Maaf ada koreksi:
Tertulis: Kita tak perlu belajar kepada saudara kita di Aceh, sebagian...
Sebetulnya: Kita perlu belajar kepada saudara kita di Aceh, sebagian... (kata 
"tak" dihapus)

terima kasih.




________________________________
From: sofwan nadi <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, November 10, 2009 10:12:32 AM
Subject: Re: [kmnu2000] lokal genius

  
Mas Dien menulis tentang local genius: .. istilah ini menunjuk para tokoh atau 
figur lokal (di desa atau daerah yang jauh dari kota) yang memiliki kemampuan 
berpikir atau keahlian yang tidak bisa dipandang remeh….
 
Kemudian Mas Dien..menyitir beberapa perkataan kiyai (dari acara Liqa Syawal 
Oktober 2009) yang memiliki keprihatinan tertentu dan memikirkan solusi 
mengentaskan keprihatinan. (Apakah Mas Dien setuju dengan kesimpulan saya dari 
penyitiran Mas Dien bahwa) Solusi (dari sumber-sumber Mas Dien) itu adalah 
menghancurkan Pancasila sebagai falsafah dasar Negara Kesatuan Republik 
Indonesia.
 
Sofwan: ada sebuah pernyataan bahwa orang jenius itu bukanlah orang yang 
berfikir tentang ide apa..melainkan orang yang berfikir ide bagaimana…
 
Ide apa…itu biasanya inovasi. Hebat, bukan? Namanya juga inovasi…orang lain 
belum mengatakannya. Tetapi mengapa sebagian ahli bilang, bahwa ini bukan 
pertanda jenius yang sebenarnya, baru fatamorgana jenius. Atau kenakalan 
berfikir. Atau kejeniusan anak-anak.
 
Berbeda dengan orang yang berfikir bagaimana. Agak rumit. Terlebih apabila 
bagaimana menggolkan sebuah fenomena diatas sebuah ke-bagaimana- an yang sudah 
ada. Pohon yang sudah ada, lalu berfikir bagaimana agar ia bertambah cantik dan 
menarik, tanpa mengganti dengan membeli pohon yang lain. Nah, bukankah ini 
kejeniusan yang tidak mahal dan tanpa menghancurkan?
 
Sebagaimana sudah dikemukakan pada tulisan sebelumnya, bahwa kita sering kali 
berfikir untuk mencabut akar sebuah pohon hanya gara-gara dahan, ranting atau 
bahkan daun yang perlu dibersihkan.
 
Ketika orang tua kita sudah memutuskan sebuah perjanjian…dan ketika kita 
mengalami sebuah masalah… seringkali kita berfikir untuk menghancurkan 
perjanjian yang pernah ditegakkan. Apakah ini sebuah kejeniusan?
 
Kita tak perlu belajar kepada saudara kita di Aceh, sebagian keinginan mereka 
untuk melaksanakan peraturan syariat dapat tercapai tanpa menghancurkan 
Pancasila dan tanpa meruntuhkan NKRI. Meski harus melewati perjuangan yang 
tidak mengenal lelah.
 
Kegelisahan para kiyai itu, sebetulnya dapat dilahirkan menjadi program kerja 
PBNU. Yaitu program melembagakan adat berkeluarga sesama jamaah nahdliyin dalam 
bentuk program Majlis Adat.
 
Berdasarkan “Quu anfusakum wa ahlikum naaroo” maka bisa dibentuk Majlis Adat 
Nahdliyin di lingkungan tertentu dengan dimana warga nahdlyin adalah mayoritas. 
Kiyai tertentu di tunjuk oleh PC/PW/PBNU ditunjuk untuk duduk sebagai orang tua 
dan jamaah selingkungan sebagai ahli atau keluarga. Tugas Majlis Adat Nahdliyin 
(MAN) ini adalah memperhatikan mutu hidup dan mutu iman Ahli selingkungan. 
Dalam sistem MAN, Muktamar NU menentukan kaidah-kaidah membimbing, mengayomi 
dan memberi sanksi yang mendidik. Termasuk kalau Ahli meninggalkan kewajiban 
beragama.
 
Tanpa perlu menunggu ada Perda atau UU Hukum Syariat, kalau para kiyai bersabar 
dan tidak ragu-ragu untuk menekan Muktamar NU untuk membentuk sistem ini untuk 
lingkungan nahdlyin maka tidak mustahil…sistem ini akan terbentuk menjadi 
teladan.
 
Kenapa kita lari keluar dari memperhatikan syiar untuk membesarkan NU dan 
kebaikan warganya? Kenapa kita membiarkan keprihatinan- keprihatinan itu liar 
berserakan tidak pernah dijadikan masukkan dan desakan kepada Muktamar NU? 
Dimana letak cinta dan tanggungjawab kita untuk mengemban amanah di 
pundak-pundak kita untuk memakmurkan NU?
 
Mas Dien… Pikirkan lagi… tidakkah lebih baik kalau keprihatinan para kiyai itu 
disalurkan kepada NU? Bila perlu sampean nyalon jadi Ketua PBNU. Sekarang NU 
tidak jelas mau jadi apa, mau ngayomi siapa? Keprihatinan para kiyai yang 
disebutkan sebagai jenius lokal itu … mengapa tidak diusung di 
lingkungan-lingkung an keorganisasian NU? Kalau..bilang, wah payah.. NU 
dikuasai para Gus. Maka saya bilang, mengapa kita berputus asa untuk 
memperjuangkan aspirasi jamaah? Mengapa kita berputus asa? Mengapa lantas kita 
MUFAROQOH dari NU? Bukankah sikap mufaroqoh itu tidak disukai Ulama NU?
 
Mas… Mbah Langitan … gara-gara MUFAROQOH… pondoknya dibanjir air bah dari 
langit yang melintasi Bengawan Solo. Kata Mbah Maimun Zubair, (awkamaqoola) 
:…yang penting jangan mufaroqoh…. 
 
Mbah Maimun tetap istiqomah di PPP, meskipun Gus Dur membuat PKB. Alasan Mbah 
Maimun…menjauhi sikap mufaroqoh. Bandingkan ketika para kiyai yang 
Mufaroqoh…dari PKB ke PKNU… hanya karena tidak puas dengan sikap Gus Dur. 
Akibatnya, ada yang dilimpasi air bah… ada yang pondoknya ditinggal santri 
menjadi sepi… Hanya sebab satu hal “MUFAROQOH”. Padahal prinsip mendirikan PKNU 
secara logika dapat diterima dan tidak dosa. Tetapi sikap MUFAROQOH itu membuat 
tidak berkah, membuat kemuliaan dari Allah perlu diskors dulu. Perlu diberi 
kartu Kuning (muga-muga bukan kartu merah).
 
Saya melihat… sikap-sikap orang-orang NU yang menjauh dari membesarkan dan 
memakmurkan NU, dengan mengalihkan kepedulian untuk membesarkan jamiyah yang 
lain adalah bentuk MUFAROQOH yang nyata.
 
Bagi saya, saya siap bertarung, bertengkar dan hancur kalah dalam pertarungan. 
.di ring tinju ke-NU-an. Tapi saya tidak akan pernah keluar dari NU. Paling 
tidak, saya uzlah… bersemedi… istirahat… atau mundur untuk non-aktif… kalau 
saya kalah. Saya kalau tidak suka, bicara, bahkan siap bertempur adu mulut 
(kalau adu jotos, kena tindak pidana)… saya siap diskors… saya siap dikucilkan… 
Tapi saya tidak mau mufaroqoh dengan apa yang sudah kiyai amanatkan kepada 
saya, kalau jelas-jelas bahwa amanat itu bukan untuk melawan Allah.
 
Saya akan konsisten berteriak ke telinga kiyai saya, kalau saya tidak setuju. 
Tapi, kalau kiyai nyambut gawe, saya adalah orang terdepan dan paling capek 
bekerja demi menyukseskan hajat kiyai. Nanti di lain waktu, ada hal yang 
berbeda, ya kritis lagi, berteriak lagi. Pas kiyai nyambut gawe, kembali saya 
adalah orang terdepan bekerja menyukseskannya. Sampai kemudian kiyai tahu, 
bahwa rewelnya dan kritisnya adalah karena cintanya kepada kiyai, belanya 
kepada kiyai. Inilah makna ikhlas yang saya pahami. Bukan mbalelo.
 
Sikap saya seperti ini adalah yang membuat saya mengurut dada dengan para kiyai 
yang mendirikan PKNU dahulu… Mengapa beliau-beliau tidak berfikir bahwa ini 
adalah perbuatan mufaroqoh, padahal mereka pernah saya kagumi?
 
Mas Dien… saya sarankan Mas datang ke Muktamar NU… dan bilang sambil 
misuh-misuh… “Perhatikan nasib kehidupan kami bersyariah.. jangan biarkan kami 
terseret dan tergoda oleh keindahan harapan HTI yang mampu membius kerinduan 
kami. Kami sudah tidak sanggup menyaksikan para kiyai tidak peduli dengan 
keadaan kami yang morat-marit. Jangan biarkan kami mendapat alasan untuk 
mufaroqoh dari NU, sebab para kiyai yang tidak peduli dengan kami!!!”
 
 
Mas Dien termasuk orang berkategori jenius.. dan saya akan makmum ke Mas Dien… 
kalau Mas Dien berkenan memperjuangkan program Majlis Adat Nahdliyin yang saya 
kemukakan di atas ke Muktamar NU di Makasar 2010. Saya berdoa… semoga Mas Dien 
berkenan solat istikhoroh untuk mengambilnya sebagai ajang perjuangan di NU. 
Aamiin.

____________ _________ _________ __
From: syamsuddin <bus...@telkom. net>
To: kmnu2...@yahoogroup s.com
Sent: Tue, November 3, 2009 10:36:30 AM
Subject: [kmnu2000] lokal genius

  
LOCAL GENIUS

Istilah 'local genius' acap kali dipakai kalangan para pegiat lembaga non 
pemerintah (NGO) atau LSM. istilah ini menunjuk para tokoh atau figur lokal (di 
desa atau daerah yang jauh dari kota) yang memiliki kemampuan berpikir atau 
keahlian yang tidak bisa dipandang remeh.Umumnya dipahami bahwa orang-orang 
yang berkualitas, baik dari segi pemikiran ,keahlian atau hasil karya itu ada 
di daerah perkotaan atau dipusat kota pemerintahan. Namun, ternyata tiak selalu 
demikian. Fakta menunjukkan, meski di daerah yang terpencil, jauh dari puat 
informasi atau pusat kegiatan politik, ada saja ditemukan orang-orang yang 
memiliki kemampuan yang istimewa. Orang-orang seperti inilah yang sering 
disebut dengan istilah sebagai 'local genius'.

+ + + + + 

Hal ini didapati pula oleh HTI dalam interaksinya dengan sejumlah tokoh,ulama, 
ustadz dan tokoh masyarakat di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Misalnya 
dalam acara Liqa Syawal yang diselenggarkan oleh HTI di sejumlah daerah seperti 
di Sumedang,Cirebon, Banjar, Banjar, Bandung dan Makasar serta daerah lain pada 
awal bulan Oktober lalu. Para ulama atau kyai dari berbagai daerah yang umumnya 
tinggal di desa, yang dari segi penampilan tampak sangat bersahaja, ternyata 
memiliki pemikiran yang luar biasa: bahkan kadang terasa mengejutkan.

Coba simak pemikiran KH Muhammad Khitab dari kecamatan jatinunggal, 
Sumedang,kiai yang memimpin 4 RA (Rudhatul Athal), 14 MI (Madrasah Ibtidaiyah) 
dan 7 MTs (Madrasah Tsanawiyah) serta 7 MA (Madrasah Aliyah) yang lokasinya 
jauh di pelosok desa, dalam kesempatan memberikan testemoni atau makalah dalam 
forum Liqa Syawal yang diselenggarakan oleh HTI Sumedang, mengemukakan 
kegelisahannya melihat konaisi ummat islam saat ini yang perilakunya disebutkan 
seperti anak kecil, Lihatlah, katanya anak kecil itu suka sekali mainan macan; 
tapi kalau dikasih macan beneran,pasti takut," Ummat Islam sekarang juga kayak 
gitu, Kalau dikasih islam yang beneran takut. Maunya Islam main- mainan," 
disambut tawa hadirin.

Sebuah perumpamaan yang sederhana ,tetapi terasa mengena,Lain lagi penuturan KH 
AL-Hafid Ali Bayanullah, pimpinan Pondok Pesantren al-Bayan dikecamatan 
Sukasari, Sumedang .Ummat Islam saat ini menurutnya seperti anak ayam 
kehilangan induknya.Tidak ada yang memimpin dan tidak aada pula yang melindungi 
, Ia memberi contoh, mengapa banyak ummat islam yang tidak sholat?"bukan karena 
kurang dai.Cukup banyak dai di sekitar kita. Yang tidak ada adalah yang 
menghukum orang yang tidak sholat itu. Siapa yang mestinya menghukum mereka? 
Bukan ulama, tapi khalifah. Karena itu, khalifah sangat penting untuk 
diwujudkan," teriaknya.

Adapun KH Zamzam setiawan Lc,pimpinan Pondok Pesantren al-mahmud,kecamatan 
tanjungsari, Sumedang, mengatakan bahwa semua manusia pada prinsipnya 
sama,yaitu ingin hidup senang dan bahagiaa. Persoalannya, dimana rasa senang 
dan bahagia itu bisa diapat?" itu tidak lain hanya didalam aturan islam,Allah 
menciptakan manusia,Allah paling tahu bagaimana mengatur manusia. Manusia pasti 
akan senang dan bahagia bila mengikuti aturan-Nya dan pasti akan celaka bila 
menentangnya, siapa yang nenerapkan aturan Allah itu? Tidak lain, itulah 
pemerintahan islam yaitu khilafah,"ungkapnya mantap.

Mungkin cukup mengherankan, para kyai yang tinggal dipelosok-pelosok 
desa,ternyata pemikirannya tetap segar, aktual dan juga progresif. Soal tempat 
tinggal dan ladang berkiprah mereka yang jauh dari kota diakui oleh Ustad Ujang 
Rohendi dari kecamatan Sukasari,Sumedang yang memerlukan waktu berjam-jam untuk 
sampai ke kota kecamatan. Namun , itu tidak berarti mereka ketinggalan zaman. 
Dia bilang ,"saya memang ustadz kampung, tapi tetap politis dan tidak boleh 
jumud."

Katanya lagi, meski tinggal di kampung,"saya tidak akan meleng (lengah) sedikit 
pun dari perjuangan syariah dan khilafah ini!"

Mengapa bisa begitu? Penegasan KH Ali Badri dari Cirebon yang memberikan 
testemoni pada acara Liqa' Syawal yang diselenggarakan oleh HTI Wilayah 3 
Cirebon, 9 Oktober lalu, kiranya bisa menjelaskan , Katanya "khilafah bukanlah 
cita-cita HTI saja, tapi juga para kyai di pesantren." Karena itu, ia 
menyerukan," Marilah kita sebarkan ide itu sesuai dengan daya jangkau pengaruh 
kita. Misalnya, kepada kepada keluarga atau pesantren kita. Saya, misalnya,saya 
sampaikan ide khilafah kepada keluarga saya, maka tidak ada satupun keluarga 
saya yang anti khilafah."

Keyakinan bahwa ide syariah dan khalifah bukan hanya milik HTI juga diakui oleh 
Ustadz Abdulwahab Amin di Makasar. Dalam acara Temu Tokoh yang di selenggarakan 
olwh HTI Sulsel, 10 Oktober lalu, dia mengatakan bahwa baginya tidak ada 
pilihan kecuali syariah dan khilafah. 

Jadi, ide syariah dan khilafah tampaknya memang bukan ide yang asing buat para 
ulama karena semua itu ada dalam kitab-kitab yang akrab dikalangan pesantren. 
Jadi tidak aneh begitu melihat HTI bersemangat mamperjuangkan tegaknya 
khalifah, para ulama terbangkitkan pula semangatnya menyokong perjuangan ini. 
Mereka seolah menemukan kembali spirit atau semangat juang yang selama ini 
terkubur. KH Zainal Abbas, ketika menyampaikan taushiahnya dalam acara 
liqa'Syawal yang diadakan oleh HTI DPD 1 Jabar di Bandung,11 Oktober lalu 
sampai mengatakan, katanya,"saya sangat merindukan hidup dalam naungan khilafah 
walaupun hanya sedetik saja." Kontan saja, pernyataan itu disambut pekik takbir 
hadirin.

+ + + + + 

Dari sekelumit fakta diatas bisa ditarik pelajaran bahwa kebenaran Islam 
sesungguhnya berlaku universal.Untuk menyakini tidaklah terlalu sulit. Hanya 
diperlukan kejujuran dan keikhlasan disertai sedikit pengetahuan. itu bisa 
didapat oleh siapa saja , apalagi seorang ulama ;dimana saja, didesa atau pun 
di kota dan kapan saja, kemarin , kini atau nanti.

Karena itu , jika ada pihak-pihak yang tampak begitu sulit untuk menerima ide 
syariah dan khalifah, mungkin pula kurang pengetahuannya, mungkin pula kurang 
kejujurannya atau keikhlasannya. Namun tentu tidak berarti mereke kurang 
kejeniusannya, sebab, syariah dan khilafah sesungguhnya adalah ide yang biasa 
saja

+ + + + +

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke