Turut berbela sungkawa, Semoga arwahnya diberi kemudahan dn kelapangan dari Tuhan.
Allahummaghfir lahaa war hamhaa wa'fu 'anhaa... Amin. Pada 6 November 2009 08:41, Muhkito A <[email protected]> menulis: > > > Barusan saya menerima sms dari Muhammad Romahurmuzzy > > "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, telah kembali ke haribaan ilahi, > ibunda kami, Hj. Umroh Machfudzoh Tolchach Mansoer, usia 73 th, Jumat 6/11, > jam 6.45 di Yogya". > > Allahummaghfirlaha warhamha wa'afihi wa'fuanha. > Semoga amal ibadah almarhumah diterima Allah SWT dan mendapat tempat yang > mulia disisiNya. > Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan dan keteguhan iman > dan bagi semua orang yang mengenalnya mohon dima'afkan segala kesalahannya > dan berkenan mendo'akannya. > > Biografi Bu Um: > > Dra. Hj. UMROH MACHFUDZOH T. MANSOER (Ketua IPPNU 1955-1956) > Ketua Pertama dan Pendiri IPPNU > > Dilahirkan 4 Februari 1936 di kota Gresik, Jawa Timur, Umroh mengawali > pendidikan dasar di kota kelahirannya. Sempat berhenti sekolah hingga tahun > 1946 karena clash II, Umroh melanjutkan ke Madrasah Ibtidaiyah NU di Boto > Putih, Surabaya. Dilahirkan dari pasangan K.H. Wahib Wahab dan Hj. Siti > Channah, Umroh tumbuh dan dewasa di lingkungan NU. Sebagai cucu pendiri NU, > K.H. Abdul Wahab Chasbullah, masa kecil Umroh banyak dilalui di lingkungan > pesantren, khususnya pada masa liburan yang banyak dihabiskan di Tambak > Beras, Jombang, tempat kelahiran ayahnya. Sebagai anak sulung dari lima > bersaudara, sejak kecil Umroh dididik untuk bisa hidup mandiri. Hasrat untuk > melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah sekaligus mewujudkan > impian merantaunya terpenuhi ketika diterima sebagai siswa SGA Surakarta. > Ketika partai-partai politik meluaskan sayapnya pada pertengahan 50-an, > Umroh mulai menerjunkan diri sebagai Seksi Keputrian Pelajar Islam Indonesia > (PII) -organisasi pelajar afiliasi partai Masyumi- ranting SGA Surakarta. > Namun, sejak berdirinya NU sebagai partai politik sendiri tahun 1952, Umroh > mulai berkenalan dengan organisasi-organisasi di lingkungan NU. > > Sembari mengajar di Perguruan Tinggi Islam Cokro, Surakarta, Umroh yang > nyantri di tempat Nyai Masyhud mulai menerjunkan diri sebagai wakil ketua > Fatayat NU cabang Surakarta. Semangat Umroh yang menyala-nyala membawa pada > kesadaran akan perlunya sebuah organisasi pelajar yang khusus menghimpun > putra-putri NU. Berdirinya IPNU yang khusus menghimpun pelajar-pelajar putra > pada awal tahun 1954 membuat keinginan Umroh untuk membuat organisasi serupa > khusus untuk para pelajar putri semakin menggebu-gebu. Gagasannya dituangkan > lewat diskusi intensif dengan para pelajar putri NU di Muallimat NU dan SGA > Surakarta yang sama-sama nyantri di tempat Nyai Masyhud. Kegigihan Umroh > memperjuangkan pendirian IPNU-Putri (kelak berubah menjadi IPPNU) membawanya > duduk sebagai Ketua Dewan Harian (DH) IPPNU. DH IPPNU adalah organ yang > bertindak sebagai inkubator pendirian sekaligus pelaksana harian organisasi > IPPNU. > > Aktivitas di IPPNU yang tidak begitu lama diisi dengan sosialisasi dan > pembentukan cabang-cabang IPPNU, khususnya di Jawa. Umroh juga tampil > sebagai juru kampanye partai NU pada pemilu 1955. Tidak genap setahun > menjabat Ketua Dewan Harian, Umroh meninggalkan Surakarta untuk menikah > dengan M. Tolchah Mansoer, Ketua Umum PP IPNU pertama. Meskipun menetap di > Yogyakarta, Umroh tidak pernah melepaskan perhatiannya terhadap organisasi > yang ikut dia lahirkan. Kedudukan Dewan Penasehat PP IPPNU yang dipegang > hingga saat ini, membuatnya tidak pernah absen dalam setiap perhelatan > nasional yang diselenggarakan IPPNU. Riwayat organisasi Umroh berlanjut pada > tahun 1962 sebagai seksi Sosial PW Muslimat NU DIY. Kedudukan ini > mengantarkan Umroh sebagai Ketua I Badan Musyawarah Wanita Islam Yogyakarta > hingga tahun 1987. Kesibukan keluarga tidak mengendurkan hasratnya untuk > melanjutkan ke Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pendidikan > strata-1 diselesaikan dalam waktu enam tahun sambil aktif sebagai Wakil > Ketua Pengurus Poliklinik PW Muslimat NU DIY. Sementara itu, perhatian di > bidang sosial disalurkan dengan menjabat sebagai Ketua Yayasan Kesejahteraan > Keluarga (YKK) yang membidangi kegiatan-kegiatan di bidang peningkatan > kesejahteraan sosial di wilayah Yogyakarta. > > Jabatan Ketua PW Muslimat NU DIY diemban selama dua periode berturut-turut > sejak tahun 1975. Kesibukan ini tidak menghalangi aktivitas sebagai Seksi > Pendidikan PERSAHI (Pendidikan Wanita Persatuan Sarjana Hukum Indonesia) dan > Gabungan Organisasi Wanita wilayah Yogyakarta. Naluri politik yang tersimpan > selama belasan tahun ternyata tidak bisa dipendam Umroh begitu saja. > Aktivitas sebagai bendahara DPW PPP mengantarkannya terpilih sebagai anggota > DPRD DIY periode 1982-1987. Karir politiknya terus meningkat dari Wakil > Ketua menjadi Pjs. Ketua DPW PPP DIY. Jabatan terakhir ini membawa Umroh ke > Jakarta sebagai anggota DPR RI dari FPP selama dua periode. Umroh pernah > menjabat sebagai Ketua Wanita Persatuan Pusat, organisasi wanita yang > bernaung di bawah PPP. Sebagai anggota dewan, Umroh tercatat beberapa kali > mengadakan kegiatan internasional diantaranya muhibah ke India, Hongaria, > Perancis, Belanda, dan Jerman. > Domisili di Jakarta memudahkan Umroh melanjutkan aktivitas ke-NU-an sebagai > Ketua Departemen Organisasi PP Muslimat NU, berlanjut sebagai Ketua III > sampai sekarang. Sempat menikmati pensiun pasca pemilu 1997, Partai > Kebangkitan Bangsa yang didirikan oleh Pengurus Besar NU mendorong Umroh > terjun kembali ke dunia polittik sebagai salah satu ketua. Umroh yang > berdomisili di Kompleks Kolombo 21, Yogyakarta, tercatat sebagai anggota DPR > RI hasil pemilu 1999 dari Fraksi Kebangkitan Bangsa. > > > [Non-text portions of this message have been removed]
