Salam sedulur Nahdliyin...

Sebelum saya menulis lebih lanjut...saya megnusulkan kepada Muktamar NU untuk 
mem"bahtsulmasail"kan kembali tema NU vis a vis Negara sehingga keputusannya 
menjadi pedoman bagi kami kedepan dalam memandang Negara Kesatuan Republik 
Indonesia.
Ini perlu, sebelum pemahaman-pemahaman kami berkembang secara tak terkendali 
dan memaksakan pendapat kedalam kiprah ke-NU-an.
Karena saya sadar, bahwa saya mengandung kemungkinan salah, meski tidak 
semuanya dapat disalahkan. Juga tidak mustahil ada yang benar, meskipun tidak 
mustahil ada yang tidak benar.

Misi Agung Risalah para Nabi dan Rosul Vis-à-vis Negara

Sofwan Nadi

Risalah diturunkan ke bumi mengandung dua tema besar. (1) Mempertuhankan Allah 
Yang Maha Esa; dengan bahasa lain: mengalihkan hamba dari mempertuhankan 
makhluk kepada mempertuhankan Khalik. (2) Menyebarkan Rahmat di alam semesta, 
secara khususnya: menyemarakan perbuatan di muka bumi dengan Akhlak Mulia.

Mari kita telusuri sejarah para nabi dan rosul Vis-à-vis Negara.

Nabi Ibrohim as... datang untuk mengajak Namrudz menyembah Allah dan 
mengalihkan rakyat dari menganggap Namrudz sebagai Tuhan. Nabi Ibrohim as tidak 
pernah menunjukkan sedikitpun tujuan untuk mengambil kekuasaan Namrudz.

Nabi Yusuf as... meski sempat menjadi seorang menteri di Kerajaan Firaun tidak 
menunjukkan keinginan untuk berusaha merebut kekuasaan Raja Firaun; melainkan 
sepanjang itu, dia hanya menjadi menteri yang baik dan amanah dengan 
tugas-tugas yang telah diberikan kepadanya.

Nabi Dawud... menjadi raja tidak merebutnya dari Thalut. Melainkan proses 
suksesi yang damai sepeninggal udzurnya Thalut. Thalut mengambil kekuasaan dari 
Jalut bukan sebab ketidak-Islam-an si Jalut, melainkan keangkara-murkaan yang 
harus dihentikan. Dan kebetulan dia mati dalam pertempuran, sudah barang tentu 
pemenang mengambil alih kekuasaan yang ditinggalkan.

Nabi Sulaiman... Raja, nabi dan rasul. Kedudukan raja sebab ia putra mahkota 
Raja Dawud, sang raja, nabi dan rasul. Alaihimassalaam. Dalam misinya kepada 
Balqis, beliau hanya mengajaknya untuk "Jangan angkuh atasku, tetapi datanglah 
dengan tulus (muslim)". Namun Balqis memperoleh hidayah untuk memeluk Islam dan 
menyembah Allah; bukan atas permintaan Nabi Sulaiman. [Catat: kata "muslim" 
dalam ayat tsb dipertentangakan dengan kata "jangan angkuh atasku", artinya 
makna muslim tidak bisa "diklaim" semata-mata dimaksudkan sebagai agama Islam]

Nabi Musa as... Beliau alumnus Universitas Kerajaan Firaun yang cerdas, 
gemilang dan pemberani. Dipercayai untuk menjabat berbagai jabatan tinggi dan 
memperoleh kepercayaan yang istimewa disisi Raja Firaun. Namun ketika dipilih 
untuk membawa misi risalah, tidak pernah tercetuskan dari beliau untuk merebut 
kekuasaan Raja Firaun, melainkan menyerunya untuk menyembah Allah.

Semua para nabi dan rasul...dalam sejarah mereka...dalam perkataan mereka... 
tak tercetuskan kehendak untuk melakukan perebutan kekuasaan, padahal kekuasaan 
dipercayai sebagai satu-satunya alat yang paling ampuh untuk menegakkan syariat 
Allah di muka bumi. Ini menandakan bahwa syariat Allah yang dibawa mereka 
memiliki semangat yang sama, yaitu untuk diamalkan atas inisiatif kedirian 
sebagai hamba terhadap Khaliknya. Bukan atas inisiatif Raja atas Rakyatnya.

Mari kita telusuri "hikmah tasyri' " dari Nabi Muhammad saw dan Ahli Baitnya 
'alaihimussalam Vis-à-vis Negara.

Ajakan diatas menyebutnya "hikmah tasyri' ", maksudnya pemaknaan yang dipahami 
dari fenomena membaca siroh. Jadi, pembaca boleh tidak setuju. Disini, 
dihindarkan hal-hal yang bersifat indoktrinasi dan klaim kebenaran melulu 
(mujarrodul haq). Ini dilakukan, untuk membiasakan diri dengan akhlak 
berdiskusi dalam kegiatan menuntut ilmu.

NABI MUHAMMAD Vis-à-vis NEGARA

Yang dimaksud negara di judul barusan adalah negara luar; cara memandang kepada 
negara luar.

Pernah kita dengar atau baca berikut ini; Konon dari Baginda Nabi saw:
Seru mereka kepada Dua Kalimat Syahadat. Kalau tidak mau, minta mereka bayar 
jizyah. Kalau tidak mau, ajak berperang.

Mengapa seruan itu demikian "merinding" untuk direnungi pada zaman sekarang?
Kalau kita merenungi kondisi riel zaman itu dimana imperialisme sedang 
subur-suburnya. Di semua arah mata angin, Imperium Romawi dan Persia 
berseliweran membahana menjajah semua wilayah yang ada. Maka untuk menunjukkan 
eksistensi pada zaman itu hanya satu: Unjuk kekuatan untuk mengimbangi 
ketidak-adilan yang diciptakan oleh kekuasaan dua imperium yang mengganas demi 
dua tema agung risalah yang disebutkan didepan dapat tersampaikan dengan baik 
sesuai amanah yang diberikan. Ingin tahu bagaimana kebengisan kedua imperium 
itu? Tonton saja beberapa film yang berlatar belakang kehidupan di kedua 
imperium.

Sebagaimana Nabi Ibrohim yang harus berhadapan dengan Namrudz... Maka sang 
Cucunda yang agung Nabi Muhammad pun mesti berhadapan dengan Imperium Romawi 
dan Persia.. untuk dua tema utama: Mempertuhankan Allah dan Menyebarkan Rahmat 
Allah.

Gaung keesaan Allah yang berhak dipertuhankan perlu menggema sebesar gema 
kekuasaan Romawi dan Persia. Gaung rahmat Allah (keadilan, kesamaan derajat, 
mengutamakan kebersamaan, nilai-nilai akhlak mulia dll) perlu membahana dengan 
kuat sebagaimana kuatnya gaung ajaran-ajaran kekuasaan Romawi dan Persia. 
Dengan begitu, semua alam dapat mendengar, dapat mengambil perbandingan, dapat 
mengambil pelajaran, kemudian dapat menentukan pilihan untuk bersikap. Yang 
benar akan dicenderungi...yang bathil akan ditinggalkan... Hal ini 
dimungkinkan, apabila manusia mendapat pelajaran atau informasi yang 
seimbang... Untuk itulah Baginda Muhammad menyerukan ini...sesuai dengan 
tematik perbuatan yang lazim pada zaman itu.

Dua tema itu abadi... tetapi cara berbeda. Keadaan di zaman Nabi Muhammad sudah 
tidak sama dengan keadaan di zaman kita hari ini. Jadi, meminta jizyah dan 
mengajak berperang sudah perlu dikondisikan dengan zaman yang berbeda juga.

Kini, mari tengok apa "hikmah tasyri' " dari para Ahli Bait alaihimussalam 
Vis-à-vis Negara.

AHLI BAIT Vis-à-vis NEGARA

Yang dimaksud negara dalam judul barusan adalah negara sendiri. Yakni negara 
dimana para Ahli Bait sebagai penduduknya.

1) Ibunda Fatimah

Mulai dari Ibunda Fatimah sang suci as. Ketika keluarga besar Banu Hasyim 
dirundung duka sepeninggal kewafatan sang kekasih mereka, tumpuan rindu dan 
duka mereka, yakni Baginda Muhammad solawatullahi alaihi wa-aalihii. Mereka 
tidak pernah berfikir sedikitpun untuk mengurusi ahwal kaum muslimin pada 
umumnya. Imam Ali as, yang seringkali mendapat tugas men-tadbir urusan keluarga 
besar, khususnya, pada saat-saat Baginda bepergian, iapun disibukkan dengan 
rutinitas menyelesaikan hal-hal yang terkait dengan pribadi beliau. Apakah 
wasiyat, amanat, keterkaitan hak pribadi beliau dengan orang lain dan 
lain-lain. Kepentingan ini mengalihkan beliau dari urusan ahwal umum kaum 
muslimin. Maka Abu Bakar ra mengisi kekosongan ini dengan baik. Begitulah 
takdir Allah yang terjadi sebagaimana goresan Alqalam yang tak bisa diubah. 
Semuanya mesti menginsafi ini dan menerima dengan ikhlas. Karena mereka semua 
sudah melakukan pada apa yang tak bisa dihindarkan.

Namun belakangan rasa ketidakadilan menimpa Ibunda Fatimah as. Tanah Fidek yang 
pernah diperoleh dari Baginda semasa hidup, sebagai pembagian dari Ghanimah 
perang di Benteng Khaibar, dirampas oleh negara atas dasar kebijakan penertiban 
kekayaan negara. Bila yang dimaksud adalah kekayaan yang belum diselesaikan 
oleh Baginda, karena pada saat-saat sakit menjelang wafatnya, ini bisa 
diterima. Tetapi yang dialami oleh Ibunda Fatimah as adalah sesuatu yang sudah 
ditertibkan oleh Baginda. Parahnya lagi, Abu Bakar ra membuat takwil yang 
salah, ia menyebutnya sebagai waris. Dan berhujjah bahwa para nabi tidak 
diwarisi. Padahal sebagaimana diketahui, waris itu terjadi terhadap kekayaan 
yang masih dibawah kekuasaan mayit sepeninggalnya ia wafat. Sedangkan yang 
dimiliki oleh Ibunda Fatimah as bukan diperoleh dari waris, melainkan dari 
ghanimah sewaktu beliau sehat sepulang dari Khaibar.

(Maaf, latar belakang ini bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk melihat 
sikap pribadi Ibunda Fatimah Vis-à-vis Negara, meski beliau menerima ketidak 
adilan dari pemerintah yang berlaku saat itu. Lagi pula para ulama di masa 
Khalifah Almakmun telah memutuskan bahwa harta itu harus dikembalikan kepada 
Ibunda Fatimah sehingga Khalifah AlMakmun mengembalikan tanah Fidek kepada 
Ibunda Fatimah (sekitar 5 abad setelah beliau wafat) dan diterima oleh ahli 
warisnya untuk kemudian disedekahkan kepada kaum muslimin)

Apa yang dilakukan Ibunda Fatimah terhadap ketidak adilan ini? Sebagaimana kita 
ketahui...sakitnya beliau adalah sakitnya Banu Hasyim... kegembiraannya adalah 
kegembiraan Banu Hasyim.. dan semua kaum muslimin tentunya. Kalau saja beliau 
mau bersikap seperti Aisyah ra untuk menghasut kaum muslimin mneyerang 
pemerintahan yang sah... sejarah akan bercerita lain... Tapi MASYA ALLAH betapa 
agungnya beliau.. itu semua tidak terjadi.. beliau hanya menghukum Abu Bakar ra 
secara pribadi dengan wasiyat kepada keluarganya: Jangan biarkan dia melihat 
aku meskipun aku telah mati.

Akhlak beliau adalah mengorbankan kepentingan pribadi demi kemaslahatan umat, 
kehormatan kedaulatan muslimin dan menjunjung tinggi kebaikan di tengah-tengah 
masyarakat.

2) Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain

Disini ringkas saja. 
Imam Ali, dengan akhlaknya yang meneladani keagungan Ibunda Fatimah yang 
mencintai kedamaian dan kemaslahatan bagi umat dan menjunjung tinggi kedaulatan 
negara yang ada, beliau tetap bersabar menahan diri untuk menempat diri sebagai 
warga negara yang baik. Jangan ditanya soal banyaknya riwayat yang mengagungkan 
beliau, yang dapat membuat telinga beliau panas dan dada berdebar bila dihasut 
pihak-pihak tertentu. Tetapi kejayaan kedaulatan kaum muslimin sejak khalifah 
Abu Bakar ra, Umar Ra sampai Utsman ra..yang bertambah meningkat...itu semua 
merupakan kemenangan Imam Ali dan kegigihan beliau bersabar melewati masa-masa 
fitnah dengan baik. Kalau saja Imam Ali terhasut, semacam Perang Baratayuda, 
Paregreg, Bubat atau apalah namanya...pasti pernah terjadi dan menghancurkan 
kaum muslimin yang baru berumur jagung. MASYA ALLAH ...keteladan akhlak yang 
luar biasa ini masih juga belum disadari oleh orang-orang.

Imam Hasan. Setelah 6 bulan menjadi khalifah, ia menyerahkan jabatan yang sah 
kepada Muawiyah. Bayangkan, Imam Hasan memiliki legalitas legitimasi, hak 
syar'i dan kanuni yang sah untuk mempertahankan kekuasaan sebagai khalifah. 
Kapan saja beliau mau, kaum muslimin siap berperang menghadapi setiap ancaman, 
tantangan, hambatan dan gangguan yang ada. Tapi Imam Hasan menepiskan hak-hak 
kebenaran itu...demi menjayakan masa depan umat dan keilmuan. Imam Hasan 
meneladani Ibunda Fatimah dan Ayahanda Imam Ali. MASYA ALLAH ...cahaya ini 
sungguh disaksikan para malaikat. Engkau patut menyandang gelar pemimpin pemuda 
ahli Syurga.

Imam Husein. Kepergiannya ke Karbala menjemput takdir syahidnya di sana. Beliau 
sudah tahu. Kakek beliau Baginda Muhammad juga sudah bernubuwwah tentang takdir 
itu. Untuk pergi ke Karbala beliau sengaja melewati jalur-jalur dimana banyak 
keluarga Banu Hasyim tinggal. Bahkan beliau bertemu Ibn Abbas ranhuma, 
sepupunya. Apa yang beliau lakukan? Tidak banyak yang merenungi ini. Sebetulnya 
beliau memesankan agar kejadian yang menimpa atas diri beliau adalah urusan 
beliau dengan pembunuhnya, bukan urusan antar rakyat dengan pemerintah ataupun 
urusan anggota Banu Hasyim dengan anggota Banu Umayyah. Mengapa begitu? Demi 
kemaslahatan kaum muslimin, demi menjayakan masa depan umat, demi memelihara 
kedaulatan negara!!! MASYA ALLAH... Kalau beliau tidak mewanti-wanti ini... 
Perang dahsyat pasti terjadi.para pembelanya yang fanatisme pasti mendapat 
alasan untuk melakukan dendam dan perang yang tak pernah 
berkesudahan...menghancurkan peradaban yang semestinya dapat
 terbangun.

Apakah ini semua bukan akhlak, teladan, pelajaran dan syariat yang nyata dari 
Ahli Bait Vis-à-vis Negara???

Dua tema risalah: Mempertuhankan Allah yang MahaEsa dan Menebarkan Rahmat-Nya 
adalah visi dan misi utama para nabi dan rosul Vis-à-vis Negara yang abadi dan 
tak terbantahkan.

Wallaahu a'lam.


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke