Semua umat Islam juga kontekstual. Ada yang sangat kontekstual, ada yang sedang2, dan ada yang minim. Tapi semua kontekstual. Maklum Islam lahir 15 abad lalu. Sudah pasti banyak yang sudah harus "diperbarui".
Liberalisme juga demikian. Qardhawi kadang juga dimasukkan dalam gerbong liberal, tapi di sisi yang lain ia dianggap sebagai salah satu otak radikalisme. Syekh Ghozali yang menulis "Qadhaayal Mar'ah" dan Al-Hadiits Bayna Ahlil Fiqh wa Ahlil Hadiits, acap dianggap mulai liberal, tapi dia juga adalah saksi ahli dalam kasus pemurtadan Farg Fawda, yang berujung terbunuhnya intelektual Mesir ini. Apalagi moderatisme. Bukan hanya NU yang moderat, bahkan Wahabi yang super ortodoks juga terus menerus mengkampanyekan sikap moderatisme. Untuk Kiyai Makruf, di tubuh NU memang sering dianggap tekstual, tapi di luar sana, dia mungkin moderat :-) ----- Original Message ----- From: "--::Irwan Masduqi::--" <[email protected]> To: <[email protected]> Sent: Tuesday, July 21, 2009 2:40 AM Subject: Bls: [kmnu2000] Re: Kiai Ma’ruf: Kelompok Islam “Tekstualis” Makin Marak di Indonesia Semua umat beragama yg memiliki kitab suci sejatinya tekstual. Hanya saja tingkatan tekstualitas mereka memiliki gradasi. Tapi ngomong-ngomong, Kiai Ma'ruf memang cocok jd pelawak dagelan MUI, he2 Salam R-1 ________________________________ Dari: Anis Masduki <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Senin, 20 Juli, 2009 15:05:15 Judul: [kmnu2000] Re: Kiai Ma’ruf: Kelompok Islam “Tekstualis” Makin Marak di Indonesia hehe...barangkali tekstualis ada dua Gus. tektualis radikal model bomber itu dan tekstualis moderat kayak yai ma'ruf, dan sudah ada tekstualis liberal kayak syahrur...wah bikin mumet. Sama-sama tekstualis tapi istidlalnya beda. jika istidlalnya lemah jadinya bomber, jika istidlalnya agak kuat jadinya yai ma'ruf. dalam arti semua pemikir islam sbetulnya tekstualis hanya saja ada tekstualis murni seperti ay syafi'i, tekstualis rasional seperti al jashash dan tekstualis praksis seperti al ghazali dan syatibi...;)
