Klo menurut saya,
Ada baiknya NU itu seperti Al Qur'an dan sunnah, tiap tahun tidak akan
berubah selamanya walaupun banyak yang mencoba merubah...
Ayo ingat mas, kang ...semua
mana ada yang berani mengubah Al Qur'an, padahal banyak yang bilang
ketinggalan zaman lah, yang inilah dan yang itulah...dan seterusnya...
Sama halnya dengan NU jika "seluruh" (kullun) orang NU gak peduli yang jadi
pejabat, pekerja, mahasiswa, rakyat kecil, Kyai dan sebagainya memegang
ke"NU"annya, gak peduli dunia mau ngapain saya yakin NU Indonesia ini akan
menelurkan pemimpin yang mempunyai kecakapan luar biasa...
mana ada sekarang pemimpin yang mau "laku"
mana ada sekarang pemimpin yang mau "kasyaf dulu"
mana ada sekarang mahasiswa yang mau "laku"   paling enak seminar dsb....
mana ada sekarang pekerja yang mau "laku"

semua itu jumlahnya hanya sedikit sekali....ayo siapa disini yang sering
"laku" klo sering laku sering ketemu dengan para wali tentu gak akan bilang
orang lain selain dirinya "rendah" dan lebih menganjurkan kebersamaan dalam
menerima Islam dan mengamalkannya sesuai dengan posisi ia berdiri...baik itu
kristen, budha, hindu dsb.....
kalau istiqomah Allah tentu akan mengangkat derajat orang tersebut tanpa
meminta...
berapa banyak orang non muslim yang masuk Islam dengan kesadarannya, ini
adalah contoh..peningkatan derajat...

Mari mas2, kawula muda NU terutama yang kritis2,,, ayo kita pegang keNUan
kita dulu terutama ASWAJA,... coba kita renungkan kembali dan minta saran
dari sesepuh yang wara' agar kita kedepan lebih bisa memegang NU sama dengan
yang dulu tetapi mempunyai "makna dan warna yang berbeda" dengan yang
dulu...yang tentunya harapan kita jauh lebih baik....
sama dengan memegang Al Quran dan sunnah tetapi aura pancaran makna dan
warnanya berbeda....dengan yang dulu tatkala Nabi dan para sahabat...

salam kebersamaan..
Priyo

2009/10/27 robet_gasede <[email protected]>

>
>
> salam,
>
> Mas Syamsuddin, saya ini heran pada sampean. Apakah sumbangan pada Islam
> hanya pada jalur politik. Masa gak boleh lewat pendidikan, dakwah ttg ahlaq,
> mengajarkan fiqh sholat, puasa, zakat, haji, mengajar ilmu pengetahuan
> seperti sejarah, fisika, arsitektur, kimia, kedokteran, membantu tetangga
> yang saudaranya meninggal dunia, membantu janda2 muda, dll.
>
> Jangan menyepelekan sumbangan orang terhadap Islam di luar jalur politik.
> Sampean belum tahu, mungkin saja mas sofwan menyumbangkan sesuatu untuk
> Islam di jalur ilmu dan pendidikan. Itu kan hebat, Allah meninggikan derajat
> orang yang berilmu. Kalau sampean mau di jalur otot dan dengkul, seperti
> para kuli2, ya tidak apa2 toh. Masa salah. Kan sama2 benar. Jangan menilai
> jelek orang2 yang pekerjaannya berdakwah dan mengajar ilmu agama dan ilmu
> sains.
>
> Salam,
> Robith
>
> --- In [email protected] <kmnu2000%40yahoogroups.com>, "syamsuddin"
> <bus...@...> wrote:
> >
> > larut dengan masa lalu ....
> > ambil aja ibrohnya
> > kalau sampean hidup zaman itu ikut yang mana?
> > lha faktanya sampean hidup jaman skrg.
> > apa yang bisa kamu sumbangkan tuk islam ini?
> > yang serius jangan sambil lalu
> > umur terbatas segera putuskan
> > ----- Original Message -----
> > From: sofwan nadi
> > To: [email protected] <kmnu2000%40yahoogroups.com>
> > Sent: Monday, October 26, 2009 7:54 AM
> > Subject: Re: [kmnu2000] NU Vis-Ã -vis Negara
> >
> >
> > BAGIAN IV (Lanjutan)
> >
> > (Kata-kata “Islam itu banyak maunya banyak tuntutannya“
> > tidak dimaksudkan untuk mengabaikan syariat, melainkan begitulah yang
> dirasakan
> > oleh orang awam hasil proses pendidikan yang tidak tepat. Hasil
> pendidikan yang
> > berbeda akan menyebabkan beban yang sama akan dirasakan berbeda oleh anak
> > didik. Contoh, dua santri diminta menyapu masjid. Si A begitu gembira
> menyambut
> > kerja ini, tetapi si B menyambutnya dengan bersungut-sungut kesal.
> Padahal
> > beban kerja dan lama waktunya sama. Dalam mendidik, yang perlu dievaluasi
> dan
> > dikoreksi adalah apa yang sudah diperbuat kepada anak sesuai dengan
> kondisi
> > anak, bukan anak yang dievaluasi sehingga kita berkata: “Ah, dasar
> anaknya
> > saja!“. Hari ini orang awam sering bersungut-sungut terhadap omongan
> da’i:
> > “Aih, banyak nian maunya“)
> >
> > BAHAGIAN IV (Lanjutan)
> >
> >
> > Kita perlu cermat mana yang disebut proses pendidikan dan
> > proses pemberian obat pembunuh hama.
> >
> > Mari kita cermati kembali kejadian Perang Jamal.
> > Ajakan memperlakukan umat dalam kontek ilmu mendidik
> > sebagaimana telah dipaparkan di atas, jelas tidak sejalan dengan semangat
> kaum
> > Sunni, Khawarij maupun Syii. Tulisan ini menolak semua madzhab kalam ini.
>
> >
> > Sunni yang cenderung menutup-nutupi Ibu Aisyah ra agar
> > kita tidak menyebutnya sebagai gembong pemberontak pemerintah yang sah
> dengan
> > mengeluarkan kaidah “apa yang terjadi di kalangan sahabat, diamlahâ€
> dan dengan
> > kaidah “semua sahabat mendapat keridoan dan ke surga akhirnya†. Sunni
> terjebak
> > kedalam sikap yang tertutup sehingga mempersulit pengikutnya dari
> mengambil
> > hikmah apa yang baik dari apa yang tidak baik dari sejarah para
> pendahulu.
> >
> > Khawarij yang berkaidah mengaitkan kesalahan dengan dosa,
> > dosa dengan keimanan dan kekufuran. Lalu menghalalkan pengikutnya ambil
> > tindakan sendiri atas pandangan tersebut melabrak konsensus dan tata
> tertib
> > bermasyarakat dan bernegara yang ditentukan.
> >
> > Syii yang berkaidah membuka fakta untuk memupuk dan
> > membiarkan kebencian. Lalu menghalalkan pengikutnya menghujat dalam doa.
> >
> > Cara mendidik yang diberikan tulisan ini jelas tidak
> > mendukung ketiga madzhab tersebut. Tulisan ini menganggap bahwa dalam
> > perjalanan hidup manusia perlu dibedakan mana tugas manusia dan
> kemanusiaan dan
> > mana bagian prerogative Allah. Soal sahabat akan mendapat keridoan Allah
> dan
> > akan masuk surga, itu hak Allah dan anugerah atas mereka. Kami pun wajib
> menghormati
> > jasa-jasa mereka. Kami pun tidak boleh mencela mereka, apalagi pada
> kaitannya dengan
> > hak yang mutlak otoritas Allah.
> >
> > Tetapi, apakah jika Ibu Aisyah hendak melobangi perahu
> > yang dikendarai kaum mukminin, apa akan setiap kita membiarkan dia, hanya
> karena
> > dia Ibu kaum mukminin? Tidak. Kita harus mencegahnya dan menyadarkan aksi
> > pelanggarannya. Dan alhamdulillaah, Imam Ali as sudah melakukannya, dan
> > memberinya sanksi yang setimpal yang cukup membuat dia mendapat
> pelajaran. Kita
> > memuji Ibu Aisyah ra dengan jasa-jasa beliau terdahulu dan keilmuannya
> karena
> > beliau sudah mendapat hukuman yang setimpal dari pemerintah yang sah.
> Soal
> > sanksi itu setimpal atau tidak, itu bukan hak kita sebagai warga negara.
> > Sebagai warga negara kita harus menyerahkan kekuasaan dengan bulat kepada
> > kepala negara untuk mengambil putusan sebebas-bebasnya dan menurut
> keadilan
> > yang ia pandang tepat. Kewajiban kita sebagai warga adalah menerima
> putusan
> > Kepala Negara dengan ikhlas. Inilah akhlak sebagai warga negara.
> >
> > Begitu juga kita semestinya kepada para pelanggar hukum
> > yang sudah mendapat ganjaran yang berlaku di negerinya masing-masing.
> Kita
> > tidak boleh lagi menambah-nambah sanksi pada yang sudah ditentukan.
> Karena itu
> > bukan hak kita sebagai hamba biasa. Dan lagi ketentuan hukum itu sudah
> menjadi
> > kesepakatan kita (undang-undang) bernegara.
> >
> > Tapi terhadap Ibnu Muljam pembunuh Imam Ali kw, dia belum
> > mendapat hukuman dari pemerintahan yang berkuasa saat itu. Selama dia
> belum
> > mendapat hukuman, dia bukanlah hamba yang pantas mendapat simpati apalagi
> > pujian ataupun kepercayaan. Inilah konsekuensi bagi orang yang kesatria
> dalam
> > memegang teguh hukum sebagai panglima.
> >
> > Paparan ini menegaskan perbedaannya dengan madzhab Sunni,
> > Khawarij dan Syii. Bahwa bagi setiap masalah ada ibroh, hikmah dan
> mau’idhoh.
> > Ketiga-tiganya (ibroh, hikmah dan mauidhoh) hanya didapat dengan
> kejujuran,
> > keterbukaan, kecermatan dan mawas diri dalam membedakan mana bagian kerja
> > manusia dan mana bagian kerja Allah.
> >
> > Sunni
> > mengajarkan untuk menutup mata dan menutup mulut untuk berkata atas
> segenap
> > sejarah melintas perilaku para pendahulu. Khawarij mengajarkan untuk
> mengambil
> > tangan sendiri-sendiri atas perilaku yang dipandang tidak baik dengan
> mengabaikan
> > tata hukum yang berlaku. Syii mengajarkan kebencian kepada para penentang
> pemerintah
> > yang sah (Khalifah Ali) secara membabi buta. Kemudian ketiga madzhab ini
> > membawa persoalan ini kepada aqidah… mengaitkan dengan iman dan
> kufur… mengaitkan
> > dengan surga dan neraka. Tulisan ini menolak ajaran dari ketiga madzhab
> > tersebut, menolak semangatnya dan menolak ketidak-tahu-diri-annya. Sunni
> memang
> > lebih baik, tetapi semangatnya yang tertutup tidak mengajarkan untuk
> mencermati
> > apa yang tidak tepat dari masa lalu, sehingga kesalahan yang sama yang
> pernah
> > terjadi tidak perlu diulangi lagi. Keadaan Sunni yang seperti ini menjadi
> lebih
> > rentan tersusupi semangat Khawarij yang suka menyerang; terbukti muncul
> > aliran-aliran baru didalamnya yang seringkali sikapnya bertentangan dari
> semangat
> > memelihara kebersamaan. Sejarah pun menunjukkan bahwa Sunni lebih dekat
> dengan/
> > menjadi Khawarij, kemudian Sunni terseret untuk menjadi lawan Syii yang
> > berkepanjangan. Padahal sejarah awalnya Sunni lebih netral, tidak membela
> dan
> > tidak menyerang.
> >
> > Kalau
> > bukan Sunni, Khawarij ataupun Syii, lalu apa sikap bermadzhab yang
> disarankan?
> > Ya, sikap yang mendidik. Yaitu sikap yang ber-ahlussunnah wal jamaah.
> Maknanya,
> > berperilaku atas dasar keilmuan (dari kata assunnah) dan yang membuahkan
> akhlak
> > dan semangat yang memelihara iklim yang kondusif bagi kebersamaan (dari
> kata aljamaah). Sikap menutup
> > diri-menutup mata, sikap tak tahu diri dan tidak tertib hukum dan aturan,
> serta
> > sikap membenci dan memelihara kebencian, bukanlah sikap ilmiah/
> berkeilmuan dan
> > bukan pula sikap yang baik untuk berjamaah.
> >
> > Sikap
> > berilmu itu berpatokan pada prinsip “in harmonia progressio†, begitu
> menurut
> > logo Institut Teknologi Bandung (ITB). Kira-kira maksudnya, dengan
> keharmonisan
> > tercipta kemajuan. Keharmonisan dalam ilmu pasti dan alam digambarkan
> seperti
> > bandul bergoyang atau gelombang air. Bandul bergoyang itu, ya ke kanan
> dan ke
> > kiri, bahkan ke depan dan ke belakang; kalau berputar tak ada jarak yang
> > terlewati, semua lintasan dilewati penuh oleh bandul. Air bila
> bergelombang atau
> > beriak, riaknya itu akan menjalar ke semua arah dan tempat. Bila ada
> benda pada
> > tempat yang dilewati, riak air akan menelekung dan mengitari benda
> tersebut
> > sampai penuh sebelum meneruskan perjalanan riaknya ke tempat yang terjauh
> > sampai dimana tidak ada air lagi di sana atau tidak ada jalan untuk
> menjalar
> > sama sekali. Pendeknya, harmonis itu adil, berimbang dan cermat.
> >
> > Paparan
> > ini mengajak untuk menekuni semua sejarah menjadi
> ibroh-hikmah-mau’idhoh yang
> > digunakan dalam kerangka ilmu mendidik. Bukan untuk megarahkan seseorang
> untuk
> > berbuat dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, apalagi dari hal-hal yang
> > merusak.
> > Contoh
> > perbuatan yang tidak bermanfaat. Keilmuan untuk membela buta atau untuk
> > menyerang kalap para sahabat. Apa manfaatnya? Mereka sudah wafat. Yang
> > kita perlukan hari ini adalah kita mesti bersikap apa bagi kita dan
> kelanjutan
> > generasi kita. Semua sejarah masa lalu diperlukan sebagai cermin untuk
> berkaca.
> > Bukan untuk membuang energi membela buta mereka atau menyerang kalap.
> > Kalau hendak berkaca, bukalah kaca itu dan jernihkan seterang-terangnya,
> biar
> > jelas ada noda di wajah sejarah kita yang tidak perlu dipelihara. Sia-sia
> > santri mengaji hanya menghasilkan pengetahuan yang sejumput tak berguna
> bagi
> > membangun umat ke depan. Manfaat yang santri yakini hanyalah sugesti dan
> > halusinasi yang tak pernah terbukti ada guna dan manfaat dari cara
> belajar yang
> > menutup diri, menutup mata, tak tahu diri, tak tertib hukum/ perjanjian
> dan
> > membenci. Apa bukti ketidakbergunaannya? Bukti: Umat semakin hari semakin
> > terpuruk. Yang utama ditinggalkan, yang berguna disisihkan.
> >
> > ________________________________
> > From: sofwan nadi <de_a...@...>
> > To: [email protected] <kmnu2000%40yahoogroups.com>
> > Sent: Thu, October 22, 2009 10:03:15 AM
> > Subject: Re: [kmnu2000] NU Vis-Ã -vis Negara
> >
> > BAGIAN III (Lanjutan)
> >
> > Paparan terdahulu tidaklah menepis kepentingan nidhom.
> > Paparan terdahulu tidak menepis perlunya syariat dan
> > hukum.
> > Tapi paparan terdahulu mengajak berfikir: dari mana
> > semestinya mulai dan bagaimana?
> >
> > Mari kita menggunakan pendekatan ilmu mendidik.
> > Almauidhoh alhasanah sebagai fondasi dakwah dan berkegiatan. Begini.
> >
> > Anak-anak disuruh solat… disuruh puasa… diajak melakukan
> > sedekah… dalam ilmu mendidik dimaksudkan sebagai upaya pelatihan dan
> > pembiasaan… bukan indoktrinasi! Bukan sebab ditakuti-takuti dengan
> ancaman dosa
> > atau neraka! Bukan dimaknakan dengan tuntutan dan kemauan harus ini dan
> harus
> > itu.
> >
> > Begitu juga semestinya umat diperlakukan.
> >
> > Anak-anak dikenai hukuman sebab pelanggaran… dalam ilmu
> > mendidik dimaksudkan sebagai upaya memupuk rasa tanggung jawab dan
> serasa,
> > senasib dan sepenanggungan, sebagai bagian dari kumpulan… Hal ini
> digambarkan
> > dengan cara: anak-anak dibawa naik perahu, kemudian suruh seorang anak
> untuk
> > melobangi perahu itu… dan ajak anak-anak untuk merenungkan apa akibat
> perbuatan
> > temannya itu… Lihat … bukan dengan cara menghardik.. membentak…
> Bukan dengan
> > mengancam dengan ancaman tuhan… dosa menentang tuhan… kutukan
> tuhan...
> >
> > Begitu juga semestinya umat diperlakukan.
> >
> > Dari usaha-usaha mendidik … dengan cara yang dipenuhi
> > kesabaran yang tak pernah jemu dan bosan seperti para nabi dan rosul
> (kalau tak
> > sabar, jangan jadi da’i, jangan jadi ulama, karena tugas ini adalah
> warisan
> > para nabi, sehingga harus mewarisi prinsip-prinsip mereka juga)
> >
> > Dari usaha-usaha mendidik anak-anak dan umat seperti ini…
> > diharapkan dari mereka tumbuh kesadaran dengan sendirinya pola hidup yang
> > tertib, sikap hidup yang gandrung dengan ketertiban dan
> keteladanan…rasa tanggung jawab...kesadaran mengatur diri... memimpin
> dirinya sendiri agar tertib tanpa disuruh untuk tertib oleh orang lain.
> >
> > Hukum pidana sebetulnya.. .pada kesempatan (paling) terakhir.... hanya
> boleh dipandang sebagai
> > obat anti hama. Bukan sebagai obat kesuburan dan kesehatan. Hukum pidana
> (had,
> > kisas, dll) jangan sekali-kali dipandang sebagai obat kesehatan. Hukum
> Jinayah
> > harus dipandang sebagai obat anti hama.
> >
> > Ketika kita melihat hukum jinayah sebagai obat anti hama,
> > tentu kita mengolah lahan dulu, kan? Mempersiapkan bibit, menanamnya dan
> > memeliharanya. Mengerahkan berbagai upaya yang bersifat bukan membunuh
> hama. Selama proses ini yang kita taburkan tentunya adalah
> > pupuk…penyubur… bukan anti hama.
> >
> > Ketika dalam proses itu ada hama? Tunggu dulu.
> > Betul-betul hama, ataukah salah proses? Obat anti hama, bila salah
> terapan akan
> > berbahaya bagi lingkungan, merugikan bagi sistem. Pemberian anti hama
> adalah
> > pilihan terakhir...kesempat an terakhir... tindakan yang sesudahnya tidak
> ada tindakan lagi.
> >
> > Kalau salah proses, bukan berarti harus mengulang dari
> > awal...sejak mengolah tanah... tetapi cermati pada proses-proses tertentu
> saja.
> >
> > Dari paparan tersebut, santri diharap mengerti skala
> > prioritas mana yang perlu didahulukan dalam kegiatan... dalam Perda..
> dalam
> > undang-undang. . Jadi tunda dulu membuat perda anti hama... Tetapi
> dahulukan
> > perda obat kesuburan dan kesehatan.
> >
> > Ah, kalau perda obat kesuburan..berabe. ..repot.. .
> > lama...
> > Enak perda anti hama, sekali semprot, beres!
> >
> > Nah, kalau santri berpandangan tidak sanggup bersabar
> > untuk melangsungkan kerja seperti itu... minggirlah dari tugas-tugas ini.
> > Tugas-tugas ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang pantas menyandang
> predikat
> > sebagai pewaris kenabian.
> >
> > Yang tidak sabar cukuplah ambil bagian di bidang menghasilkan
> > karya-karya yang berguna bagi membangun peradaban lahiriah... seperti
> menjadi tukang
> > ukiran, tukang batik, tukang rakit, tukang riset, tukang rancang, tukang
> > bangunan, tukang tani, tukang nelayan, tukang bakso, tukang lukis, tukang
> > novel, tukang teknik, tukang insinyur, tukang pengobatan, tukang becak,
> tukang... dan tukang...
> > semuanya mulia dan berhak mendapat kemuliaan di sisi Allah. Bukankah Nabi
> Dawud
> > as makan dari kerja tangannya sebagai tukang kayu dan tukang besi,
> padahal ia
> > juga raja?
> >
> > Suasana hari ini kocar-kacir. .. karena semuanya tak
> > mawas diri... semuanya merindukan masuk surga... tapi sebab merendahkan
> > kerja-kerja menjadi tukang-tukang itu dan tidak memandangnya sebagai
> jalan
> > menuju surga... maka mereka meninggalkan tugas-tugas yang pantas baginya
> dengan
> > mengambil tugas-tugas kenabian yang tidak layak bagi kemampuannya dalam
> > bersabar dan nalar keilmuannya yang mbebek.
> >
> > Semuanya...kocar- kacir, gara-gara pintu masuk surga
> > hanyalah solat dan mati berdarah di medan perang. Semuanya
> > kocar-kacir. ..gara-gara kebanyakan perbuatan mulia itu dipandang rendah
> karena
> > berupa duniawi... bid’ah... neraka. Kerja-kerja yang bermanfaat dan
> berkah
> > ditinggalkan. ..
> >
> > Kalau saja sayidina Umar ra hidup hari ini, beliau
> > pasti akan menarik jenggot-jenggot mereka yang menghalangi mereka untuk
> pergi
> > ke sawah, ladang, perahu, dan kerja-kerja mulia yang lain.
> >
> > Mari renungkan dengan jujur... apa bedanya masjid
> > dengan pikiran sempit jihad... bagi mereka hari ini. Apa bedanya orang di
> zaman
> > Umar ra menyibukkan diri di masjid dengan orang menyibukkan diri
> gagah-gagahan
> > berjihad hari ini? Bukankah sayidina Umar ra marah dengan kegiatan di
> masjid
> > sebab menghalangi dia dari perbuatan produktif berkarya yang mulia?
> Bukankah
> > kegiatan gagah-gagahan berjihad hari ini juga menjauhkan diri orang dari
> > perbuatan produktif yang mulia? Bahkan lebih buruk, karena menciptakan
> suasana
> > yang kocar-kacir, jauh dari manfaat.
> >
> > Kalau soal sorga. Allah maha pemurah. Seseorang
> > akan dibahagiakan dengan sugestinya. Itu hukum di dunia. Kalau sugestinya
> > membom itu adalah perbuatan jihad yang mulia, maka dia akan tersenyum
> > memperoleh “surga†dari sugestinya. Makanya boleh saja tahanan pembom
> itu
> > digembirakan dengan mimpi-mimpi yang indah. Itu sesuai dengan sugestinya.
> Allah
> > maha pemurah teramat sangat. Apalagi pembom itu berangkat dari niat
> mengesakan
> > Allah. Tapi mengenai hakekat? Nanti kita buktikan di Pengadilan Mahsyar
> tentang
> > hakekatnya.
> >
> > Yang jelas hari ini, perbuatan itu telah menyumbangkan
> > sebuah noda bagi nama baik ajaran yang suci. Meski ini juga belum tentu
> benar.
> > Tapi yang itu dan yang ini tidak dapat menjadi hakim mana yang benar.
> Tapi
> > manusia juga mempengaruhi citra dunia. Buktinya. Kata orang: orang mati
> itu
> > baik...kata Nabi saw: wajabat.... Lalu kata orang: dia buruk, kepada
> mayit yang
> > lain.. kata Nabi saw: wajabat.
> >
> > Bila orang yang membom itu kata kaum mukminin itu buruk,
> > maka tentulah yang dikatakan Malaikat juga: wajabat. Tetapi sebaliknya,
> bila
> > baik.. kata Malaikat juga: wajabat. Bingung? Tanyakan pada diri sendiri
> lalu
> > buat pernyataan, maka Malaikat akan berkata: wajabat.
> > Dan bukan hal yang mustahil, bila nanti di Pengadilan
> > Mahsyar akan diselenggarakan penghitungan suara “wajabat†mana yang
> banyak dari
> > para Malaikat. Karena bagaimana pun manusia adalah syahiid (saksi) di
> bumi atas
> > semua peristiwa yang terjadi.
> > Wallaahu a’lam
> >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: sofwan nadi <de_a...@yahoo. com>
> > To: kmnu2...@yahoogroup s.com
> > Sent: Tue, October 20, 2009 2:49:53 PM
> > Subject: Re: [kmnu2000] NU Vis-Ã -vis Negara
> >
> > BAGIAN II (Lanjutan)
> >
> > Informasi atau sebuah pengetahuan akan berhenti
> > sebatas itu apabila tidak direnungkan sedalam-dalamnya. .. Diantara cara
> yang
> > efektif adalah mencoba membayangkan diri sendiri didudukkan sebagai tokoh
> yang
> > berperan dalam kisah yang berlangsung. .. Kemudian cermati apa nalar,
> emosi,
> > gembira, nyeri ataukah rasa angkuh dan marah yang bergolak di dada saat
> > memainkan peran itu...dalam suasana yang serupa.
> >
> > Ada pembaca yang ngakak saat membaca informasi
> > yang sebetulnya menyedihkan bagi tokoh yang mengalaminya. .. Ada pembaca
> yang tak
> > tergeming oleh apapun yang dibacanya... Ada juga pembaca yang dapat
> memaklumi
> > alasan mengapa sang tokoh mengalami pengalaman seperti yang diungkapkan.
> Itu
> > terserah... Tapi untuk mendapat ilmu yang baru dari sebuah pengetahuan/
> > informasi mestinya melalui cara membaca (qiroat) bukan cara tilawah
> (reciting,
> > apa ya dalam bahasa Indonesia? Kalau tilawah diterjemahkan sama dengan
> qiroah
> > dalam bahasa, itu salah... Karena meski ada keserupaan tetapi pasti ada
> > perbedaan, karena ucapannya saja berbeda).. Tak bisa diharap untuk
> mendapat ilmu dan
> > manfaat dari kegiatan yang bernama tilawah itu (kalau tilawah Alquran
> dapat manfaat pahala, titik).
> >
> > Pendahuluan mengenai bagaimana mendapatkan ilmu dan
> > manfaat melalui cara membaca bermaksud menerangkan mengapa penulis dapat
> > mengungkapkan hikmah dari keteladanan Ahli Bait Vis-Ã -vis Negara seperti
> yang
> > telah dipaparkan.
> >
> > Semula, sebagai santri hijau yang tak tahu kecuali apa
> > adanya dari hasil tilawah, kagum sekali dengan orang-orang berpredikat
> dijamin
> > masuk surga. Tetapi setelah mendapat informasi beberapa binatang dijamin
> masuk
> > surga, seperti anjingnya Ashabul kahfi, maka mulai bertanya-tanya, kalau
> begitu
> > apa istimewanya orang-orang yang dijamin masuk surga dengan anjing
> Ashabul
> > kahfi? Dari membaca sejarah dengan seksama ternyata beda kedua golongan
> ini
> > adalah yang satu dari golongan manusia dan yang lain adalah binatang.
> >
> > Kemudian merenungi, mengapa ada predikat yang
> > diberikan seperti penghulu kaum wanita ahli surga untuk Ibunda Fatimah
> dan
> > penghulu para pemuda ahli surga bagi Imam Hasan dan Imam Husein? Kalau
> hanya
> > bisa masuk surga ... dari banyak berita ..ternyata tidak istimewa.
> >
> > Masuk surga menjadi istimewa sebab dibandingkan dengan
> > masuk neraka. Itu saja. Tetapi yang ini masuk surga dan yang itu masuk
> surga, apa
> > bedanya? Bahkan di surga bersama para nabi dan rosul pun apa bedanya bagi
> sesama mereka yang menduduki posisi sama itu? Tentu tak beda. Bahkan
> binatang para
> > nabi yang masuk surga ikut dengan mereka di surga bersama nabinya.
> >
> > Berarti julukan agung bagi Ibu Fatimah dan kedua
> > putranya sebagai penghulu para ahli surga itu tak ada pembanding. Mereka
> memiliki
> > fasilitas lintas tingkatan dan lintas sektor. Namanya juga penghulu...
> Harus
> > sangat amat istimewa dari yang sudah istimewa.
> >
> > Dari membaca siroh... mencermati.. . maka dimengerti ternyata
> > mereka, para Ahli Bait, telah memberi keteladanan melewati batas-batas
> yang
> > sangat luarbiasa dari kebiasaan para sahabat.
> >
> > Semua pengorbanan para sahabat dibandingkan antar
> > sesama mereka.. boleh dikata sebanding; kurang dan lebih pasti ada. Tapi
> > semuanya manusiawi sekali dan masih mengikuti arus dan selera di kalangan
> > mereka.
> >
> > Ya betul, mereka teramat istimewa bila dibanding
> > dengan kami hari ini... tetapi dibandingkan sesama mereka... bisa
> dimengerti
> > bahwa mereka satu dari yang lain tak jauh-jauh berbeda. Suasana heroik
> waktu
> > itu mendukung semangat mereka berkobar-kobar. .. Tak jauh berbeda dengan
> para
> > orang tua kami saat melakukan perang revolusi mempertahankan kemerdekaan
> > Republik Indonesia 1945... semuanya memiliki semangat heroik yang sama...
> > Suasana saat itu sangat mendukung heroisme mereka. Bung Tomo memiliki
> heroisme
> > yang tak kalah sama dengan Mbah Abbas kiai dari Buntet Cirebon yang
> dipercayai
> > untuk memimpin komando Jihad dari putusan musyawarah para sesepuh NU kala
> itu.
> > Tak kalah sama semangat ini dimiliki juga oleh anaknya, Mbah Abdullah
> Abbas
> > yang masih remaja saat itu terpaut sedikit dibawah usia Bung Tomo,
> bersama para
> > santri yang ikut. Kalau kita merenungi ini...insya Allah akan mendapatkan
> > hikmah.
> >
> > Keteladanan para Ahli Bait yang melampaui batas-batas yang
> > luar biasa adalah mereka menepiskan hak-hak syar'i atas diri mereka.
> Mereka mengabaikan kebenaran yang memihak atas diri mereka. Mereka
> menepiskan untuk mendapatkan keuntungan dari kebenaran yang berada di pihak
> diri mereka. Singkat kata, meski itu kebenaran... mereka masih memiliki
> pilihan perbuatan yang menjulang tinggi mengalahkan sesuatu yang disebut
> benar itu sendiri, meski kebenaran itu menurut syara sekalipun.
> >
> > Semua orang -dalam kewajaran manusia- adalah berjuang
> > untuk memperoleh haknya, meski hak itu bersifat hak adami. Siapapun yang
> > berjuang membela hak adami akan mendapat predikat syahid bila gugur. Jadi
> > predikat syahid ini-pun tidak istimewa bagi sesama para syahid. Namun,
> para
> > Ahli Bait ini, mereka berjuang untuk mengalahkan kepentingan diri mereka
> > sendiri mengorbankan hak mereka meskipun telah ditentukan oleh syariat
> dengan
> > jelas. Perjuangan dan pengobanan ini dilakukan demi kepentingan dan
> kejayaan
> > Islam dan kaum mukminin di masa-masa berabad-abad kedepan. Masyaa Allah!
> >
> > Kalau membaca, kita akan tahu, betapa mereka tidak
> > egois menuruti selera untuk menggigit hak-hak syar'i mereka sampai akhir
> hayat
> > mereka.
> >
> > Bandingkan dengan orang lain, yang sepanjang
> > sejarahnya tidak bergeming, atau paling tidak di akhir hayatnya, tertulis
> dalam
> > sejarah bahwa mereka bersikukuh untuk mempertahankan haknya, yang memang
> > dibenarkan oleh syar'i. Sayangnya... buah dari memegang hak itu ada yang
> > berakibat fatal atas lembaran sejarah keumatan.. dan aib pun tergores.
> Semua
> > orang Sunni tidak ada yang mencela ibu Aisyah ra sebab perang Jamal yang
> merongrong
> > kewibawaan Khalifah Ali ra. Semua orang Sunni tidak ada yang mencela
> Muhammad
> > putra Abu Bakar ra sebab ikut terlibat ke usaha membunuh Khalifah Utsman
> ra.
> >
> > Tapi... perbuatan itu timbul dari alasan yang
> > sangat-sangat berpihak pada opini kemanusiaan. .. sehingga tidak layak
> untuk
> > diberi predikat kepemimpinan dari para ahli surga. Tapi tolong dicatat...
> kalau
> > ada orang Sunni... hari ini meneladani perbuatan ibu Aisyah ra putri Abu
> Bakar
> > ra dan Muhammad putra Abu Bakar ra... apakah ada lagi orang Sunni tidak
> > mencelanya.. . padahal orang Sunni tidak mencela Abdurrahman bin Muljam
> yang
> > membunuh Khalifah Ali as. Nah, di sini pun kita.. dituntut untuk
> menghentikan
> > sejarah BERMUKA DUA, sejarah BERSIKAP GANDA dalam menilai HUKUM sebagai
> > PANGLIMA. Bagi saya, Sejak Ibu Aisyah ra sampai siapapun yang keluar dari
> jalur
> > norma-norma hukum yang berlaku harus mendapat pengadilan yang benar.
> Karena
> > kata Baginda Muhammad saw: Kalaupun Fatimah putri Muhammad mencuri, akan
> aku
> > potong (aw kama qol).
> >
> > Sekarang bandingkan dengan kita. Hari ini, apa yang
> > kita pegang dari sesuatu paham atau hak syar'i sekalipun, sering kali
> > identitas, status dan asasnya masih diperselisihkan. .. masih
> diperdebatkan.
> > Tapi kita sudah memproklamasikan diri untuk menumpas siapa saja yang
> > menghalangi hak yang masih syubhat itu, bahkan akan digunakan untuk
> > menghancurkan status yang sudah kukuh meski dapat mengakibatkan mafsadat
> > bertebaran di mana-mana. Dan lagi, dasar syubhat itupun akan digunakan
> untuk
> > menghancurkan sebuah negara yang nyata-nyata telah menyebabkan banyak
> kebaikan
> > termakmurkan, meski memang diakui, masih ada yang jauh dari yang kita
> harapkan.
> >
> > Dasar yang syubhat...akan digunakan untuk menumbangkan
> > sebuah pohon... hanya sebab ada dahan... ada ranting... atau bahkan hanya
> > karena ada daun yang mesti dibersihkan.
> >
> > Bayangkan perilaku yang mau mencerabut pohon sampai ke
> > akar-akarnya. . hanya karena ada daun yang mesti digugurkan.
> > Bayangkan..cara berfikir seperti ini.. bila disuburkan
> > kedalam sebuah organisasi.. .
> >
> > Surga itu hanya bagi orang yang dikehendaki Allah yang
> > maha pemurah dan pengasih. Surga itu hanya anugerah dari kemurahan Allah.
> > Orang solat itu masih dibilang "Neraka Wail bagi
> > orang yang sholat" oleh Alquran. Tapi tak pernah ada ayat yang bilang
> "Neraka Wail
> > bagi orang yang menebarkan kasih sayang".
> > Bahkan sebaliknya, "Orang-orang yang penyayang
> > dibanggakan oleh semua Malaikat yang ada di langit dan di bumi"
> >
> > Baca lagi...beberapa siroh para pendahulu... Ada
> > disebutkan dalam karya Imam Ghazali rh (lupa namanya?) bahwa ada seorang
> murid
> > imam bermimpi bertemu gurunya itu yang telah wafat. Sang guru bercerita,
> saya telah
> > mendapatkan kenikmatan dari Allah bukan sebab karya-karya saya yang
> banyak dan
> > bukan sebab jihad-jihad saya; melainkan hanya karena satu hal: saya
> pernah
> > mengenalkan kepada khalayak bahwa Allah adalah maha kasih dan sayang.
> >
> > Bayangkan pengajaran ini mengalahkan amalan soleh yang
> > dielu-elukan orang belakangan ini.
> > Sebetulnya kisah-kisah ini sangat banyak di banyak kitab.
> >
> > Hari ini, santri bertengkar hanya gara-gara solat yang agak berbeda.
> Padahal solat tidak menjamin masuk surga. Karena surga diberi atau
> > tidak bukan sebab solat, tapi sebab anugerah dari Allah saja. Orang yang
> solat
> > pun masih diancam wail oleh Alquran. Tidak ada yang perlu menjadi
> > kebanggaan dari perbuatan solat itu. Kalau solat saja seperti ini
> statusnya,
> > lalu apa hak perbuatan-perbuatan lain dibangga-banggakan?
> >
> > Para santri, inilah nilai teologi yang telah hilang dari
> > halaman kita dimana kita belajar, yaitu: Pengenalan bahwa Allah maha
> kasih sayang.
> >
> > Semua anak santri selama ini dikenalkan dengan Allah yang
> > maha bengis. Maha egois. Maha sensitif dan mudah tersinggung. Maha
> pemarah.
> >
> > Itu kan yang diajarkan kita kepada anak-anak kita. Sedikit-dikit: he,
> jangan! Itu dosa!
> > Itu dimarah Allah! Itu neraka!
> > Itu juga
> > kan yang diajarkan oleh kita kepada santri-santri: Santri harus mencium
> kaki
> > kita. Santri harus rukuk di depan kita. Santri pantang
> > berbicara di depan kita.
> >
> > Sedulur, itu semua menciptakan kondisi yang kering untuk
> > mengenalkan bahwa Allah itu maha pengasih dan penyayang. Maaf, dalam hal
> ini,
> > ajaran Kristen lebih tahu diri dalam mengenalkan hamba kepada tuhan.
> Mereka
> > selalu menekankan kasih Allah dan kasih Allah dimana-mana; dalam
> perkataan,
> > dalam sikap sampai dalam kegiatan. Sampai-sampai mampu membuat murtad
> kaum yang lemah dan terabaikan. Kita tak perlu menepis kebenaran ini dengan
> > menutup-nutupi kekurangan kita.
> >
> > Hari ini, yang dikenal santri tentang Islam adalah sebuah
> > agama yang banyak maunya, agama yang banyak menuntut, bahkan agama yang
> banyak
> > menghukum.
> >
> > Tak percaya... dengar ceramah-ceramah santri...dan baca
> > saja buku-buku santri....yang bisanya menerjemahkan dan mbungkuk-mbungkuk
> > kepada kaum mukmin yang tidak disuruh untuk diteladani.
> >
> > Hari ini, santri nyaris tidak merasakan suasana bahwa
> > Islam itu dipenuhi rahmat dan kedamaian... Islam itu mengajarkan untuk
> saling
> > empati... Islam itu mempertuhankan Allah yang tidak mempunyai tuntutan
> apapun,
> > sebab Ia mengatakan "Aku tidak beruntung sebab disembah dan tidak rugi
> > sebab diingkari".. . Islam itu mempertuhankan Allah yang senantiasa
> memberi
> > kebaikan dan kebaikan... dengan tak pernah jemu dan bosan.
> >
> > Hari ini, santri nyaris tidak diarahkan untuk belajar
> > bagaimana memiliki kemampuan mengatur diri.. baik dalam kesendirian
> maupun
> > dalam kumpulan. Tak percaya? Silahkan tengok di musholla, asrama dan
> tempat
> > tahlilan. Sandal bertebaran tanpa tersusun kalau tidak ada petugas
> penyusun
> > sandal. Mereka hanya bisa bilang "rapihkan barisan" waktu solat, tapi
> > tak pernah bilang pada dirinya "rapihkan diri" setiap hari.
> >
> > Inilah hikmah dari siroh para nabi dan rosul...bahwa
> > mempertuhankan Allah itu bukan dari inisiatif para raja atas rakyat,
> melainkan
> > dari inisiatif diri atas dirinya. Para nabi dan rosul hanya kerja
> menyampaikan
> > informasi dengan baik dan tak henti... urusan hidayah kerja Allah. Para
> kekasih
> > Allah ini tak pernah jemu dan bosan... dan catat: tak pernah keluar dari
> rel
> > yang ditentukan yaitu untuk memberi informasi; tidak memaksa, tidak
> menciptakan
> > suasana/ iklim sebagaimana raja atas rakyat.
> >
> > Meski para nabi dan rosul itu berbeda syariat dan minhaj.
> > Tapi rel mereka tetap sama. Kalau ada yang bilang bahwa Nabi Muhammad
> berbeda,
> > itu tafsiran kemauan penafsir yang mengada-ada. Buktinya, Nabi Muhammad
> tidak
> > pernah menggunakan cara pemaksaan untuk mengislamkan siapapun. Kalau mau,
> > beliau bisa minta para Malaikat mempercepat proses. Tapi beliau sadar
> > batasan-batasan bagi para pemegang tampuk nubuwah dan risalah itu sama
> atas
> > semua para nabi dan rosul.
> >
> > Wallaahu a'lam.
> >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: sofwan nadi <de_a...@yahoo. com>
> > To: kmnu2...@yahoogroup s.com
> > Sent: Sat, October 17, 2009 11:00:51 AM
> > Subject: [kmnu2000] NU Vis-Ã -vis Negara
> >
> > Salam sedulur Nahdliyin...
> >
> > Sebelum saya menulis lebih lanjut...saya megnusulkan kepada Muktamar NU
> untuk mem"bahtsulmasail" kan kembali tema NU vis a vis Negara sehingga
> keputusannya menjadi pedoman bagi kami kedepan dalam memandang Negara
> Kesatuan Republik Indonesia.
> > Ini perlu, sebelum pemahaman-pemahaman kami berkembang secara tak
> terkendali dan memaksakan pendapat kedalam kiprah ke-NU-an.
> > Karena saya sadar, bahwa saya mengandung kemungkinan salah, meski tidak
> semuanya dapat disalahkan. Juga tidak mustahil ada yang benar, meskipun
> tidak mustahil ada yang tidak benar.
> >
> > Misi Agung Risalah para Nabi dan Rosul Vis-Ã -vis Negara
> >
> > Sofwan Nadi
> >
> > Risalah diturunkan ke bumi mengandung dua tema besar. (1) Mempertuhankan
> Allah Yang Maha Esa; dengan bahasa lain: mengalihkan hamba dari
> mempertuhankan makhluk kepada mempertuhankan Khalik. (2) Menyebarkan Rahmat
> di alam semesta, secara khususnya: menyemarakan perbuatan di muka bumi
> dengan Akhlak Mulia.
> >
> > Mari kita telusuri sejarah para nabi dan rosul Vis-Ã -vis Negara.
> >
> > Nabi Ibrohim as... datang untuk mengajak Namrudz menyembah Allah dan
> mengalihkan rakyat dari menganggap Namrudz sebagai Tuhan. Nabi Ibrohim as
> tidak pernah menunjukkan sedikitpun tujuan untuk mengambil kekuasaan
> Namrudz.
> >
> > Nabi Yusuf as... meski sempat menjadi seorang menteri di Kerajaan Firaun
> tidak menunjukkan keinginan untuk berusaha merebut kekuasaan Raja Firaun;
> melainkan sepanjang itu, dia hanya menjadi menteri yang baik dan amanah
> dengan tugas-tugas yang telah diberikan kepadanya.
> >
> > Nabi Dawud... menjadi raja tidak merebutnya dari Thalut. Melainkan proses
> suksesi yang damai sepeninggal udzurnya Thalut. Thalut mengambil kekuasaan
> dari Jalut bukan sebab ketidak-Islam- an si Jalut, melainkan
> keangkara-murkaan yang harus dihentikan. Dan kebetulan dia mati dalam
> pertempuran, sudah barang tentu pemenang mengambil alih kekuasaan yang
> ditinggalkan.
> >
> > Nabi Sulaiman... Raja, nabi dan rasul. Kedudukan raja sebab ia putra
> mahkota Raja Dawud, sang raja, nabi dan rasul. Alaihimassalaam. Dalam
> misinya kepada Balqis, beliau hanya mengajaknya untuk "Jangan angkuh atasku,
> tetapi datanglah dengan tulus (muslim)". Namun Balqis memperoleh hidayah
> untuk memeluk Islam dan menyembah Allah; bukan atas permintaan Nabi
> Sulaiman. [Catat: kata "muslim" dalam ayat tsb dipertentangakan dengan kata
> "jangan angkuh atasku", artinya makna muslim tidak bisa "diklaim"
> semata-mata dimaksudkan sebagai agama Islam]
> >
> > Nabi Musa as... Beliau alumnus Universitas Kerajaan Firaun yang cerdas,
> gemilang dan pemberani. Dipercayai untuk menjabat berbagai jabatan tinggi
> dan memperoleh kepercayaan yang istimewa disisi Raja Firaun. Namun ketika
> dipilih untuk membawa misi risalah, tidak pernah tercetuskan dari beliau
> untuk merebut kekuasaan Raja Firaun, melainkan menyerunya untuk menyembah
> Allah.
> >
> > Semua para nabi dan rasul...dalam sejarah mereka...dalam perkataan
> mereka... tak tercetuskan kehendak untuk melakukan perebutan kekuasaan,
> padahal kekuasaan dipercayai sebagai satu-satunya alat yang paling ampuh
> untuk menegakkan syariat Allah di muka bumi. Ini menandakan bahwa syariat
> Allah yang dibawa mereka memiliki semangat yang sama, yaitu untuk diamalkan
> atas inisiatif kedirian sebagai hamba terhadap Khaliknya. Bukan atas
> inisiatif Raja atas Rakyatnya.
> >
> > Mari kita telusuri "hikmah tasyri' " dari Nabi Muhammad saw dan Ahli
> Baitnya 'alaihimussalam Vis-Ã -vis Negara.
> >
> > Ajakan diatas menyebutnya "hikmah tasyri' ", maksudnya pemaknaan yang
> dipahami dari fenomena membaca siroh. Jadi, pembaca boleh tidak setuju.
> Disini, dihindarkan hal-hal yang bersifat indoktrinasi dan klaim kebenaran
> melulu (mujarrodul haq). Ini dilakukan, untuk membiasakan diri dengan akhlak
> berdiskusi dalam kegiatan menuntut ilmu.
> >
> > NABI MUHAMMAD Vis-Ã -vis NEGARA
> >
> > Yang dimaksud negara di judul barusan adalah negara luar; cara memandang
> kepada negara luar.
> >
> > Pernah kita dengar atau baca berikut ini; Konon dari Baginda Nabi saw:
> > Seru mereka kepada Dua Kalimat Syahadat. Kalau tidak mau, minta mereka
> bayar jizyah. Kalau tidak mau, ajak berperang.
> >
> > Mengapa seruan itu demikian "merinding" untuk direnungi pada zaman
> sekarang?
> > Kalau kita merenungi kondisi riel zaman itu dimana imperialisme sedang
> subur-suburnya. Di semua arah mata angin, Imperium Romawi dan Persia
> berseliweran membahana menjajah semua wilayah yang ada. Maka untuk
> menunjukkan eksistensi pada zaman itu hanya satu: Unjuk kekuatan untuk
> mengimbangi ketidak-adilan yang diciptakan oleh kekuasaan dua imperium yang
> mengganas demi dua tema agung risalah yang disebutkan didepan dapat
> tersampaikan dengan baik sesuai amanah yang diberikan. Ingin tahu bagaimana
> kebengisan kedua imperium itu? Tonton saja beberapa film yang berlatar
> belakang kehidupan di kedua imperium.
> >
> > Sebagaimana Nabi Ibrohim yang harus berhadapan dengan Namrudz... Maka
> sang Cucunda yang agung Nabi Muhammad pun mesti berhadapan dengan Imperium
> Romawi dan Persia.. untuk dua tema utama: Mempertuhankan Allah dan
> Menyebarkan Rahmat Allah.
> >
> > Gaung keesaan Allah yang berhak dipertuhankan perlu menggema sebesar gema
> kekuasaan Romawi dan Persia. Gaung rahmat Allah (keadilan, kesamaan derajat,
> mengutamakan kebersamaan, nilai-nilai akhlak mulia dll) perlu membahana
> dengan kuat sebagaimana kuatnya gaung ajaran-ajaran kekuasaan Romawi dan
> Persia. Dengan begitu, semua alam dapat mendengar, dapat mengambil
> perbandingan, dapat mengambil pelajaran, kemudian dapat menentukan pilihan
> untuk bersikap. Yang benar akan dicenderungi. ..yang bathil akan
> ditinggalkan. .. Hal ini dimungkinkan, apabila manusia mendapat pelajaran
> atau informasi yang seimbang... Untuk itulah Baginda Muhammad menyerukan
> ini...sesuai dengan tematik perbuatan yang lazim pada zaman itu.
> >
> > Dua tema itu abadi... tetapi cara berbeda. Keadaan di zaman Nabi Muhammad
> sudah tidak sama dengan keadaan di zaman kita hari ini. Jadi, meminta jizyah
> dan mengajak berperang sudah perlu dikondisikan dengan zaman yang berbeda
> juga.
> >
> > Kini, mari tengok apa "hikmah tasyri' " dari para Ahli Bait
> alaihimussalam Vis-Ã -vis Negara.
> >
> > AHLI BAIT Vis-Ã -vis NEGARA
> >
> > Yang dimaksud negara dalam judul barusan adalah negara sendiri. Yakni
> negara dimana para Ahli Bait sebagai penduduknya.
> >
> > 1) Ibunda Fatimah
> >
> > Mulai dari Ibunda Fatimah sang suci as. Ketika keluarga besar Banu Hasyim
> dirundung duka sepeninggal kewafatan sang kekasih mereka, tumpuan rindu dan
> duka mereka, yakni Baginda Muhammad solawatullahi alaihi wa-aalihii. Mereka
> tidak pernah berfikir sedikitpun untuk mengurusi ahwal kaum muslimin pada
> umumnya. Imam Ali as, yang seringkali mendapat tugas men-tadbir urusan
> keluarga besar, khususnya, pada saat-saat Baginda bepergian, iapun
> disibukkan dengan rutinitas menyelesaikan hal-hal yang terkait dengan
> pribadi beliau. Apakah wasiyat, amanat, keterkaitan hak pribadi beliau
> dengan orang lain dan lain-lain. Kepentingan ini mengalihkan beliau dari
> urusan ahwal umum kaum muslimin. Maka Abu Bakar ra mengisi kekosongan ini
> dengan baik. Begitulah takdir Allah yang terjadi sebagaimana goresan Alqalam
> yang tak bisa diubah. Semuanya mesti menginsafi ini dan menerima dengan
> ikhlas. Karena mereka semua sudah melakukan pada apa yang tak bisa
> dihindarkan.
> >
> > Namun belakangan rasa ketidakadilan menimpa Ibunda Fatimah as. Tanah
> Fidek yang pernah diperoleh dari Baginda semasa hidup, sebagai pembagian
> dari Ghanimah perang di Benteng Khaibar, dirampas oleh negara atas dasar
> kebijakan penertiban kekayaan negara. Bila yang dimaksud adalah kekayaan
> yang belum diselesaikan oleh Baginda, karena pada saat-saat sakit menjelang
> wafatnya, ini bisa diterima. Tetapi yang dialami oleh Ibunda Fatimah as
> adalah sesuatu yang sudah ditertibkan oleh Baginda. Parahnya lagi, Abu Bakar
> ra membuat takwil yang salah, ia menyebutnya sebagai waris. Dan berhujjah
> bahwa para nabi tidak diwarisi. Padahal sebagaimana diketahui, waris itu
> terjadi terhadap kekayaan yang masih dibawah kekuasaan mayit sepeninggalnya
> ia wafat. Sedangkan yang dimiliki oleh Ibunda Fatimah as bukan diperoleh
> dari waris, melainkan dari ghanimah sewaktu beliau sehat sepulang dari
> Khaibar.
> >
> > (Maaf, latar belakang ini bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk
> melihat sikap pribadi Ibunda Fatimah Vis-Ã -vis Negara, meski beliau
> menerima ketidak adilan dari pemerintah yang berlaku saat itu. Lagi pula
> para ulama di masa Khalifah Almakmun telah memutuskan bahwa harta itu harus
> dikembalikan kepada Ibunda Fatimah sehingga Khalifah AlMakmun mengembalikan
> tanah Fidek kepada Ibunda Fatimah (sekitar 5 abad setelah beliau wafat) dan
> diterima oleh ahli warisnya untuk kemudian disedekahkan kepada kaum
> muslimin)
> >
> > Apa yang dilakukan Ibunda Fatimah terhadap ketidak adilan ini?
> Sebagaimana kita ketahui...sakitnya beliau adalah sakitnya Banu Hasyim...
> kegembiraannya adalah kegembiraan Banu Hasyim.. dan semua kaum muslimin
> tentunya. Kalau saja beliau mau bersikap seperti Aisyah ra untuk menghasut
> kaum muslimin mneyerang pemerintahan yang sah... sejarah akan bercerita
> lain... Tapi MASYA ALLAH betapa agungnya beliau.. itu semua tidak terjadi..
> beliau hanya menghukum Abu Bakar ra secara pribadi dengan wasiyat kepada
> keluarganya: Jangan biarkan dia melihat aku meskipun aku telah mati.
> >
> > Akhlak beliau adalah mengorbankan kepentingan pribadi demi kemaslahatan
> umat, kehormatan kedaulatan muslimin dan menjunjung tinggi kebaikan di
> tengah-tengah masyarakat.
> >
> > 2) Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain
> >
> > Disini ringkas saja.
> > Imam Ali, dengan akhlaknya yang meneladani keagungan Ibunda Fatimah yang
> mencintai kedamaian dan kemaslahatan bagi umat dan menjunjung tinggi
> kedaulatan negara yang ada, beliau tetap bersabar menahan diri untuk
> menempat diri sebagai warga negara yang baik. Jangan ditanya soal banyaknya
> riwayat yang mengagungkan beliau, yang dapat membuat telinga beliau panas
> dan dada berdebar bila dihasut pihak-pihak tertentu. Tetapi kejayaan
> kedaulatan kaum muslimin sejak khalifah Abu Bakar ra, Umar Ra sampai Utsman
> ra..yang bertambah meningkat... itu semua merupakan kemenangan Imam Ali dan
> kegigihan beliau bersabar melewati masa-masa fitnah dengan baik. Kalau saja
> Imam Ali terhasut, semacam Perang Baratayuda, Paregreg, Bubat atau apalah
> namanya...pasti pernah terjadi dan menghancurkan kaum muslimin yang baru
> berumur jagung. MASYA ALLAH ...keteladan akhlak yang luar biasa ini masih
> juga belum disadari oleh orang-orang.
> >
> > Imam Hasan. Setelah 6 bulan menjadi khalifah, ia menyerahkan jabatan yang
> sah kepada Muawiyah. Bayangkan, Imam Hasan memiliki legalitas legitimasi,
> hak syar'i dan kanuni yang sah untuk mempertahankan kekuasaan sebagai
> khalifah. Kapan saja beliau mau, kaum muslimin siap berperang menghadapi
> setiap ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang ada. Tapi Imam Hasan
> menepiskan hak-hak kebenaran itu...demi menjayakan masa depan umat dan
> keilmuan. Imam Hasan meneladani Ibunda Fatimah dan Ayahanda Imam Ali. MASYA
> ALLAH ...cahaya ini sungguh disaksikan para malaikat. Engkau patut
> menyandang gelar pemimpin pemuda ahli Syurga.
> >
> > Imam Husein. Kepergiannya ke Karbala menjemput takdir syahidnya di sana.
> Beliau sudah tahu. Kakek beliau Baginda Muhammad juga sudah bernubuwwah
> tentang takdir itu. Untuk pergi ke Karbala beliau sengaja melewati
> jalur-jalur dimana banyak keluarga Banu Hasyim tinggal. Bahkan beliau
> bertemu Ibn Abbas ranhuma, sepupunya. Apa yang beliau lakukan? Tidak banyak
> yang merenungi ini. Sebetulnya beliau memesankan agar kejadian yang menimpa
> atas diri beliau adalah urusan beliau dengan pembunuhnya, bukan urusan antar
> rakyat dengan pemerintah ataupun urusan anggota Banu Hasyim dengan anggota
> Banu Umayyah. Mengapa begitu? Demi kemaslahatan kaum muslimin, demi
> menjayakan masa depan umat, demi memelihara kedaulatan negara!!! MASYA
> ALLAH... Kalau beliau tidak mewanti-wanti ini... Perang dahsyat pasti
> terjadi.para pembelanya yang fanatisme pasti mendapat alasan untuk melakukan
> dendam dan perang yang tak pernah berkesudahan. ..menghancurkan peradaban
> yang semestinya dapat
> > terbangun.
> >
> > Apakah ini semua bukan akhlak, teladan, pelajaran dan syariat yang nyata
> dari Ahli Bait Vis-Ã -vis Negara???
> >
> > Dua tema risalah: Mempertuhankan Allah yang MahaEsa dan Menebarkan
> Rahmat-Nya adalah visi dan misi utama para nabi dan rosul Vis-Ã -vis Negara
> yang abadi dan tak terbantahkan.
> >
> > Wallaahu a'lam.
> >
> > ____________ _________ _________ _________ _________ __
> > Do You Yahoo!?
> > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> > http://mail. yahoo.com
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> > ____________ _________ _________ _________ _________ __
> > Do You Yahoo!?
> > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> > http://mail. yahoo.com
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke