rom:  Roni Wiradinata 
Date: Fri, 2 Oct 2009 11:49:55 -0400
To: <kita-2...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: [KITA-2009] gempa di padang- update
  
Tita
dan temen2 semuanya, pada awal September ada diskusi diantara temen2
alumni ITB diantaranya tulisan dari rekan saya lulusan Geologi ITB
saudara Ariadi Subandrio. Tulisannya cukup menarik dilihat dari latar
belakang terjadinya gempa sampai bagaimana kita menyikapinya.
 
Mudah2an
bermanfaat, mohon disadari diskusi ini setelah kita mengalami gempa di
Jawa (Tasik-Sukabumi) dan pada saat itu sudah dikalkulasi bahwa patahan
di daerah Padang sudah "matang" tinggal menunggu waktu
untuk me-"release tension" akibat pertemuan lempeng2 yg ada.   
 
 
---
 
Bro,
yang
bisa kita ambil sebagai pelajaran : dari (peristiwa) ini menyadarkan
kita untuk lebih waspada. Kita ini terlahir memang sudah harus hidup
dengan bahaya (potensi bencana). Pemahaman ini yang jauh lebih penting
dan harus digarisbawahi. Dimanapun tinggal di Indonesia, dari segi
geologi Indonesia kita hidup dengan potensi bencana. Pertanyaan
dasarnya adalah, apakah kita SIAP hidup dengan kedekatan bencana ini?
Banyak negara mencontoh ke kita, mereka juga punya masalah yang sama.
Seperti sering disinggung oleh berbagai ahli lainnya, di California ada
yang namanya sun and back spot, bencana gempa disitu terus terjadi.
Kemudian di Jepang ada gempa dan gunung api. Indonesia juga memiliki
kedua ancaman itu, ada gempa dan gunung api. Ini adalah kejadian alam
yang tidak bisa kita cegah, semua orang tahu itu. Kita hanya punya
kemampuan untuk mengantisipasinya, dan bagaimana kita HIDUP BERSAMA
dengan potensi bencana itu.
 
Kasli sekalian ini buat cerita ke anak2mu ya,
He
eh, emang kita ini hidup di daerah yang disebut sebagai ring of fire :
istilah untuk suatu jalur untuk lingkar deretan gunung api. Jadi daerah
kita adalah daerah tektonik aktif, terutama di Indonesia bagian timur
dan di bagian barat dan selatan Indonesia bagian barat. Dua lempeng
besar yang membentuk kepulauan Indonesia, lempeng Eurasia dan lempeng
benua Australia. Lempeng Eurasia sangat “stabil”, mencakup wilayah
Sumatra, Kalimantan, dan sebagian Jawa. Lempeng “stabil” lainnya adalah
lempeng benua Australia di sebelah Timur. Interaksi kedua lempeng benua
Eurasia dan Benua India-Australia ini, diantaranya terjadi saling
susup-susupan (subduksi) tektonik. Di selatan Jawa ada lempeng Samudera
Hindia Australia, dimana lempeng ini menyusup ke dalam lempeng Eurasia
(Sumatra, Jawa) sedemikian rupa. Akibat proses gerak penyusupan itu lah
yang membuat lahirnya gunung api dan berjajar mulai jalur Bukit Barisan
sampai ke Jawa, dan terus sampai ke Nusa Tenggara, kemudian belok di
daerah Banda. Subduksi yang melahirkan deretan  ring of fire, sering
kita sebut dengan penyusupan dari lempeng Hindia Australia ke arah
lempeng Eurasia. Jalur ring of fire erat berhubungan dengan jalur
gempa. Ring of fire ada di bagian dalam, yaitu di bagian pegunungan di
darat, kemudian gempanya ada di laut. Tumbukannya yang menyebabkan
gempa yang ada di laut, di bagian barat Sumatra dan Selatan Jawa. 
 
Sedangkan
jika kita berbicara soal daerah stabil atau lempeng stabil, stabil itu
pengertiannya relatif sekali. Lempeng benua, Craton, lempeng tua yang
jauh dari benturan lempeng lainnya. Contohnya, Pulau Kalimantan
terutama pegunungan Schwaner termasuk daerah yang stabil secara
tektonik. Tidak ada gunung api saat ini, tidak ada gempa tektonik yang
diakibatkan dari daerah itu. Artinya, lempengnya stabil sekali di
tengah-tengah lempeng benua Eurasia. Yang tidak stabil, yang aktif itu
ada di pinggir lempeng. Sumatra bagian barat, Jawa bagian selatan,
kemudian di daerah sekitar Banda, Penunjaman di Utara Sulawesi. Daerah
ini terjadi penunjaman, daerah aktif yang terus menunjam, terus
bergerak lempengnya, saling bertumbukan saling menyusup satu dengan
yang lain. 
 
Ada istilah matang yang baru muncul beberapa kali
ini dan diperkenalkan oleh DR. Danny Hilman, seorang ahli gempa dengan
studi dari pertumbuhan coral di barat Sumatra. Matang dalam pengertian
ini adalah bisa dihitung displacement yang dilakukan dengan bantuan GPS
(Global Positioning System) yang mereka pasang di daerah sekitaran
Pagai-Sipora, ada pergerakan (dislokasi) beberapa sentimeter per tahun
plus ditambah denmgan data statistik dari suatu siklus 200 tahunan,
periode 300 tahunan, dst, dst. Untuk
kasus Barat Sumatra depan padang, pergerakan yang ada sekarang match.
Kalau pergerakan sekarang sekian, kalau tahun 1883 itu terjadi gempa,
berarti 300 tahun kemudian akan terjadi lagi, berati sudah cukup matang
sekarang. Jadi enam sentimeter per tahun kali 300 tahun berarti sekian meter. 
Berarti cukup matang, tinggal menunggu waktu. Plus minusnya 10-30 tahun, dan 
dalam kondisi matang yang didahului oleh
aktif geraknya lempeng di utara, adalah pemicu. Mudah-mudahan tidak
terjadi dalam waktu dekat karena kita belum siap. Tapi kawan2 di Sumbar
sudah cukup sering berlatih menghadapi ini, pelatihan massal, tsunami
drill dll.
 
Pengetahuan
kita akan sebaran zona stabil dan tak stabil, bukan berarti kita
mendorong orang untuk bertransmigrasi ke Kalimantan. Dari segi
stabilitas lempeng, Kalimantan jauh lebih stabil daripada di Sumatera
maupun di Jawa. Namun, jika kemudian ada protes, “disini juga ternyata
ada longsor yang bikin gempa?” Itu bukan gempa tektonik, bisa
disebabkan ketidakstabilan lereng, bisa longsor, bisa juga membentuk
gempa kecil. Adalah dinamika tektonik besar yang gempa-gempanya yang
merusak seperti yang terjadi kemaren ini. 
 
Political will
Political
will pemerintah sangat diperlukan. Kita, sebagai masyarakat belum
memiliki kesadaran bahwa kita hidup dengan potensi bencana. Karena
garis patokan kita adalah pemerintah, seharusnya adalah pemerintah yang
melakukan bimbingan ini. Sekarang ini momentum yang bagus untuk
menyadarkan pemerintah dan masyarakat, sudah saatnya kita menggalakkan,
membuat investasi ke depan. 
 
Kita
tidak tahu (kapan bencana itu) terjadi, seperti dikatakan pakar
geologi, akan terjadi di jalur-jalur aktif yang melintasi wilayah kita.
Terutama untuk daerah-daerah yang punya potensi bencana gempa, harus
dilakukan sosialisasi yang benar. Karena kita tidak bisa menghindar
dari bencana itu, dalam artian semua orang pindah ke daerah yang
“stabil” misal Kalimantan. Namun, kalau kita mau hidup di daerah rawan
gempa, sebaiknya juga harus siap dengan gempa itu sendiri. Dibandingkan
gunung api yang lebih mudah diprediksi dari pada gempa tektonik. Maka
sosialisasi berupa sebaran leaflet, penjelasan, pelatihan ke masyarakat
di rawan gempa dan tsunami seperti di pantai barat Sumatera dan selatan
Jawa harus digalakkan dan terprogram betul. Di semua daerah-daerah yang
punya potensi seperti itu, harus dibuat program-program yang melibatkan
LSM, masyarakat, asosiasi profesi, dan seterusnya. Pemerintah tidak
bisa turun sendiri, harus bahu membahu untuk menyadarkan masyarakat
bahwa mereka hidup di daerah rawan gempa. Bagaimana melihat,
mengantisipasi kalau terjadi goncangan, apa yang harus dilakukan.
Apakah bersembunyi di dalam rumah, keluar mencari daerah terbuka. Tanpa
mengurangi rasa bela sungkawa, kita harus belajar dari peristiwa ini
dan harus disosialisasikan terus-menerus. 
 
Harus
ada political will dari pemerintah untuk melakukannya. Kawan2 para
pemegang kebijakan, seperti Boeng Milton misalnya, bisa melakukan
desakan2, dapat menyampaikan, suarakan hal ini kalau dah dilantik
nanti. Terutama dalam kaitan dengan membuat tata ruang yang benar,
perencanaan yang genah, penegakan hukum yg tegas. dsb. Perlu kami
teruskan seperti yang disampaikan kawan-kawan peneliti kebumian bahwa
daerah lain selain barat Sumatra. Jawa bagian selatan dan daerah-daerah
lain juga memiliki potensi bahaya yang sama dan menuggu waktu saja.
Kita bicara seperti itu karena geologi itu bicaranya adalah jutaan
tahun. Dalam dunia Geologi, rentang waktu 100-200 tahun adalah jarak
waktu yang pendek, jadi plus minusnya mungkin 10-30 tahun. Sedangkan
rentang umur hidup kita hanya kisaran 60an tahun. 
 
Namun
dengan ini pun sudah cukup dijadikan dasar bagaimana hidup di daerah
tsunami, bagaimana caranya menyelamatkan hidup, dan sebagainya. Bencana
bisa terjadi minggu depan, bulan depan, tahun depan, di jalur selatan
akan terjadi gempa. Kalau kita tidak siap dengan rencana preventif,
dengan mitigasi yang benar, dengan sosialisasi yang benar, kita akan
mendapatkan hal yang serupa lagi, berulang lagi ditahun-tahun
mendatang. Ratapan dan kesedihan berulang. Mungkin bisa 10 tahun lagi,
20 tahun lagi atau besok sore.
 
Jauh lebih penting sekarang
dilakukan adalah melakukan persiapan atau AWAS (waspada)terhadap bahaya
alias potensi bencana, sehingga sebagai manusia berbudaya kita dapat
melakukan minimalisasi kemungkinan korban bencana alam.
lam-salam,
ar-. (Ariadi Subandrio) 

___________________

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke