Ding....ding...ding...sebuah
bunyi dari kotak elektronik mungil, menyadarkanku dari tidur lelapku.
Kucari-cari sumber bunyi tersebut, ternyata ada sebuah pesan masuk.
Kubaca isinya...terenyuh membaca isi pesan tersebut. Waktu menunjukan
3.15 WIB...masih di hari tasrik, ku paksakan bangun ambil wudhu dan
shalat dua rakaat untuk menghaturkan syukur atas nikmat yang telah di
beri sang Maha Rupawan sampai detik ini.

Isi pesan itu masih terus mengusik pikiran dan nurani...kubuka komputer
yang ternyata masih nyala karena malam ketiduran... asmaul husna
kuputar dengan volume yang mampu menggairahkan seluruh sel darah di
tubuhku dan sangat menggetarkan kalbu.

Akhirnya, kutuliskan goresan hati ini. Sengaja di tulis dengan bahasa
yang mudah di mengerti oleh semua khalayak agar dapat di koreksi dan di
kritik....



Just Begin....



Rutinitas Ibadah Haji 

Setiap tahun seluruh ummat Islam dari penjuru dunia berkumpul dalam
sebuah hajatan yang di sebut ibadah haji, menjalankan rukun Islam
kelima mengikuti jejak sunnah Rasul yang dulu di lakukan oleh para
nabi-nabi terdahulu. Semuanya mengharapkan satu tujuan Mardhatillah
(ridha Allah). Semuanya serempak melakukan ibadah bersama-sama baik
gerakan maupun niat. Lempar jumrah, sa’i sampai wukuf di padang arafah.
Yang berkumpul jutaan ummat Islam dari seluruh pelosok, ibadah yang di
berlakukan hanya bagi mereka-mereka yang diberikan kemampuan, secara
fisik, harta, maupun kemampuan dalam niat. Itu semua memerlukan
pengorbanan yang sangat besar. Rutinitas tahunan ini berjalan terus dan
akan terus berlangsung selama peradaban Islam masih ada seiring dengan
umur bumi itu sendiri. Sampai tahun ini, entah sudah berapa banyak
orang yang menjadi almamater aktifitas ini.

Sebagai bagian dari komunitas global, bangsa Indonesia yang memiliki
jumlah penduduk muslim terbesar di dunia mendapatkan quota untuk jemaah
haji sekitar 200 ribu orang. Memang fantastik dalam artian, setiap
tahun bangsa ini menghasilkan almamater dan sudah pada taraf akhir
melaksanakan rukun islam yang kelima sebanyak 200 ribu, malah tiap
tahun terus bertambah dan banyak yang kecewa karena tidak kebagian
tiket. Tentunya ini sangat erat kaitannya dengan sektor kehidupan lain.
Secara statistik, ini menunjukan bahwa dari jumlah penduduk sekitar 200
juta ada 200 rb yang diberikan kemampuan untuk berangkat haji. Artinya
dari seribu orang Indonesia satu orang bisa berangkat haji. Secara
ekonomi, ini bukanlah angka yang kecil, untuk tahun ini ongkos naik
haji (ONH) yang terus naik setiap tahunnya diperkirakan sekitar Rp. 30
jt jadi peredaran uang dari aktifitas ini adalah sekitar Rp. 6 trilyun,
belum lagi adanya bisnis lain yang muncul akibat kegiatan ini. Tentunya
ini angka yang sangat fantastis dan harus dikelola secara maksimal.
Selama ini Departemen Agama yang punya kewenangan dalam pengurusan
aktifitas ini terperangkap dalam situasi yang tidak menguntungkan,
malah di cap sebagai Departemen paling korupsi di negara ini. Secara
politik ini menunjukan bahwa kekuatan ummat Islam di dalam negeri
sendiri sangat besar secara ekonomi maupun jumlahnya, sehingga ini
ladang bagi kepentingan partai politik khususnya partai-partai yang
menjual Islam sebagai jargon kampanyenya (politik memang
menyebalkan...). Secara sosial budaya (kultur kemasyarakatan)
menunjukan semakin besar kecendrungan ummat Islam di Indonesia untuk
berangkat haji.

Yang coba penulis sorot adalah, selain dampak yang tadi disebut diatas,
adalah dampak secara nyata terhadap nilai dan peradaban bangsa kita.
Semakin banyak yang berangkat haji apakah ada kecendrungan bangsa ini
semakin beradab ??? 

(PAUSE.....terdiam sejenak !!! sambil mengurut dada dan membaca
shalawat, semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kita,
panglima besar revolusi sepanjang jaman, Nabi Muhammad saw. Tak terasa
air hangat mengalir dari sela-sela mata). 



Alinea 
baru......................................................................................................

.............................................................................................................................................................................................................
 lembaran baru ........



Hari tasrik merupakan kesempatan yang Allah swt berikan pada kita untuk
semakin mengunci diri dan melepaskan belenggu dari sesuatu yang
sifatnya fana dan hancur. Hendaknya di isi dengan amalan-amalan ibadah
sunnah dan terus di upayakan untuk kita memberikan kurban yang
sebenarnya, hiasi malam dengan kebaikan, lafadkan takbir di lisan dan
seluruh rongga sel-sel darah kita setiap selesai shalat
fardhu.....sungguh indah kelihatannya penuh nilai-nilai Islam apalagi
ini dilakukan tidak hanya setahun sekali tapi menjadi aktifitas
sehari-hari, namun kenyataan dan fakta yang ada...huuuhhhh....



Qurban makan Korban

Dalam hal ibadah kurban, diwajibkan bagi mereka yang memiliki
kemampuan, Rasulullah saw sampai menegur orang yang mampu tapi tidak
berqurban supaya jangan mendekati tempat ibadahnya (mesjid). Akan
tetapi yang paling mudah kita temui, hampir seluruh saluruan tv dan
media massa, memberitakan tentang masalah korupsi (mengambil hak orang)
yang dilakukan oleh orang-orang yang pasti sudah berkecukupan, pintar
dan berpendidikan, ironis memang di sisi lain ada rakyat yang jatuh
pingsan, terinjak-injak berebut mendapatkan sebungkus hewan kurban yang
di bagikan para panitia kurban. Hak qurban untuk para fakir miskin dan
dhuafa, tapi kenapa kadang hal ini sering terabaikan, ketika proses
pembagian kepada yang hak selalu kacau dan terulang setiap tahun.
Panitia juga memang memiliki hak terhadap daging qurban, akan tetapi
sering lebih dahulu mengamankan haknya dibandingkan hak mereka kaum
dhuafa (sifat individual sudah masuk dan merusak, belum lagi kalau ada
menjadikannya sebagai bisnis). Lebih bahaya ketika pemerintah
menganggap ini sebuah hal yang biasa dan terulang terus setiap tahun.
Harusnya mereka malu disaat mereka di nina bobokan dengan kekuasaan dan
fasilitas dari rakyat, sedangkan rakyat harus jatuh bangun berjuang
hanya untuk mendapatkan sebungkus daging qurban. 

Di Indonesia yang kita cintai....Sejak penulis berusia kecil sampai
sekarang, sering mengikuti khutbah shalat idul adha, mulai dari
kampung, di kampus2, majelis, sampai di islamic center. Tema yang
muncul pasti tentang sejarah dan pengorbanan nabiayallah Ibrahim as dan
putranya nabiayallah Ismail as. Itu pasti terulang setiap tahun..paling
ada sedikit masalah semangat pesan dan arti dari qurban. Tidak ada hal
yang baru sesuai dengan konteks ke indonesia dan kondisi keummatan saat
ini di era globalisasi. Kita malah di bawa ke zaman ribuan tahun ke
belakang yang sebenarny kita semua sudah tahu betul dengan peristiwa
sejarah dan di muat dalam kitab suci Al Qur’an. Bila sedikit bergeser
ke negara lain, penulis di berikan kesempatan melihat khutbah idul adha
di negara para Mullah (iran), tema kuthbah idul adha bukan membahas
masalah sejarah dan kisah awal mula peristiwa qurban, tapi mengajak
seluruh warganya untuk berjuang dan berkorban menguasai teknologi
menghadai tantangan jaman kedepan, kuasai teknologi nuklir, teknologi
informasi dan ruang angkasa. Pengorbanan bersama dalam tingkat yang
disesuaikan dengan kebutuhan bangsa itu, semuanya berkorban disesuaikan
dengan kemampuan dan profesinya masing masing untuk sebuah kemajuan
bersama. Di sini...di saat bangsa ini sedang merana, sudah nyata tampak
di depan mata. Kerusakan bangsa ini....begitu terang benderang (ngutip
Istilah Prof Machfud MD/ketua MK) kebobrokan ini ada di tengah-tengah
kita...kok malah cuek aja, mana jiwa kepemimpinan yang tegas dan
berwibawa dari para pemimpin negeri maupun dari para tokoh agama. Yang
dapat mengajak dan menggerakan ummat dan bangsa ini kepada sebuah pintu
gerbang keemasan dan kejayaan. Membangun peradaban yang dahulu begitu
di hormati bangsa lain....



Ibadah Haji dan Gaya Hidup 

Satu sisi lagi, jemaah haji kita terlantar di saat mereka beribadah di
negeri yang jauh dari sanak saudara dan kerabat. Sungguh ironi dan
menyedihkan sekali. Ibadah haji sebagai sebuah perwujudan keikhlasan
dan kecintaan seorang hamba kepada Tuhan-Nya. Adalah hal yang tertinggi
dalam masalah Agama, dalam kitabnya Manhajul Abdin secara gamblang sang
maestro KH Abdullah bin Nuh, menguraikan tingkatan-tingkatan yang harus
di capai seorang hamba untuk mendekati Sang Khalik, mengupas kitab Al
Ihya Ullumuddin karya Al Ghazali. Sama halnya dengan dengan pendapat
Sang Abu Sangkan dalam Bukunya ”Berguru Kepada Allah”. Untuk mendekati
Allah swt ada yang harus manusia tempuh dan lewati tidak bisa langsung
karena kita semua memiliki masa lalu yang pasti pernah berbuat dosa.
Dalam rukun Islam syahadatain harus di penuhi, Shalatnya harus tertib
dan terawat, puasanya berhasil dan zakatnya tertunaikan, maka berangkat
haji sudah menjadi haknya. Sekarang banyak yang ingin berangkat ibadah
haji, tetapi sudahkah ke empat rukun yang lain berjalan sesuai yang
Allah swt kehendaki atau hanya sekedar mengikuti nafsu belaka. 

Sudah benar dan Sempurnakah yang berangkat haji sedangkan tetangga di
sekitar rumahnya masih banyak yang kelaparan, kemiskinan dan kebodohan
merajalela.....??? Mungkin kita perlu koreksi kembali lebih kedalam.
Bukankah Rasulullah saw, pernah berkisah, pada suatu masa ketika ibdah
haji berjalan, para sahabat bertanya siapakah yang mendapatkan predikat
haji mabrur. Rasulullah menjawab dari sekian banyak yang berangkat haji
tidak ada satupun yang mendapatkan predikat haji yang mabrur, tapi ada
satu yang mendapatkan predikta haji mabrur tetapi dia tidak berangkat
ke tanah suci. Para sahabat penasaran siapakah orang ini, amalan
istimewa apakah yang dia lakukan ? tidak berangkat ke tanah suci tapi
mendapatkan predikat haji mabrur tersebut. Ternyata dia adalah orang
yang sangat santun suka menolong sesama yang berkesusahan, penuh kasih
sayang dan menghormati tamu. 



Pergeseran Nilai

Malah ada yang sudah berangkat haji berkali-kali, ingin berangkat lagi
dengan alasan panggilan hati dan merasa dekat dengan Allah SWT kalau di
tanah suci. Seakan yang lain tidak berhak untuk menikmati ibadah ini.
Sangat mengiris hati...mereka merasa dekat kalau berada di Baitullah,
dan khusyu beribadah sampai menangis mencucurkan air mata, ketika
pulang kembali ke rumahnya tidak bisa dekat dengan Allah swt. Bukankah
Rasullah saw melakukan ibadah haji pertama dan terakhir, yang penting
adalah implementasi dari Ibadah haji dalam kehidupan sehari-hari
menyempurnakan rukun Islam ketika rukun-rukun yang lainnya sudah
dilaksanakan dengan sempurna.

Nilai islam sudah bergeser menjadi sebuah identitas dan simbol-simbol,
shalat memang shalat, hapal qur’an memang hapal, puasa memang
puasa...akan tetapi apa yang di hasilkan dari shalatnya, hapal quran
dan puasanya ?...akankah kita di akherat nanti disuruh shalat di
hadapan Allah swt ?...disuruh baca quran ?...yang pasti di tanyakan dan
dimintakan pertanggung jawabannya adalah hasil/implementasi dari ibadah
tersebut bermanfaat tidak bagi kita dan orang-orang sekitar kita...Mana
amal terbaik kita untuk Allah swt ? shalat kita ...baca qur’an
kita...puasa kita...tahajud kita...Tidak itu semunya untuk kita..terus
amalan yang mana untuk Allah swt...? santuni dan peliharalah anak yatim
dan kaum dhuafa, tolonglah orang yang berkesusahan, Semoga kita tidak
termasuk pada orang-orang yang mendustakan agama.

Ketika kebanyakan orang beranggapan bahwa dengan ibadah haji sudah
sempurna iman islamnya, maka Ibdah haji menjadi sebuah prestise di
kalangan masyarakat menyebabkan terjadinya pergeseran nilai dari Ibadah
menjadi sebuah kebanggan, termasuk gelar haji yang akan melekat pada
alumnusnya. Di lingkungannya, dia akan di hargai sebagai orang yang
sudah sempurna menjalankan rukun Islam dan tentu saja dianggap sebagai
orang yang mampu, mengingat ibadah haji membutuhkan kemampuan yang
cukup besar. Sehingga inilah yang semakin merusak dan tidak menjadikan
ibadah haji ini memberikan dampak positif terhadap sebuah peradaban,
tetapi malah membawa ummat dan bangsa pada keterpurukan dan kebanggaan
yang absurd.



Keharusan Munculnya Peradaban 

Pikiran nakal penulis berjalan, seandainya ummat Islam di Indonesia
tidak berangkat haji dalan satu tahun saja, akan tetapi niat dan
pengorbanan dari para calon jemaah haji tetap di jaga dan di pelihara ?
dengan biaya Rp. 6 Trilyun itu disalurkan untuk membantu para kaum
miskin di Indonesia agar mereka dapat terangkat harkat dan kehidupannya
dari kemiskinan dan kebodohan. Kedepan ummat Islam bisa membangun
sebuah peradaban yang maju dan tercerahkan. Sebuah sindiran pernah
sampai ke telinag penulis, menurut UUD 45 kita bahwa fakir miskin dan
anak-anak terlantar di pelihara oleh negara...kenyataannya sudah kah
negara menjanlakn amanat konstitusi ini. Tunjukan gedung mana yang
khusus di peruntukan bagi kaum miskin ini, semewah apa ? sehebat apakah
fasilitasnya ?...kalau mu jujur negara ini sangat tidak adil, kenapa
para penjahat kelas teri sampai koruptor kakap di berikan bangunan yang
kadang fasilitasnya seperti hotel berbintang...meskipun namanya LP atau
Rutan ??? padahal tidak ada dalam UUD 45 yang mencantumkan bahwa mereka
di pelihara oleh negara....kemiskinan sekarang menjadi jualan dan
dagangan saja. Akan tetapi kesejahteraan mereka tidak pernah ada yang
memperhatikan.

Apakah untuk mendapatkan surga dan ridha-Nya kita harus memiliki
penguasaan al qur’an seperti Prof. Quraish Shihab, pemahaman Islam
seperti alm. Prof Nurcholis Majid..??? Allah swt Maha Pengasih dan
Penyayang...surga diperuntukan bagi mereka yang mendapat ridha dan di
ridhai-Nya. Bukankah kisah menceritakan masuknya seseorang ke surga
hanya karena dia memberikan minum seekor anjing yang hampir mati karena
kehausan, padahal dia seorang wanita ahli maksiat...dan terjerumusnya
seorang ahli ibadah dan shalat kedalam neraka karena dia mengunci
seekor kucing dalam rumah sehingga mati karena tidak dapat mencari
makan...Janganlah berkecil hati buat orang-orang seperti kita yang
masih dangkal dan awwan terhadap Islam. Ibadah terhadap sesama mahluk
Allah swt begitu sangat di hargai, apalagi terhadap sesama manusia,
khususnya sesama muslim. Bersikap wajar dan tidak berlebih-lebihan
dalam menjalani kehidupan. Sekalipun dalam hal beribadah yang kada
menjerumuskan kita pada sebuah keakuan akan kesholehan diri, merasa
lebih baik dan berhak masuk surga sehingga merendahkan pihak lain.
Seakan surga sudah menjadi miliknya dan orang lain tidak memilki alasan
untuk mendapatkannya. Ingat karena bujuk rayu syaitan tidak akan
berhenti sampai manapun

Kedepan adanya sebuah peradaban dan generasi yang hangat penuh kasih
sayang, saling membantu dan tolong menolong dalam kebaikan dan sabar.
Sebagai sebuah bangsa yang di rahmati dan diridhai-Nya, Baldatun
thayibatun wa rabbun ghofur...adalah sebuah keniscayaan ketika kita
mulai sekarang membenahi diri, membuka lembaran baru dan tentu saja
mulai menggoreskan catatan kehidupan ini dengan goresan tinta emas
kesuksesan kita di masa yang akan datang...menjadi pribadi-pribadi yang
tangguh dan mempesona, terselamatkan dan terpilih untuk mendapat ridha
dan di ridhai-Nya...Allahumma Amin...



Wassalam,

Yang dhaif,





Alhakimc

13 Dzulhizah 1430 H 





NB : kembali ke pesan yang isi pesan tersebut :  ”Berkurban
bukan setahun sekali, tapi setiap hari dan setiap saat, kita berusaha
berbuat yang terbaik buat ummat, buat negeri walapun dengan perbuatan
sekecil apapun yang kita mampu melaksanakannya dengan ikhlas dan tanpa
pamrih serta dengan sepenuh kasih sayang. Ekspresikan shalat dalam
kehidupan sehari-hari”



      Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka 
browser. Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke