From: Bayu Gautama <[email protected]>
Subject: [daarut-tauhiid] Dua Puluh Ribu Rupiah dari Emak Nurdianah
To: [email protected]
Date: Monday, October 5, 2009, 4:55 PM

  Dua Puluh Ribu Rupiah dari Emak Nurdianah

Seorang ibu tua berusia diatas 70 tahun berjalan tertatih memasuki
Posko Utama ACT di Jl. Adinegoro no. 31, Kecamatan Koto Tangah, Kota
Padang, Minggu 4 Oktober 2009. Tangannya gemetar menggenggam sesuatu,
“Ini posko kemanusiaan ya?” bibirnya ikut bergetar. Serempak beberapa
relawan mendekatinya, “Benar mak, ada yang bisa kami bantu?”

Sebuah pertanyaan standar, sebab kami mengira bahwa Ibu tua itu hendak
meminta bantuan untuk korban gempa. Namun ternyata kami salah karena ia
datang justru untuk memberi bantuan, “Emak mau kasih bantuan, tolong
disampaikan kepada para korban gempa. Melihat kalian yang muda-muda ini
bekerja, sebenarnya emak ingin menjadi relawan. Tapi emak sudah tua,
emak nggak kuat lagi, sudah nggak kuat lagi,” ujar Emak Nurdianah
bersemangat.

Emak Nurdianah mengaku lahir tahun 1938, mendatangi posko ACT
menitipkan uang dua puluh ribu rupiah untuk disalurkan kepada para
korban gempa. Padahal ia sendiri pun salah satu korban gempa di Kota
Padang yang mengguncang tanah Sumatera 30 September 2009 lalu. Lebih
dari 600 orang menjadi korban jiwa, belum termasuk lima ratusan lainnya
yang belum ditemukan hingga hari ke -6 pasca gempa, mereka tersebar di
beberapa titik seperti Tandikek dan Sicincin. Sedangkan pengungsi
mencapai ratusan ribu, tersebar di seluruh Sumatera Barat. 

“Emak terharu melihat kalian, datang dari jauh untuk membantu tempat
emak. Sebagai orang Minang, emak merasa harus pula membantu tanah emak
sendiri, emak tidak mau kalah sama kalian. Dulu emak ini pejuang,
angkat senjata…. Sekarang emak sudah tidak sanggup bekerja berat. Emak
cuma bisa titip ini,” sambil menyerahkan uang digenggamannya kepada
Romi, salah seorang relawan. 

Ketika Romi hendak membuatkan tanda terima, Mak Nur menolak dengan
halus, “Tak perlulah catatan macam itu, cukup Allah saja yang
mencatatnya. Emak hanya minta doakan, tahun ini emak naik haji agar
dilancarkan sampai kembali lagi ke sini ya…” sebuah permintaan
sederhana yang sudah pasti semua relawan yang ada di Posko saat itu
serempak mendoakan, “semoga dilancarkan mak, insya Allah mabrur” Boleh
jadi haji Mak Nur sudah diterima Allah bahkan sebelum ia bertamu ke
rumah Allah nanti.

“Sekali lagi terima kasih, kalian anak-anak muda, jaga kesehatan ya
biar lebih lama di tanah kelahiran emak, biar lebih banyak orang yang
bisa dibantu…” Emak Nur pun pamit pergi meninggalkan posko sambil
memeluk satu persatu relawan yang ada di posko, beberapa relawan
perempuan pun tak luput mendapat ciuman hangat bak seorang ibu yang
tengah mengalirkan energi cinta kepada anak-anaknya. Jelas pelukan
hangat Mak Nur memberi energi lebih kepada para relawan untuk
menjalankan misi kemanusiaan tanpa kenal lelah. Semakin kami sadar
bahwa di belakang kami terdapat orang-orang yang terus menopang segala
pengorbanan di lokasi bencana.

Dua puluh ribu rupiah yang dititikan Mak Nur rasanya sangat bernilai
tinggi bagi kami yang diamanahkan untuk meneruskannya kepada para
korban gempa. Sebuah kehormatan bagi segenap relawan ACT yang mendapat
amanah bernilai luhur dari seorang Mak Nur. Sungguh, titipan dari
sejuta Mak Nur di belahan bumi pertiwi yang tak dapat kami berjumpa
satu persatu merupakan amanah tertinggi yang wajib kami panggul secara
terhormat di pundak ini. Terima kasih Mak Nur, dua puluh ribu rupiah
milik Mak Nur menambah semangat kami… (Gaw)

http://actforhumani ty.or.id

Bayu Gawtama 
Life-Sharer 
http://solifecenter .com
0852 190 68581



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke