Alhamdulillah... saudara-saudara dari UGM telah mengatakan apa yang ada dari 
kesedihan mereka.
Tapi saya bertanya-tanya mana NU dari UNAIR, ITS... dan arek-arek Universitas 
di Jatim?
Katanya basis NU, tapi saya tak pernah dengar gerakan ke-NU-an dari 
kampus-kampus Jatim.
Apa sudah dikuasai oleh mahasiswa non-nahdliyin...?

Adakah yang membuat mereka mandeg? Lalu apa?
Padahal dulu ada kawan bilang, geliat bangsa akan dimulai dari ekor... Ekor itu 
adalah Jatim karena Jakarta adalah kepalanya. Kalau kepala dipegang, ekor tetap 
bergeliat...
Tapi yang saya saksikan belum ada suara mahasiswa nahdliyin dari kampus-kampus 
Jatim.
Ada apa gerangan disana?




________________________________
From: Slamet Thohari <[email protected]>
To: KMNU 2000 <[email protected]>; Millenium CSIS 
<[email protected]>
Sent: Tuesday, September 29, 2009 6:12:19 PM
Subject: [kmnu2000] PETISI WARGA NU ALUMNI UGM

  


PETISI WARGA NU ALUMNI UGM

Assalamualaikum Wr Wb

Bismilliahirrohmani rrohim

Dewasa ini Nahdlatul Ulama
semakin dihantam masalah yang luar biasa. Keberadaannya tidak lagi menjadi
kekuatan yang mampu memberikan perubahan bagi ummat. Bahkan sebalikya, NU kini
tengah jauh bergerak meninggalkan umatnya yang secara umum merupakan masyarakat
kelas bawah: petani, nelayan, pedagang kecil, TKI dan seterusnya. Ini terbukti
NU tidak mampu memberikan kontribusi riil atas segala hal yang dialami oleh
umatnya, Kasus Lapindo, Tenaga Kerja Indonesia (TKI), berbagai penggusuran di
Surabaya, dan banyak kasus lainnya. Keberadaan NU sebagai organisasi tidak bisa
dirasakan manfaatnya oleh mayoritas kaum nahdliyin sendiri. NU justru hanya
menjadi kuda tunggangan bagi segelintir elite untuk menggapai nafsu duniawi
mereka di bidang politik, ekonomi, dan sosial. Banyak sekali elit NU baik di
pusat maupun daerah menggunakan NU demi pentingan politik individu dan
kekuasaan yang bersifat sementara. Kini, sebagai organisasi, NU sudah jauh dari
semangat transformasi sosial membela kaum lemah yang merupakan bagian terbesar
dalam NU itu sendiri.

Multamar NU yang ke 32 di
Makassar Januari 2010  merupakan moment
penting bagi NU untuk menentukan perubahan dalam tubuh NU. Untuk itu, setelah 
melakukan
konsolidasi baik secara lansung maupun via online, maka kami warga NU alumni
Universitas Gadjah Mada yang terdiri dari berbagai profesi pekerjaan, aktif di
berbagai organisasi sosial, serta berada di dalam negeri maupun luar negeri,
dengan ini menyatakan serta menyerukan kepada pihak-pihak yang terkait untuk:

1.   
Memilih ketua PBNU baik
tanfidiyah maupun syuriyah, yang tidak akan melibatkan NU dalam kepentingan
politik sesaat di Indonesia.

2.   
Memilih Ketua tanfidiyah
maupun syuriyah yang punya komitmen untuk memperjuangkan perubahan bagi
orang-orang mustad’afiin seperti, petani, nelayan, buruh dan seterusnya
merupakan mayoritas kaum NU itu sendiri.

3.   
Memilih Pemimpin NU bukan
orang yang berpaham kapitalisme liberal, sebab bagi kami liberalisasi ekonomi
merupakan ancaman serius bagi warga nahdliyin yang secara mayoritas adalah
orang miskin.

4.   
Memilih Pemimpin NU yang
mampu mengawal ideologi ahlussunnah wal jamaah dari ancaman berbagai ideologi
trans-national dan mengarah pada kekerasan dalam beragama

5.   
Memilih pemimpin NU yang
mampu menekan pemerintah ataupun pihak terkait untuk menyelesaikan masalah
luapan lumpur Lapindo Sidoarjo di mana kaum nahdliyin merupakan mayoritas
korban.

6.   
Memilih pemimpin NU yang
berpikir kritis transformatif dan membuka ruang seluas-luasnya pada ide-ide
baru dari kalangan muda dan mampu menjaga NU sebagai organisasi islam yang
moderat dan toleran.

7.   
Memilih pemimpin NU yang
akan tetap mengusung paham al-muhaafadzatun alaa al-qodiimi asholiih, wa-lahdu
bi al-jadidi al-aslah 

8.   
Memilih pemimpin NU yang
independen dan tidak tergantung pada kelompok pemodal manapun sehingga mampu
mengembalikan NU menjadi organisasi yang mandiri dan kuat.

9.   
 Memilih pemimpin NU yang mampu menjadikan NU
sebagai gerakan sosial yang dapat dirasakan manfaatnya bagi kaum nahdliyin
maupun masyarakat secara lebih luas

Demikian aspirasi dan harapan kami sebagai warga NU, apa yang
dituangkan di sini merupakan bagian dari kecintaan kami pada Nahdlatul Ulama.
Semoga segala niat dan usaha yang kami lakukan ini dapat terwujud dan NU
benar-benar menjadi organisasi sosial keagamaan mampu memberi manfaat
sebesar-besarnya bagi agama, negara, bangsa dan dunia. 

Wallahul
muwafiq illaa aqwaami at-thoriiq

Wassalamualaikum Wr Wb. 

Kami Warga NU alumni UGM

1.      
Achmad Munjid
(Akademisi, Philadelphia USA) 

2.      
Achmad Mustofa
(Pengusaha, Jakarta)

3.      
Aditya Pranomo (PNS,
Jogjakarta)

4.      
Ahmad Gelora
(Pengusaha, Kediri)

5.      
Ahmad Nur Khoiron
(Jakarta, Peneliti)

6.      
Alfisyah (Akademisi,
Banjarmasin)

7.      
Anas Makruf (PNS,
Jakarta)

8.      
Anwar Khumaini
(Jurnalis, Jakarta)

9.      
Ari Ujianto (Pekerja
Sosial, Jakarta)

10.  
Bosman Batubara
(Aktivis, Porong Sidoarjo)

11.  
Donna Ramhawati
(Peneliti,   Makasar)

12.  
Emma Rahmawati
(Pekerja NGO, Jogjakarta)

13.  
Fahrizal Yusuf Afandi
(Akademisi, Belgia)

14.  
Farid Assifa
(Jurnalis, Tasik Malaya)

15.  
Hadziqotul Aulawiyah
(Buruh, Jogjakarta)

16.  
Heru Prasetia
(Peneliti, Jogjakarta)

17.  
Indi Ainullah
(Akademisi, Yogyakarta)

18.  
Isti Wiyono (Aktivis,
Jakarta)

19.  
Kholid Syaerozy
(Akademisi, Jakarta)

20.  
Laila Alfirdaus
(Akademisi, Semarang)

21.  
Listiyono Santoso,
(Akademisi, Surabaya)

22.  
Loubna Dzakiah (Ibu
rumah tangga, Argentina)

23.  
Lukma nul Hakim
(Akademisi, Jogjakarta)

24.   Lutfi Makhasin Fauzie ( Akademisi,  Australia)

25.  
Miftachul Munif
(orang kecil, Gresik)

26.  
Mohamad Wayudin
(Peneliti, Jogjakarta)

27.  
Mohammad Tohadi
(Advokat, Jakarta)

28.  
Mohammad Uzair Fauzan
(Aktivis, Jepara)

29.  
Muhammad Danyal
(Pengusaha, Pati)

30.  
Muhammad Syaiful Rohman
(Pegiat Kebudayaan, Jogjakarta)

31.  
Rachmat Gustomy
(Penguasaha, Jakarta)

32.  
Ratna Mustika Sari
(Aktivis Perempuan, Jogjakarta)

33.  
Rika Iffati (Penerjemah,
Jogjakarta) 

34.  
Riza Hanafi,
(Akademisi, Australia)

35.  
Ryan Sugiarto (Penulis,
Jakarta)

36.  
Saiful Hakam
(Akademisi, Jogjakarta)

37.  
Shofa Laila (Ibu
Rumah Tangga, Jakarta)

38.  
Shohib Masyukur
(Jurnalis, Jakarta)

39.  
Sholahuddin (Orang
biasa, Tanggerang)

40.  
Sigit Giri Wibowo,
(Pekerja NGO, Tangerang)

41.  
Siti Malaeha Dewi
(Akademisi, Kudus)

42.  
Siti Muarifah (Guru,
Gresik)

43.  
Slamet Abdul Qohar
(Pengacara, Jakarta)

44.   Slamet Thohari (Akademisi, Hawaii USA)

45.   Sobirin (Peneliti, Pati)

46.  
Sumedi MP (Blogger,
Jakarta)

47.  
Suratno (Akademisi,
Jakarta)

48.  
Syahrul Mawardi
(Aktivis, Bandung)

49.  
Syamsul Maarif
Mujiharto (Akademisi, Jogjakarta)

50.  
Wahyudi Djafar
(Peneliti Masalah Konstitusi, Jakarta)

In nature there's no blemish but the mind
None can be called deformed but the unkind                                   
(William Shakespeare) 
Regard,Slamet Thohari 

[Non-text portions of this message have been removed]





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke