Dari milist tetangga:
 
Teman2,
Coba baca sejenak artikel tulisan Dr Oman Fathurrahman (Masyarakat Pernaskahan 
Nusantara (Manassa) "Ulah Malaysia dan Ketidakpedulian Kita" di bawah ini. 
Apapun disiplin keilmuan kita, kita mesti terusik. Selama ini kita sebenarnya 
telah mengetahui tentang raibnya ribuan naskah Indonesia, terutama dari 
koleksi-koleksi pribadi. Namun DIAMNYA PEMERINTAH sangatlah aneh! DENGAN CARA 
APA KITA DAPAT MEMBUAT PEMERINTAH BERGERAK MENYELAMATKAN MANUSKRIP-MANUSKRIP 
INDONESIA? Mereka sangat terusik dengan diklaimnya beberapa tarian. Oke, itu 
bagus. Tapi mengapa hanya tarian, yang secara kasat mata orang di luar sana 
bisa menilai itu budaya siapa? Mengapa ribuan, mungkin puluhan ribu, manuskrip 
kita pindah tangan, PEMERINTAH TAK TERGERAK SEDIKITPUN! 

Tahun 2008 lalu saya bertemu dengan seorang peneliti Malaysia di Aceh. Dia 
menulis disertasi tentang Abdurrauf Al-Sinkili. Selama ini kita mengetahui 
(dari tulisan Ali Hasjimi, misalnya), bahwa Al-Sinkili hanya menulis sekitar 20 
judul buku. Tapi peneliti Malaysia ini telah menemukan manuskrip tulisan 
al-Sinkili, kalau tidak salah ingat, 52 judul! Dia keluar masuk Dayah dan 
pusat-pusat tarekat Khalwatiyah mencari naskah2 itu. Apakah peneliti-peneliti 
kita pernah menemukan manuskrip al-Sinkili sebanyak itu? Saya kira, beberapa 
tahun ke depan, kita harus pergi ke Malaysia untuk meneliti naskah-naskah 
Al-Sinkili dan ulama-ulama kita yang lain. 

Perhatian pemerintah pada para pemilik naskah juga sangat kecil. Padahal mereka 
kebanyakan adalah orang-orang susah. Mungkin karena tuntutan ekonomi, mereka 
menjualnya. Namun yang membuat kita prihatin, memang ada orang-orang Indonesia 
sendiri yang mencari naskah-naskah manuskrip untuk dijual belikan. Mereka dapat 
membeli naskah dari masyarakat dengan harga cukup murah, namun kemudian 
menjualnya dengan harga puluhan bahkan ratusan juta. Kalau Anda datang ke Aceh, 
masuklah ke toko-toko antik di sana, dan Anda akan mendapatkan naskah-naskah 
manuskrip juga di sana. Atau setidaknya sebenarnya ada, namun harus 
pintar-pintar menanyakannya.

Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) telah memulai gerakan 
penyadaran ini. Kita berharap Manassa bukan hanya menjadi komunitas peneliti 
yang mengkaji manuskrip, namun juga menjadi "Front Pembela Manuskrip 
Indonesia". Kita ingin mendorong Manassa untuk melangkah lebih jauh lagi 
menemui pemerintah, kementrian-kementri an terkait, agar pemerintah lebih 
serius lagi menangani naskah-naskah Indonesia. Namun, keselamatan manuskrip 
Indonesia bukan hanya tanggungjawab Manassa, namun juga kita semua, masyarakat 
Indonesia.

Salam, 
MN Ichwan

Di bawah ini artikel Dr Oman Fathurrahman:

Ulah Malaysia dan Ketidakpedulian Kita
oleh Dr Oman Fathurrahman

Thursday, 27 August 2009 

Lagi-lagi kita tersentak! Malaysia mengusik rasa kepemilikan kita atas berbagai 
khazanah budaya yang sudah kita warisi secara turun-temurun. Kali ini,tari 
pendet Bali yang menjadi pemicunya. 

Malaysia diyakini telah mengutil tarian itu dalam iklan Visit Malaysia Year 
2009. Meski sudah ada permintaan maaf dari production house yang membuat iklan 
Enigmatic Malaysia itu, kita, kawan-kawan di Bali khususnya, telanjur sakit 
hati. Tak urung Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, yang notabene 
orang Bali,meradang dibuatnya. Budayawan Mohammad Sobari bahkan menyerukan 
diambilnya protes keras dan aksi diplomatik nyata oleh Pemerintah RI! 

Benarkah Malaysia telah mengklaim tarian itu sebagai miliknya? Itu bukan hal 
yang ingin saya katakan..Biarlah kita tunggu pihak berwenang masing-masing 
mengklarifikasinya. Yang ingin saya ingatkan adalah bahwa salah satu akar 
masalah sesungguhnya ada pada diri kita sendiri sebagai bangsa yang tidak 
terlalu peduli dengan pemeliharaan aset kebudayaannya.

Angklung, reog ponorogo, batik, hombo batu, dan tari folaya adalah hanya 
beberapa ragam budaya yang sering disebut orang telah diklaim oleh Malaysia. 
Namun orang banyak yang lupa bahwa khazanah budaya dalam bentuk artefak kuno 
tulisan tangan atau yang dikenal sebagai naskah-naskah kuno (manuskrip), jauh 
lebih banyak yang telah berpindah tangan ke Malaysia. 

Sebagai orang lapangan, saya tahu persis puluhan dan bahkan mungkin ratusan 
naskah kuno dari berbagai daerah seperti Aceh, Minangkabau, Riau, dan wilayah 
Melayu lainnya telah diborong oleh pembeli ilegal asal Malaysia. Saya katakan 
ilegal karena jual beli itu memang terjadi "di bawah tangan", tidak pernah 
terangterangan. 

Maklum, menurut UU Cagar Budaya No 5 1992, naskah kuno termasuk benda yang 
harus dilindungi dan tidak boleh diperjualbelikan kecuali atas campur tangan 
negara.Namun, itu hanya teorinya. Mengapa Malaysia begitu kebelet dengan 
naskah-naskah kuno kita,khususnya yang berbahasa Melayu dan berkaitan dengan 
Islam, sampai berani membeli naskah-naskah kuno itu seharga ratusan juta 
rupiah? 

Mungkin karena artefak semacam itu berkaitan dengan identitas kemelayuan dan 
keislaman. Nama-nama seperti Hamzah Fansuri, Bukhari al-Jawhari, Nuruddin 
al-Raniri, Syamsuddin al- Sumatra'i, Abdurrauf al-Sinkili, Syaikh Yusuf 
al-Makassari, Muhammad Arsyad al-Banjari, Abdussamad al-Palimbani, Raja Ali 
Haji adalah simbol-simbol kebesaran Melayu Islam masa lalu yang terekam dalam 
naskah-naskah kuno. 

Semua nama itu berasal dari wilayah yang kini menjadi bagian dari Indonesia dan 
pernah menjadi poros utama peradaban Islam Melayu. Sekarang, tengoklah 
Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) atau Muzeum Islam Malaysia atau berbagai 
koleksi pribadi, yang menyimpan puluhan ribu naskah Melayu Nusantara, niscaya 
namanama ulama kita itu akan mendominasi berbagai katalognya. 

Bagi seorang filolog atau kodikolog, tidak susah juga mengidentifikasi dari 
mana asal naskahnaskah tersebut karena umumnya kolofon (catatan akhir) di 
belakang teks menyediakan informasi waktu dan tempat penyalinan serta identitas 
penyalinnya. Tentu saya tidak ingin mengatakan bahwa semua naskah itu diperoleh 
secara ilegal,tapi berbagai kasus di lapangan membuat saya miris. 

Masyarakat kita sering "tidak kuat iman" melihat gepokan ratus juta rupiah 
untuk ditukar dengan naskah-naskah kuno miliknya. Namun, apa daya? Mereka 
dibiarkan oleh negara untuk merawat sendirian warisan nenek moyangnya itu, 
padahal perut mereka sering kelaparan. Giliran diusik, meradanglah kita 
ramairamai! Dalam hal ini, Malaysia jelas sangat ingin menjadi pusat bagi 
peradaban Melayu Islam di wilayah Asia Tenggara. 

Tentu tidak salah! Masalahnya Malaysia memang tidak memiliki khazanah naskah 
Melayu sekaya kita, sama halnya dengan kenyataan bahwa Malaysia mungkin tidak 
memiliki tarian seindah tari pendet sehingga perlu "meminjamnya" dari Bali 
untuk promosi wisatanya. Celakanya, kita sebagai "pemilik sah" berbagai 
kebudayaan Melayu itu bermimpi pun mungkin tidak pernah untuk menjadi pusat 
peradaban Melayu! 

Sebagai peneliti, saya dan kawan- kawan di kampus sering menggerutu saat sumber 
primer lokal yang sangat dibutuhkan tidak bisa dijumpai satu pun di negeri 
sendiri, kecuali di negeri orang. Kitab hadis Melayu pertama yang berjudul 
al-Fawa'id al-bahiyah fi al-ahadith al-nabawiyah karangan Nuruddin al-Raniri 
(wafat 1658) misalnya, sejauh ini tidak satu pun dijumpai di 
perpustakaanperpust akaan negeri ini.

Hanya ada satu di PNM Kuala Lumpur,tercatat dengan kode MS 1042! Padahal, kitab 
yang memuat 831 buah hadis sahih itu merupakan salah satu sumber primer pertama 
di bidang hadis dalam konteks sejarah Islam Melayu.Ah,siapa peduli?

Ketidakpedulian Kita 

Mari coba bertanya, sejauh mana upaya yang sudah kita lakukan untuk 
melestarikan khazanah kebudayaan itu? Seperti yang budayawan Radhar Panca 
Dahana katakan, tidak banyak! Kita lebih sering merasa kebakaran jenggot saat 
orang lain dirasa mengusik "milik"kita. Kalau tidak,kita cuekcuek saja. 

"Hanya peduli pada olahraga dan program lainnya," katanya. Seiring perkembangan 
teknologi digital ini misalnya, salah satu tren pelestarian naskah-naskah kuno 
adalah melalui program digitalisasi. Sejak 2006, The British Library secara 
rutin mendanai sejumlah program digitalisasi naskah kuno koleksi masyarakat di 
Surabaya,Kerinci, Riau, Minangkabau, Aceh, Buton, dan Garut. 

Begitu pula dengan Leipzig University. Sejak 2007 lalu, universitas di Jerman 
ini telah melakukan program restorasi dan digitalisasi naskah-naskah di Museum 
Aceh,Yayasan Ali Hasjmy, dan sejumlah koleksi masyarakat, bekerja sama dengan 
Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM). 

Sudah ribuan naskah yang berhasil diselamatkan, setidaknya teks-teks digitalnya 
dan tentu saja sudah puluhan ribu halaman naskah yang ditambahkan pada koleksi 
perpustakaan asing semisal The British Library, tapi tidak selalu menjadi 
tambahan koleksi Perpustakaan Nasional karena institusi yang mewakili negara 
ini tidak terlibat, bahkan tahu ada program-program itu pun sering kali tidak! 

Masih untung ada Puslitbang Lektur Keagamaan, Departemen Agama, yang kini 
banyak mengagendakan kegiatannya di bidang pelestarian naskah-naskah Nusantara, 
khususnya yang bernuansa keagamaan. Mestinya bukan Departemen Agama. 

Setidaknya Departemen Budaya dan Pariwisata atau Perpustakaan Nasional menjadi 
lembaga negara terdepan menaungi kita semua. Jadi, layakkah kita merasa 
memiliki jika kita belum berpikir maksimal untuk menjaganya?( *) 

Oman Fathurahman
Ketua Umum Masyarakat 
Pernaskahan Nusantara 
(Manassa) 

http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ content/view/ 265714/



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke