Semoga bisa menjadi tradisi, meskipun hasilnya tidak seperti yang diharapkan 
nalar lahir kita-kita. Saya setuju. Karena itu ada baiknya, sebelum muktamar, 
para pinisepuh (ahlul halli wal aqdi) NU berpuasa atau uzlah untuk 
menentukannya. Kiranya ini tradisi yang hilang dari kaum mukminin hari ini.




________________________________
From: priyo susilo <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Monday, August 17, 2009 7:40:52 PM
Subject: [kmnu2000] Wacana ketua PBNU

  
Assalamu 'alaikum,

Menurut pengamatan saya bagusnya untuk KETUM PBNU jangan di buat sistem
polling, ataupun suara terbanyak baik melaui media elektronik maupun media
visual tetapi lebih diberikan kepercayaan untuk menentukan ketum kepada para
sesepuh NU sendiri sehingga tidak lagi mengedepankan ego dan subyektifitas.
Artinya beliau2 yang mempunyai mata waskita, waspada dan tajam pendengaran
bathinnya dan bersih niatnya.
Sebagai sebuah organisasi "SPESIAL" dan beda dengan ormas2 lain di
indonesia, yang tidak cuma organisasi lahiriah saja, tetapi lebih
mengedepankan bathiniyah, basic yang di tawarkan adalah sami'na wa atho'na
kepada para sesepuh. Dengan cara seperti ini secara sepritual akan lebih
berkembang dan lebih diridloi.
Pemimpin bukan orang yang terkenal dan punya pendidikan yang tinggi yang
bergelar A s/d Z, tetapi lebih dari itu keikhlasan, kesiapan dan selalu
berdzikir kepada Allah SWT, baik lahir dan bathin. Dan itu hanya bisa
ditilik dengan penerawangan hati, yang saya yakin para sesepuh lebih bisa
melihatnya dalam tataran ghaib.

Sebagai generasi muda NU, saya merasa tidak ada apa2nya dibandingkan dengan
para sesepuh NU, sehingga merasa malu jika mau ikut2an mengajukan calon
ketum PBNU.

MONGGO yang lain jika punya ide.

wassalam
Priyo
pecinta NU

[Non-text portions of this message have been removed]





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke