James Richardson Logan, Sang Pencipta Nama Indonesia
Sebuah Kuburan, Sebuah Nama
OKTOBER lalu saya berkunjung ke Protestant Cemetery di Penang guna mencari 
makam James Richardson Logan, salah satu warga kehormatan Penang, yang juga 
menciptakan kata, thus khayalan tentang, Indonesia.
Francis Loh Kok Wah, seorang profesor dari Universiti Sains Malaysia, blogger 
Anil Netto dan wartawan Himanshu Bhatt menemani saya mencari makam tersebut. 
Francis Loh saya kenal dengan bukunya Democracy in Malaysia: Discourses and 
Practices. Dia juga lulusan Cornell University serta teman dekat Arief Budiman, 
dosen Universitas Melbourne, yang pernah mengajar saya pada 1980an di Salatiga.
Kami naik mobil Anil Netto dan berangkat dari The Gurney Resort Hotel, tempat 
saya menginap, menuju Jalan Sultan Ahmad Shah, dekat Lebuh Farquhar. Pemakaman 
terdapat di Jalan Sultan Ahmad Shah. Pintu masuk terletak persis depan Pusat 
Servis Kereta Toyota. Di belakang Protestant Cemetery terletak Catholic 
Cemetery. Mungkin ini pengaruh Inggris dimana orang Protestan dan Katholik 
dimakamkan terpisah. Di Jakarta, Salatiga, Semarang atau Surabaya, saya lihat 
kuburan Belanda tak dipisahkan antara Protestan dan Katholik.
Mulanya, kami mengamati sebuah papan dimana nama-nama orang penting yang 
dimakamkan dicatat. Pemakaman ini yang paling tua di Pulau Pinang. Ia didirikan 
oleh Francis Light, orang Inggris yang menyewa pulau ini dari Sultan Kedah pada 
tahun 1786, guna mendirikan koloni Inggris dengan nama resmi Straits 
Settlement. Posisi Pulau Pinang memang strategis di Selat Malaka. Kelak posisi 
strategis Selat Malaka juga memancing Thomas Raffles mendirikan pelabuhan 
Singapura pada 1819. Kerajaan Belanda, seabad sesudah Francis Light mendirikan 
koloni Penang, membangun pelabuhan Sabang di Pulau Weh, juga di Selat Malaka, 
pada 1887. Pemakaman Protestan ini didirikan pada 1789 atau tiga tahun sesudah 
kontrak dengan Sultan Kedah mulai. Francis Light juga dimakamkan disini. Dia 
meninggal karena malaria pada 21 Oktober 1794.
Francis Loh memimpin rombongan kecil kami menelusuri makam demi makam. Francis 
Loh kelahiran Penang. Dia lincah sekali, mencari batu nisan, satu demi satu. 
Banyak pepohonan tua dan rindang di makam ini. Tapi juga banyak nyamuk kecil. 
Saya sering memukul nyamuk di lengan dan kaki. Secara umum, ini pemakaman yang 
indah. Saya sering lihat kuburan ini diterakan dalam brosur turisme Penang. Ia 
juga bagian dari Penang Heritage Walk –sebuah route khusus jalan-jalan di 
Penang dimana tempat-tempat bersejarah diberi pengumuman, peta dan sejarahnya. 
American Express adalah sponsor dari Penang Heritage Walk.
Francis, Anil dan Himanshu tertarik membantu ketika saya beritahu bahwa James 
Richardson Logan adalah orang yang menciptakan kata “Indonesia.” Mereka kenal 
nama Logan. Di Penang ada Logan Street. Namun mereka tak sangka Logan pula yang 
menciptakan kata Indonesia.
Akhirnya, kami menemukan batu makam James Richardson Logan serta saudaranya, 
Abraham. Mereka dimakamkan bersama-sama. Tinggi makam ini sekitar 1.5 meter. 
Disana tercantum tanggal kelahiran dan kematian mereka. Saya duduk dan 
merenung. Himanshu mengambil gambar.
Di papan pengumuman, James Logan diterangkan sebagai, “Penang’s foremost man of 
the press and champion of the natives causes, enshrined in the Logan Memorial 
in the grounds of the high court.” Antara 1847 dan 1859, dia menerbitkan 
Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, yang kadang juga disebut 
Logan’s Journals total 27 volume, serta buku Language and Ethnology of the 
Indian Archipelago. Logan juga dikenal sebagai pembela hak asasi orang 
non-Eropa. Saya senang dengan keterangan ini. Logan dinilai sebagai seorang 
wartawan.
Menariknya, kami juga menemukan makam George Samuel Windsor Earl, mentor dan 
kolega James Logan. Earl adalah orang yang mula-mula membuka diskusi soal 
bagaimana mereka harus menamakan pulau-pulau yang terletak di Selat Malaka itu? 
Baik Semenanjung Malaka, Pulau Sumatra, Borneo, Jawa dan sebagainya. Dalam 
papan pengumuman, Earl diterangkan sebagai “asistant resident councillor” 
Straits Settlement pada 1805 hingga 1865 serta mengarang buku The Eastern Seas. 
Terminologi “eastern seas” mengacu pada kepulauan yang sekarang disebut 
Indonesia, Singapura, Brunei, Filipina dan Malaysia.
KATA “Indonesia” pertama kali dibuat pada 1850 –mulanya dalam bentuk 
“Indu-nesians”– oleh George Samuel Windsor Earl. Dia menulisnya dalam Journal 
of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Earl sedang mencari-cari 
terminologi etnografis untuk menerangkan “… that branch of the Polynesian race 
inhabiting the Indian Archipelago” atau “the brown races of the Indian 
Archipelago.”
Namun, walau sudah menggabungkan dua kata itu, masing-masing dari kata “Indu” 
atau “Hindu” dengan kata “nesos” atau “pulau” dari bahasa Yunani, Earl 
menolaknya sendiri. Dia menganggap kata “Indunesia” terlalu umum. Earl 
menawarkan terminologi lain, yang dinilainya lebih jelas, “Malayunesians.”
Himanshu Bhatt mengatakan pada saya bahwa kata “mala” atau “malaya” artinya 
“gunung” dari bahasa-bahasa Tamil atau Dravidia di kawasan India. Dia 
mengingatkan saya nama Puncak Himalaya. Kata “him” –termasuk dalam nama 
Himanshu sendiri– artinya es atau dingin atau salju. Maka Himalaya artinya 
“gunung salju.” Para pendatang Tamil atau Kerala dari waktu tiu British India, 
ketika tiba di Pulau Penang mengikuti Francis Light, menyebut orang-orang 
lokal, yang tinggal di sekitar gunung, sebagai “Malayan” alias “orang gunung.” 
Malayan lantas berubah jadi Malay dan Melayu.
James Logan menanggapi usul George Earl soal “Indunesians.” Logan berpendapat 
“Indonesian” merupakan kata yang lebih menjelaskan dan lebih tepat daripada 
kata “Malayunesians,” terutama untuk pemahaman geografi, daripada secara 
etnografi.
“I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter 
synonym for the Indian islands or the Indian Archipelago. We thus get 
Indonesian for Indian Archipelagian or Archipelagic, and Indonesians for Indian 
Archipelagians or Indian Islanders.”
R. E. Elson dalam bukunya The Idea of Indonesia menulis James Logan adalah 
orang pertama yang menggunakan kata “Indonesia” untuk menerangkan kawasan ini. 
Logan lantas memakai kata “Indonesian” maupun “Indonesians” untuk menerangkan 
orang-orang yang tinggal di kawasan ini. Dia membagi “Indonesia” dalam empat 
daerah, dari Sumatra hingga Formosa.
Namun kata “Indonesia” tak segera populer. Elson menerangkan bahwa pada 1877, 
E. T. Hamy, seorang anthropolog Prancis, memakai kata “Indonesians” untuk 
menerangkan kelompok-kelompok pra-Melayu di kepulauan ini. Pada 1880, 
anthropolog Inggris A. H. Keane mengikuti Hamy. Perlahan-lahan kata “Indonesia” 
dipakai para ilmuwan sosial, termasuk Adolf Bastian, ahli etnografi terkenal 
dari Berlin, yang setuju dengan penjelasan James Logan serta memakai kata 
“Indonesia” dalam karya klasiknya, Indonesien oder die Inseln des Malayischen 
Archipel, lima jilid terbitan 1884–1894. Reputasi Bastian membuat kata 
“Indonesia” jadi pindah dari jurnal kecil terbitan Penang ke tempat terhormat 
di kalangan akademisi Eropa.
Ia mendorong profesor-profesor di Belanda ikut memakai terminologi ini. G. A. 
Wilken, profesor di Universitas Leiden, pada 1885 memakai kata “Indonesia” 
untuk menerangkan Hindia Belanda. Wilken mengagumi karya Adolf Bastian. 
Profesor lain termasuk H. Kern (ahli bahasa kuno), G. K. Niemann, C. M. Pleyte, 
Christiaan Snouck Hurgronje maupun A. C. Kruyt, mengikuti Wilken.
Pada awal abad 20, kata benda “Indonesier” dan kata sifat “Indonesich” sudah 
tenar digunakan oleh para pemrakarsa politik etis, baik di Belanda maupun 
Hindia Belanda. Pada September 1922, saat pergantian ketua antara Dr. Soetomo 
dan Herman Kartawisastra, organisasi Indische Vereeniging di Belanda mengubah 
nama menjadi Indonesische Vereeniging. Perhimpunan ini banyak berperan dalam 
merumuskan nasionalisme Indonesia. Pada 1926, ketika Mohammad Hatta menjadi 
ketua Indonesische Vereeniging, pembentukan nasionalisme Indonesia makin 
dimatangkan. Ia hanya soal waktu sebelum terminologi “Indonesia” digunakan oleh 
orang-orang berpendidikan di kota-kota besar Hindia Belanda.
Francis Loh Kok Wah juga mengajak saya melihat Logan Memorial. Pada batu marmer 
dijelaskan bahwa James Logan kelahiran Berwickshire, Skotlandia, pada 10 April 
1819. Dia kuliah hukum di Edinburg. Dia tiba di Penang pada 1840, saat berumur 
20 tahun, bersama saudaranya, Abraham. Mereka pindah ke Singapura pada 1842 
namun James kembali ke Penang pada 1853. Dia membeli dan menyunting Penang 
Gazette. Abraham tinggal di Singapura serta mendirikan suratkabar Singapore 
Free Press.
Namun James Logan meninggal sakit malaria pada 20 Oktober 1869 dalam usia 50 
tahun. Kematian James Logan dianggap sebagai kehilangan besar di Penang. 
Masyarakat Straits Settlement, termasuk orang Eropa, India, Cina maupun Melayu, 
mengumpulkan uang dan mendirikan peringatan untuk menghormati James Richardson 
Logan. Dudukan dari memorial ini punya empat sisi. Masing-masing dicantumkan 
kata sifat yang mencerminkan kepribadian James Logan: temperance 
(kesederhanaan), justice (keadilan), fortitude (tabah, ulet) dan wisdom (bijak).
Memorial ini mulanya didirikan di depan Supreme Court guna mengingat apa yang 
dilakukan James Logan untuk masyarakat Penang. Saat Perang Dunia II, memorial 
ini dipindahkan, namun dikembalikan lagi ke posisi semula. Tahun lalu, ia 
dipindahkan ke tempat sekarang, mengikuti renovasi dan perluasan gedung 
mahkamah hukum ini. Di memorial marmer ini ditulis, “He was an erudite and 
skillful lawyer, an eminent scientific ethnologist and he has founded a 
literature for these settlements ….”
Francis Loh mengatakan bahwa saya adalah orang kedua yang minta bantuannya 
keliling Penang serta mencari sesuatu dari masa lalunya. Orang pertama adalah 
Benedict Anderson, profesor dari Cornell University, yang terkenal dengan buku 
Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism.
Dalam Penang Heritage Trust Newsletter edisi Mei-Juli 2003, Anderson menulis 
pengalamannya menelusuri Penang. Dia bilang ayahnya, James Carew O’Gorman 
Anderson, meninggal pada 1946 ketika Benedict baru berumur sembilan tahun, adik 
lelakinya umur tujuh dan adik perempuan tiga tahun. Anderson bersaudara kurang 
mengenal ayah mereka kecuali tahu bahwa dia dilahirkan di Penang pada Juli 
1893. James Anderson tinggal di sebuah bungalow bernama Grace Dieu di Penang 
Hill. Dia seorang insinyur militer dengan pangkat kapten. Dia menikah dengan 
Veronica Beatrice Mary. Anak pertama mereka, Benedict, lahir di Kunming, 
Tiongkok, pada 1936. Keluarga Anderson pindah ke California pada 1941.
Ini kebetulan yang menarik sekali. James Richardson Logan adalah orang yang 
menciptakan khayalan soal Indonesia, betapa pun kaburnya terminologi tersebut, 
pada 1850. Benedict Anderson adalah guru nasionalisme terkemuka, yang banyak 
menggunakan Indonesia sebagai bahan studinya dalam buku Imagined Communities, 
terbitan 1991. Mereka terkait dengan Penang. Karya mereka terpaut sekitar 150 
tahun.
Hari ini, terminologi Indonesia lebih dilekatkan pada negara Indonesia, yang 
menggantikan Hindia Belanda, pada 1950, seratus tahun sesudah polemik George 
Earl dan James Logan. Indunesia dalam terminologi Logan berubah menjadi 
beberapa negara, termasuk Indonesia, Singapura dan Malaysia. Ironisnya, Penang, 
tempat dimana nama dan khayalan ini diciptakan, tidak masuk dalam wilayah 
negara Indonesia. Penang masuk Malaysia. Semenanjung Malaka dan Pulau Sumatra, 
yang kebudayaannya kental Melayu, terpisah menjadi dua negara. Papua Barat, 
yang sama sekali tak masuk dalam khayalan Logan, malah masuk wilayah Indonesia. 
Malaysia dan Indonesia menjadi dua negara berbeda karena mulanya mereka 
disatukan secara administrasi oleh dua kerajaan Eropa yang berbeda: Kerajaan 
Inggris dan Kerajaan Belanda. Lucunya, dalam buku-buku pelajaran 
sejarah-sejarahan, Indonesia dikatakan ada sejak zaman Majapahit, lengkap 
dengan Sumpah Palapa oleh pati Gajah Mada dan gula-gula lainnya.
 Perjalanan ke Protestant Cemetery mengungkapkan politik real.
Saya senang bisa berjalan-jalan di Protestant Cemetery bersama Francis Loh, 
Anil Netto dan Himanshu Bhatt. Francis cerita dengan passionate bagaimana dia 
menemani Anderson, mantan profesornya di Cornell, jalan-jalan di kuburan dan 
Penang Hill. Sore yang indah. Kami kembali ke The Gurney Resort Hotel dengan 
banyak kenangan. Saya lega bisa melihat makam orang yang menciptakan khayalan 
Indunesia. (sumber:www.andreasharsono.blogspot.com)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke