SBY, MINTALAH MAAF KEPADA RAKYAT

by : Saurip Kadi



Ujung perseteruan Cicak vs Buaya adalah persoalan kepemimpinan dan
pertanggung-jawaban publik SBY sebagai Presiden. Siapapun tidak
menghendaki SBY sebagai Presiden intervensi hukum, tapi SBY tidak boleh
ber JAIM ria seperti yang terjadi selama ini. Janganlah seolah-olah
paling konstitusional, padahal untuk mengulur-ulur waktu. Alasan tak
mau melanggar UU sesungguhnya JAIM juga. 




UUD dan turunannya tak lebih hanyalah alat (tool) untuk mencapai
tujuan. Ia bikinan kita-kita juga, bahkan sebagian sudah berpulang
mendahului kita. Maka jangan kita terbelenggu oleh aturan itu sendiri.
Kalau tak ada udang dibalik batu, tinggal Jelaskan kepada publik atas
sikap yang diambilnya. Walaupun nabrak aturan sekalipun, demi
kepentingan yang besar, semua pihak juga akan memaklumi. 




SBY sendiri sebagai petinggi ABRI kan pernah tidak taat terhadap
konstitusi. Jadi lucu kalau kini seolah paling kontitusional. Diawal
reformasi kok SBY tidak angkat senjata untuk membela Pak Harto dan UUD
45. Bukankan UUD 45 (asli) dan UU No 20 Thn 82, Bahkan sumpah prajurit
mengamanatkan SETIA KEPADA PEMERINTAH dan UUD 45 (asli). Kok semua
diam, bukankah saat itu aturan tersebut masih sah....!!! 




SBY bukan orang bodoh. Tidak baik juga kalau pura-pura bodoh. Publik
tahu kok, semua gonjang ganjing ini untuk menutup borok yang kini sudah
menebar bau busuk kemana mana. Memang bukan SBY sendiri yang
merekayasa. Tapi para pembantu yang merasa terpanggil untuk
menyelamatkan rezim dan dirinya sendiri, tidak diperintah pun akan
gerak sendiri. Mengapa...? yaaa karena ilmunya hanya itu, mereka lupa
negeri ini sudah masuk era demokratisasi, bukan otoriter lagi. 




Dengan penyesatan di awal lintasan kasus. Maka aliran cerita
selanjutnya, berubah jadi kebenaran yang berproses secara alami. Para
penyidik dan aktor-aktor di episode berikutnya, tegasnya seluruh
"pemain" berapapun jumlahnya termasuk KAPOLRI dan Jaksa Agung pun
merasanya semua ini orisinil, bukan rekayasa. 




Persoalan yang mendasar adalah "beyond" gonjang ganjing ini ada apa...
? Ketika KPK mencium korupsi IT di KPU, maka tangan-tangan kekuasaan
harus bergerak menyelamatkan negara. Karena kasus tersebut bisa
merembet kemana mana. Bisa membatalkan PEMILU. Maka Antasari harus di
korbankan. Ketika Bank Century hendak diendus KPK, maka Bibit dan
Chandra harus dibikin kasus. Mengapa, kembali lagi karena persepsi
mereka menempatkan kasus tersebut bakal membahayakan negara. 




Tangan kekuasaan gaya Orba, memang tidak membedakan antara NEGARA dan
Pemerintah. Ketika penyesatan sudah sempurna terjadi, dengan
memanfaatkan kondisi yang ada (kelakuan Antasari sendiri dan maraknya
MARKUS) perseteruan menjadi terbuka. Bukan Polri salah, tapi tidak etis
dong, Polri yang bukan pengawas KPK harus berbuat layaknya lembaga yang
membawahi KPK. 




Hidup ini ada fatsun. Mengapa mereka mau berbuat begitu? Karena
kepentingan kekuasaan dan dirinya juga punya borok. Dari figur Kapolri
saja ekornya jadi panjang. Ketika seorang BHD yang diangkat jadi
Kapolri, tidaklah bisa lepas dari ia yang adik seorang Tri Tamtomo
pensiunan Mayjen TNI mantan Dan Brigif yang menyerbu Kantor PDI (kasus
27 Juli), dimana SBY sebagai Kasdam Jaya yang penyiapkan pasukan
termasuk latihan dan peluru tajam yang dibawa prajurit. Hampir pasti
bukan BHD sebagai Kapolri yang jadi aktor dalam kasus Cicak Vs Buaya.
Tapi Maraknya Markus dan loyalitas karena kepentingan inilah yang jadi
biang kerok persoalan di republik ini. Lebih parah lagi ketika merit
sistem di tubuh Polri (dan semua jajaran birokrasi dan juga TNI) kini
hanya jadi pajangan semata. Ketika Budiono sang Gubernur BI dipilih
jadi Wapres dan Sri Mulyani kemudian kembali dipasang sebagai Menteri
Keuangan maka semuanya kini menjadi gamblang. Walau awalnya, SBY lebih
sreg Sri Mulyani menjadi Gubernur BI, publik sudah tahu, arahnya.
Publik juga tahu ada apa dibalik penundaan pensiun seorang Darmin
Nasution dan Anwar Supriyadi. 




Proses politik segera sampai pada kondisi hitam putih. Boleh saja dalam
banyak kasus SBY dengan JAIM yang isinya juga kebohongan dan lempar
tanggung jawab selalu bisa lolos. Lihat kasus Porong, 36 ribu rakyat
jadi korban Lumpur seolah ini bukan tanggung jawab negara. SBY pilih
tega terhadap puluhan ribu, hanya untuk melindungi seorang ICAL yang
Menteri kala itu. Seolah negara tak berfungsi lagi. Kali ini SBY sulit
untuk mencari kebohongan untuk menutup kebohongan tentang perampokan
uang rakyat dalam kasus Bank Century. Rasa keadilan telah tersentuh,
hukum di rekayasa. Solusi cerdas dan murah sesungguhnya mudah untuk
dikerjakan. Kembali sebagai KSATRIA, mintalah maaf kepada Rakyat bahwa
dirinya teledor, hentikan perseteruan CICAK vs BUAYA. Ganti Kapolri dan
Jaksa Agung.beri mereka jabatan DUBES. Menyilahkan KPK untuk tuntaskan
kasus Bank Century, tak peduli siapa pun. begitu saja kok repot. Salam
Saurip Kadi.



http://www.facebook.com/home.php?#/notes/saurip-kadi/sby-mintalah-maaf-kepada-rakyat/212748953017


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke