Mas Dien menulis tentang local genius: .. istilah ini menunjuk para tokoh atau figur lokal (di desa atau daerah yang jauh dari kota) yang memiliki kemampuan berpikir atau keahlian yang tidak bisa dipandang remeh…. Kemudian Mas Dien..menyitir beberapa perkataan kiyai (dari acara Liqa Syawal Oktober 2009) yang memiliki keprihatinan tertentu dan memikirkan solusi mengentaskan keprihatinan. (Apakah Mas Dien setuju dengan kesimpulan saya dari penyitiran Mas Dien bahwa) Solusi (dari sumber-sumber Mas Dien) itu adalah menghancurkan Pancasila sebagai falsafah dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sofwan: ada sebuah pernyataan bahwa orang jenius itu bukanlah orang yang berfikir tentang ide apa..melainkan orang yang berfikir ide bagaimana… Ide apa…itu biasanya inovasi. Hebat, bukan? Namanya juga inovasi…orang lain belum mengatakannya. Tetapi mengapa sebagian ahli bilang, bahwa ini bukan pertanda jenius yang sebenarnya, baru fatamorgana jenius. Atau kenakalan berfikir. Atau kejeniusan anak-anak. Berbeda dengan orang yang berfikir bagaimana. Agak rumit. Terlebih apabila bagaimana menggolkan sebuah fenomena diatas sebuah ke-bagaimana-an yang sudah ada. Pohon yang sudah ada, lalu berfikir bagaimana agar ia bertambah cantik dan menarik, tanpa mengganti dengan membeli pohon yang lain. Nah, bukankah ini kejeniusan yang tidak mahal dan tanpa menghancurkan? Sebagaimana sudah dikemukakan pada tulisan sebelumnya, bahwa kita sering kali berfikir untuk mencabut akar sebuah pohon hanya gara-gara dahan, ranting atau bahkan daun yang perlu dibersihkan. Ketika orang tua kita sudah memutuskan sebuah perjanjian…dan ketika kita mengalami sebuah masalah… seringkali kita berfikir untuk menghancurkan perjanjian yang pernah ditegakkan. Apakah ini sebuah kejeniusan? Kita tak perlu belajar kepada saudara kita di Aceh, sebagian keinginan mereka untuk melaksanakan peraturan syariat dapat tercapai tanpa menghancurkan Pancasila dan tanpa meruntuhkan NKRI. Meski harus melewati perjuangan yang tidak mengenal lelah. Kegelisahan para kiyai itu, sebetulnya dapat dilahirkan menjadi program kerja PBNU. Yaitu program melembagakan adat berkeluarga sesama jamaah nahdliyin dalam bentuk program Majlis Adat. Berdasarkan “Quu anfusakum wa ahlikum naaroo” maka bisa dibentuk Majlis Adat Nahdliyin di lingkungan tertentu dengan dimana warga nahdlyin adalah mayoritas. Kiyai tertentu di tunjuk oleh PC/PW/PBNU ditunjuk untuk duduk sebagai orang tua dan jamaah selingkungan sebagai ahli atau keluarga. Tugas Majlis Adat Nahdliyin (MAN) ini adalah memperhatikan mutu hidup dan mutu iman Ahli selingkungan. Dalam sistem MAN, Muktamar NU menentukan kaidah-kaidah membimbing, mengayomi dan memberi sanksi yang mendidik. Termasuk kalau Ahli meninggalkan kewajiban beragama. Tanpa perlu menunggu ada Perda atau UU Hukum Syariat, kalau para kiyai bersabar dan tidak ragu-ragu untuk menekan Muktamar NU untuk membentuk sistem ini untuk lingkungan nahdlyin maka tidak mustahil…sistem ini akan terbentuk menjadi teladan. Kenapa kita lari keluar dari memperhatikan syiar untuk membesarkan NU dan kebaikan warganya? Kenapa kita membiarkan keprihatinan-keprihatinan itu liar berserakan tidak pernah dijadikan masukkan dan desakan kepada Muktamar NU? Dimana letak cinta dan tanggungjawab kita untuk mengemban amanah di pundak-pundak kita untuk memakmurkan NU? Mas Dien… Pikirkan lagi… tidakkah lebih baik kalau keprihatinan para kiyai itu disalurkan kepada NU? Bila perlu sampean nyalon jadi Ketua PBNU. Sekarang NU tidak jelas mau jadi apa, mau ngayomi siapa? Keprihatinan para kiyai yang disebutkan sebagai jenius lokal itu … mengapa tidak diusung di lingkungan-lingkungan keorganisasian NU? Kalau..bilang, wah payah.. NU dikuasai para Gus. Maka saya bilang, mengapa kita berputus asa untuk memperjuangkan aspirasi jamaah? Mengapa kita berputus asa? Mengapa lantas kita MUFAROQOH dari NU? Bukankah sikap mufaroqoh itu tidak disukai Ulama NU? Mas… Mbah Langitan … gara-gara MUFAROQOH… pondoknya dibanjir air bah dari langit yang melintasi Bengawan Solo. Kata Mbah Maimun Zubair, (awkamaqoola):…yang penting jangan mufaroqoh…. Mbah Maimun tetap istiqomah di PPP, meskipun Gus Dur membuat PKB. Alasan Mbah Maimun…menjauhi sikap mufaroqoh. Bandingkan ketika para kiyai yang Mufaroqoh…dari PKB ke PKNU… hanya karena tidak puas dengan sikap Gus Dur. Akibatnya, ada yang dilimpasi air bah… ada yang pondoknya ditinggal santri menjadi sepi… Hanya sebab satu hal “MUFAROQOH”. Padahal prinsip mendirikan PKNU secara logika dapat diterima dan tidak dosa. Tetapi sikap MUFAROQOH itu membuat tidak berkah, membuat kemuliaan dari Allah perlu diskors dulu. Perlu diberi kartu Kuning (muga-muga bukan kartu merah). Saya melihat… sikap-sikap orang-orang NU yang menjauh dari membesarkan dan memakmurkan NU, dengan mengalihkan kepedulian untuk membesarkan jamiyah yang lain adalah bentuk MUFAROQOH yang nyata. Bagi saya, saya siap bertarung, bertengkar dan hancur kalah dalam pertarungan..di ring tinju ke-NU-an. Tapi saya tidak akan pernah keluar dari NU. Paling tidak, saya uzlah… bersemedi… istirahat… atau mundur untuk non-aktif… kalau saya kalah. Saya kalau tidak suka, bicara, bahkan siap bertempur adu mulut (kalau adu jotos, kena tindak pidana)… saya siap diskors… saya siap dikucilkan… Tapi saya tidak mau mufaroqoh dengan apa yang sudah kiyai amanatkan kepada saya, kalau jelas-jelas bahwa amanat itu bukan untuk melawan Allah. Saya akan konsisten berteriak ke telinga kiyai saya, kalau saya tidak setuju. Tapi, kalau kiyai nyambut gawe, saya adalah orang terdepan dan paling capek bekerja demi menyukseskan hajat kiyai. Nanti di lain waktu, ada hal yang berbeda, ya kritis lagi, berteriak lagi. Pas kiyai nyambut gawe, kembali saya adalah orang terdepan bekerja menyukseskannya. Sampai kemudian kiyai tahu, bahwa rewelnya dan kritisnya adalah karena cintanya kepada kiyai, belanya kepada kiyai. Inilah makna ikhlas yang saya pahami. Bukan mbalelo. Sikap saya seperti ini adalah yang membuat saya mengurut dada dengan para kiyai yang mendirikan PKNU dahulu… Mengapa beliau-beliau tidak berfikir bahwa ini adalah perbuatan mufaroqoh, padahal mereka pernah saya kagumi? Mas Dien… saya sarankan Mas datang ke Muktamar NU… dan bilang sambil misuh-misuh… “Perhatikan nasib kehidupan kami bersyariah..jangan biarkan kami terseret dan tergoda oleh keindahan harapan HTI yang mampu membius kerinduan kami. Kami sudah tidak sanggup menyaksikan para kiyai tidak peduli dengan keadaan kami yang morat-marit. Jangan biarkan kami mendapat alasan untuk mufaroqoh dari NU, sebab para kiyai yang tidak peduli dengan kami!!!” Mas Dien termasuk orang berkategori jenius.. dan saya akan makmum ke Mas Dien… kalau Mas Dien berkenan memperjuangkan program Majlis Adat Nahdliyin yang saya kemukakan di atas ke Muktamar NU di Makasar 2010. Saya berdoa… semoga Mas Dien berkenan solat istikhoroh untuk mengambilnya sebagai ajang perjuangan di NU. Aamiin.
________________________________ From: syamsuddin <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, November 3, 2009 10:36:30 AM Subject: [kmnu2000] lokal genius LOCAL GENIUS Istilah 'local genius' acap kali dipakai kalangan para pegiat lembaga non pemerintah (NGO) atau LSM. istilah ini menunjuk para tokoh atau figur lokal (di desa atau daerah yang jauh dari kota) yang memiliki kemampuan berpikir atau keahlian yang tidak bisa dipandang remeh.Umumnya dipahami bahwa orang-orang yang berkualitas, baik dari segi pemikiran ,keahlian atau hasil karya itu ada di daerah perkotaan atau dipusat kota pemerintahan. Namun, ternyata tiak selalu demikian. Fakta menunjukkan, meski di daerah yang terpencil, jauh dari puat informasi atau pusat kegiatan politik, ada saja ditemukan orang-orang yang memiliki kemampuan yang istimewa. Orang-orang seperti inilah yang sering disebut dengan istilah sebagai 'local genius'. + + + + + Hal ini didapati pula oleh HTI dalam interaksinya dengan sejumlah tokoh,ulama, ustadz dan tokoh masyarakat di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Misalnya dalam acara Liqa Syawal yang diselenggarkan oleh HTI di sejumlah daerah seperti di Sumedang,Cirebon, Banjar, Banjar, Bandung dan Makasar serta daerah lain pada awal bulan Oktober lalu. Para ulama atau kyai dari berbagai daerah yang umumnya tinggal di desa, yang dari segi penampilan tampak sangat bersahaja, ternyata memiliki pemikiran yang luar biasa: bahkan kadang terasa mengejutkan. Coba simak pemikiran KH Muhammad Khitab dari kecamatan jatinunggal, Sumedang,kiai yang memimpin 4 RA (Rudhatul Athal), 14 MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan 7 MTs (Madrasah Tsanawiyah) serta 7 MA (Madrasah Aliyah) yang lokasinya jauh di pelosok desa, dalam kesempatan memberikan testemoni atau makalah dalam forum Liqa Syawal yang diselenggarakan oleh HTI Sumedang, mengemukakan kegelisahannya melihat konaisi ummat islam saat ini yang perilakunya disebutkan seperti anak kecil, Lihatlah, katanya anak kecil itu suka sekali mainan macan; tapi kalau dikasih macan beneran,pasti takut," Ummat Islam sekarang juga kayak gitu, Kalau dikasih islam yang beneran takut. Maunya Islam main- mainan," disambut tawa hadirin. Sebuah perumpamaan yang sederhana ,tetapi terasa mengena,Lain lagi penuturan KH AL-Hafid Ali Bayanullah, pimpinan Pondok Pesantren al-Bayan dikecamatan Sukasari, Sumedang .Ummat Islam saat ini menurutnya seperti anak ayam kehilangan induknya.Tidak ada yang memimpin dan tidak aada pula yang melindungi , Ia memberi contoh, mengapa banyak ummat islam yang tidak sholat?"bukan karena kurang dai.Cukup banyak dai di sekitar kita. Yang tidak ada adalah yang menghukum orang yang tidak sholat itu. Siapa yang mestinya menghukum mereka? Bukan ulama, tapi khalifah. Karena itu, khalifah sangat penting untuk diwujudkan," teriaknya. Adapun KH Zamzam setiawan Lc,pimpinan Pondok Pesantren al-mahmud,kecamatan tanjungsari, Sumedang, mengatakan bahwa semua manusia pada prinsipnya sama,yaitu ingin hidup senang dan bahagiaa. Persoalannya, dimana rasa senang dan bahagia itu bisa diapat?" itu tidak lain hanya didalam aturan islam,Allah menciptakan manusia,Allah paling tahu bagaimana mengatur manusia. Manusia pasti akan senang dan bahagia bila mengikuti aturan-Nya dan pasti akan celaka bila menentangnya, siapa yang nenerapkan aturan Allah itu? Tidak lain, itulah pemerintahan islam yaitu khilafah,"ungkapnya mantap. Mungkin cukup mengherankan, para kyai yang tinggal dipelosok-pelosok desa,ternyata pemikirannya tetap segar, aktual dan juga progresif. Soal tempat tinggal dan ladang berkiprah mereka yang jauh dari kota diakui oleh Ustad Ujang Rohendi dari kecamatan Sukasari,Sumedang yang memerlukan waktu berjam-jam untuk sampai ke kota kecamatan. Namun , itu tidak berarti mereka ketinggalan zaman. Dia bilang ,"saya memang ustadz kampung, tapi tetap politis dan tidak boleh jumud." Katanya lagi, meski tinggal di kampung,"saya tidak akan meleng (lengah) sedikit pun dari perjuangan syariah dan khilafah ini!" Mengapa bisa begitu? Penegasan KH Ali Badri dari Cirebon yang memberikan testemoni pada acara Liqa' Syawal yang diselenggarakan oleh HTI Wilayah 3 Cirebon, 9 Oktober lalu, kiranya bisa menjelaskan , Katanya "khilafah bukanlah cita-cita HTI saja, tapi juga para kyai di pesantren." Karena itu, ia menyerukan," Marilah kita sebarkan ide itu sesuai dengan daya jangkau pengaruh kita. Misalnya, kepada kepada keluarga atau pesantren kita. Saya, misalnya,saya sampaikan ide khilafah kepada keluarga saya, maka tidak ada satupun keluarga saya yang anti khilafah." Keyakinan bahwa ide syariah dan khalifah bukan hanya milik HTI juga diakui oleh Ustadz Abdulwahab Amin di Makasar. Dalam acara Temu Tokoh yang di selenggarakan olwh HTI Sulsel, 10 Oktober lalu, dia mengatakan bahwa baginya tidak ada pilihan kecuali syariah dan khilafah. Jadi, ide syariah dan khilafah tampaknya memang bukan ide yang asing buat para ulama karena semua itu ada dalam kitab-kitab yang akrab dikalangan pesantren. Jadi tidak aneh begitu melihat HTI bersemangat mamperjuangkan tegaknya khalifah, para ulama terbangkitkan pula semangatnya menyokong perjuangan ini. Mereka seolah menemukan kembali spirit atau semangat juang yang selama ini terkubur. KH Zainal Abbas, ketika menyampaikan taushiahnya dalam acara liqa'Syawal yang diadakan oleh HTI DPD 1 Jabar di Bandung,11 Oktober lalu sampai mengatakan, katanya,"saya sangat merindukan hidup dalam naungan khilafah walaupun hanya sedetik saja." Kontan saja, pernyataan itu disambut pekik takbir hadirin. + + + + + Dari sekelumit fakta diatas bisa ditarik pelajaran bahwa kebenaran Islam sesungguhnya berlaku universal.Untuk menyakini tidaklah terlalu sulit. Hanya diperlukan kejujuran dan keikhlasan disertai sedikit pengetahuan. itu bisa didapat oleh siapa saja , apalagi seorang ulama ;dimana saja, didesa atau pun di kota dan kapan saja, kemarin , kini atau nanti. Karena itu , jika ada pihak-pihak yang tampak begitu sulit untuk menerima ide syariah dan khalifah, mungkin pula kurang pengetahuannya, mungkin pula kurang kejujurannya atau keikhlasannya. Namun tentu tidak berarti mereke kurang kejeniusannya, sebab, syariah dan khilafah sesungguhnya adalah ide yang biasa saja + + + + + [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
