
ada Perpresnya,” kata dia.

Namun Agusman cukup memahami penolakan yang dilakukan ribuan warga Jepara, 
Jawa Tengah. Bahkan NU Cabang Jepara sampai mengeluarkan fatwa haram.

“Itu (penolakan) wajar, di mana-mana juga begitu. Masalahnya, kita mau ikuti 
program yang sudah dibuat atau diubah. Diubah bisa saja, dibangun di daerah 
lain. Tapi yang butuh energi paling banyak kan Pulau Jawa,” tuturnya.

Yang penting dalam pelaksanaannya nanti, imbuh dia, pemerintah benar-benar 
melakukan sosialisasi secara transparan kepada masyarakat.

“Jelaskan dampak buruk jika ada kebocoran. Terus bagaimana teknologi saat 
ini mampu mencegah itu. Jadi masyarakat harus diberikan pengertian 
sebaik-baiknya,” kata dia.
(umi/sss)

03/09/2007 08:35 WIB
NU Haramkan PLTN Muria
PLN Tunggu Instruksi Pemerintah
Umi Kalsum – detikcom

Jakarta – Pengurus NU Cabang Jepara mengeluarkan fatwa yang mengharamkan 
pembangunan PLTN Muria di Semenanjung Muria, Jepara, Jawa Tengah. Menanggapi 
fatwa ini PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) masih tenang-tenang saja.

PLN masih akan menunggu keputusan pemerintah soal jadi tidaknya pembangunan 
PLTN tersebut.

“PLN kan tidak ikut menentukan pembangunan (PLTN) atau tidak. PLN hanya 
menunggu kebijakan energi primer pemerintah. PLN nggak terlibat,” tegas 
General Manajer PLN Jawa-Bali Muljo Adji kepada detikcom, Senin (3/9/2007).

Kebijakan itu, imbuh dia, sepenuhnya berada di tangan pemerintah selaku 
pemilik PLN. “Kalau pemerintah memerintahkan dibangun ya kita akan bangun, 
kalau tidak ya tidak,” katanya.

Jika keputusan pemerintah tetap membangun PLTN itu, PLN dengan segala 
risikonya akan memenuhi perintah itu. PLN berjanji akan memberikan 
sosialisasi secara intensif kepada masyarakat sekitar.

Pemerintah berencana pada 2017, PLTN Muria sudah bisa beroperasi. “Kalau 
2017 beroperasi, berarti dalam waktu dekat harusnya sudah ada proses 
procurement,” katanya.

Rencana pembangunan PLTN Muria ditolak sebagian besar masyarakat Jepara. 
Sekitar seribu warga Sabtu 1 September turun ke jalan menolak pembangunan 
tersebut. Bahkan NU Cabang Jepara menyatakan, pembangunan PLTN Muria lebih 
banyak mudarat ketimbang manfaatnya, sehingga diputuskan haram.

Keputusan itu merupakan hasil bahtsul masail (pembahasan masalah) yang 
dilakukan sejumlah kiai dan pengurus PC NU plus Lajnah Bahtsul Masail (LBM) 
PW NU Jateng.
(umi/nrl)

02/09/2007 18:41 WIB
NU Jepara: PLTN Muria Haram!
Jay Rahman – detikcom

Jepara – Karena lebih banyak bahaya dibanding manfaatnya, NU memutuskan 
mengharamkan PLTN Muria yang rencananya akan dibangun di Semenanjung Muria, 
Jepara, Jawa Tengah.

Keputusan itu dibacakan Sekretaris Tim Perumus KH Ahmad Roziqin di Kantor 
PCNU Jepara, Jalan Pemuda, Minggu (2/9/2007) petang. Perumusan diikuti 
sejumlah kiai dan pengurus NU Jepara serta Lajnah Bahtsul Masa’il (LBM) Jawa 
Tengah selama dua hari, 1-2 September 2007.

“PLTN tidak hanya menyangkut masalah energi, tapi juga lingkungan, sosial, 
politik, dan ekonomi. Untuk meneropong masalah tersebut, batasnya adalah 
manfaat dan bahaya bagi kepentingan umat,” katanya.

Dalam membahas PLTN, para kiai mempertimbangkan argumentasi para pakar, baik 
yang pro maupun kontra, dan dengan berpegang teguh pada ajaran ahlussunnah 
wal jama’ah, prinsip tawassuth, i`tidal, tasamuh, tawazun, dan yang lain.

“Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan PLTN Muria haram hukumnya. 
Energi yang dihasilkan hanya 2-4 persen, sementara limbah radioaktifnya 
sangat berbahaya,” kata Kiai Ahmad yang didampingi Ketua Tim Perumus KH 
Kholilurahman.

Para ulama NU Jepara berharap pemerintah membatalkan rencana pembangunan 
PLTN Muria. Meski masi berupa rencana, PLTN nyata-nyata menimbulkan 
keresahan umat (tarwi’ al-muslimin).

Lebih jauh, Kiai Ahmad juga meminta pemerintah membangun infrastruktur dan 
suprastruktur yang membawa kemaslahatan sesuai dengan derajat kepentingan 
yang dihadapi warganya. “Sesuai dengan kaidah: tasharruf al-imam ‘ala 
al-ra’iyyah 
manuth bi al-maslahah,” jelasnya.

Keputusan pengharaman pembangunan PLTN berlaku pada tingkat lokal, yakni 
PLTN Muria. “Keputusan ini akan kami rekomendasikan ke PWNU dan PBNU sebagai 
bahan kajian lagi,” kata Kiai Ahmad dan Kiai Kholilurahman. (try/nrl)

01/09/2007 09:57 WIB
5.000 Warga Jepara Demo Tolak PLTN
Jay Rahman – detikcom

Jakarta – Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan telah menandatangani 
kontrak untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di 
Indonesia. Pembangunan PLTN ini pun mendapat penolakan dari masyarakat.

5.000 Pendemo dari warga Desa Balong, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, 
yang menolak pembangunan PLTN, akan mendatangi Gedung NU Jl Pemuda 51 A, 
Jepara, Jawa Tengah yang akan berlangsung acara Mubaatsah yaitu acara yang 
memaparkan manfaat dan kerugian penggunaan PLTN.

Acara ini akan dihadiri oleh Menristek Kusmayanto Kadiman, Menteri ESDM 
Purnomo Yusgiantoro, dan Gus Dur.

Para pendemo tersebut sudah mulai berjalan sejak Jumat 31 Agustus pukul 
19.30 WIB dari Desa Balong, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, sekitar 35 
km menuju Gedung NU.

Dalam perjalanan, mereka membawa beberapa obor, bekal makanan dan 
spanduk-spanduk yang bertuliskan penolakan PLTN.

Hingga pukul 09.30 WIB, pendemo beristirahat sejenak di Muleharjo, Kecamatan 
Jepara, Kabupaten Jepara. Pendemo yang terdiri dari anak-anak hingga lansia 
ini terlihat sedang makan.

Penjagaan dari kepolisian pun cukup ketat. Di setiap perempatan dari Desa 
Balong, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara menuju Gedung NU terdapat 25 
personel kepolisian.

Jalan Pemuda ini pada saat acara berlangsung sampai selesai akan ditutup 
hingga pukul 16.00 WIB.
(ziz/mly)

28/08/2007 12:06 WIB
Ratusan Petani Jateng Demo Tolak PLTN
Triono Wahyu Sudibyo – detikcom

Semarang – Ratusan petani yang berasal dari berbagai organisasi dan BEM di 
Jawa Tengah berunjuk rasa menolak rencana pembangunan PLTN di Semenanjung 
Muria, Jepara, Jawa Tengah.

Aksi dilakukan di halaman Kantor DPRD Jateng, Jalan Pahlawan Semarang, 
Selasa (28/8/2007). Mereka yang berasal dari Batang, Pati, Kudus, Jepara, 
dan daerah-daerah lain datang dengan mengendari puluhan bus dan mobil 
pribadi.

Para demonstran tampaknya cukup serius mempersiapkan aksi tersebut. 
Buktinya, mereka mendirikan panggung berukuran 5 kali 4 meter. Di latar 
panggung itu bertuliskan “Tolak Presiden dan Calon Gubernur yang Pro PLTN.”

Selain orasi, aksi itu juga diisi dengan pentas musik dan teatrikal. Para 
peserta aksi yang terdiri dari beragam usia, status, dan asal itu kadang 
berjingkrak, berteriak-teriak, dan ikut menyanyi saat sejumlah orator tampil 
di panggung.

Salah satu petani asal Batang, Sofi mengatakan, karena belum bisa menangani 
bencana Lumpur Lapindo, banjir, kelangkaan pupuk, dan lain-lain, masyarakat 
berharap pemerintah tidak berspekulasi dengan membangun PLTN.

Hingga pukul 12.00 WIB, aksi terus berlanjut. Karena cuaca yang sangat 
panas, sebagian besar peserta memilih minggir dari depan panggung dan 
berteduh di teras gedung DPRD.

Menurut rencana, PLTN Muria dengan kapasitas 4.000 megawatt dibangun pada 
tahun 2010 dan diharapkan mulai beroperasi pada tahun 2016. Namun hingga 
saat ini tidak ada kejelasan mengenai tahap-tahap pembangunan setelah 
gelombang unjuk rasa menolak ada di sejumlah daerah di Jateng. (try/nrl)

Ribuan Warga Balong Long March Tolak PLTN Muria
Sabtu, 01 September 2007 | 10:26 WIB

TEMPO Interaktif, Jepara: Sekitar 6.000 warga Desa Balong, Kecamatan 
Kembang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah melakukan long march dari desa mereka 
menuju Jepara sejak Sabtu (1/9) dini hari tadi. Aksi ini sebagai gentuk 
penolakan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir 
(PLTN) di Semenanjung Muria, Jepang.

Dengan menggunakan obor, mereka bergerak menuju Kantor Pengurus Cabang 
Nahdhatul Ulama Jepara. Di tempat ini Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto 
Kardiman akan menjadi pembicara dalam diskusi proyek listrik bertenaga 
nuklit tersebut.

Saat ini ribuan warga sudah memasuki kawasan kota dan tak mendekati lokasi 
pertemuan. Mereka terdiri dari laki-laki-perempuan, dan bahkan anak-anak 
berkonvonsi sejak dini hari sejauh 35 kilometer itu.

“Selain berbahaya, proyek listrik nuklir ini tidak pernah melibatkan 
masyarakat dalam perencaannya,” ujar Darul Hisyam, koordinator warga kepada 
Tempo di Jepara. Pemerintah, kata dia, tak berhak memaksakan kehendaknya 
jika mayoritas masyarakat menolak proyek tersebut.

Selain Menteri Kusmayanto, diskusi ini juga dihadiri sejumlah tokoh seperti 
George Junus Aditjondro (pakar lingkungan dan sosial), Iwan Kurniawan (pakar 
nuklir), Abdurrahman Wahid (mantan Presiden), Benny D Setyanto dan Budi 
Widianarko (pakar hukum lingkungan internasional Universitas Katholik 
Soegijapranata, Semarang).

Rencananya usai diskusi akan dilanjutkan kajian fikih (bahstul masa’il) oleh 
150 kiai NU se-Jawa Tengah. Kajian fikih ini dilakukan malam nanti tentang 
perlu tidaknya pembangunan proyek tesebut. Sohirin

 Minggu, 02 September 2007
Menneg Ristek Dilempar dengan Botol Minuman
Beban Puncak Listrik Tahun 2016


JEPARA, KOMPAS – Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman 
sempat dilempar dengan sebuah botol plastik minuman mineral saat turun dari 
panggung menuju pintu utama Gedung DPRD Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (1/9). 
Dalam peristiwa ini terjadi dorong-mendorong antara massa dan petugas 
keamanan.

Beruntung lemparan itu tidak mengenai Menneg Ristek. Ia selanjutnya dibawa 
ke dalam gedung DPRD dengan cara mendobrak pintu yang terkunci dan keluar 
lewat pintu lain. Menneg Ristek disertai Bupati Jepara Hendro Martojo menuju 
Gedung Nahdlatul Ulama (NU) guna menghadiri dialog publik dan mubahatsah 
alim ulama ”PLTN Muria dalam Perspektif Fiqh”.

Peristiwa pelemparan itu terjadi karena lebih dari 1.000 orang yang berasal 
dari Desa Balong, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, tidak puas dengan 
jawaban Menneg Ristek. Para pengunjuk rasa pada umumnya letih karena Jumat 
(31/8) malam hingga kemarin pagi berjalan kaki dari desa mereka menuju kota 
ukir itu, yang jauhnya sekitar 30 kilometer.

Guna menenangkan massa, Yenny Wahid, putri mantan Presiden Abdurrahman 
Wahid, naik ke truk dan menenangkan massa. ”Silakan bapak-ibu dan saudara 
sekalian menunggu. Bapak (Abudarrahman Wahid) sependapat dengan warga Balong 
menolak PLTN. Tetapi, saya harap tidak melalui kekerasan,” kata Yenny.

Setelah itu, massa berangsur- angsur membubarkan diri mencari tempat teduh 
di seputar kompleks gedung DPRD. Sebagian lagi menuju truk yang disiapkan. ”Ini 
gerakan rakyat, akumulasi dari keterbungkaman aspirasi,” ujar Koordinator 
Aksi Koalisi Rakyat dan Mahasiswa (Kraton) Balong, Darul Hasyim.

Mereka menghadang kedatangan Menneg Ristek untuk berdialog langsung ihwal 
sikap pemerintah mengenai rencana pembangunan PLTN. Unjuk rasa ini merupakan 
kali keempat.

Dialog di halaman Gedung DPRD Jepara dengan Menneg Ristek yang didampingi 
Bupati Jepara Hendro Martojo dan Darul Hasyim berlangsung agak panas. Menneg 
Ristek dikejar dengan pertanyaan, termasuk penggunaan dana sosialisasi PLTN 
Rp 5 miliar. ”Sampai sekarang pemerintah belum memutuskan rencana 
pembangunan PLTN. Tentang dana sosialisasi, sudah sesuai peruntukannya,” 
ujarnya.

Tatkala menjadi pembicara utama dalam dialog publik dan mubahatsah alim 
ulama itu, yang berlangsung di Gedung NU Jepara, Menneg Ristek menyatakan, 
beban puncak kelistrikan Jawa, Madura, dan Bali diperkirakan berlangsung 
pada tahun 2016 dan diproyeksikan mencapai 29 GW, lalu disusul tahun 2026 
mencapai 59 GW. Pada periode 2006-2016, pertumbuhan bebannya meningkat 
menjadi 7,3 persen.

Menurut Kusmayanto, pertumbuhan beban ini menuntut penambahan-penambahan 
kapasitas pembangkit baru dalam sistem ketenagalistrikan nasional. Seusai 
dialog, acara dilanjutkan dengan sarasehan. Hadir beberapa narasumber, di 
antaranya mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Staf Ahli Menneg Ristek Bidang 
SDM dan Teknologi Evita Legowo, serta Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional 
Hudi Hastowo.

Kusmayanto menambahkan, belajar dari pengalaman negara lain, PLTN merupakan 
pembangkit listrik yang tidak saja relatif murah secara ekonomi, tetapi juga 
bersih lingkungan.

”Ini tentu berbeda dengan energi batu bara yang relatif murah secara 
ekonomi, tetapi mengotori lingkungan. Demikian pula dengan energi pembangkit 
listrik nonfosil lain,” katanya.  (SUP)

JEPARA(SINDO) – Pemerintah belum mengambil keputusan final soal pembangunan 
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Desa Balong,Kec Kembang,Kab 
Jepara.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman mengatakan, 
pihaknya sampai saat ini masih mencari tempat yang cocok untuk PLTN, aman 
secara geografis, dan tepat dengan kebutuhan. Pemerintah juga masih 
melakukan kajian beberapa energi alternatif yang bisa digunakan untuk 
pembangkit listrik. Beberapa energi alternatif dimaksud, seperti arus laut, 
arus sungai, kelapa sawit, dan tanaman jarak. “Pemerintah belum menetapkan 
akan membangun PTLN (Jepara), kita baru mempelajari,“ ujarnya saat menemui 
ribuan warga Desa Balong di depan Gedung DPRD Kab Jepara,kemarin.

Sebenarnya, ribuan warga Desa Balong akan mendatangi Kantor Pengurus Cabang 
Nahdlatul Ulama (PCNU) Jepara, untuk menemui Menristek guna menyatakan 
penolakan terhadap PLTN. Namun, petugas kepolisian memblokade jalan dan 
memaksa para demonstran itu berhenti di depan gedung DPRD yang berjarak 
sekitar 1 kilometer dari Kantor PCNU. Kusmayanto menjelaskan, Presiden 
pernah mengatakan ke depan akan terjadi krisis pangan, air, dan energi. 
Karena itu, pihaknya akan melakukan kajian terhadap beberapa energi 
alternatif yang ada, guna mengatasi krisis energi.

Dalam kajian itu akan dipilih energi alternatif yang memiliki banyak manfaat 
dan minim kerugian. “Setelah kita mempelajari beberapa energi alternatif, 
hasilnya akan saya sampaikan kepada Presiden. Kemudian, Presiden yang 
menentukan,” tukasnya. Didesak soal pemerintah yang sudah melobi Korea 
Selatan terkait rencana pembangunan PLTN, Kusmayanto tidak membantah.“Kita 
sudah kerja sama dengan Rusia, Amerika, dan Australia. Sebab, kita mau 
belajar kepada orang lain,” terangnya.

Diamenegaskan,soalrencana pembangunan PLTN sudah sesuai kebijakan Presiden. 
Kebijakan itu menyebutkan bahwa sampai 2016 pemerintah sudah akan memiliki 
PLTN.“Kita tidak hanya mencari lokasi di Jepara, tapi juga di tempat lain. 
Kedatangan saya ke siniuntukmencari informasi sebanyak-banyaknya, yang nanti 
akan saya sampaikan kepada Presiden,“ jelasnya. Bupati Jepara Hendro Martojo 
yangikutmendampingiMenristek mengatakan, pihaknya meminta pemerintah 
mempertimbangkan lagi. “PLTN harus dipertimbangkan lagi,”katanya.

Sementara Ketua PCNU Jepara Nurudin Amin berharap agar pimpinan NU mendengar 
aspirasi masyarakat Jepara dan ikut memperjuangkannya. “Saya harap pimpinan 
NU mau mendengar aspirasi masyarakat,” ungkapnya. Menristek mengikuti dialog 
publik dan mubahatsah alim ulama bertema “PLTN Muria dalam Perspektif Fikih” 
di Kantor PCNU. Dalam dialog publik itu, Ahli Biologi Nuklir Budi Kurniawan 
mengatakan, PLTN masih menyisakan masalah besar, yakni limbah radio aktif 
dan risiko pencemarannya.

Aneka limbah baik padat atau cair yang dihasilkan sejak kegiatan penambangan 
uranium, fabrikasi bahan bakar, operasi reaktor, hingga pada pem-rosesan 
ulang bahan bakar. “Hingga saat ini, di semua negara pemilik nuklir masih 
menyimpan limbah tingkat tinggi (LTT) dan limbah tingkat menengah (LTM) ini 
ke dalam bahan yang mampu meredam radiasi,seperti di air dan beton. Di 
penampungan sementara ini umumnya hanya dapat bertahan selama 50 
tahun,”jelasnya. 
Namun,Ketua Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Hudi Hastowo menjamin bahwa 
PLTN yang akan dibangun di Jepara ini aman, karena teknologinya sudah 
modern.

“Jadi, jangan disamakan dengan tragedi Chernobyl,”ujarnya. Menurut dia, 
pemanfaatan tenaga nuklir ini untuk upaya damai, guna meningkatkan 
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Sebab, iptek nuklir ini bisa 
dimanfaatkan bagi pembangunan ketahanan pangan dan bidang kesehatan. (arif 
purniawan)

Dialog Pembangkit Nuklir Nyaris Ricuh
Sabtu, 01 September 2007 | 12:18 WIB

TEMPO Interaktif, Jepara: Dialog antara Menteri Riset dan Teknologi 
Koesmajanto Kadiman dan ribuan warga Desa Balong, Jepara yang menolak proyek 
pembangkit listrik tenaga nuklir di Jepara pada Sabtu (1/9) siang ini nyaris 
ricuh. Peicunya Menteri Kusmayanto tiba-tiba meninggalkan panggung karena 
tidak mau menerima pernyataan sikap dari warga.

Menteri Kusmayanto yang didampingi Bupati Jepara Hendro Martojo akhirnya 
dikejar warga hingga ke belakang panggung acara diskusi. Dengan kawalan 
ketat aparat, pintu utama DPRD Jepara dijebol agar Menteri Riset selamat 
dari kejaran warga.

Koordinator warga, Darul mengatakan, dia hanya ingin menyampaikan pernyataan 
sikap warga Balong yang sudah berjalan kaki sejauh 35 kilometer menuju 
tempat diskusi. “Tapi Menristek menolak karena menganggap dirinya harus 
menandatangani pernyataan itu. Padahal kami hanya ingin menyampaikan secara 
langsung saja,” kata Darul.

Darul mengatakan, warga Balong kecewa dengan sikap Menteri Kusmayanto yang 
dinilai tidak dewasa menghadapi kesulitan masyarakat.

Beruntung aksi tidak berubah anarkis karena massa berhasil dikendalikan oleh 
aparat dan koordinator aksi. Hingga berita ini diturunkan Menteri masih 
terjebak di gedung DPRD Jepara karena massa masih berkumpul di depan gedung. 
sohirin.

http://monitoringmedia.wordpress.com/2007/09/08/menyoal-haram-nya-pltn-news/


__________ Information from ESET Smart Security, version of virus signature 
database 4193 (20090626) __________

The message was checked by ESET Smart Security.

http://www.eset.com




------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke