Wah... karena kmnu2000 tidak mengizinkan lampiran, maka gambarnya tidak ada 
nihhhh.. jadi biar menambah wawasan, silahkan rujuk ke situs-situs berikut:
http://kadaikopi.carpediem123.com/wp-content/uploads/2009/03/atlantis3.jpg
http://atlan.org/author/resume.htm

http://atlan.org/articles/checklist/#checklist
http://atlan.org/

Ok selamat mencermati ke-Indonesia-an



________________________________
From: sofwan nadi <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: [email protected]; dedi suryadi <[email protected]>; Fatkhurrohman 
NU Chalim dr Ponakan <[email protected]>; nurul iman supardi 
<[email protected]>; Novalio Daratha <[email protected]>; Hendri 
Hestiawan <[email protected]>
Sent: Tuesday, September 29, 2009 5:25:37 PM
Subject: [kmnu2000] Wah... Indonesia di Promosikan oleh Ahli Geologi Dunia

  
From: dwi.nurhati@ sumitomocorp. co.jp <dwi.nurhati@ sumitomocorp. co.jp>
Subject: [sekolahalam] Indonesia Truly Atlantis
To: sekolahalam@ yahoogroups. com
Date: Monday, September 14, 2009, 2:59 PM

panjang sih... tp menarik... :)

____________ _________ _________ __
Indonesia, Truly Atlantis………. 
7 March 2009 611 views 3  Comments 
Ingat iklan pariwisata  Malaysia yang cantik itu ? Malaysia, Truly Asia… 
Banyak orang  kita yang sebal melihat iklan yang bagus itu, karena banyak  
hal-hal yang digambarkan dalam iklan itu sebenarnya lebih  banyak dijumpai di 
pelbagai wilayah Indonesia dari pada di  Malaysia. 
Yah, kita selalu ‘keduluan’ oleh mereka. 
Hal lain  yang menyebalkan menyangkut negeri tercinta ini adalah  manakala ada 
yang mengatakan bahwa banyak orang di Amerika  atau di luar negeri yang tidak 
mengenal Indonesia. Katanya  mereka tahu Bali, tapi Indonesia itu dimana sih…., 
konon tanya  mereka….. 
Tapi perkembangan terbaru rada beda ; mempromosikan  Indonesia akhir-akhir ini 
mestinya ibarat mendayung perahu ke  hilir, yang didorong arus sungai dari 
belakang. Banyak  kemudahan yang didapat secara gratis. 
Bukan hanya akibat  kedatangan Hillary Rodam Clinton, tapi terutama oleh ulah  
Prof. Arysio N. dos Santos yang menerbitkan buku yang  menggemparkan : 
“Atlantis the Lost Continents Finally Found”. 
Dimana  ditemukannya ? 
Secara tegas dinyatakannya bahwa lokasi Atlantis yang  hilang sejak kira-kira 
11.600 tahun yang lalu itu adalah di  Indonesia (!). 
Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun  yang lalu itu adalah 
benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis  yang memiliki peradaban yang sangat 
tinggi dengan alamnya yang  sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke 
dasar laut oleh  bencana banjir dan gempa bumi sebagai hukuman dari para Dewa.  
Kisah Atlantis ini dibahas dari masa ke masa, dan upaya  penelusuran terus pula 
dilakukan guna menemukan sisa-sisa  peradaban tinggi yang telah dicapai oleh 
bangsa Atlantis  itu. 
Pencarian dilakukan di samudera Atlantik, Laut Tengah,  Caribea, sampai ke 
kutub Utara. Pencarian ini sama sekali  tidak ada hasilnya, sehingga sebagian 
orang beranggapan bahwa  yang diceritakan Plato itu hanyalah negeri dongeng  
semata. 
Profesor Santos yang ahli  Fisika Nuklir ini menyatakan bahwa Atlantis tidak 
pernah  ditemukan karena dicari di tempat yang salah. 
Lokasi yang benar secara  menyakinkan adalah Indonesia, katanya.. Dia 
mengatakan bahwa  dia sudah meneliti kemungkinan lokasi Atlantis selama 29 
tahun  terakhir ini. 
Ilmu yang digunakan Santos dalam menelusur lokasi  Atlantis ini adalah ilmu 
Geologi, Astronomi, Paleontologi,  Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan 
Comparative  Mythology. 
Kualifikasi Santos dapat dilihat dengan cara di KLIK  DISINI. 
Buku Santos sewaktu ditanyakan ke ‘Amazon.com’ seminggu  yang lalu ternyata 
habis tidak bersisa. Bukunya ini terlink ke  400 buah sites di Internet, dan 
websitenya sendiri menurut  Santos selama ini telah dikunjungi sebanyak 
2.500.000  visits. 
Ini adalah iklan gratis untuk mengenalkan Indonesia  secara efektif ke dunia 
luar, yang tidak memerlukan dana 1 sen  pun dari Pemerintah RI. 
Sebagaimana dapat diikuti dari  websitenya, Plato menulis tentang Atlantis pada 
masa dimana  Yunani masih menjadi pusat kebudayaan Dunia Barat (Western  
World). 
Sampai saat ini belum dapat dideteksi apakah sang ahli  falsafah ini hanya 
menceritakan sebuah mitos, moral fable,  science fiction, ataukah sebenarnya 
dia menceritakan sebuah  kisah sejarah. Ataukah pula dia menjelaskan sebuah 
fakta  secara jujur bahwa Atlantis adalah sebuah realitas absolut ? 
Plato  bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan  emas, 
batuan mulia, dan ‘mother of all civilazation’ dengan  kerajaan berukuran benua 
yang menguasai pelayaran,  perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki 
jaringan  irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik,  dan 
olahraga. 
Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang  terhormat dan kaya, kemudian 
berubah menjadi ambisius. Para  dewa kemudian menghukum mereka dengan 
mendatangkan banjir,  letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang sedemikian  
dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu. 
Kisah-kisah  sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan  
bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam  kisah-kisah sakral 
tradisional di berbagai bagian dunia, yang  diceritakan dalam bahasa setempat. 
Menurut Santos, ukuran  waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before 
Present),  secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es  Pleistocene, 
yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa  yang sangat hebat. 
Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari  species mamalia yang hidup saat itu, 
termasuk kemungkinan juga  dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon. 
Sebelum  terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa,  Kalimantan 
dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung  Malaysia dan benua Asia. 

Gambar 1 : Atlantis 
Sulawesi, Maluku dan  Irian masih menyatu dengan benua Australia dan terpisah 
dengan  Sumatera dan lain-lain itu. Kedua kelompok pulau ini  dipisahkan oleh 
sebuah 

Gambar 2 : Atlantis (National  Geographic Magazine) 
selat yang mengikuti garis ‘Wallace’.  Lihat gambar 1. 
Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang  saling menekan, yang 
menimbulkan sederetan gunung berapi mulai  dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, 
dan terus ke Utara sampai  ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of 
Fire’. 
Gunung utama  yang disebutkan oleh Santos, yang memegang peranan penting  dalam 
bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung  lain’ (kemungkinan 
Gunung Toba). Gunung lain yang  disebut-sebut (dalam kaitannya dengan 
kisah-kisah mytologi  adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani. 
Bencana  alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan  dahsyat 
gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu  sendiri, dan membentuk 
sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda  yang jadinya memisahkan pulau Sumatera 
dan Jawa. 
Letusan ini  menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi,  
yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara  Sumatera dengan 
Semenanjung Malaysia, diantara Jawa dan  Kalimantan, dan antara Sumatera dan 
Kalimantan. 
Abu hasil  letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke  udara 
dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa  itu sebagian besar 
masih ditutup es (Zaman Es  Pleistocene) . 
Abu ini kemudian turun dan menutupi  lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es 
kemudian mencair  sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu  
tersebut. 
Gletser di kutub Utara dan Eropah kemudian meleleh dan  mengalir ke seluruh 
bagian bumi yang rendah, termasuk  Indonesia. 
Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang  menyebabkan air laut naik 
sekitar 130 meter diatas dataran  rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia 
tenggelam  dibawah muka laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan  
puncak-puncak gunung berapi. Lihat Gambar 1. 
Tekanan air yang besar  ini menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada  
lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan  letusan-letusan gunung 
berapi selanjutnya dan gempa bumi yang  dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya 
Zaman Es Pleitocene  secara dramatis. 
Dalam bukunya Plato menyebutkan bahwa  Atlantis adalah negara makmur yang 
bermandi matahari sepanjang  waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman 
Es, dimana  temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat  
Celcius lebih dingin dari sekarang. 
Lokasi yang bermandi  sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang 
memang  terletak di katulistiwa. 
Plato juga menyebutkan bahwa luas benua  Atlantis yang hilang itu “….lebih 
besar dari Lybia (Afrika  Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu…”. Luas ini 
persis  sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut  China 
Selatan. 
Menurut Profesor Santos, para ahli yang umumnya berasal  dari Barat, 
berkeyakinan teguh bahwa peradaban manusia berasal  dari dunia mereka. Tapi 
realitas menunjukkan bahwa Atlantis  berada di bawah perairan Indonesia dan 
bukan di tempat lain. 
Santos telah menduga hal  ini lebih dari 20 tahunan yang lalu sewaktu dia 
mencermati  tradisi-tradisi suci dari Junani, Roma, Mesir, Mesopotamia,  
Phoenicia, Amerindian, Hindu, Budha, dan  Judeo-Christian. 
Walau dikisahkan dalam bahasa mereka  masing-masing, ternyata istilah-istilah 
yang digunakan banyak  yang merujuk ke hal atau kejadian yang sama. 
Santos menyimpulkan bahwa  penduduk Atlantis terdiri dari beberapa suku/etnis, 
dimana 2  buah suku terbesar adalah Aryan dan Dravidas. 
Semua suku bangsa ini  sebelumya berasal dari Afrika 3 juta tahun yang lalu, 
yang  kemudian menyebar ke seluruh Eurasia dan ke Timur sampai  Auatralia lebih 
kurang 1 juta tahun yang lalu. 
Di Indonesia  mereka menemukan kondisi alam yang ideal untuk berkembang,  yang 
menumbuhkan pengetahuan tentang pertanian serta peradaban  secara menyeluruh. 
Ini terjadi pada zaman Pleistocene. 
Pada Zaman Es  itu, Atlantis adalah surga tropis dengan padang-padang yang  
indah, gunung, batu-batu mulia, metal berbagai jenis, parfum,  sungai, danau, 
saluran irigasi, pertanian yang sangat  produktif, istana emas dengan 
dinding-dinding perak, gajah,  dan bermacam hewan liar lainnya. 
Menurut Santos, hanya  Indonesialah yang sekaya ini (!). 
Ketika bencana yang  diceritakan diatas terjadi, dimana air laut naik setinggi  
kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa  keluar dan pindah 
ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia,  dan Amerika. 
Suku Aryan yang bermigrasi ke India mula-mula pindah  dan menetap di lembah 
Indus. . Karena glacier Himalaya juga  mencair dan menimbulkan banjir di lembah 
Indus, mereka  bermigrasi lebih lanjut ke Mesir, Mesopotamia, Palestin,  Afrika 
Utara, dan Asia Utara. 
Di tempat-tempat baru ini mereka kemudian  berupaya mengembangkan kembali 
budaya Atlantis yang merupakan  akar budaya mereka. 
Catatan terbaik dari tenggelamnya benua  Atlantis ini dicatat di India melalui 
tradisi-tradisi cuci di  daerah seperti Lanka, Kumari Kandan, Tripura, dan 
lain-lain.  Mereka adalah pewaris dari budaya yang tenggelam  tersebut. 
Suku Dravidas yang berkulit lebih gelap tetap tinggal  di Indonesia. 
Migrasi besar-besaran ini dapat menjelaskan timbulnya  secara tiba-tiba atau 
seketika teknologi maju seperti  pertanian, pengolahan batu mulia, metalurgi, 
agama, dan diatas  semuanya adalah bahasa dan abjad di seluruh dunia selama 
masa  yang disebut Neolithic Revolution. 
Bahasa-bahasa dapat  ditelusur berasal dari Sansekerta dan Dravida. Karenanya  
bahasa-bahasa di dunia sangat maju dipandang dari gramatika  dan semantik. 
Contohnya adalah abjad. Semua abjad menunjukkan adanya  “sidik jari” dari India 
yang pada masa itu merupakan bagian  yang integral dari Indonesia. 
Dari Indonesialah lahir bibit-bibit  peradaban yang kemudian berkembang menjadi 
budaya lembah  Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Junani, Minoan, Crete, Roma,  
Inka, Maya, Aztek, dan lain-lain. 
Budaya-budaya ini  mengenal mitos yang sangat mirip. Nama Atlantis diberbagai  
suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala, Patala, Talatala,  Thule, Tollan, 
Aztlan, Tluloc, dan lain-lain. 
Itulah ringkasan teori  Profesor Santos yang ingin membuktikan bahwa benua 
atlantis  yang hilang itu sebenarnya berada di Indonesia. 
Bukti-bukti  yang menguatkan Indonesia sebagai Atlantis, dibandingkan  dengan 
lokasi alternative lainnya disimpulkan Profesor Santos  dalam suatu matrix yang 
disebutnya sebagai ‘Checklist’ (KLIK  DISINI). 
Terlepas dari benar atau tidaknya teori ini, atau dapat  dibuktikannya atau 
tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah  laut di Indonesia, teori Profesor 
Santos ini sampai saat ini  ternyata mampu menarik perhatian orang-orang luar 
ke  Indonesia. 
Teori ini juga disusun dengan argumentasi atau hujjah  yang cukup jelas. 
Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas  bangsa Indonesia sekarang sama 
sekali “tidak meyakinkan” untuk  dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari 
bangsa-bangsa maju  yang diturunkannya itu, maka ini adalah suatu proses maju 
atau  mundurnya peradaban yang memakan waktu lebih dari sepuluh ribu  tahun. 
Contoh kecilnya, ya perbandingan yang sangat populer  tentang orang Malaysia 
dan Indonesia; dimana 30 tahunan yang  lalu mereka masih belajar dari kita, dan 
sekarang mereka  relatif berada di depan kita. 
Allah SWT juga berfirman bahwa nasib  manusia ini memang Dia pergilirkan. Yang 
mulia suatu saat akan  menjadi hina, dan sebaliknya. 
Profesor Santos akan terus melakukan  penelitian lapangan lebih lanjut guna 
membuktikan teorinya.  Kemajuan teknologi masa kini seperti satelit yang mampu  
memetakan dasar lautan, kapal selam mini untuk penelitian  (sebagaimana yang 
digunakan untuk menemukan kapal ‘Titanic’),  dan beragam peralatan canggih 
lainnya diharapkannya akan mampu  membantu mencari bukti-bukti pendukung yang 
kini diduga masih  tersembunyi di dasar laut di Indonesia. 
Apa yang dapat dilakukan  oleh pemerintah dan bangsa Indonesia ? 
Bagaimana pula pakar  Indonesia dari berbagai disiplin keilmuan menanggapi 
teori  yang sebenarnya “mengangkat” Indonesia ke posisi sangat  terhormat : 
sebagai asal usul peradaban bangsa-bangsa seluruh  dunia ini ? 
Coba dong beri pula perhatian yang memadai. 
Atau coba kita  renungkan penyebab Atlantis dulu dihancurkan : penduduk cerdas  
terhormat yang berubah menjadi ambisius serta berbagai  kelakuan buruk lainnya 
(mungkin ‘korupsi’ salah satunya). Nah,  salah-salah Indonesia sang “mantan 
Atlantis” ini bakal kena  hukuman lagi nanti kalau tidak mau berubah seperti 
yang  ditampakkan bangsa ini secara terang-terangan sekarang ini. 
Khususnya bagi warga Minang, ada juga ‘utak-atik’ yang  bisa dilakukan. 
Santos mengatakan berdasarkan penelitiannya bahwa  berbagai kisah tentang 
negara bak ‘surga’ yang kemudian  menjadi hilang, bencana banjir besar, letusan 
gunung berapi,  dan gempa dahsyat ditemui pada kisah-kisah berbagai bangsa di  
seluruh dunia. Kisah ini mirip satu dengan lainnya. 
Apa pula  kata Tambo Minangkabau tentang ranah Minang zaman baheula  ? 
“….Pada maso sabalun babalun balun, urang balun  pinangpun balun, samaso tanah 
ameh ko sabingkah jo  Simananjuang, kok gunuang baru sabingkah batu, tanah 
darek  balun lai leba……, lah timbua gunung Marapi” (Pada masa serba  belum, 
orang belum pinangpun belum, semasa tanah emas ini  masih menyatu dengan 
Semenanjung, gunung baru sebingkah batu,  tanah daratan belum lebar, sudah 
timbul gunung Merapi). Ada  lagi “…waktu bumi basintak naiak, lauik basintak 
turun…”  (Sewaktu daratan bergerak naik, laut bergerak turun). 
‘………Samaso tanah ameh sabingkah jo Simananjuang’ , ini  adalah masa sewaktu 
Atlantis masih exist. 

Salah satu Menhir di Mahat 
Konon kabarnya  pula, sejumlah menhir yang berjumlah 800an buah di Mahat  
posisinya menghadap kearah matahari terbit, atau kearah Timur. 
Arah  Timur dari Mahat adalah arah lokasi Atlantis versi Santos yang  tenggelam 
oleh tsunami, banjir, letusan gunung berapi dan  gempa bumi.Arah Timur dari 
Mahat adalah arah lokasi Atlantis  versi Santos yang tenggelam oleh tsunami, 
banjir, letusan  gunung berapi dan gempa bumi.. 
Pulau Sumaterapun ternyata tertulis dalam  kisah Atlantis, yang disebut sebagai 
Taprobane. 
Dulu  Taprobane ini diartikan sebagai Ceylon, tapi kalau melihat  ukuran 
besarnya tidak syak lagi bahwa Taprobane adalah  Sumatera yang dikisahkan kaya 
dengan emas, batuan mulia, dan  beragam binatang termasuk gajah. 
Itulah kira-kira teori  Santos secara sangat ringkas. 
Bagi yang berminat untuk membaca lebih  jelas, dapat langsung ke website 
Profesor Santos http://atlan. org/atau membeli bukunya  yang disebutkan diatas 
ke penerbit ‘Amazon.com’ (kalau sudah  ada terbitan barunya). 
Dan….perusahaan penerbangan mana yang  akan memulai dengan iklan : Indonesia, 
Truly  Atlantis………[eb] 

[Non-text portions of this message have been removed]


   


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke