Barusan saya menerima sms dari Muhammad Romahurmuzzy

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, telah kembali ke haribaan ilahi, ibunda 
kami, Hj. Umroh Machfudzoh Tolchach Mansoer, usia 73 th, Jumat 6/11, jam 6.45 
di Yogya". 

Allahummaghfirlaha warhamha wa'afihi wa'fuanha. 
Semoga amal ibadah almarhumah diterima Allah SWT dan mendapat tempat yang mulia 
disisiNya.
Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan dan keteguhan iman dan 
bagi semua orang yang mengenalnya mohon dima'afkan segala kesalahannya dan 
berkenan mendo'akannya.


Biografi Bu Um:

Dra. Hj. UMROH MACHFUDZOH T. MANSOER (Ketua IPPNU 1955-1956)
Ketua Pertama dan Pendiri IPPNU

Dilahirkan 4 Februari 1936 di kota Gresik, Jawa Timur, Umroh mengawali 
pendidikan dasar di kota kelahirannya. Sempat berhenti sekolah hingga tahun 
1946 karena clash II, Umroh melanjutkan ke Madrasah Ibtidaiyah NU di Boto 
Putih, Surabaya. Dilahirkan dari pasangan K.H. Wahib Wahab dan Hj. Siti 
Channah, Umroh tumbuh dan dewasa di lingkungan NU. Sebagai cucu pendiri NU, 
K.H. Abdul Wahab Chasbullah, masa kecil Umroh banyak dilalui di lingkungan 
pesantren, khususnya pada masa liburan yang banyak dihabiskan di Tambak Beras, 
Jombang, tempat kelahiran ayahnya. Sebagai anak sulung dari lima bersaudara, 
sejak kecil Umroh dididik untuk bisa hidup mandiri. Hasrat untuk melanjutkan 
pendidikan ke jenjang sekolah menengah sekaligus mewujudkan impian merantaunya 
terpenuhi ketika diterima sebagai siswa SGA Surakarta. Ketika partai-partai 
politik meluaskan sayapnya pada pertengahan 50-an, Umroh mulai menerjunkan diri 
sebagai Seksi Keputrian Pelajar Islam Indonesia (PII) -organisasi pelajar 
afiliasi partai Masyumi- ranting SGA Surakarta. Namun, sejak berdirinya NU 
sebagai partai politik sendiri tahun 1952, Umroh mulai berkenalan dengan 
organisasi-organisasi di lingkungan NU. 

Sembari mengajar di Perguruan Tinggi Islam Cokro, Surakarta, Umroh yang nyantri 
di tempat Nyai Masyhud mulai menerjunkan diri sebagai wakil ketua Fatayat NU 
cabang Surakarta. Semangat Umroh yang menyala-nyala membawa pada kesadaran akan 
perlunya sebuah organisasi pelajar yang khusus menghimpun putra-putri NU. 
Berdirinya IPNU yang khusus menghimpun pelajar-pelajar putra pada awal tahun 
1954 membuat keinginan Umroh untuk membuat organisasi serupa khusus untuk para 
pelajar putri semakin menggebu-gebu. Gagasannya dituangkan lewat diskusi 
intensif dengan para pelajar putri NU di Muallimat NU dan SGA Surakarta yang 
sama-sama nyantri di tempat Nyai Masyhud. Kegigihan Umroh memperjuangkan 
pendirian IPNU-Putri (kelak berubah menjadi IPPNU) membawanya duduk sebagai 
Ketua Dewan Harian (DH) IPPNU. DH IPPNU adalah organ yang bertindak sebagai 
inkubator pendirian sekaligus pelaksana harian organisasi IPPNU.

Aktivitas di IPPNU yang tidak begitu lama diisi dengan sosialisasi dan 
pembentukan cabang-cabang IPPNU, khususnya di Jawa. Umroh juga tampil sebagai 
juru kampanye partai NU pada pemilu 1955. Tidak genap setahun menjabat Ketua 
Dewan Harian, Umroh meninggalkan Surakarta untuk menikah dengan M. Tolchah 
Mansoer, Ketua Umum PP IPNU pertama. Meskipun menetap di Yogyakarta, Umroh 
tidak pernah melepaskan perhatiannya terhadap organisasi yang ikut dia 
lahirkan. Kedudukan Dewan Penasehat PP IPPNU yang dipegang hingga saat ini, 
membuatnya tidak pernah absen dalam setiap perhelatan nasional yang 
diselenggarakan IPPNU. Riwayat organisasi Umroh berlanjut pada tahun 1962 
sebagai seksi Sosial PW Muslimat NU DIY. Kedudukan ini mengantarkan Umroh 
sebagai Ketua I Badan Musyawarah Wanita Islam Yogyakarta hingga tahun 1987. 
Kesibukan keluarga tidak mengendurkan hasratnya untuk melanjutkan ke Fakultas 
Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pendidikan strata-1 diselesaikan 
dalam waktu enam tahun sambil aktif sebagai Wakil Ketua Pengurus Poliklinik PW 
Muslimat NU DIY. Sementara itu, perhatian di bidang sosial disalurkan dengan 
menjabat sebagai Ketua Yayasan Kesejahteraan Keluarga (YKK) yang membidangi 
kegiatan-kegiatan di bidang peningkatan kesejahteraan sosial di wilayah 
Yogyakarta.

Jabatan Ketua PW Muslimat NU DIY diemban selama dua periode berturut-turut 
sejak tahun 1975. Kesibukan ini tidak menghalangi aktivitas sebagai Seksi 
Pendidikan PERSAHI (Pendidikan Wanita Persatuan Sarjana Hukum Indonesia) dan 
Gabungan Organisasi Wanita wilayah Yogyakarta. Naluri politik yang tersimpan 
selama belasan tahun ternyata tidak bisa dipendam Umroh begitu saja. Aktivitas 
sebagai bendahara DPW PPP mengantarkannya terpilih sebagai anggota DPRD DIY 
periode 1982-1987. Karir politiknya terus meningkat dari Wakil Ketua menjadi 
Pjs. Ketua DPW PPP DIY. Jabatan terakhir ini membawa Umroh ke Jakarta sebagai 
anggota DPR RI dari FPP selama dua periode. Umroh pernah menjabat sebagai Ketua 
Wanita Persatuan Pusat, organisasi wanita yang bernaung di bawah PPP. Sebagai 
anggota dewan, Umroh tercatat beberapa kali mengadakan kegiatan internasional 
diantaranya muhibah ke India, Hongaria, Perancis, Belanda, dan Jerman.
Domisili di Jakarta memudahkan Umroh melanjutkan aktivitas ke-NU-an sebagai 
Ketua Departemen Organisasi PP Muslimat NU, berlanjut sebagai Ketua III sampai 
sekarang. Sempat menikmati pensiun pasca pemilu 1997, Partai Kebangkitan Bangsa 
yang didirikan oleh Pengurus Besar NU mendorong Umroh terjun kembali ke dunia 
polittik sebagai salah satu ketua. Umroh yang berdomisili di Kompleks Kolombo 
21, Yogyakarta,  tercatat sebagai anggota DPR RI hasil pemilu 1999 dari Fraksi 
Kebangkitan Bangsa. 

Kirim email ke