Bismillaahirrohmaanirrohiim. Segala puji dan puja bagi tuhan semesta alam, 
Allah. Salawat dan Salam bagi baginda Muhammad dan keluarganya.
 
Gelombang Kehidupan dan Gaya Menghadapi
Sofwan Nadi
 
Tidaklah hidup dengan kehidupan, kalau tanpa mengalami berbagai gelombangnya... 
yang tak bisa kita sama ratakan betapa berat atas seorang dengan seorang yang 
lain. Ya, memang begitu adanya, tak bisa disamaratakan. Yang satu, ketika putus 
teman, dia tertawa; sementara yang lain, hatinya nestapa seolah tak ada bumi 
lagi yang dapat dipijak.
 
Banyak ragam gelombang menerpa, menghadang atau menerjang kehidupan kita. 
Menerpa ragawi fisik.. itu angin puting beliung atau arus air bah namanya. 
Tetapi menerpa batin, fikiran dan kejiwaan... menimbulkan kekalutan... 
kecemasan... Beragam cara orang menghadapi ragam gelombang ini.
 
Pada hematnya, ada 4 cara orang menghadapi gelombang kehidupan:
1) membiarkan begitu saja sampai gelombang surut
2) membangun bendungan atau melakukan pembendungan
3) menaiki perahu
4) bermain selancar.
 
A.Gaya membiarkan begitu saja sampai banjir surut
Cara ini kadang tepat dipakai dan kadang juga tidak tepat. Anjing menggonggong 
kafilah lalu, apakah bisa digolongkan kedalam cara ini? Mungkin tidak. Karena 
bagi sang kafilah, varian gelombang ini masih remeh, sehingga masih bisa 
berlalu dengan ringan.
 
Terpaan badai akibat Bom Marriot II sekarang nampaknya dirasa tidak seberat Bom 
Mariot I dulu. Badai I menerpakan akibat yang cukup lama terhadap krisis 
ekonomi, yang ke II nampaknya tidak begitu dirasa oleh masyarakat; aktifitas 
ekonomi tetap lancar, hanya tersendat beberapa saat.
Apakah fenomena ini termasuk membiarkan surut dengan sendirinya? Mungkin juga 
tidak. Karena dalam konsep ilmu anatomi saraf dan otak, dalam tubuh manusia ada 
sistem saraf pembelajar... ketika sistem itu sering bertemu dengan jenis 
rangsangan yang sama, maka saraf itu menjadi terbiasa dan tidak menimbulkan 
kejutan lagi. Sama halnya dengan saraf perasa... orang yang baru makan pedas, 
akan sangat pedas yang dirasa. Tetapi apabila mencoba lagi...mencoba lagi... 
maka tidak begitu sepedas sebagaimana yang dirasa.
 
Jadi, apa donk? Mungkin bagi orang yang sudah mengalami kebuntuan, cara ini 
biasanya diambil. Akan lebih bermutu, bila nalar fikiran dan rohaninya 
memaknakan dengan pasrah... kepepet... buntu... tak dapat lari... di seputarnya 
serigala dan jurang menganga... ilmu tak dapat lagi bekerja... Tawakkal kepada 
kebesaran Allah sajalah satu-satunya pilihan.
 
Tapi, kalau gaya ini diambil sejak awal fase gelombang... sebaiknya jangan... 
karena meninggalkan rasa syukur dengan ilmu, kesadaran dan peluang untuk 
belajar menghadapi gelombang yang Allah berikan kepada kita.
 
B. Membangun bendungan atau melakukan pembendungan
Gaya ini terlalu sering dipakai. Ada pihak yang berbeda pendapat, kita 
terburu-buru melakukan counter-action. Istilah-istilah sesat, bidah, murtad, 
kafir, zindiq, ... dipakai untuk melakukan pembendungan-pembendungan terhadap 
hal-hal yang tidak sesuai dengan angin/ arus keinginan dan fikiran kita.
 
Itu.. westernisasi. Itu... orientalis. Kata-kata ini dahulu juga dilemparkan 
kepada para pemikir-pemikir "nakal"
Itu ... tidak pancasilais... Itu komunis... Itu marxis... Itu tidak 
nasionalis.... Tuduhan-tuduhan ini dibuat untuk membendung apa saja yang tidak 
sama selera dengan kita.
 
Apakah bendungan? Bendungan hanya bermanfaat bila untuk tujuan 
penyaluran-penyaluran irigasi dan pemanfaatan energinya sebagai PLTA. Kalau 
kita membendung... sejatinya untuk memenej arus itu agar memberi dampak-belajar 
yang positif dan menjadikannya sebagai bahan-bahan pelatihan bagi menghadapi 
arus-arus yang diperkecil setelahnya.
 
Membendungnya 100%, tidak mungkin. Bocor, pasti. Dipaksa mampat 100%, akan 
menimbulkan air bah yang menghancurkan.
 
Adakah para tokoh-tokoh pemuka kita memiliki kemampuan untuk memenej gelombang 
sehingga bermanfaat bagi para pengikutnya?
Adakah pesantren kita sudah diupayakan untuk menjadi bendungan yang mampu 
memenej aliran-aliran menjadi program-program pelatihan mental-mental para 
santri untuk survive dengan berbagai badai kehidupan dan pemikiran di 
percaturan kehidupan nyata selepas menjadi alumni?
Ataukah kita hanya melakukan atau mencontohkan pemampatan 100% yang dapat 
berakibat pada kita dan orang-orang di sekitar kita akan digilas hancur oleh 
air bah yang tak ada yang dapat menolong kecuali Allah Yang Maha Perkasa?
 
C. Menaiki perahu.
Nabi Nuh alaihissalam pernah menggunakan. Gaya ini perlu dipertimbangkan dengan 
jenis gelombang, ukuran dan jumlah muatan. Perahu yang besar, tidak cekatan 
untuk bermain di gelombang yang besar. Perahu yang kecil saja, yang lincah 
bermain di Laut Selatan. Namun hanya untuk sedikit penumpang.
 
Organisasi adalah ibarat perahu. Organisasi dapat dipakai untuk melindungi, 
mengayomi, keperluan advokasi dan bahkan menentukan arah perjalanan para 
anggotanya. Semakin besar penumpang, semakin besar kemauan program, semakin 
limbung cara perahu berjalan dan manuver. Organisasi yang besar, seperti NU, 
sebaiknya dipecah-pecah menjadi kano-kano kecil dibawah satu komando yang 
ditaati secara disiplin, seperti Pasukan Muhammad Al-Fatih memasuki Spanyol 
dahulu. Kano-kano kecil ini janganlah berubah wujud menjadi kano yang serakah 
dengan pengayaan program-program, akan menjadi limbung kelak dan tidak efektif.
 
Mari kita belajar ke Cheko. Setelah Chekoslovakia mengalami peristiwa Revolusi 
Beludru di tahun 1992 menjatuhkan regim Komunis yang berkuasa. Seperti 
peristiwa Reformasi di Indonesia 1998 menjatuhkan regim Orba. Cheko dapat 
bangkit dalam 10 tahun sehingga ia mendapat posisi sebagai Pintu Gerbang Eropa 
di tahun 2002, kira-kira 10 tahun setelah Revolusi Beludru.
 
Bagaimana masyarakat Cheko membangun setelah keruntuhan regim? Sumber majalah 
yang saya peroleh dari kedubes Cheko di Jakarta berkenaan dengan perolehan 
anugerah Gerbang Eropa bagi Cheko menyebutkan bahwa ada 1 organisasi kepedulian 
berbanding 200 jiwa anggota. Jumlah yang sangat efektif ini mampu meng-counter 
partai-partai politik untuk dapat didikte menurut kemauan rakyat. Kalau tidak, 
nol suara untuk parpol. Apakah plafon organisasi-organisasi ini? Cukup 
sederhana. Sebut saja seperti klub pecinta sampah. Masyarakat RT peduli Ibu 
Hamil. Klub Pemuda pemerhati lingkungan. Forum Remaja pemerhati busung lapar. 
Remaja penolong kaum cacat. Singkatnya... semua keprihatinan yang dirasakan 
masyarakat ada organisasi yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat 
Cheko.. mengentaskan masalahnya dengan berorganisasi yang efektif.
 
D. Bermain selancar
Berselancar... asyik. Semakin besar dan cepat gelombang... semakin cepat 
bergerak... atraksi pun semakin menarik. Sungguh. Dada peselancar berdebar 
sejalan dengan gemuruh gelombang bersahut-sahutan...
Berselancar adalah keahlian individu... untuk memanfaatkan setiap arus 
gelombang. Energi yang dimiliki gelombang dia manfaatkan untuk menyampaikan 
maksud dia berselancar.
Berselancar perlu pelatihan-pelatihan... Berselancar adalah keterampilan yang 
diperlukan bagi setiap individu santri... Mental peselancar akan selalu tidak 
gentar dengan segala arus dan gelombang...
 
Epilog
Seyogyanya... kita dapat mencermati dari 4 gaya menghadapi gelombang di atas.
Kepada para individu santri, latihlah untuk berselancar... Jangan latih dia 
untuk membendung.
Kepada kelompok sejumlah santri.. arahkan untuk membentuk canoe.. yang diasah 
dengan kepedulian spesifik yang dapat diukur keberhasilannya
Kepada kumpulan dari canoe-canoe... latihlah IPNU atau KMNU atau Dewan Santri 
untuk dapat memelihara canoe-canoe ini tetap dapat mempertahankan semangat dan 
idealismenya... Bukan untuk memberangusnya... Tetapi membimbingnya untuk 
menggunakan alat-alat ukur untuk mengevaluasi keberhasilan apa yang caboe-canoe 
cita-citakan...Bukan yang dicita-citakan organisasi induk di atasnya.
Dalam setiap dada para peselancar dan pemain canoe... tanamkan tawakkal kepada 
Allah... Bahwa kebenaran itu datangnya dari Allah... bukan dari manusia... 
Hatta bukan dari kiyai, karena kiyai bukan Allah. Penanaman tauhid ini 
dibarengi dengan penanaman akhlak yang mulia. Misalnya, jangan karena tawakkal 
kepada Allah... lalu boleh angkuh dengan kiyai, karena kata tauhid, kiyai bukan 
Allah.
 
Wallaahu a'lam
31 8 2009
Romadon Kariim 10


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke