Assalamu;alaikum wrwb.
Saya berpaham begini, tidak jauh berbeda dgn Hermenutika Ghazalian.

1.Wahyu2 ALLAH itu adalah pokok2 peraturan yang diberikan oleh ALLAH kepada 
manusia. Artinya begini, Contoh; Daging Babi haram di makan, artinya setelah di 
gunakan akal, ilmu science dan kesehatan ternyata daging babi itu mengandung 
Fat atau lemak yang terburuk dari lemak daging2 binatang lainnya9sapi, ayam, 
dll) Jadi setiap yang akan merusak tubuh manusia dari yang dimakan adalah HARAM 
hukumnya. Jadi selain daging babi,kalau ada binatang lain yang merusak 
kesehatan adalah haram.

Tidak mungkin ALLAH akan memberitahukan mana yang haram dari sekian ribu macam 
daging binatang di bumi ini. ALLAH memberikan satu contoh daging saja.Begitu 
pula minuman alkohol kalau di minum banyak akan merusak,kalau ada faedahnya 
boleh di minum.

Kedau cantoh yang diberikan oleh ALLAH yaitu daging babi, alkohol, tidaklah 
haram absolut, 100% haram, tapi ALLAH memberikan kelonggaran dlm ayat tersebut" 
kalau terpakasa, kalau ada faedahnya" boleh di makan atau di minum.  Demikian 
bukan?

Jadi dalam memahami peraturan2 ALLAH haruslah menggunakan ilmu,dan pikiran.

2.Ada segolongan umat islam fanatik, haram kalau makan makanan yang di masak di 
penggorengan dagaing babi....sedangkan penggorengan itu sudah di cuci, dan 
pasti tidak akan merusak tubuh manusia. 

Begitu pula "ajinomoto" katanya di buat dari tulang babi. Bagi gol islam 
fanatik,(kurang ilmu) ajinomoto itu adalah haram, walaupun sudah diselidiki 
oleh ahli2 kesehatan tidak akan merusak tubuh manusia. Sesungguhnya memakai 
ajinomoto yangsedikit untuk membuat enek rasa, adalah bagus dan baik. Setiap 
yang baik adalah halal.

3.Begitupula pakaian wanita Jilbab.
saya sependapat dgn Ahli tafsir DR.Quraish, yang berpendapat wanita tidak wajib 
berjilabab...atas dasar rambut kepala adalah aurat.
Kalau kita gunakan pikiran dan diadakan survey, laki laki akan tertarik melihat 
wanita bukan dari rambutnya, tapi dari matanya, bibirnya dan wajah mukanya. 
Benar bukan? Jadi alasan rambut adalah aurat wanita yang harus di tutup, tidak 
masuk akal.

Akan masuk akal, kalau wanita2 yang tinggal di Arab ,padang pasir, dimana 
setiap detik menghembuskan jutaan Ton pasir panas ke udara, yang berbahaya bagi 
wanita dan laki2 kalau muka dan kepala tidak di tutup rapat...hanya 2 lobang 
saja untuk melihat.

3.Karena tidak ada surat kuasa dan mandat dari Rasul baik kepada sahabat2 dan 
keluarga rasul, konsekwensinya, semua golongan berhak menafsirkan ayat2 ALLAH 
dan hadits2 sebagai syariat Islam.
Tidak ada satu golongan yang bisa mengklaim bahwa dialah satu satunya
(baik Syiah maupun Sunni)yang berhak meneruskan dan menegakan agama Islam 
setelah Rasul  wafat.

4. Kalau semua merdeka menafsirkan Al Quran dan hadits2,maka akan terjadilah 
banyak tafsiran dan banyak golongan2 dalam islam. Itu adalah baik, siapa yang 
benar dialah yang akan dapat membawa umat Islam menjadi umat teladan,umat 
rahmatan lil'alamin.Semua berlomba lomba menuju jalan yanglurus.

Saya perhatikan umat nasrani, dapat hidup damai dan harmoni dari sekiat ratus 
sekte2 kristen, karena mereka diberikan kemerdekaan untuk menafsirkan bible, 
dan serahkan kepada umat untuk memilih sekte yang di sukainya.Inilah yang 
mebuat umat nasrani menjadi umat yang RELATIF DAMAI, dan HARMONI  dari umat 
Islam.

Seharusnya kita umat Islam dapat pula demikian, jangan hanya ada satu golongan 
islam saja Yang berhak menafsirkan Al Quran dan hadits.ita umat islam akan 
tetap berada di dalam kegelapan..terbelakang sebagaimana terbuti sekarang ini.

Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah 
Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk 
mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu 
ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".QS 27:19.

Wassalam





--- In [email protected], saidiman saidiman <idhi_man...@...> wrote:
>
> Hermeneutika Ghazalian: Mengaji Kitab Qãnūn al-Ta’wîl
> Reportase Ceramah Ramadan Ulil Abshar-Abdalla
>  
> Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi asy-Syafi'i (1058 -1111) 
> menulis sejumlah karya yang ditujukan tidak hanya untuk memberi respon 
> terhadap perdebatan pemikiran, melainkan juga jawaban langsung terhadap 
> persoalan sosial yang ia hadapi. Dengan keterlibatan semacam itu, al-Ghazali 
> tampak menyadari pluralitas sosial yang tidak mungkin direduksi dalam sikap 
> dan perilaku absolutis. 
> Pengajian kedua mengenai pemikiran Hujjat al-Islãm al-Ghazali yang diasuh 
> oleh Ulil Abshar-Abdalla (cendekiawan NU) di Yayasan Wakaf Paramadina 
> membahas kitab Qãnūn al-Ta’wîl. Kitab ini, menurut Ulil, memuat sejumlah 
> argumentasi yang bisa dijadikan pedoman dasar dalam setiap bentuk upaya 
> pembacaan Kitab Suci. Qãnūn al-Ta’wîl adalah buku yang berisi 
> gagasan-gagasan orisinal al-Ghazali mengenai cara membaca dan menafsirkan 
> Kitab Suci atau kita bisa menyebutnya sebagai hermeneutika Ghazalian.
> Ulil Abshar-Abdalla memulai pemaparannya dengan menyodorkan cara baca 
> al-Ghazali terhadap situasi sosial di mana ia hidup. Dalam kitab 
> al-Mustasyfã, al-Ghazali mengurai fakta pluralitas sosial yang disikapi 
> secara beragam. Ada dua kelompok besar yang memberi sikap berbeda terhadap 
> pluralitas pemikiran: mushawwibah dan mukhaththi’ah. Kelompok pertama 
> (mushawwibah)adalah mereka yang menyatakan bahwa jika terjadi pluralitas 
> pendapat, maka semuanya benar. Kalaupun hanya ada satu yang benar, namun yang 
> benar itu kita tidak tahu. Kelompok pertama ini mewakili kelompok toleran 
> yang cenderung diamini oleh al-Ghazali sendiri. Kelompok kedua 
> (mukhaththi’ah) justru datang dengan argumen bahwa jika ada pluralitas 
> pemikiran, maka semuanya salah, kecuali satu. Kelompok ini mewakili kelompok 
> absolutis.
> Menurut Ulil, perdebatan-perdebatan di masa al-Ghazali memiliki ciri khas 
> yang berbeda dengan masa sekarang. Di masa itu, perdebatannya adalah di 
> seputar metafisika. Hal ini adalah kelanjutan semata dari debat-debat 
> teologis antara Islam dan Kristen sejak awal kemunculan Islam. “Orang Islam 
> mengajukan kritik terhadap keyakinan Kristen yang dinilai tidak murni 
> monoteis (tauhîd) karena mengandaikan ada tri-tunggal ketuhanan,” kata 
> Ulil. “Tapi,” lanjut Ulil “kelompok Kristen balik mengajukan gugatan 
> dengan mengatakan bahwa justru Islamlah yang tidak murni monoteis karena 
> mengandaikan sifat Tuhan yang begitu banyak, sedikitnya ada dua puluh sifat 
> Tuhan.” Serangan dari kelompok Kristen inilah yang memaksa para filsuf dan 
> teolog Islam masuk ke dalam perdebatan metafisika. 
> Isu utama yang berkembang saat itu adalah mengenai bagaimana menjembatani 
> antara akal dan wahyu. Ulil mengurai lima kelompok yang dikemukakan 
> al-Ghazali dalam Qãnūn al-Ta’wîl. Pertama, kelompok yang menempatkan 
> wahyu di atas akal (tajrîd al-nadzãr ilã al-manqūl). Kelompok ini adalah 
> kelompok tekstualis yang sebenarnya sangat aman dalam beragama, sebab mereka 
> bisa langsung menerapkan seluruh ajaran agama sesuai dengan teksnya. Tetapi, 
> menurut al-Ghazali, kelompok ini tidak ideal. 
> Kedua, kelompok yang menempatkan akal di atas wahyu (tajrîd al-nadzãr ilã 
> al-ma’qūl). Kelompok ini, menurut Ulil, berisi para filsuf dan pemikir 
> spekulatif. Para filsuf yang dimaksud oleh al-Ghazali terutama adalah 
> al-Farabi dan Ibn Sina. Ibn Sina, misalnya, menyatakan bahwa sangat tidak 
> mungkin diterima konsep mengenai kebangkitan jasad, yang ada adalah 
> kebangkitan ruhani. Adapun gambaran tentang surga dan neraka yang tampak 
> sangat terkait dengan dunia materi itu hanya cara al-Qur’an untuk berbicara 
> kepada kelompok sosial kebanyakan. Pandangan para filsuf ini ditentang keras 
> oleh al-Ghazali. Al-Ghazali menyatakan bahwa implikasi pemikiran orang 
> seperti al-Farabi dan Ibn Sina adalah meragukan kebenaran dan kejujuran Nabi. 
> Jika perkataan Nabi bisa ditafsirkan tidak sesuai dengan apa adanya, maka 
> Nabi potensial tidak berkata jujur. 
> Kritikan keras al-Ghazali terhadap kelompok filsuf ini tampak kurang 
> konsisten dengan konsep lima wujud kebenaran yang ia kemukakan dalam Faishãl 
> al-Tafriqah. Seratus tahun kemudian, Ibn Rusyd, menurut Ulil, menggugat 
> al-Ghazali persis karena al-Ghazali menggunakan cara pandang orang awam untuk 
> mengkritik para filsuf. Al-Ghazali abai terhadap kebenaran para filsuf dan 
> melakukan penghakiman dengan standar kebenaran awam.
> Ketiga, kelompok yang berada di tengah tetapi cenderung dekat kepada kelompok 
> yang mengagungkan akal. Menurut Ulil, kalangan rasional Mu’tazilah bisa 
> masuk dalam kelompok ini.
> Keempat, kelompok yang berada di tengah tetapi cenderung dekat dengan 
> kelompok yang mengagungkan wahyu. Sunni secara umum bisa dimasukkan ke dalam 
> kelompok ini.
> Kelima, kelompok yang berada di tengah-tengah. Al-Ghazali menganggap kelompok 
> kelima ini adalah kelompok yang paling ideal dan berusaha ia capai. Kelompok 
> inilah yang disebut sebagai kelompok terbaik. Al-Qur’an menyatakan kuntum 
> khaira ummah ukhrijat li al-nãs (kalian adalah ummat terbaik yang hadir di 
> tengah-tengah manusia). Kelompok tengah ini juga disetujui oleh al-Qur’an: 
> wa kadzãlika ja’alnãkum ummatan wasatan (dan demikianlah kami menciptakan 
> kalian sebagai ummat moderat). 
> Namun begitu, menurut al-Ghazali, justru kelompok kelima inilah yang paling 
> susah. Al-Ghazali sendiri mengklaim berada pada kelompok ini. Namun, menurut 
> Ulil, al-Ghazali justru lebih tepat ditempatkan pada kelompok keempat bersama 
> kelompok al-Asy’ari dan Sunni secara umum. NU di Indonesia, bagi Ulil, juga 
> cenderung berada di kelompok keempat, yakni tengah kanan. 
> Posisi tengah yang dipilih oleh al-Ghazali bisa ditemukan dalam fakta gugatan 
> dia terhadap para filsuf. Namun pada saat yang sama dia juga mengkritik para 
> fatalis dan tekstualis. Meski wahyu dinggap sebagai sumber kebenaran, namun 
> bukan berarti akal diabaikan. Al-Ghazali justru menganggap bahwa akal adalah 
> pihak yang merekomendasikan agama. Akal memiliki posisi penting, karena hanya 
> akallah yang bisa memberi justifikasi kebenaran agama dan wahyu. Al-Ghazali 
> menyatakan wa man kadzdzaba al-aqla fa qad kadzdzaba al-syar’a (siapa yang 
> mendustakan akal maka sebenarnya ia mendustakan agama).
> [Saidiman]
> 
> 
>       Get your new Email address!
> Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke